Bapakku Bukan Pengkhinat
Bapakku Bukan Pengkhinat!
Hamparan sawah yang hijau milik juragan Karto seperti karpet yang terbentang luas. Pohon petai cina yang tumbuh di samping sawah, membuatku yang berada di bawahnya merasakan rasa sejuk seperti ditiup sejuta angin. Aku segera menghirup udara pagi yang terasa bersih, sampai kurasakan paru-paru terasa penuh.
Pagi ini, aku menggarap sawah sambil mengawasi sawah dari beberapa burung yang hendak mengenyangkan perut, upah harian dari menggarap sawah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Sawah yang digarap bersebelahan dengan jalan raya. Terkadang, jika sudah berada di dalam sawah, suara bising lalu lalang kendaraan tidak terdengar. Hanya terdengar gemericik air yang mengalir. Aku sering datang ke sawah, saat mentari pagi baru menyembul. Berjalan kaki sendirian selepas dari surau, suasana pagi masih sedikit gelap dan dingin. Namun, dinginnya pagi menyehatkan kulit dan tubuh. Kalau kata Mbok, dinginnya pagi, bisa membuat awet muda.
Sebenarnya, suasana pagi ini tampak berbeda. Jalanan yang biasanya ramai, terlihat lengang dan sepi, yang terlihat hanya seorang petani, yang sedang mencuci cangkulnya. Namanya Bejo, tetanggaku. Bertubuh gempal, tangannya gesit mencangkul tanah sawah. Kalau selesai nebarin pupuk, dia suka bersih-bersih pinggiran sawah sama saluran air.
"Jo," teriakku lantang. Dia melambaikan tangannya, lalu meletakkan gagang cangkul di bahu kirinya.
"Pulang, Din! Banyak tentara sedang patroli, entar kamu kena dor," Bejo memperingatiku sambil menunjuk dua mobil tentara sedang melintas.
"Tadi malam, beberapa jenderal di Jakarta dibantai. Beberapa dari mereka tak selamat, yang kudengar mereka dimasukkan ke sumur kecil, kabarnya tentara sedang memburu anggota partai terlarang di seluruh penjuru negeri ini!" Bejo bercerita setengah berbisik.
Aku mengangguk beberapa kali saat mendengar cerita Bejo. Pikiranku melayang, mengingat peristiwa beberapa hari yang lalu, kala daun telinga menangkap perbincangan beberapa orang di pinggir sawah. Mereka berbincang serius, saat itu posisiku berada di dalam sawah sedang menanam bibit padi, membuat apa yang mereka bicarakan terdengar jelas. Kala itu, aku mendengar salah satu dari mereka mengatakan akan ada penangkapan besar-besaran, ia juga mengatakan bahwa ini hanya permainan politik, agar partai terlarang berada di dalam dan menguasai pemerintah. Para jenderal yang dieksekusi adalah pion lawan yang harus ditendang seperti bola. Aku tak mengira jika percakapan singkat itu ternyata benar.
Aku segera mengemas peralatan, dengan cepat aku berlari menuju rumah. Dari jauh terlihat Mbok yang berdiri di depan pintu memandangku dengan muka masai. Tak biasanya dia begitu.
"Kita harus cepat pergi, Din. Sebentar lagi Bapakmu jemput. Bersihkan badanmu, ganti baju, kita harus bergegas!" kini rasa kekhawatiran mulai terlihat di wajah tuanya.
"Ini gara-gara Bapakmu! Sudah diingatkan, jangan ikut-ikutan, akhirnya kita yang tak tahu menahu jadi terkena imbasnya!" suara helaan nafasnya terdengar berat.
Bapakku sebenarnya seorang petani yang rajin. Ia bekerja tanpa lelah, sampai bisa membeli satu petak sawah yang luas. Bapak juga rajin beribadah, sebelum ke sawah, ia rutin sholat subuh di surau. Tak jarang terdengar suara merdunya mengumandangkan azan. Namun sayang, semenjak tetanggaku Pak Saramin mengajaknya bergabung dengan partai terlarang, Bapak berubah total. Semua kegiatan rutin ditinggalkan, bahkan sawah pun dijualnya, demi partai.
Aku tak tahu kapan pastinya, saat Bapak tak lagi percaya Tuhan. Sudah hampir 6 bulan Bapak ikut partai terlarang. Kuakui Bapak sekarang dihormati, bahkan saudaranya yang dulu memandang sebelah mata, sering berkunjung dan memberikan hadiah serta makanan.
