Bagian V - Tahun Kedua
Gue nggak ada di sana waktu Rayan ngurusin semua itu. Gue nggak liat dia mondar-mandir di lorong UGD, nggak denger dia bilang ke petugas administrasi bahwa dia yang akan nanggung biayanya dulu sambil tangannya gemetar pegang dompet yang isinya pas-pasan. Gue nggak tau bahwa Rayan nangis sekali di toilet UGD, sebelum dia cuci muka dan balik ke depan kamar Fabian dengan ekspresi yang udah dikembaliin ke posisi normal. Yang gue tau cuma dari cerita. Dan dari satu telepon, jam tiga pagi, yang sampai sekarang masih gue inget sampai ke bunyinya.
Dokter Nisa yang periksa Fabian pertama kali. Dia dokter muda dan yang pertama gue pikir waktu ngeliat dia adalah: orang ini terlalu muda buat udah keliatan capek banget. Tapi kata Rayan, malem itu dia yang paling tenang di ruangan. Dia periksa luka Fabian dengan teliti. Dua tulang rusuk retak, lebam di rahang dan pelipis, dan satu luka di belakang lutut yang bikin Fabian nggak bisa berdiri penuh selama beberapa hari ke depan. Semua dicatat. Tapi yang bikin Rayan notice adalah satu hal kecil yang Dokter Nisa lakuin sebelum keluar ruangan: dia foto kondisi luka Fabian dengan kameranya sendiri, bukan kamera rumah sakit.
"Jatuh dari mana, Mas?" Suaranya datar. Bukan menuduh. Tapi juga bukan langsung percaya.
"Tangga kos." Fabian jawab tanpa noleh.
Dokter Nisa nulis sesuatu di catatannya. Nggak ngomong apa-apa lagi soal itu. Tapi dia nyimpen fotonya. Rayan bawa Fabian balik ke kos sekitar subuh. Mereka berdua nggak ngomong banyak di motor — Fabian duduk di belakang dengan satu tangan nahan rusuknya, Rayan nyetir pelan banget karena takut guncangan bikin sakit. Di kos, Rayan masak indomie. Jam empat pagi. Kompor kecil yang apinya suka nggak rata, panci yang pegangannya udah lepas satu sisi, dan dua orang yang udah terlalu capek buat pura-pura oke.
"Lo makan dulu." Rayan taruh mangkuk di depan Fabian.
"Gue nggak lapar."
"Gue tau. Tapi makan dulu."
Fabian makan. Pelan, tapi makan.
Rayan duduk di seberangnya, pegang cangkir kopi yang nggak beneran dia minum, dan nggak nanya apa-apa soal tadi malam. Bukan karena dia nggak mau tau — tapi karena dia udah cukup kenal Fabian untuk ngerti bahwa ada waktu buat nanya dan ada waktu buat diam. Malem itu, waktunya diam.
Telepon itu masuk jam tiga lebih dua puluh menit. Gue lagi setengah tidur di kamar kos Jakarta gue, dengan kipas angin yang bunyi krek-krek dan satu novel yang udah gue baca ulang terlalu banyak kali. Waktu layar hape nyala dan nama Fabian muncul, gue duduk tegak dalam dua detik.
"Fab?" Nggak ada jawaban langsung. Gue denger napasnya dulu.
"Kei."
"Gue di sini. Lo oke?" Hening sebentar.
"Gue gagal jaga dia, Kei."
Gue nggak tau mau bilang apa. Bukan karena gue nggak punya kata-kata atau gue punya terlalu banyak, dan semuanya kedengeran salah. Jadi gue nggak bilang apa-apa. Gue cuma tetap di line, rebahan di kasur dengan hape nempel di telinga, dengerin napas Fabian yang pelan-pelan jadi lebih rata. Dia ketiduran duluan. Gue tutup teleponnya jam empat lebih, dan gue nggak bisa tidur sampai pagi.
• • •
Semester baru dimulai awal Februari. Dan nama Hasna nggak ada di daftar absensi FIB. Clara yang ngurusin, dia yang bolak-balik ke bagian akademik, yang nunggu di depan loket sampai antriannya habis, yang nyoba berbagai cara nanya supaya jawabannya bukan sekedar template. Hasilnya tetap sama.
"Mahasiswa atas nama Hasna Naura dinyatakan mengundurkan diri terhitung tanggal dua Januari dua ribu dua puluh tiga. Clara baca itu tiga kali sebelum dia foto suratnya dan kirim ke grup mereka bertiga."
"Ini nggak mungkin keputusan Hasna."Pesan pertama yang Fabian kirim.
"Gue tau." Jawaban Clara. Singkat, tapi beratnya sama.
Fabian mulai nyusun timeline di buku catatannya. Bukan buku catatan kuliah, dia beli buku baru khusus buat ini. Cover hitam, nggak ada label. Isinya: tanggal terakhir Hasna keliatan di kampus, nama kafe tempat Rifky dateng, plat nomor mobil yang Rayan sempet inget sepenggal, perkiraan arah yang mereka pergi. Dia nyoba lapor ke pihak kampus. Jawabannya dateng dari bagian kemahasiswaan, diketik rapi di atas kertas berkop universitas:
"Kami menghargai kepedulian Saudara, namun hal ini merupakan keputusan pribadi mahasiswa yang bersangkutan dan berada di luar kewenangan institusi."
Fabian lipet surat itu. Simpen di dalam buku catatan hitamnya. Dia hubungin nomor keluarga Hasna yang pernah Hasna sebut sekali waktu mereka ngobrol soal mudik. Nggak aktif. Dia coba cari nama Hasna di media sosial yang belum di-private. Akun terakhirnya update tiga hari sebelum malam di kafe itu foto kopi dan buku, caption singkat soal deadline tugas. Komentar temantemannya masih ada di bawah foto itu, nggak tau bahwa itu akan jadi postingan terakhir. Rayan nemuin Fabian di perpustakaan FIB tiga kali dalam satu minggu. Bukan perpustakaan fakultas Fabian sendiri. FIB, tempat yang bahkan bukan wilayah jurusannya.
"Lo ngapain di sini?" Rayan duduk di seberangnya, naruh tas, ngeliatin Fabian yang pura-pura baca jurnal.
"Baca."
"Di FIB."
"Perpustakaan kampus kan satu." Rayan nggak jawab. Dia buka laptopnya dan mulai ngerjain tugasnya sendiri.
Mereka duduk dua jam di sana tanpa ngomong banyak. Dan Fabian nggak beneran baca jurnalnya, dia cuma duduk di tempat yang pernah Hasna rekomendasiin waktu mereka ngobrolin soal koleksi manuskrip Belanda yang katanya ada di lantai tiga. Gue tau ini dari Rayan, yang ceritanya ke gue dengan nada yang campur antara khawatir dan gue nggak tau, mungkin terharu juga.
"Dia masih nunggu, Kei." Kata Rayan waktu telepon gue.
"Caranya nunggu cuma beda."
Yang akhirnya bikin Fabian sedikit keluar dari putarannya adalah Rayan sendiri. Suatu sore di akhir Februari, Rayan dateng ke kos Fabian dengan dua bungkus nasi kucing dan satu pernyataan yang langsung to the point:
"Kita nggak bisa lakuin apa-apa sekarang, Fab. Rifky punya koneksi yang kita bahkan nggak tau seberapa jauhnya. Laporan kita bisa dibuang sebelum diproses. Dan kita nggak cukup punya pegangan buat konfrontasi dia langsung." Fabian dengerin tanpa motong.
"Tapi kita bisa pastiin satu hal." Lanjut Rayan
"Kalau Hasna balik, dan gue percaya dia bakal balik, ada yang nunggu. Ada yang masih tau dia pernah di sini. Itu yang bisa kita lakuin sekarang."
Fabian nggak langsung jawab. Dia makan nasi kuningnya pelan-pelan. Tapi malem itu, buku catatan hitamnya dibuka lagi bukan untuk nambah timeline, tapi untuk nulis satu kalimat di halaman pertama yang selama ini kosong: Kita tunggu, tapi kita nggak berhenti cari. Semester II Fabian di Semarang berjalan normal dan seperti biasa, untungnya dia nggak ngalamin kejadian atau peristiwa pahit lagi kayak semester sebelumnya. Tiap hari dia cuma masuk kelas, kuliah, nugas di perpus, nongkrong, kadang cari duit kalo ada kesempatan. Tapi dibalik itu semua dia ngebawa kondisi mental yang sakit dan rapuh, pikirannya kemana-mana udah nggak bisa fokus satu hal dan kegelisahan mulai menyerangnya semenjak kejadian itu.
• • •
Ada orang-orang yang pertama kali ketemu mereka, lo ngerasa langsung nyaman. Bukan karena mereka genuinely baik, tapi karena mereka sangat terlatih untuk keliatan seperti itu. Aldrich Santoso adalah tipe orang seperti itu.
Beberapa bulan kemudian, sekitar bulan Agustus tahun 2023, semester tiga dimulai dengan Rayan dapet shift pagi di kafe. Yang artinya dia harus bangun jam lima, nyiapin bahan, dan udah di belakang counter sebelum pelanggan pertama dateng. Capek, tapi Rayan nggak pernah ngeluh soal itu.
Aldrich pertama kali muncul di minggu kedua Agustus. Mahasiswa Hukum semester enam, tampang rapi, senyum yang pas, tingginya sekitar 175 cm atau sekitar 5'9" ft, bahu nggak terlalu lebar, nggak terlalu dingin. Dia pesan americano, bayar tunai, dan ninggalin tip yang jumlahnya persis dua kali harga kopinya.
Minggu depannya dia dateng lagi. Pesan yang sama. Minggu depannya lagi, dia mulai ngobrol.
"Lo yang selalu shift pagi, ya?" Santai. Kayak basa-basi biasa.
"Iya. Udah setaun lebih."
"Gue respect banget sama orang yang bisa konsisten kayak gitu. Nggak gampang, apalagi sambil kuliah."
Rayan bilang makasih. Nggak terlalu mikirin. Tapi Aldrich terus dateng dan obrolannya pelan-pelan jadi lebih dari sekedar basa-basi. Yang bikin nggak nyaman bukan satu momen besar itu yang susah dijelasin Rayan ke gue waktu dia cerita. Itu akumulasi dari hal-hal kecil yang masing-masing berdiri sendiri keliatan normal. Aldrich mulai tau nama teman-teman Rayan tanpa pernah diperkenalkan. Dia muncul di kafe pas jam-jam yang bukan jam kunjungan biasanya biasanya tengah hari, atau bahkan malam sebelum kafe tutup. Dia kirim pesan lewat Instagram soal artikel yang katanya relate sama jurusan Rayan, lanjut ke rekomendasi podcast, lanjut ke cerita pribadinya sendiri yang makin lama makin intimate tanpa Rayan pernah minta.
Dan setiap kali Rayan ngerasa ada yang off, ada satu hal yang bikin dia ragu sendiri: Aldrich selalu keliatan genuinely care. Nggak ada yang bisa di-screenshot dan bilang ini harassment. Nggak ada yang bisa ditunjukin ke orang lain dan bilang ini salah.
"Masa iya gue nggak nyaman cuma karena orang itu terlalu baik?" Itu kalimat yang Rayan ulang ke dirinya sendiri terlalu banyak kali.