Aku yang masih melanjutkan pekerjaan Bapak sempat diceramahinya. Menurutnya menjadi petani tak bisa menghasilkan apa-apa. Hanya betis besar dan tangan berotot karena memegang cangkul. Hhh, mungkin Bapak lupa, dulu dengan bertani, dia bisa membeli sawah dan seekor kerbau jantan untuk membajak sawah.
"Aku ga ikut, Bu. Biar aku di sini saja. Bapak yang ikut partai bukan aku," hari ini aku membantah perintah Mbok. Wajahnya semakin masai, saat ia tahu, aku tak ingin ikut.
"Ikut, Din! Selamatkan diri dulu," perintah wanita yang melahirkanku 19 tahun yang lalu dengan nada suara penuh kekhawatiran.
"Din… Udin… Mas," suara khas perempuan jawa yang lembut terdengar di dekat jendela kamar. Aku tahu pemilik suara itu, Surtinem, pacarku. Perlahan daun jendela terbuka, paras cantiknya, tampak resah.
"Para tentara dan penduduk, lagi nyari Bapakmu. Aku dengar teriakan mereka, ganyang orang-orang yang berkhianat! Aku takut, Mas. Nanti aku tak bisa melihat dan ketemu kamu lagi," suara lembutnya terdengar sendu.
"Aku tidak akan kenapa-kenapa, Nem. Udah pulang dulu, nggak enak dilihat tetangga, ngobrol kok di dekat jendela!" Aku langsung tersenyum saat melihat bibirnya yang tipis tertarik sedikit ke atas.
Selang beberapa menit kepergian wanita pujaan hati. Pintu rumahku diketuk keras. Mbok hanya duduk sambil meremas ujung kebaya yang sudah kusut. Aku memberanikan diri membuka pintu. Saat pintu terbuka, seorang pria berkumis mendorong tubuhku, aku hampir terjengkang.
"Ing endi bapakmu?" tanyanya dengan suara keras dan tegas. Aku menggeleng dan beberapa pria tegap yang berada di belakang merangsek masuk. Mereka mencari ke seluruh penjuru rumah.
"Pasti dia sudah kabur! Kita cari yang lain!" perintah pria berkumis dan mereka pun pergi.
***
Satu hari setelah peristiwa penggerebekan rumah, aku dan Ibu pindah. Bapak datang tengah malam dan meminta kami ikut serta. Aku yang semula enggan pindah, terpaksa ikut. Bapak mengancamku, jika tak ikut, tak akan melihat Mbok selamanya.
Mbok adalah wanita yang mendampingi Bapakku hampir tiga puluh tahun. Ia, wanita yang menerima jalan hidup yang ditempuhnya, menerima keadaan sampai Bapak berubah pola pikirnya. Tak satupun kata batahan maupun penolakan keluar dari mulutnya, si mbok benar-benar wanita jawa yang sesungguhnya, nerimo, sabar dan ikhlas. Sedikit banyak sifatnya menjadikan cerminan memilih calon pendampingku kelak.
Sepanjang perjalanan, aku melihat wajah Mbok. Tak satu patah kata pun keluar dari mulutnya dari tadi. Ia hanya memandang wajah Bapak berulang kali. Seolah-olah, tidak akan melihat Bapak lagi. Sesekali kulihat, Bapak memandang Mbok. Lalu menepuk tangan kanannya yang dari tadi memegang ujung kursi depan mobil di dekat Bapak duduk. Perjalanan dua jam, akhirnya mengantarku sampai di sebuah desa, yang aku sendiri tak tahu nama desanya apa. Saat turun dari mobil, Bapak membawaku dan si Mbok ke rumah kecil yang sangat jauh dari kata layak. Dindingnya dari papan yang sudah terlihat rapuh, seperti bekas dimakan rayap. Beberapa dinding papan, terlihat bekas lubang paku.
Beberapa jam, setelah melepas lelah. Datang sebuah mobil jip. Berhenti tepat di depan rumah tak layak huni itu. Saat supirnya keluar dari mobil. Kulihat, Mang Rejo, temen ngopi Bapak di warung kopi di pasar.
“Aman, Mas. Istri dan anakmu, dimana?” Mang Rejo bertanya kepada Bapak, dijawab isyarat telunjuk Bapak.