Fabian yang notice duluan. Bukan dari cerita Rayan, tapi dari suatu sore di kafe, waktu Fabian lagi nunggu Rayan selesai shift dan dia liat Rayan matiin notif dari nomor yang sama untuk ketiga kalinya dalam sejam. Tangan Rayan nggak beneran gemetar, tapi ada sesuatu dengan cara dia naruh hapenya terlalu cepat, terlalu sadar ngebuat Fabian diem-diem perhatiin.
"Siapa?" Fabian nanya waktu mereka udah di luar.
"Nggak ada. Kenalan aja."
"Kenalan yang notifnya lo mute."
Rayan diem nggak jawab. Mereka jalan dua blok sebelum akhirnya Rayan cerita pelan - pelan.
"Gue nggak bisa jelasin kenapa ini ganggu gue, Fab. Dia nggak pernah lakuin sesuatu yang jelas-jelas salah. Dia cuma…"
"Terlalu ada." Fabian motong, bukan nanya. Ngasih kata yang Rayan lagi nyari.
Rayan diem sebentar. Terus ngangguk.
"Iya. Terlalu ada."
Fabian mulai perhatiin Aldrich dari jauh. Dan makin lama dia perhatiin, makin banyak pertanyaan yang muncul. Aldrich punya lingkaran sosial yang kecil tapi solid, sekelompok mahasiswa dari berbagai jurusan yang sering nongkrong bareng di bawah label komunitas LGBT kampus. Dari luar, kelompok itu keliatan kayak safe space biasa.
Tapi yang bikin Fabian penasaran bukan komunitasnya, melainkan satu hal yang dia notice setelah beberapa minggu observasi diam-diam: Aldrich sering banget keliatan di sekitaran himpunan. Bukan sebagai anggota resmi, bukan sebagai undangan forum. Dia cuma... ada. Di kantin sebelah sekretariat, di parkiran yang sama, di warung kopi yang jadi tongkrongan orang-orang himpunan setelah rapat, Aldrich selalu hadir bareng anak-anak himpunan. Dan tiap kali Aldrich ada di sana, Dimas ada di dekatnya. Itu yang pertama kali bikin Fabian berhenti dan beneran mikir.
Jawaban soal hubungan Aldrich dan Dimas itu akhirnya Fabian dapet bukan dari satu sumber, tapi dari nyambungin beberapa kepingan yang berbeda. Kepingan pertama dari Rayan sendiri, yang cerita bahwa setahun sebelumnya sebelum Fabian dateng ke Semarang, Dimas pernah ada masalah besar. Salah satu anggota himpunannya ketauan nyontek sistematis di ujian akhir, dan kasusnya hampir naik ke sidang akademik. Kalau itu terjadi, nama himpunan ikut tercoreng dan posisi Dimas sebagai ketua bisa goyah.
Kasusnya nggak pernah naik ke sidang. Diselesaikan secara diam-diam di tingkat jurusan. Rayan denger rumor ini dari orang yang denger orang lain katanya bantu 'negosiasi' penyelesaiannya adalah seorang mahasiswa Hukum yang punya akses ke jaringan senior-senior yang bisa bisik-bisik ke telinga yang tepat. Mahasiswa Hukum itu bernama Aldrich Santoso.
Kepingan kedua Fabian dapet dari Zara, mahasiswi Psikologi semester lima yang dia temuin lewat Pak Warsito. Mereka duduk di kantin pojok yang sepi. Zara pegang cangkir kopinya tanpa diminum.
"Aldrich itu bukan tipe orang yang butuh satu alasan buat nempel sama seseorang. Dia selalu punya lebih dari satu."
Zara mulai cerita.
"Sama Dimas, gue rasa alasannya mutual. Dimas butuh orang yang bisa gerak di luar radar — yang bisa deketin target, kumpulin informasi, atau bikinin masalah buat orang-orang yang dianggap ancaman. Aldrich bisa lakuin semua itu karena dia punya akses ke lingkaran sosial yang berbeda. Orang-orang nggak curiga sama dia." Ujar Zara.
"Tapi Aldrich dapet apa dari Dimas?" Tanya Fabian.
"Perlindungan. Itu yang paling simpel. Komunitas Aldrich itu kecil dan rentan, gampang banget dijadiin target kalau ada yang ngincer. Dimas punya pengaruh di himpunan, punya jaringan ke beberapa oknum di birokrasi kampus. Selama mereka saling butuh, mereka saling jaga." Jawab Zara.
Fabian diam sebentar mencerna itu.
"Jadi ini simbiosis."
"Lebih tepatnya, ini asuransi. Untuk keduanya."
Kepingan ketiga dan yang paling gelap, dateng dari cerita Zara soal sisi lain komunitas itu.
"Waktu gue masih di dalam, ada satu orang yang posisinya deket banget sama Aldrich. Bukan anggota biasa, dia semacam orang kepercayaan. Dan belakangan ini gue tau dari anggota lain yang keluar duluan bahwa orang ini punya kebiasaan yang jauh lebih kelam dari sekedar manipulasi sosial."
Zara berhenti sebentar.
"Dia kerja paruh waktu ngajar les privat. Dan ada lebih dari satu keluarga yang komplain soal caranya berperilaku sama murid-muridnya yang masih anak-anak. Tapi komplainnya nggak pernah kemana-mana."
"Karena Aldrich yang bantu nutup semuanya. Pakai koneksi yang dia punya dari Dimas. Satu laporan yang masuk ke pihak kampus entah kenapa nggak pernah diproses sama sekali. Satu keluarga yang mau bawa ke polisi tiba-tiba ditarik laporannya setelah dapet 'kunjungan' dari orang yang nggak mereka kenal."
Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Fabian liatin meja di depannya lama sebelum akhirnya ngomong.
"Dan ini semua bisa jalan karena Dimas yang kasih jaringannya."
"Dimas kasih infrastrukturnya. Aldrich yang operasiin. Mereka berdua punya terlalu banyak yang bisa saling dibongkar, jadi keduanya milih diam dan saling lindungi." Zara jawab pelan.
"Sistemnya rapi justru karena nggak ada yang mau jadi yang pertama jatuh."
"Lo lapor ke siapa pun?"
"Mau lapor ke siapa?" Zara balik nanya. Bukan retoris.
"Kampus nggak akan pernah proses ini tanpa bukti solid. Polisi? Koneksi Dimas udah nyampe ke sana. Dan gue cuma punya cerita dari orang yang udah pindah kota karena takut. Bukan bukti cerita."
Fabian nggak punya jawaban buat itu. Dan itu yang paling berat itu bukan informasinya, tapi nyadar bahwa tau aja nggak cukup.
Seminggu kemudian, rumor soal Rayan mulai beredar. Aldrich nyebarin ceri ta di lingkungan himpunan bahwa Rayan yang mulai duluan, bahwa Rayan yang nunjukin ketertarikan, yang minta deket. Buktinya? Screenshot chat yang dipotong rapi, dikirim ke beberapa orang sekaligus dengan narasi yang udah dibingkai sebelum ada yang sempet nanya versi lain.
Fabian ngerti sekarang kenapa Rayan yang dipilih jadi target. Rayan sering ada di kafe, visible, dikenal banyak orang dan punya kedekatan sama Fabian. Merusak reputasi Rayan artinya sama dengan ngasih Fabian sesuatu untuk disibukkan, sekaligus peringatan halus: gue bisa nyentuh orang-orang yang lo sayangin.
Dimas nggak perlu turun tangan langsung. Aldrich yang jalan. Sistemnya rapi persis seperti yang Zara bilang.
"Yang paling sakit itu orang-orang yang nggak nanya dulu. Yang langsung percaya aja tanpa ngecek." Kata Rayan ke Fabian di depan kafe yang udah tutup, lampu dalam mati, tinggal lampu jalan yang nyiprat masuk.
"Kita bisa lurusin ini."
"Gimana caranya?"
"Chat lengkap. Timeline kronologis. Dan gue minta Zara buat nulis kesaksian tertulis soal pola yang sama yang Aldrich lakuin sebelum lo."
Rayan natap Fabian sebentar.
"Zara mau?"
"Dia udah nunggu ada yang nanya dari lama, Yan. Gue rasa dia mau."
Forum himpunan diadain dua minggu kemudian. Rayan minta waktu bicara. Fabian yang nyiapin semua materialnya, chat lengkap dari awal sampai akhir, timeline kronologis yang disusun rapi, dan kesaksian tertulis dari Zara yang dia ketik sendiri semalam sebelumnya dengan tangan yang kata dia sempet berhenti dua kali karena nggak yakin.
Ruangan forum itu nggak besar. Massanya sekitar tiga puluh orang mungkin. Dan Fabian notice satu hal waktu dia masuk: Dimas ada di sana, duduk di barisan belakang dengan ekspresi orang yang dateng cuma buat nonton hasil akhirnya, Aldrich nggak hadir. Dan itu sendiri udah jadi jawaban buat beberapa orang di ruangan yang sebenernya masih ragu.
Rayan ngomong dengan tenang yang bikin Fabian sendiri kagum. Dia tunjukin screenshot-nya satu per satu, jelasin konteks masing-masing tanpa nada defensif dan tanpa sekalipun nunjukin ini sebagai serangan balik, murni koreksi atas narasi yang udah terlanjur beredar. Di tengah sesi, ada satu orang nanya langsung.
"Kenapa Aldrich nggak ada di sini buat jelasin versi dirinya?"
Fabian yang jawab dari kursinya bukan Rayan, karena ini pertanyaan yang butuh jawaban yang lebih dari sekedar klarifikasi pribadi.
"Itu pertanyaan yang bagus. Dan gue rasa jawabannya justru lebih penting dari apapun yang ada di screenshot itu."
Fabian berdiri pelan.
"Kalau lo nggak bersalah, lo dateng. Lo jelasin. Lo hadapi. Orang yang nggak hadir di ruangan ini sambil buktinya dibantah satu per satu, itu udah ngomong sesuatu tanpa perlu ngomong apa-apa."
Hening sebentar. Di barisan belakang, Fabian liat Dimas menggeser posisi duduknya sedikit. Nggak banyak, tapi cukup untuk dibaca sebagai orang yang baru aja nyadar bahwa malam ini nggak akan berjalan sesuai rencananya. Keputusan forum: klarifikasi resmi akan disebarkan ke seluruh jaringan himpunan, dan kasus ini diteruskan ke pihak kemahasiswaan kampus untuk ditindaklanjuti secara formal. Dimas keluar dari ruangan tanpa ngomong apa-apa ke siapa pun.
Yang terjadi setelahnya, gue juga nggak nyangka secepat itu. Pak Warsito rupanya udah lama nyimpen lebih dari sekedar informasi. Dia punya dokumentasi dari satu kasus lama, seorang mahasiswi yang pernah lapor secara informal soal pola manipulasi serupa, kasusnya nggak pernah diproses karena pelapornya menarik diri duluan setelah dapet tekanan yang nggak pernah bisa dibuktiin dari mana asalnya.
Dengan kesaksian Zara, dokumentasi forum, dan catatan Pak Warsito, pihak kemahasiswaan akhirnya punya cukup bahan untuk bergerak. Proses investigasinya sepuluh hari. Dan di hari kesebelas, surat itu keluar .Dua nama: Aldrich Santoso dan Dimas Rizaldi. Skorsing satu semester penuh, dengan klausul investigasi lanjutan yang masih berjalan untuk kasus-kasus yang lebih berat. Fabian dapet kabar itu dari Rayan lewat pesan singkat di tengah hari, waktu dia lagi di perpustakaan.
"Keduanya kena. Resmi."
Fabian baca pesan itu dua kali. Terus dia letakkan hapenya di atas meja, lihat layar laptopnya yang masih nyala dengan tab jurnal yang belum selesai dibaca, dan nggak ngapa-ngapain selama hampir semenit penuh. Ini bukan kemenangan besar, Fabian tau itu.
Aldrich belum tentu jera dan dia sekarang ngilang, entah dimana keberadaannya. Jaringannya dengan Dimas mungkin udah lebih dalam dari yang bisa dijangkau skorsing kampus. Orang kepercayaan Aldrich yang kasusnya jauh lebih gelap masih punya akses ke anak-anak, yang laporannya pernah ditelan diam-diam dan masih belum disentuh secara hukum. Sedangkan Dimas, yang skorsing-nya cuma satu semester, dan akan balik lagi ke kampus. Tapi ada sesuatu yang bergeser hari itu. Sesuatu yang lebih permanen dari sekadar keputusan administratif.
Sesaat sebelum nerima sanksi skorsing, Dimas ternyata udah tau ini bakal kejadian dan punya back-up plan. Dia ngasih tau ketua himpunan lainnya buat ngajuin surat pengajuan banding hukuman atau sanksi ke pihak kemahasiswaan atau birokrat hukum kampus. Fabian dan Rayan nggak tau akan hal ini yang pastinya bakalan ngebuat mereka berdua kaget. Alhasil, hukuman skorsing Dimas tetep berlaku hanya aja nggak terlalu lama, yang harusnya enam bulan atau satu semester penuh jadi cuma 3 bulan. Dimas pastinya ngerencanain plan yang lain supaya bisa ngejatuhin Fabian dan Rayan, dia belum selesai.
Fabian tutup laptopnya, simpen jurnal yang belum selesai, dan keluar perpustakaan dengan langkah yang sedikit berbeda dari waktu dia masuk tadi pagi. Dia udah belajar bahwa sistem yang keliatan rapat itu punya celah dan itu bisa ditemukan kalau lo cukup sabar dan cukup teliti buat nyarinya.
Ada yang beda dari awal tahun 2024. Bukan sesuatu yang bisa lo tunjuk dengan jari dan bilang 'itu dia' tapi lo juga ngerasainnya. Cara orang-orang ngobrol di warung kopi, cara dosen menutup diskusi kelas lebih cepat dari biasanya setiap kali topiknya menyerempet politik, cara grup chat angkatan yang biasanya penuh meme tiba-tiba jadi tempat yang lebih serius dari yang siapa pun rencanain. Pemilu Capres - Cawapres tinggal hitungan minggu.
Untuk pertama kalinya dalam karir politiknya yang panjang, seorang figur yang namanya sudah lama beredar di antara catatan kelam sejarah bangsa ini. Mantan jenderal dengan rekam jejak yang nggak pernah benar-benar diselesaikan secara hukum, yang namanya pernah disebut dalam berbagai laporan pelanggaran HAM, dan sampai hari ini masih menggantung tanpa keadilan, benar-benar berdiri di ambang kursi kepresidenan. Bukan karena rakyat lupa. Tapi karena mesin yang mengantarkannya ke sana bekerja terlalu rapi untuk dilawan dengan cara biasa.
Di Forum Satu Suara, diskusinya nggak lagi soal 'siapa yang kalian pilih'. Sudah jauh melewati itu. Yang dibahas adalah laporan-laporan yang mulai masuk dari berbagai daerah: pemilih ganda yang terdaftar di TPS yang berbeda, surat suara yang sudah tercoblos sebelum pemungutan dimulai, tekanan terhadap aparatur desa untuk mengarahkan suara ke satu pasangan, bantuan sosial yang tiba-tiba mengalir deras ke kantong-kantong pemilih di minggu tenang dengan cap institusi negara yang seharusnya netral. Nando yang pertama kali membawa data itu ke forum bukan dari satu sumber, tapi dari jaringan pemantau independen yang tersebar di puluhan kabupaten.
"Ini bukan kecurangan sporadis. Ini terstruktur. Ini sistematis. Dan ini masif."
Nando naruh tumpukan printout di atas meja.
"TSM. Terstruktur, Sistematis, Masif. Dan yang lebih mengerikan, ada tangan negara di dalamnya."
Ruangan diam. Bukan diam yang kosong tapi diam yang penuh dengan orang-orang yang lagi proses implikasi dari apa yang baru aja mereka denger.
Pak Warsito yang ngajakin Fabian masuk ke kelompok ini sejak awal semester. Caranya khas: nyebut nama forumnya sambil lalu setelah kuliah, gaya orang yang lagi kasih info cuaca. Tapi Fabian udah cukup kenal Pak Warsito untuk tau bahwa nggak ada yang dia sebutin secara kebetulan. Forum Satu Suara ngumpul tiap Rabu malam di ruang belakang perpustakaan kota Semarang, bukan kampus. Mereka nggak mau berafiliasi sama institusi mana pun, dan alasannya makin jelas makin lama Fabian ikut diskusinya.
Di situ Fabian ketemu Nando. Muhammad Nando Prasetya. Mahasiswa FISIP UNNES, semester enam, rambut gondrong, dan cara ngomong yang bikin orang ngerasa bahwa apa yang dia bilang adalah sesuatu yang penting untuk didengar, bukan karena dia arogan, tapi karena dia beneran percaya sama setiap kata yang keluar dari mulutnya dan bisa nunjukin datanya kalau ditanya.
Nando adalah tipe idealis yang langka: yang idealismenya nggak bikin dia buta, justru bikin dia lebih teliti. Dia nggak cuma bakar semangat, dia nyusun strategi, ngitung risiko, tau persis berapa orang yang bisa dimobilisasi dan dalam berapa hari. Dan yang paling penting, dia tau kapan harus berhenti.
"Lo Fabian, kan?" Nando nyamperin duluan di sela istirahat forum.
"Iya." Jawab Fabian.
"Pak Warsito bilang lo orang yang bisa dipercaya. Bukan cuma pintar tapi bisa dipercaya. Dua hal yang berbeda."
Fabian natap dia sebentar.
"Lo butuh apa?"
"Orang yang tetap mikir jernih waktu situasi mulai panas. Bukan buat jadi pahlawan di depan, buat mastiin kita nggak kehilangan arah waktu semua orang lagi emosi dan semua rencana mulai melenceng."
Fabian nggak langsung jawab. Tapi dia juga nggak langsung pergi. Dan buat Nando, itu udah cukup buat awal.
Hasil pemilu diumumkan resmi di pertengahan Februari. Pasangan nomor urut 02 menang dengan angka yang kata lembaga-lembaga pemantau independen tidak konsisten dengan hasil hitung cepat dari sumber-sumber yang selama ini terbukti kredibel. Selisihnya terlalu besar, terlalu rapi, dan distribusi suaranya membentuk pola yang hampir mustahil terjadi secara organik.
Gugatan mulai masuk ke Mahkamah Konstitusi. Dan di berbagai kota, orang-orang yang selama ini hanya marah di kolom komentar mulai turun ke jalan.
Di forum diskusi Rabu malam setelah pengumuman itu, suasananya berbeda dari biasanya. Lebih banyak orang. Beberapa wajah baru yang Fabian belum pernah lihat sebelumnya mahasiswa dari kampus lain, beberapa aktivis yang sudah lebih lama bergerak dari siapa pun di ruangan itu. Ada satu perempuan paruh baya yang ternyata adalah koordinator jaringan korban pelanggaran HAM yang kasusnya belum pernah tuntas sejak 27 tahun yang lalu.
Perempuan itu ngomong pelan. Tapi ruangan diam total waktu dia bicara.
"Kami sudah menunggu keadilan selama dua puluh tahun. Anak-anak kami tumbuh tanpa ayah mereka. Dan sekarang orang yang bertanggung jawab atas semua itu yang tidak pernah diadili, yang tidak pernah meminta maaf akan duduk di kursi tertinggi negara ini."
Suaranya tidak bergetar. Itu yang paling berat.
"Kalian boleh bilang kami terlalu emosional. Tapi kami yang paling berhak marah di ruangan ini. Dan kami sudah berdiri terlalu lama. Sekarang giliran kalian berdiri bersama kami."
Fabian nggak bisa tidur malam itu.
Sementara itu, Clara nemuin lead soal Hasna di minggu yang sama. Seorang teman kuliahnya yang volunteer di LSM perempuan di Semarang Barat nyebut nama yang familiar waktu mereka ngobrol soal program pendampingan. Nama yang mirip. Deskripsi fisik yang cocok.
Clara kirim pesan ke grup mereka bertiga:
"Gue mungkin nemu petunjuk."
Fabian baca itu di sela forum. Dia tutup hapenya, tarik napas panjang, dan ngetik balik setelah beberapa menit:
"Kita kejar pelan-pelan. Jangan buru-buru."
Rayan jawab duluan, "Gue ikut. Kapanpun, dimanapun."
Tapi mereka tau ini nggak bisa gegabah. Kalau itu beneran Hasna dan kalau dia ada di sana karena minta perlindungan, satu langkah yang salah bisa nutup pintunya selamanya.
Ibu Retno pertama kali Fabian liat di depan kafe Rayan. Gerobak nasi kulit yang mangkal pas di tikungan, udah ada disana lebih lama dari siapa pun yang sekarang jadi pelanggannya. Fabian beli nasi kulit karena lapar dan kafe udah tutup. Beberapa hari kemudian, waktu situasi makin panas, dia mampir lagi. Ibu Retno yang mulai ngomong duluan.
"Mas mahasiswa juga ikut demo itu?" Sambil ngulek sambel tanpa berhenti.
"Lagi mikir-mikir, Bu."
"Ya mikir yang bener, Mas. Bukan ibu larang, tapi tiap ada demo besar gerobak ibu pasti sepi tiga hari. Orang-orang takut keluar."
Fabian nggak punya jawaban buat itu.
"Ibu nggak ngerti politik, Mas. Ibu juga nggak ngerti siapa yang curang siapa yang bener. Yang ibu ngerti itu kalau kota panas, yang paling duluan susah itu orang kayak ibu. Bukan yang ada di gedung-gedung itu." Dia naruh piring di depan Fabian.
"Tapi kalau emang harus ada yang turun ke jalan supaya keadaan jadi lebih baik, ya turun aja. Cuma inget, Mas: jangan sampai perjuangan kamu bikin orang lain yang nggak ada urusan ikut kena."
Fabian bawa nasi kucing itu pulang dan makan sambil mikirin kalimat terakhir Ibu Retno lebih lama dari yang dia sangka.
• • •
Demo besar pertama ditetapin tanggal 12 Maret 2024. Pemicunya bukan satu kejadian tunggal tapi akumulasi dari serangkaian hal yang terjadi dalam waktu berdekatan: sidang gugatan di MK yang prosesnya dinilai tidak transparan, beredarnya rekaman audio yang diduga percakapan seorang pejabat KPU yang membicarakan angka-angka sebelum penghitungan resmi selesai, dan pernyataan resmi dari koalisi lembaga pemantau internasional yang menyebut pemilu ini sebagai yang paling banyak temuan pelanggarannya dalam dua dekade terakhir.