"Ikut Mang Rejo, bawa ini. Sesampai di Jakarta, jangan mengaku bahwa kamu anak Bapak, biar selamat! Jaga si Mbok! Insha Allah, nanti Bapak nyusul," wajah Bapak tampak lelah dan capai, sepertinya Bapak kurang tidur, wajahnya pucat. Selesai melihat wajah Bapak, kuperhatikan kembali wajah si Mbok, bulir bening mulai mengalir dari wajah yang tak muda lagi. Dalam isaknya, terdengar Mbok, meminta Bapak ikut serta. Lagi, hanya senyuman sebagai jawaban.
“Aku enggak apa-apa, nanti aku nyusul kalau urusannya sudah beres,” Mbok memeluk Bapak erat. Tangan Bapak yang berurat memeluknya dengan erat, sambil mengusap punggung Mbok, agar berhenti menangis.
“Ayo cepat naik, nanti keburu ada yang liat,” Bapak meminta aku dan Mbok naek ke atas mobil Jip. Sementara Bapak bersama temannya masih berada di rumah itu. Dari kejauhan aku melihat, Bapak memegang senapan laras panjang. Bapak melambaikan tangannya dari jauh. Dibalas Ibu dengan lambaian dan isak tangis yang semakin kencang.
Baru beberapa meter kepergian kami dari desa, terlihat kepulan asap tebal. Mang Rejo, teman Bapak mempercepat laju mobil. Suara isak tangis si Mbok terdengar semakin nyaring, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang sudah terlihat keriput.
“Bapakmu, Din, habis,” Bola mataku memperhatikan kepulan asap yang semakin tebal. Bapak, kena bom, ia telah gugur dan aku tak akan mendengar dia marah-marah lagi tentang membajak sawah.
3 tahun kemudian.
"Mas, ketopraknya dua porsi!" tanganku dengan cepat meracik ketoprak untuk pelanggan. Si Mbok memberikan minuman, sedangkan istriku mengantar pesanan ke meja pembeli.
Aku mencari nafkah di Jakarta, berjualan ketoprak. Peristiwa penangkapan anggota partai terlarang itu, akhirnya membuahkan hasil. Para petinggi partai terlarang itu diadili. Bapakku yang dicari karena dibilang pengkhianat. Ia hanya lelaki yang berusaha menyelamatkan diri dari anggota partai yang mengejarnya. Bapak itu, ahli agama. Ia berusaha memberikan ceramah agama dan sedikit bau politik dari kampung ke kampung agar masyarakat tidak ditipu partai terlarang. Sayang, ia disebut pengkhianat gara-gara berseberangan tujuan dengan partai terlarang. Setelah suasana kembali tenang, aku pulang ke rumah. Melamar pacarku, Surtinem. Kuboyong dia ke Jakarta, membantu usahaku. Mbokku? ya, tetep ikut aku, mana mungkin aku meninggalkannya di kampung. Yang ada nanti aku jadi anak durhaka.
Kurogoh saku celana, kucium dengan penuh suka cita. Amplop berwarna putih yang sudah terlihat kumal. Entah sudah beberapa kali aku membaca surat yang ditulis Bapak, surat itu hampir tak berbentuk.
Din, Bapak minta maaf karena ndak bisa jadi orang tua yang baik. Bapak sebenarnya ndak ikut partai, uang penjualan sawah dan kerbau dibelikan tempat bernaungmu dan si Mbokmu sekarang. Gimana, bagus rumahnya, Din? Di depan rumah ada gerobak hasil bikinan Bapak. Din, nanti suatu saat kau sendiri yang akan menilai Bapakmu ini seperti apa.
Setiap kali selesai membaca surat, aku selalu teringat cerita Mang Rejo. Ia mengatakan bahwa Bapak pinter ngaji, ngajarin teman-temannya ngaji dan salat. Pemahaman Bapak tentang agama dan sedikit pemikiran politiknya, menyelamatkan Mang Rejo dan teman-temannya dari pemikiran sesat. Kalau enggak ada Bapak, mungkin mereka akan selamanya berpikir menyimpang dan memberontak. Kulipat surat yang sudah kusut dengan sangat hati-hati, ketika dua orang wanita yang kucintai mengantarkan kopi dan pisang goreng.
Tamat
Rosa Linda
15 Agustus 2025, Bangka Barat
Other Stories
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...