Di atas semua itu, ada satu hal yang paling membuat Nando dan orang-orang di Forum Satu Suara nggak bisa diem: catatan masa lalu calon presiden terpilih yang selama ini dikubur rapi mulai kembali beredar, laporan-laporan lama soal penculikan aktivis, tentang perintah yang diduga datang dari garis komando yang melibatkan namanya, tentang keluarga-keluarga yang sampai hari ini masih menunggu kepastian soal orang-orang yang mereka cintai dan tidak pernah pulang.
Ini bukan isu baru. Tapi sekarang, orang yang pernah disebut dalam isu itu akan resmi memegang kekuasaan tertinggi. Dan itu yang bikin ribuan orang memutuskan bahwa diam bukan lagi pilihan. Nando ngorganisir dari sisi mahasiswa dengan cara yang lebih matang dari yang Fabian bayangkan sebelumnya.
Koordinasi lintas kampus dilakukan dua minggu sebelumnya. Ada briefing lapangan soal protokol: nggak ada provokasi duluan, nggak ada benda yang bisa disalahartiin, dan ada tim kecil yang khusus jaga komunikasi antar blok massa supaya nggak terpecah kalau situasi memanas. Nando juga minta semua peserta yang punya kondisi kesehatan tertentu atau nggak siap menghadapi risiko fisik untuk tidak memaksakan diri hadir.
"Ini bukan ajang heroisme." Nando bilang di briefing terakhir malam sebelum demo.
"Ini pernyataan kolektif. Lo dateng buat bilang ke siapa pun yang nonton bahwa ada orang-orang yang nggak mau diem. Bukan buat cari masalah. Bukan buat jadi berita. Buat didengar."
Fabian ada di tengah barisan. Bukan di depan, itu tempat Nando dan orang-orang yang udah siap dengan konsekuensinya. Tapi juga bukan di belakang.
"Lo nggak harus ikut, Fab."Rayan bilang pagi itu di kos.
"Gue tau."
"Tapi lo tetap mau?"
"Iya."
Rayan diam sebentar. Terus ambil jaketnya. "Oke. Gue ikut juga kalau gitu."
Semarang panas di bulan Maret 2024 dan bukan cuma cuacanya. Massa berkumpul dari tiga titik berbeda dan bergabung di depan Kantor Gubernur sekitar pukul sepuluh pagi. Jumlahnya lebih besar dari yang Nando estimasi bukan cuma mahasiswa, tapi juga buruh pabrik yang dapet hari libur dadakan, guru honorer yang udah lama nggak punya tempat menyuarakan frustrasinya, dan beberapa warga yang dateng bawa spanduk tulisan tangan dengan kalimat-kalimat yang lebih jujur dari pernyataan resmi mana pun.
Orasi dimulai. Nando di atas mobil komando, suaranya keluar lewat megafon dengan tenang yang mengejutkan untuk seseorang yang usianya belum dua puluh tiga tahun. Dia nggak berteriak tanpa isi, setiap kalimat punya data, punya konteks, punya tuntutan yang spesifik.
Dia sebut angka-angka temuan kecurangan. Dia bacain nama-nama korban yang kasusnya masih menggantung. Dia tanya keras-keras bukan dengan nada provokatif tapi dengan nada orang yang beneran minta jawaban, apakah ada pemimpin di negara ini yang sanggup berdiri di depan keluarga-keluarga itu dan bilang bahwa keadilan akan datang.
Fabian berdiri di tengah kerumunan dan ngerasa sesuatu yang jarang dia rasain dalam setahun terakhir: bahwa dia nggak sendirian ngerasa ada yang salah. Aparat dateng sekitar satu jam kemudian. Bukan pertama kalinya gue denger soal ini, tapi waktu Rayan cerita ke gue malamnya, yang bikin gue merinding bukan soal situasi yang makin tegang atau water cannon yang akhirnya keluar. Itu udah hampir bisa diprediksi.
Yang bikin gue merinding adalah nama yang Rayan sebut setelahnya. Barisan Brimob yang berdiri menghadang pendemo dateng dari arah timur. Mereka berbaris rapi, seragam lengkap, wajah setengah tertutup pelindung. Dan di antara barisan itu, di posisi yang keliatan kayak koordinator lapangan, Fabian ketemu Rifky. Mereka nggak berhadapan langsung, kerumunan terlalu padat buat itu. Tapi di satu celah yang terbuka sebentar di antara massa yang mulai bergerak, mata mereka ketemu. Satu detik, mungkin dua. Rifky dalam seragam lengkap, berdiri tegak dengan cara orang yang terlatih buat nggak nunjukin apa yang dia rasain di balik seragamnya. Fabian dalam kerumunan yang mulai didorong mundur.
Nggak ada yang ngomong. Jaraknya terlalu jauh buat itu. Tapi Fabian tau bahwa Rifky ngenali dia. Dan Rifky tau bahwa Fabian ngenali dia. Dan di dalam satu detik itu, ada ribuan hal yang nggak terucap, termasuk satu pertanyaan yang udah lama tinggal di dada Fabian tanpa pernah bisa dia tanyakan langsung: "dimana keberadaan Hasna?"
Situasi makin ricuh sekitar tengah hari. Pemicunya bukan dari pihak mahasiswa, tapi dari kelompok yang sampai sekarang nggak ada yang tau mereka dateng dari mana. Mereka ada di pinggiran massa, nggak bawa atribut apa pun, dan di satu momen yang sulit ditangkap kamera, mulai melempar sesuatu ke arah barisan aparat.
Itu cukup buat jadi alasan. Water cannon dinyalain. Barisan aparat maju. Dan massa yang tadinya tertib mulai terpecah ke berbagai arah dalam kekacauan yang terjadi terlalu cepat buat siapa pun bisa kendaliin. Nando ditangkep pas dia lagi turun dari mobil komando empat petugas, cepat, cara yang keliatan udah direncanain sebelumnya. Beberapa mahasiswa lain ikut dibawa. Di tengah kekacauan itu, Fabian kehilangan Rayan selama hampir sepuluh menit yang terasa jauh lebih panjang dari itu.
Dia nemu Rayan di belakang kerumunan untungnya nggak kenapa-napa, cuma kehilangan sandal dan kehilangan napas. Dan waktu barisan Brimob mulai nutup celah dan Fabian hampir ikut tersapu masuk ke dalam lingkaran penangkapan, ada tangan yang narik bahunya mundur dari belakang. Pak Warsito. Rompi press yang Fabian nggak pernah tau dia punya.
"Jangan masuk lebih dalam. Lo nggak akan bisa keluar dari sana dengan cara yang baik." Cepat, pelan, langsung bawa Fabian mundur tiga langkah sebelum celah itu benar-benar tertutup.
• • •
Mereka duduk di trotoar dua blok dari lokasi. Rayan di sebelah Fabian, lutut sedikit lecet. Pak Warsito berdiri sedikit lebih jauh, nelpon seseorang dengan nada serius tapi terkontrol.
"Rifky ada di sana."
Fabian ngomong ke Rayan.
"Gue tau. Gue liat juga."
"Dia tau Hasna ada di mana. Gue nggak bisa buktiin — tapi gue yakin dia tau."
Rayan nggak jawab langsung. Angin bawa sisa asap dari arah demo yang mulai bubar.
"Terus sekarang gimana?"
Fabian liatin aspal. Ada sisa kertas poster yang basah, tulisannya blur tapi masih bisa dibaca separuh:
"Suara Kami —" Sisanya robek.
"Kita tunggu Nando keluar dulu. Kita pastiin semua orang aman. Terus kita lanjut nyari Hasna dari lead Clara."
"Pelan-pelan."
"Tapi kita nggak berhenti."
Nando keluar delapan belas jam kemudian. Bukan dibebasin karena baiknya hati siapa pun, tapi karena Pak Warsito punya koneksi ke lembaga bantuan hukum yang bergerak cukup cepat. Fabian nggak tau sampai seberapa jauh jaringan Pak Warsito, dan dia mulai ngerasa bahwa nggak tau itu mungkin disengaja.
Nando keluar dengan kemeja yang sama, lebih kusut, dan ekspresi orang yang capek tapi belum mau berhenti.
"Berapa yang kena?"
Itu yang pertama dia tanya waktu keluar.
"Dua belas. Semuanya udah ada pendampingan."
"Ada yang luka?"
"Beberapa lebam. Nggak ada yang berat." Nando ngangguk pelan.
"Kelompok yang lempar itu bukan bagian dari kita." Dia ngomong tanpa ditanya, kayak dia tau itu yang ada di pikiran semua orang.
"Gue nggak tau mereka dari mana. Tapi polanya gue udah pernah denger dari kota lain. Mereka selalu muncul di demo-demo besar. Selalu di pinggiran. Selalu ninggalin cukup kekacauan buat jadi alasan pembubaran."
Fabian lirik Pak Warsito yang berdiri sedikit di belakang. Pak Warsito nggak ngomong apa-apa — tapi dia ngangguk kecil, cukup buat Fabian ngerti bahwa Nando nggak asal bicara.
"Ini bukan yang terakhir, Fab."
Nando bilang ke Fabian.
"Dan yang berikutnya harus lebih rapi. Kita harus bisa bedain mana yang beneran bagian dari kita dan mana yang nggak."
• • •
Dua hari kemudian, Fabian pergi sendirian ke warung Ibu Retno. Ibu Retno lagi ngulek sambel. Nggak berhenti waktu nyapa.
"Mas yang kemarin ikut demo itu?"
"Iya, Bu."
"Selamat ya, masih utuh." Beneran ngucapin selamat. Nggak ada sinis.
"Bu Retno kemarin gimana?"
"Sepi, kayak yang gue bilang. Dua hari. Tapi udah balik normal sekarang." Dia naruh piring di depan Fabian.
"Pesannya nyampe, kan? Yang penting itu."
Fabian nggak langsung jawab.
"Belum tau, Bu. Belum bisa dipastiin."
"Ya namanya juga perjuangan, Mas. Kalau langsung keliatan hasilnya, namanya bukan perjuangan — itu belanja." Fabian ketawa kecil. Pertama kalinya dalam beberapa hari.
Lead soal Hasna dikejar dengan hati-hati. Clara yang ambil langkah pertama, dateng ke LSM itu bukan sebagai pencari, tapi sebagai calon relawan. Isi formulir, ikut orientasi, pelan-pelan bangun kepercayaan sebelum mulai nanya soal yang dia beneran mau tau. Butuh tiga minggu sebelum seseorang di sana, dengan hati-hati, bilang satu kalimat yang bikin Clara harus nahan napasnya:
"Ada satu perempuan di sini yang sempat minta namanya nggak disebut ke siapa pun. Tapi dia bilang, kalau ada teman lamanya yang cari, teman yang namanya Rayan atau Clara, kasih tau bahwa dia baik-baik saja."
Clara duduk diam di parkiran LSM sepuluh menit sebelum bisa ngetik dengan tangannya yang sedikit gemetar.
"Dia oke. Dia ada di sini. Dia belum siap ketemu, tapi dia tau kita nyari."
Rayan bales duluan:
"..."
"Syukurlah."
Fabian baca pesan itu di kos, malam, sendirian. Dia taruh hapenya, liatin langit-langit yang catnya mulai mengelupas di sudut, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan bukan lega, bukan senang. Tapi sesuatu yang lebih tenang dari dua-duanya ddia bisa napas panjang tanpa ada yang nyangkut di dadanya. Dia ketik balasannya tiga menit kemudian:
"Oke. Kita tunggu dia siap. Seberapapun lamanya."
Itu yang gue inget dari akhir semester empat Fabian di Semarang. Bukan demo-nya, bukan Nando yang ditangkep, bukan tatapan Rifky di tengah kerumunan, bukan suara perempuan paruh baya di forum yang ngomong soal dua puluh tahun menunggu keadilan. Yang paling gue inget adalah pesan itu. Dan cara Fabian nulis balasannya. Karena Fabian yang nulis kalimat itu bukan Fabian yang sama dengan yang nelpon gue jam tiga pagi setahun sebelumnya dengan suara yang hampir nggak kedengeran.
Masih banyak yang belum selesai, Rifky yang belum dikonfrontasi, Hasna yang belum siap ketemu. Dan keadilan di luar sana, di tingkat yang jauh lebih besar dari satu kota, satu kampus, atau satu kelompok mahasiswa. Masih belum jelas akan datang dalam bentuk apa dan kapan. Tapi Fabian udah belajar sesuatu yang nggak bisa diajarkan di tempat mana pun:
Bahwa marah yang nggak punya arah hanya akan membakar dirinya sendiri. Bahwa sabar bukan berarti menyerah. Dan bahwa kadang, cara paling keras kepala buat nunjukin bahwa lo peduli adalah dengan tetap ada hari ini, besok, dan hari-hari setelahnya sampai orang yang lo tunggu akhirnya siap buat pulang.
Dokter Nisa yang periksa Fabian pertama kali. Dia dokter muda dan yang pertama gue pikir waktu ngeliat dia adalah: orang ini terlalu muda buat udah keliatan capek banget. Tapi kata Rayan, malem itu dia yang paling tenang di ruangan. Dia periksa luka Fabian dengan teliti. Dua tulang rusuk retak, lebam di rahang dan pelipis, dan satu luka di belakang lutut yang bikin Fabian nggak bisa berdiri penuh selama beberapa hari ke depan. Semua dicatat. Tapi yang bikin Rayan notice adalah satu hal kecil yang Dokter Nisa lakuin sebelum keluar ruangan: dia foto kondisi luka Fabian dengan kameranya sendiri, bukan kamera rumah sakit.
"Jatuh dari mana, Mas?" Suaranya datar. Bukan menuduh. Tapi juga bukan langsung percaya.
"Tangga kos." Fabian jawab tanpa noleh.
Dokter Nisa nulis sesuatu di catatannya. Nggak ngomong apa-apa lagi soal itu. Tapi dia nyimpen fotonya. Rayan bawa Fabian balik ke kos sekitar subuh. Mereka berdua nggak ngomong banyak di motor — Fabian duduk di belakang dengan satu tangan nahan rusuknya, Rayan nyetir pelan banget karena takut guncangan bikin sakit. Di kos, Rayan masak indomie. Jam empat pagi. Kompor kecil yang apinya suka nggak rata, panci yang pegangannya udah lepas satu sisi, dan dua orang yang udah terlalu capek buat pura-pura oke.
"Lo makan dulu." Rayan taruh mangkuk di depan Fabian.
"Gue nggak lapar."
"Gue tau. Tapi makan dulu."
Fabian makan. Pelan, tapi makan.
Rayan duduk di seberangnya, pegang cangkir kopi yang nggak beneran dia minum, dan nggak nanya apa-apa soal tadi malam. Bukan karena dia nggak mau tau — tapi karena dia udah cukup kenal Fabian untuk ngerti bahwa ada waktu buat nanya dan ada waktu buat diam. Malem itu, waktunya diam.
Telepon itu masuk jam tiga lebih dua puluh menit. Gue lagi setengah tidur di kamar kos Jakarta gue, dengan kipas angin yang bunyi krek-krek dan satu novel yang udah gue baca ulang terlalu banyak kali. Waktu layar hape nyala dan nama Fabian muncul, gue duduk tegak dalam dua detik.
"Fab?" Nggak ada jawaban langsung. Gue denger napasnya dulu.
"Kei."
"Gue di sini. Lo oke?" Hening sebentar.
"Gue gagal jaga dia, Kei."
Gue nggak tau mau bilang apa. Bukan karena gue nggak punya kata-kata atau gue punya terlalu banyak, dan semuanya kedengeran salah. Jadi gue nggak bilang apa-apa. Gue cuma tetap di line, rebahan di kasur dengan hape nempel di telinga, dengerin napas Fabian yang pelan-pelan jadi lebih rata. Dia ketiduran duluan. Gue tutup teleponnya jam empat lebih, dan gue nggak bisa tidur sampai pagi.
• • •
Semester baru dimulai awal Februari. Dan nama Hasna nggak ada di daftar absensi FIB. Clara yang ngurusin, dia yang bolak-balik ke bagian akademik, yang nunggu di depan loket sampai antriannya habis, yang nyoba berbagai cara nanya supaya jawabannya bukan sekedar template. Hasilnya tetap sama.
"Mahasiswa atas nama Hasna Naura dinyatakan mengundurkan diri terhitung tanggal dua Januari dua ribu dua puluh tiga. Clara baca itu tiga kali sebelum dia foto suratnya dan kirim ke grup mereka bertiga."
"Ini nggak mungkin keputusan Hasna."Pesan pertama yang Fabian kirim.
"Gue tau." Jawaban Clara. Singkat, tapi beratnya sama.
Fabian mulai nyusun timeline di buku catatannya. Bukan buku catatan kuliah, dia beli buku baru khusus buat ini. Cover hitam, nggak ada label. Isinya: tanggal terakhir Hasna keliatan di kampus, nama kafe tempat Rifky dateng, plat nomor mobil yang Rayan sempet inget sepenggal, perkiraan arah yang mereka pergi. Dia nyoba lapor ke pihak kampus. Jawabannya dateng dari bagian kemahasiswaan, diketik rapi di atas kertas berkop universitas:
"Kami menghargai kepedulian Saudara, namun hal ini merupakan keputusan pribadi mahasiswa yang bersangkutan dan berada di luar kewenangan institusi."
Fabian lipet surat itu. Simpen di dalam buku catatan hitamnya. Dia hubungin nomor keluarga Hasna yang pernah Hasna sebut sekali waktu mereka ngobrol soal mudik. Nggak aktif. Dia coba cari nama Hasna di media sosial yang belum di-private. Akun terakhirnya update tiga hari sebelum malam di kafe itu foto kopi dan buku, caption singkat soal deadline tugas. Komentar temantemannya masih ada di bawah foto itu, nggak tau bahwa itu akan jadi postingan terakhir. Rayan nemuin Fabian di perpustakaan FIB tiga kali dalam satu minggu. Bukan perpustakaan fakultas Fabian sendiri. FIB, tempat yang bahkan bukan wilayah jurusannya.
"Lo ngapain di sini?" Rayan duduk di seberangnya, naruh tas, ngeliatin Fabian yang pura-pura baca jurnal.
"Baca."
"Di FIB."
"Perpustakaan kampus kan satu." Rayan nggak jawab. Dia buka laptopnya dan mulai ngerjain tugasnya sendiri.
Mereka duduk dua jam di sana tanpa ngomong banyak. Dan Fabian nggak beneran baca jurnalnya, dia cuma duduk di tempat yang pernah Hasna rekomendasiin waktu mereka ngobrolin soal koleksi manuskrip Belanda yang katanya ada di lantai tiga. Gue tau ini dari Rayan, yang ceritanya ke gue dengan nada yang campur antara khawatir dan gue nggak tau, mungkin terharu juga.
"Dia masih nunggu, Kei." Kata Rayan waktu telepon gue.
"Caranya nunggu cuma beda."
Yang akhirnya bikin Fabian sedikit keluar dari putarannya adalah Rayan sendiri. Suatu sore di akhir Februari, Rayan dateng ke kos Fabian dengan dua bungkus nasi kucing dan satu pernyataan yang langsung to the point:
"Kita nggak bisa lakuin apa-apa sekarang, Fab. Rifky punya koneksi yang kita bahkan nggak tau seberapa jauhnya. Laporan kita bisa dibuang sebelum diproses. Dan kita nggak cukup punya pegangan buat konfrontasi dia langsung." Fabian dengerin tanpa motong.
"Tapi kita bisa pastiin satu hal." Lanjut Rayan
"Kalau Hasna balik, dan gue percaya dia bakal balik, ada yang nunggu. Ada yang masih tau dia pernah di sini. Itu yang bisa kita lakuin sekarang."
Fabian nggak langsung jawab. Dia makan nasi kuningnya pelan-pelan. Tapi malem itu, buku catatan hitamnya dibuka lagi bukan untuk nambah timeline, tapi untuk nulis satu kalimat di halaman pertama yang selama ini kosong: Kita tunggu, tapi kita nggak berhenti cari. Semester II Fabian di Semarang berjalan normal dan seperti biasa, untungnya dia nggak ngalamin kejadian atau peristiwa pahit lagi kayak semester sebelumnya. Tiap hari dia cuma masuk kelas, kuliah, nugas di perpus, nongkrong, kadang cari duit kalo ada kesempatan. Tapi dibalik itu semua dia ngebawa kondisi mental yang sakit dan rapuh, pikirannya kemana-mana udah nggak bisa fokus satu hal dan kegelisahan mulai menyerangnya semenjak kejadian itu.
• • •
Ada orang-orang yang pertama kali ketemu mereka, lo ngerasa langsung nyaman. Bukan karena mereka genuinely baik, tapi karena mereka sangat terlatih untuk keliatan seperti itu. Aldrich Santoso adalah tipe orang seperti itu.
Beberapa bulan kemudian, sekitar bulan Agustus tahun 2023, semester tiga dimulai dengan Rayan dapet shift pagi di kafe. Yang artinya dia harus bangun jam lima, nyiapin bahan, dan udah di belakang counter sebelum pelanggan pertama dateng. Capek, tapi Rayan nggak pernah ngeluh soal itu.
Aldrich pertama kali muncul di minggu kedua Agustus. Mahasiswa Hukum semester enam, tampang rapi, senyum yang pas, tingginya sekitar 175 cm atau sekitar 5'9" ft, bahu nggak terlalu lebar, nggak terlalu dingin. Dia pesan americano, bayar tunai, dan ninggalin tip yang jumlahnya persis dua kali harga kopinya.
Minggu depannya dia dateng lagi. Pesan yang sama. Minggu depannya lagi, dia mulai ngobrol.
"Lo yang selalu shift pagi, ya?" Santai. Kayak basa-basi biasa.
"Iya. Udah setaun lebih."
"Gue respect banget sama orang yang bisa konsisten kayak gitu. Nggak gampang, apalagi sambil kuliah."
Rayan bilang makasih. Nggak terlalu mikirin. Tapi Aldrich terus dateng dan obrolannya pelan-pelan jadi lebih dari sekedar basa-basi. Yang bikin nggak nyaman bukan satu momen besar itu yang susah dijelasin Rayan ke gue waktu dia cerita. Itu akumulasi dari hal-hal kecil yang masing-masing berdiri sendiri keliatan normal. Aldrich mulai tau nama teman-teman Rayan tanpa pernah diperkenalkan. Dia muncul di kafe pas jam-jam yang bukan jam kunjungan biasanya biasanya tengah hari, atau bahkan malam sebelum kafe tutup. Dia kirim pesan lewat Instagram soal artikel yang katanya relate sama jurusan Rayan, lanjut ke rekomendasi podcast, lanjut ke cerita pribadinya sendiri yang makin lama makin intimate tanpa Rayan pernah minta.
Dan setiap kali Rayan ngerasa ada yang off, ada satu hal yang bikin dia ragu sendiri: Aldrich selalu keliatan genuinely care. Nggak ada yang bisa di-screenshot dan bilang ini harassment. Nggak ada yang bisa ditunjukin ke orang lain dan bilang ini salah.
"Masa iya gue nggak nyaman cuma karena orang itu terlalu baik?" Itu kalimat yang Rayan ulang ke dirinya sendiri terlalu banyak kali.
Fabian yang notice duluan. Bukan dari cerita Rayan, tapi dari suatu sore di kafe, waktu Fabian lagi nunggu Rayan selesai shift dan dia liat Rayan matiin notif dari nomor yang sama untuk ketiga kalinya dalam sejam. Tangan Rayan nggak beneran gemetar, tapi ada sesuatu dengan cara dia naruh hapenya terlalu cepat, terlalu sadar ngebuat Fabian diem-diem perhatiin.
"Siapa?" Fabian nanya waktu mereka udah di luar.
"Nggak ada. Kenalan aja."
"Kenalan yang notifnya lo mute."
Rayan diem nggak jawab. Mereka jalan dua blok sebelum akhirnya Rayan cerita pelan - pelan.
"Gue nggak bisa jelasin kenapa ini ganggu gue, Fab. Dia nggak pernah lakuin sesuatu yang jelas-jelas salah. Dia cuma…"
"Terlalu ada." Fabian motong, bukan nanya. Ngasih kata yang Rayan lagi nyari.
Rayan diem sebentar. Terus ngangguk.
"Iya. Terlalu ada."
Fabian mulai perhatiin Aldrich dari jauh. Dan makin lama dia perhatiin, makin banyak pertanyaan yang muncul. Aldrich punya lingkaran sosial yang kecil tapi solid, sekelompok mahasiswa dari berbagai jurusan yang sering nongkrong bareng di bawah label komunitas LGBT kampus. Dari luar, kelompok itu keliatan kayak safe space biasa.
Tapi yang bikin Fabian penasaran bukan komunitasnya, melainkan satu hal yang dia notice setelah beberapa minggu observasi diam-diam: Aldrich sering banget keliatan di sekitaran himpunan. Bukan sebagai anggota resmi, bukan sebagai undangan forum. Dia cuma... ada. Di kantin sebelah sekretariat, di parkiran yang sama, di warung kopi yang jadi tongkrongan orang-orang himpunan setelah rapat, Aldrich selalu hadir bareng anak-anak himpunan. Dan tiap kali Aldrich ada di sana, Dimas ada di dekatnya. Itu yang pertama kali bikin Fabian berhenti dan beneran mikir.
Jawaban soal hubungan Aldrich dan Dimas itu akhirnya Fabian dapet bukan dari satu sumber, tapi dari nyambungin beberapa kepingan yang berbeda. Kepingan pertama dari Rayan sendiri, yang cerita bahwa setahun sebelumnya sebelum Fabian dateng ke Semarang, Dimas pernah ada masalah besar. Salah satu anggota himpunannya ketauan nyontek sistematis di ujian akhir, dan kasusnya hampir naik ke sidang akademik. Kalau itu terjadi, nama himpunan ikut tercoreng dan posisi Dimas sebagai ketua bisa goyah.
Kasusnya nggak pernah naik ke sidang. Diselesaikan secara diam-diam di tingkat jurusan. Rayan denger rumor ini dari orang yang denger orang lain katanya bantu 'negosiasi' penyelesaiannya adalah seorang mahasiswa Hukum yang punya akses ke jaringan senior-senior yang bisa bisik-bisik ke telinga yang tepat. Mahasiswa Hukum itu bernama Aldrich Santoso.
Kepingan kedua Fabian dapet dari Zara, mahasiswi Psikologi semester lima yang dia temuin lewat Pak Warsito. Mereka duduk di kantin pojok yang sepi. Zara pegang cangkir kopinya tanpa diminum.
"Aldrich itu bukan tipe orang yang butuh satu alasan buat nempel sama seseorang. Dia selalu punya lebih dari satu."
Zara mulai cerita.
"Sama Dimas, gue rasa alasannya mutual. Dimas butuh orang yang bisa gerak di luar radar — yang bisa deketin target, kumpulin informasi, atau bikinin masalah buat orang-orang yang dianggap ancaman. Aldrich bisa lakuin semua itu karena dia punya akses ke lingkaran sosial yang berbeda. Orang-orang nggak curiga sama dia." Ujar Zara.
"Tapi Aldrich dapet apa dari Dimas?" Tanya Fabian.
"Perlindungan. Itu yang paling simpel. Komunitas Aldrich itu kecil dan rentan, gampang banget dijadiin target kalau ada yang ngincer. Dimas punya pengaruh di himpunan, punya jaringan ke beberapa oknum di birokrasi kampus. Selama mereka saling butuh, mereka saling jaga." Jawab Zara.
Fabian diam sebentar mencerna itu.
"Jadi ini simbiosis."
"Lebih tepatnya, ini asuransi. Untuk keduanya."
Kepingan ketiga dan yang paling gelap, dateng dari cerita Zara soal sisi lain komunitas itu.
"Waktu gue masih di dalam, ada satu orang yang posisinya deket banget sama Aldrich. Bukan anggota biasa, dia semacam orang kepercayaan. Dan belakangan ini gue tau dari anggota lain yang keluar duluan bahwa orang ini punya kebiasaan yang jauh lebih kelam dari sekedar manipulasi sosial."
Zara berhenti sebentar.
"Dia kerja paruh waktu ngajar les privat. Dan ada lebih dari satu keluarga yang komplain soal caranya berperilaku sama murid-muridnya yang masih anak-anak. Tapi komplainnya nggak pernah kemana-mana."
"Karena Aldrich yang bantu nutup semuanya. Pakai koneksi yang dia punya dari Dimas. Satu laporan yang masuk ke pihak kampus entah kenapa nggak pernah diproses sama sekali. Satu keluarga yang mau bawa ke polisi tiba-tiba ditarik laporannya setelah dapet 'kunjungan' dari orang yang nggak mereka kenal."
Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Fabian liatin meja di depannya lama sebelum akhirnya ngomong.
"Dan ini semua bisa jalan karena Dimas yang kasih jaringannya."
"Dimas kasih infrastrukturnya. Aldrich yang operasiin. Mereka berdua punya terlalu banyak yang bisa saling dibongkar, jadi keduanya milih diam dan saling lindungi." Zara jawab pelan.
"Sistemnya rapi justru karena nggak ada yang mau jadi yang pertama jatuh."
"Lo lapor ke siapa pun?"
"Mau lapor ke siapa?" Zara balik nanya. Bukan retoris.
"Kampus nggak akan pernah proses ini tanpa bukti solid. Polisi? Koneksi Dimas udah nyampe ke sana. Dan gue cuma punya cerita dari orang yang udah pindah kota karena takut. Bukan bukti cerita."
Fabian nggak punya jawaban buat itu. Dan itu yang paling berat itu bukan informasinya, tapi nyadar bahwa tau aja nggak cukup.
Seminggu kemudian, rumor soal Rayan mulai beredar. Aldrich nyebarin ceri ta di lingkungan himpunan bahwa Rayan yang mulai duluan, bahwa Rayan yang nunjukin ketertarikan, yang minta deket. Buktinya? Screenshot chat yang dipotong rapi, dikirim ke beberapa orang sekaligus dengan narasi yang udah dibingkai sebelum ada yang sempet nanya versi lain.
Fabian ngerti sekarang kenapa Rayan yang dipilih jadi target. Rayan sering ada di kafe, visible, dikenal banyak orang dan punya kedekatan sama Fabian. Merusak reputasi Rayan artinya sama dengan ngasih Fabian sesuatu untuk disibukkan, sekaligus peringatan halus: gue bisa nyentuh orang-orang yang lo sayangin.
Dimas nggak perlu turun tangan langsung. Aldrich yang jalan. Sistemnya rapi persis seperti yang Zara bilang.
"Yang paling sakit itu orang-orang yang nggak nanya dulu. Yang langsung percaya aja tanpa ngecek." Kata Rayan ke Fabian di depan kafe yang udah tutup, lampu dalam mati, tinggal lampu jalan yang nyiprat masuk.
"Kita bisa lurusin ini."
"Gimana caranya?"
"Chat lengkap. Timeline kronologis. Dan gue minta Zara buat nulis kesaksian tertulis soal pola yang sama yang Aldrich lakuin sebelum lo."
Rayan natap Fabian sebentar.
"Zara mau?"
"Dia udah nunggu ada yang nanya dari lama, Yan. Gue rasa dia mau."
Forum himpunan diadain dua minggu kemudian. Rayan minta waktu bicara. Fabian yang nyiapin semua materialnya, chat lengkap dari awal sampai akhir, timeline kronologis yang disusun rapi, dan kesaksian tertulis dari Zara yang dia ketik sendiri semalam sebelumnya dengan tangan yang kata dia sempet berhenti dua kali karena nggak yakin.
Ruangan forum itu nggak besar. Massanya sekitar tiga puluh orang mungkin. Dan Fabian notice satu hal waktu dia masuk: Dimas ada di sana, duduk di barisan belakang dengan ekspresi orang yang dateng cuma buat nonton hasil akhirnya, Aldrich nggak hadir. Dan itu sendiri udah jadi jawaban buat beberapa orang di ruangan yang sebenernya masih ragu.
Rayan ngomong dengan tenang yang bikin Fabian sendiri kagum. Dia tunjukin screenshot-nya satu per satu, jelasin konteks masing-masing tanpa nada defensif dan tanpa sekalipun nunjukin ini sebagai serangan balik, murni koreksi atas narasi yang udah terlanjur beredar. Di tengah sesi, ada satu orang nanya langsung.
"Kenapa Aldrich nggak ada di sini buat jelasin versi dirinya?"
Fabian yang jawab dari kursinya bukan Rayan, karena ini pertanyaan yang butuh jawaban yang lebih dari sekedar klarifikasi pribadi.
"Itu pertanyaan yang bagus. Dan gue rasa jawabannya justru lebih penting dari apapun yang ada di screenshot itu."
Fabian berdiri pelan.
"Kalau lo nggak bersalah, lo dateng. Lo jelasin. Lo hadapi. Orang yang nggak hadir di ruangan ini sambil buktinya dibantah satu per satu, itu udah ngomong sesuatu tanpa perlu ngomong apa-apa."
Hening sebentar. Di barisan belakang, Fabian liat Dimas menggeser posisi duduknya sedikit. Nggak banyak, tapi cukup untuk dibaca sebagai orang yang baru aja nyadar bahwa malam ini nggak akan berjalan sesuai rencananya. Keputusan forum: klarifikasi resmi akan disebarkan ke seluruh jaringan himpunan, dan kasus ini diteruskan ke pihak kemahasiswaan kampus untuk ditindaklanjuti secara formal. Dimas keluar dari ruangan tanpa ngomong apa-apa ke siapa pun.
Yang terjadi setelahnya, gue juga nggak nyangka secepat itu. Pak Warsito rupanya udah lama nyimpen lebih dari sekedar informasi. Dia punya dokumentasi dari satu kasus lama, seorang mahasiswi yang pernah lapor secara informal soal pola manipulasi serupa, kasusnya nggak pernah diproses karena pelapornya menarik diri duluan setelah dapet tekanan yang nggak pernah bisa dibuktiin dari mana asalnya.
Dengan kesaksian Zara, dokumentasi forum, dan catatan Pak Warsito, pihak kemahasiswaan akhirnya punya cukup bahan untuk bergerak. Proses investigasinya sepuluh hari. Dan di hari kesebelas, surat itu keluar .Dua nama: Aldrich Santoso dan Dimas Rizaldi. Skorsing satu semester penuh, dengan klausul investigasi lanjutan yang masih berjalan untuk kasus-kasus yang lebih berat. Fabian dapet kabar itu dari Rayan lewat pesan singkat di tengah hari, waktu dia lagi di perpustakaan.
"Keduanya kena. Resmi."
Fabian baca pesan itu dua kali. Terus dia letakkan hapenya di atas meja, lihat layar laptopnya yang masih nyala dengan tab jurnal yang belum selesai dibaca, dan nggak ngapa-ngapain selama hampir semenit penuh. Ini bukan kemenangan besar, Fabian tau itu.
Aldrich belum tentu jera dan dia sekarang ngilang, entah dimana keberadaannya. Jaringannya dengan Dimas mungkin udah lebih dalam dari yang bisa dijangkau skorsing kampus. Orang kepercayaan Aldrich yang kasusnya jauh lebih gelap masih punya akses ke anak-anak, yang laporannya pernah ditelan diam-diam dan masih belum disentuh secara hukum. Sedangkan Dimas, yang skorsing-nya cuma satu semester, dan akan balik lagi ke kampus. Tapi ada sesuatu yang bergeser hari itu. Sesuatu yang lebih permanen dari sekadar keputusan administratif.
Sesaat sebelum nerima sanksi skorsing, Dimas ternyata udah tau ini bakal kejadian dan punya back-up plan. Dia ngasih tau ketua himpunan lainnya buat ngajuin surat pengajuan banding hukuman atau sanksi ke pihak kemahasiswaan atau birokrat hukum kampus. Fabian dan Rayan nggak tau akan hal ini yang pastinya bakalan ngebuat mereka berdua kaget. Alhasil, hukuman skorsing Dimas tetep berlaku hanya aja nggak terlalu lama, yang harusnya enam bulan atau satu semester penuh jadi cuma 3 bulan. Dimas pastinya ngerencanain plan yang lain supaya bisa ngejatuhin Fabian dan Rayan, dia belum selesai.
Fabian tutup laptopnya, simpen jurnal yang belum selesai, dan keluar perpustakaan dengan langkah yang sedikit berbeda dari waktu dia masuk tadi pagi. Dia udah belajar bahwa sistem yang keliatan rapat itu punya celah dan itu bisa ditemukan kalau lo cukup sabar dan cukup teliti buat nyarinya.
Ada yang beda dari awal tahun 2024. Bukan sesuatu yang bisa lo tunjuk dengan jari dan bilang 'itu dia' tapi lo juga ngerasainnya. Cara orang-orang ngobrol di warung kopi, cara dosen menutup diskusi kelas lebih cepat dari biasanya setiap kali topiknya menyerempet politik, cara grup chat angkatan yang biasanya penuh meme tiba-tiba jadi tempat yang lebih serius dari yang siapa pun rencanain. Pemilu Capres - Cawapres tinggal hitungan minggu.
Untuk pertama kalinya dalam karir politiknya yang panjang, seorang figur yang namanya sudah lama beredar di antara catatan kelam sejarah bangsa ini. Mantan jenderal dengan rekam jejak yang nggak pernah benar-benar diselesaikan secara hukum, yang namanya pernah disebut dalam berbagai laporan pelanggaran HAM, dan sampai hari ini masih menggantung tanpa keadilan, benar-benar berdiri di ambang kursi kepresidenan. Bukan karena rakyat lupa. Tapi karena mesin yang mengantarkannya ke sana bekerja terlalu rapi untuk dilawan dengan cara biasa.
Di Forum Satu Suara, diskusinya nggak lagi soal 'siapa yang kalian pilih'. Sudah jauh melewati itu. Yang dibahas adalah laporan-laporan yang mulai masuk dari berbagai daerah: pemilih ganda yang terdaftar di TPS yang berbeda, surat suara yang sudah tercoblos sebelum pemungutan dimulai, tekanan terhadap aparatur desa untuk mengarahkan suara ke satu pasangan, bantuan sosial yang tiba-tiba mengalir deras ke kantong-kantong pemilih di minggu tenang dengan cap institusi negara yang seharusnya netral. Nando yang pertama kali membawa data itu ke forum bukan dari satu sumber, tapi dari jaringan pemantau independen yang tersebar di puluhan kabupaten.
"Ini bukan kecurangan sporadis. Ini terstruktur. Ini sistematis. Dan ini masif."
Nando naruh tumpukan printout di atas meja.
"TSM. Terstruktur, Sistematis, Masif. Dan yang lebih mengerikan, ada tangan negara di dalamnya."
Ruangan diam. Bukan diam yang kosong tapi diam yang penuh dengan orang-orang yang lagi proses implikasi dari apa yang baru aja mereka denger.
Pak Warsito yang ngajakin Fabian masuk ke kelompok ini sejak awal semester. Caranya khas: nyebut nama forumnya sambil lalu setelah kuliah, gaya orang yang lagi kasih info cuaca. Tapi Fabian udah cukup kenal Pak Warsito untuk tau bahwa nggak ada yang dia sebutin secara kebetulan. Forum Satu Suara ngumpul tiap Rabu malam di ruang belakang perpustakaan kota Semarang, bukan kampus. Mereka nggak mau berafiliasi sama institusi mana pun, dan alasannya makin jelas makin lama Fabian ikut diskusinya.
Di situ Fabian ketemu Nando. Muhammad Nando Prasetya. Mahasiswa FISIP UNNES, semester enam, rambut gondrong, dan cara ngomong yang bikin orang ngerasa bahwa apa yang dia bilang adalah sesuatu yang penting untuk didengar, bukan karena dia arogan, tapi karena dia beneran percaya sama setiap kata yang keluar dari mulutnya dan bisa nunjukin datanya kalau ditanya.
Nando adalah tipe idealis yang langka: yang idealismenya nggak bikin dia buta, justru bikin dia lebih teliti. Dia nggak cuma bakar semangat, dia nyusun strategi, ngitung risiko, tau persis berapa orang yang bisa dimobilisasi dan dalam berapa hari. Dan yang paling penting, dia tau kapan harus berhenti.
"Lo Fabian, kan?" Nando nyamperin duluan di sela istirahat forum.
"Iya." Jawab Fabian.
"Pak Warsito bilang lo orang yang bisa dipercaya. Bukan cuma pintar tapi bisa dipercaya. Dua hal yang berbeda."
Fabian natap dia sebentar.
"Lo butuh apa?"
"Orang yang tetap mikir jernih waktu situasi mulai panas. Bukan buat jadi pahlawan di depan, buat mastiin kita nggak kehilangan arah waktu semua orang lagi emosi dan semua rencana mulai melenceng."
Fabian nggak langsung jawab. Tapi dia juga nggak langsung pergi. Dan buat Nando, itu udah cukup buat awal.
Hasil pemilu diumumkan resmi di pertengahan Februari. Pasangan nomor urut 02 menang dengan angka yang kata lembaga-lembaga pemantau independen tidak konsisten dengan hasil hitung cepat dari sumber-sumber yang selama ini terbukti kredibel. Selisihnya terlalu besar, terlalu rapi, dan distribusi suaranya membentuk pola yang hampir mustahil terjadi secara organik.
Gugatan mulai masuk ke Mahkamah Konstitusi. Dan di berbagai kota, orang-orang yang selama ini hanya marah di kolom komentar mulai turun ke jalan.
Di forum diskusi Rabu malam setelah pengumuman itu, suasananya berbeda dari biasanya. Lebih banyak orang. Beberapa wajah baru yang Fabian belum pernah lihat sebelumnya mahasiswa dari kampus lain, beberapa aktivis yang sudah lebih lama bergerak dari siapa pun di ruangan itu. Ada satu perempuan paruh baya yang ternyata adalah koordinator jaringan korban pelanggaran HAM yang kasusnya belum pernah tuntas sejak 27 tahun yang lalu.
Perempuan itu ngomong pelan. Tapi ruangan diam total waktu dia bicara.
"Kami sudah menunggu keadilan selama dua puluh tahun. Anak-anak kami tumbuh tanpa ayah mereka. Dan sekarang orang yang bertanggung jawab atas semua itu yang tidak pernah diadili, yang tidak pernah meminta maaf akan duduk di kursi tertinggi negara ini."
Suaranya tidak bergetar. Itu yang paling berat.
"Kalian boleh bilang kami terlalu emosional. Tapi kami yang paling berhak marah di ruangan ini. Dan kami sudah berdiri terlalu lama. Sekarang giliran kalian berdiri bersama kami."
Fabian nggak bisa tidur malam itu.
Sementara itu, Clara nemuin lead soal Hasna di minggu yang sama. Seorang teman kuliahnya yang volunteer di LSM perempuan di Semarang Barat nyebut nama yang familiar waktu mereka ngobrol soal program pendampingan. Nama yang mirip. Deskripsi fisik yang cocok.
Clara kirim pesan ke grup mereka bertiga:
"Gue mungkin nemu petunjuk."
Fabian baca itu di sela forum. Dia tutup hapenya, tarik napas panjang, dan ngetik balik setelah beberapa menit:
"Kita kejar pelan-pelan. Jangan buru-buru."
Rayan jawab duluan, "Gue ikut. Kapanpun, dimanapun."
Tapi mereka tau ini nggak bisa gegabah. Kalau itu beneran Hasna dan kalau dia ada di sana karena minta perlindungan, satu langkah yang salah bisa nutup pintunya selamanya.
Ibu Retno pertama kali Fabian liat di depan kafe Rayan. Gerobak nasi kulit yang mangkal pas di tikungan, udah ada disana lebih lama dari siapa pun yang sekarang jadi pelanggannya. Fabian beli nasi kulit karena lapar dan kafe udah tutup. Beberapa hari kemudian, waktu situasi makin panas, dia mampir lagi. Ibu Retno yang mulai ngomong duluan.
"Mas mahasiswa juga ikut demo itu?" Sambil ngulek sambel tanpa berhenti.
"Lagi mikir-mikir, Bu."
"Ya mikir yang bener, Mas. Bukan ibu larang, tapi tiap ada demo besar gerobak ibu pasti sepi tiga hari. Orang-orang takut keluar."
Fabian nggak punya jawaban buat itu.
"Ibu nggak ngerti politik, Mas. Ibu juga nggak ngerti siapa yang curang siapa yang bener. Yang ibu ngerti itu kalau kota panas, yang paling duluan susah itu orang kayak ibu. Bukan yang ada di gedung-gedung itu." Dia naruh piring di depan Fabian.
"Tapi kalau emang harus ada yang turun ke jalan supaya keadaan jadi lebih baik, ya turun aja. Cuma inget, Mas: jangan sampai perjuangan kamu bikin orang lain yang nggak ada urusan ikut kena."
Fabian bawa nasi kucing itu pulang dan makan sambil mikirin kalimat terakhir Ibu Retno lebih lama dari yang dia sangka.
• • •
Demo besar pertama ditetapin tanggal 12 Maret 2024. Pemicunya bukan satu kejadian tunggal tapi akumulasi dari serangkaian hal yang terjadi dalam waktu berdekatan: sidang gugatan di MK yang prosesnya dinilai tidak transparan, beredarnya rekaman audio yang diduga percakapan seorang pejabat KPU yang membicarakan angka-angka sebelum penghitungan resmi selesai, dan pernyataan resmi dari koalisi lembaga pemantau internasional yang menyebut pemilu ini sebagai yang paling banyak temuan pelanggarannya dalam dua dekade terakhir.
Di atas semua itu, ada satu hal yang paling membuat Nando dan orang-orang di Forum Satu Suara nggak bisa diem: catatan masa lalu calon presiden terpilih yang selama ini dikubur rapi mulai kembali beredar, laporan-laporan lama soal penculikan aktivis, tentang perintah yang diduga datang dari garis komando yang melibatkan namanya, tentang keluarga-keluarga yang sampai hari ini masih menunggu kepastian soal orang-orang yang mereka cintai dan tidak pernah pulang.
Ini bukan isu baru. Tapi sekarang, orang yang pernah disebut dalam isu itu akan resmi memegang kekuasaan tertinggi. Dan itu yang bikin ribuan orang memutuskan bahwa diam bukan lagi pilihan. Nando ngorganisir dari sisi mahasiswa dengan cara yang lebih matang dari yang Fabian bayangkan sebelumnya.
Koordinasi lintas kampus dilakukan dua minggu sebelumnya. Ada briefing lapangan soal protokol: nggak ada provokasi duluan, nggak ada benda yang bisa disalahartiin, dan ada tim kecil yang khusus jaga komunikasi antar blok massa supaya nggak terpecah kalau situasi memanas. Nando juga minta semua peserta yang punya kondisi kesehatan tertentu atau nggak siap menghadapi risiko fisik untuk tidak memaksakan diri hadir.
"Ini bukan ajang heroisme." Nando bilang di briefing terakhir malam sebelum demo.
"Ini pernyataan kolektif. Lo dateng buat bilang ke siapa pun yang nonton bahwa ada orang-orang yang nggak mau diem. Bukan buat cari masalah. Bukan buat jadi berita. Buat didengar."
Fabian ada di tengah barisan. Bukan di depan, itu tempat Nando dan orang-orang yang udah siap dengan konsekuensinya. Tapi juga bukan di belakang.
"Lo nggak harus ikut, Fab."Rayan bilang pagi itu di kos.
"Gue tau."
"Tapi lo tetap mau?"
"Iya."
Rayan diam sebentar. Terus ambil jaketnya. "Oke. Gue ikut juga kalau gitu."
Semarang panas di bulan Maret 2024 dan bukan cuma cuacanya. Massa berkumpul dari tiga titik berbeda dan bergabung di depan Kantor Gubernur sekitar pukul sepuluh pagi. Jumlahnya lebih besar dari yang Nando estimasi bukan cuma mahasiswa, tapi juga buruh pabrik yang dapet hari libur dadakan, guru honorer yang udah lama nggak punya tempat menyuarakan frustrasinya, dan beberapa warga yang dateng bawa spanduk tulisan tangan dengan kalimat-kalimat yang lebih jujur dari pernyataan resmi mana pun.
Orasi dimulai. Nando di atas mobil komando, suaranya keluar lewat megafon dengan tenang yang mengejutkan untuk seseorang yang usianya belum dua puluh tiga tahun. Dia nggak berteriak tanpa isi, setiap kalimat punya data, punya konteks, punya tuntutan yang spesifik.
Dia sebut angka-angka temuan kecurangan. Dia bacain nama-nama korban yang kasusnya masih menggantung. Dia tanya keras-keras bukan dengan nada provokatif tapi dengan nada orang yang beneran minta jawaban, apakah ada pemimpin di negara ini yang sanggup berdiri di depan keluarga-keluarga itu dan bilang bahwa keadilan akan datang.
Fabian berdiri di tengah kerumunan dan ngerasa sesuatu yang jarang dia rasain dalam setahun terakhir: bahwa dia nggak sendirian ngerasa ada yang salah. Aparat dateng sekitar satu jam kemudian. Bukan pertama kalinya gue denger soal ini, tapi waktu Rayan cerita ke gue malamnya, yang bikin gue merinding bukan soal situasi yang makin tegang atau water cannon yang akhirnya keluar. Itu udah hampir bisa diprediksi.
Yang bikin gue merinding adalah nama yang Rayan sebut setelahnya. Barisan Brimob yang berdiri menghadang pendemo dateng dari arah timur. Mereka berbaris rapi, seragam lengkap, wajah setengah tertutup pelindung. Dan di antara barisan itu, di posisi yang keliatan kayak koordinator lapangan, Fabian ketemu Rifky. Mereka nggak berhadapan langsung, kerumunan terlalu padat buat itu. Tapi di satu celah yang terbuka sebentar di antara massa yang mulai bergerak, mata mereka ketemu. Satu detik, mungkin dua. Rifky dalam seragam lengkap, berdiri tegak dengan cara orang yang terlatih buat nggak nunjukin apa yang dia rasain di balik seragamnya. Fabian dalam kerumunan yang mulai didorong mundur.
Nggak ada yang ngomong. Jaraknya terlalu jauh buat itu. Tapi Fabian tau bahwa Rifky ngenali dia. Dan Rifky tau bahwa Fabian ngenali dia. Dan di dalam satu detik itu, ada ribuan hal yang nggak terucap, termasuk satu pertanyaan yang udah lama tinggal di dada Fabian tanpa pernah bisa dia tanyakan langsung: "dimana keberadaan Hasna?"
Situasi makin ricuh sekitar tengah hari. Pemicunya bukan dari pihak mahasiswa, tapi dari kelompok yang sampai sekarang nggak ada yang tau mereka dateng dari mana. Mereka ada di pinggiran massa, nggak bawa atribut apa pun, dan di satu momen yang sulit ditangkap kamera, mulai melempar sesuatu ke arah barisan aparat.
Itu cukup buat jadi alasan. Water cannon dinyalain. Barisan aparat maju. Dan massa yang tadinya tertib mulai terpecah ke berbagai arah dalam kekacauan yang terjadi terlalu cepat buat siapa pun bisa kendaliin. Nando ditangkep pas dia lagi turun dari mobil komando empat petugas, cepat, cara yang keliatan udah direncanain sebelumnya. Beberapa mahasiswa lain ikut dibawa. Di tengah kekacauan itu, Fabian kehilangan Rayan selama hampir sepuluh menit yang terasa jauh lebih panjang dari itu.
Dia nemu Rayan di belakang kerumunan untungnya nggak kenapa-napa, cuma kehilangan sandal dan kehilangan napas. Dan waktu barisan Brimob mulai nutup celah dan Fabian hampir ikut tersapu masuk ke dalam lingkaran penangkapan, ada tangan yang narik bahunya mundur dari belakang. Pak Warsito. Rompi press yang Fabian nggak pernah tau dia punya.
"Jangan masuk lebih dalam. Lo nggak akan bisa keluar dari sana dengan cara yang baik." Cepat, pelan, langsung bawa Fabian mundur tiga langkah sebelum celah itu benar-benar tertutup.
• • •
Mereka duduk di trotoar dua blok dari lokasi. Rayan di sebelah Fabian, lutut sedikit lecet. Pak Warsito berdiri sedikit lebih jauh, nelpon seseorang dengan nada serius tapi terkontrol.
"Rifky ada di sana."
Fabian ngomong ke Rayan.
"Gue tau. Gue liat juga."
"Dia tau Hasna ada di mana. Gue nggak bisa buktiin — tapi gue yakin dia tau."
Rayan nggak jawab langsung. Angin bawa sisa asap dari arah demo yang mulai bubar.
"Terus sekarang gimana?"
Fabian liatin aspal. Ada sisa kertas poster yang basah, tulisannya blur tapi masih bisa dibaca separuh:
"Suara Kami —" Sisanya robek.
"Kita tunggu Nando keluar dulu. Kita pastiin semua orang aman. Terus kita lanjut nyari Hasna dari lead Clara."
"Pelan-pelan."
"Tapi kita nggak berhenti."
Nando keluar delapan belas jam kemudian. Bukan dibebasin karena baiknya hati siapa pun, tapi karena Pak Warsito punya koneksi ke lembaga bantuan hukum yang bergerak cukup cepat. Fabian nggak tau sampai seberapa jauh jaringan Pak Warsito, dan dia mulai ngerasa bahwa nggak tau itu mungkin disengaja.
Nando keluar dengan kemeja yang sama, lebih kusut, dan ekspresi orang yang capek tapi belum mau berhenti.
"Berapa yang kena?"
Itu yang pertama dia tanya waktu keluar.
"Dua belas. Semuanya udah ada pendampingan."
"Ada yang luka?"
"Beberapa lebam. Nggak ada yang berat." Nando ngangguk pelan.
"Kelompok yang lempar itu bukan bagian dari kita." Dia ngomong tanpa ditanya, kayak dia tau itu yang ada di pikiran semua orang.
"Gue nggak tau mereka dari mana. Tapi polanya gue udah pernah denger dari kota lain. Mereka selalu muncul di demo-demo besar. Selalu di pinggiran. Selalu ninggalin cukup kekacauan buat jadi alasan pembubaran."
Fabian lirik Pak Warsito yang berdiri sedikit di belakang. Pak Warsito nggak ngomong apa-apa — tapi dia ngangguk kecil, cukup buat Fabian ngerti bahwa Nando nggak asal bicara.
"Ini bukan yang terakhir, Fab."
Nando bilang ke Fabian.
"Dan yang berikutnya harus lebih rapi. Kita harus bisa bedain mana yang beneran bagian dari kita dan mana yang nggak."
• • •
Dua hari kemudian, Fabian pergi sendirian ke warung Ibu Retno. Ibu Retno lagi ngulek sambel. Nggak berhenti waktu nyapa.
"Mas yang kemarin ikut demo itu?"
"Iya, Bu."
"Selamat ya, masih utuh." Beneran ngucapin selamat. Nggak ada sinis.
"Bu Retno kemarin gimana?"
"Sepi, kayak yang gue bilang. Dua hari. Tapi udah balik normal sekarang." Dia naruh piring di depan Fabian.
"Pesannya nyampe, kan? Yang penting itu."
Fabian nggak langsung jawab.
"Belum tau, Bu. Belum bisa dipastiin."
"Ya namanya juga perjuangan, Mas. Kalau langsung keliatan hasilnya, namanya bukan perjuangan — itu belanja." Fabian ketawa kecil. Pertama kalinya dalam beberapa hari.
Lead soal Hasna dikejar dengan hati-hati. Clara yang ambil langkah pertama, dateng ke LSM itu bukan sebagai pencari, tapi sebagai calon relawan. Isi formulir, ikut orientasi, pelan-pelan bangun kepercayaan sebelum mulai nanya soal yang dia beneran mau tau. Butuh tiga minggu sebelum seseorang di sana, dengan hati-hati, bilang satu kalimat yang bikin Clara harus nahan napasnya:
"Ada satu perempuan di sini yang sempat minta namanya nggak disebut ke siapa pun. Tapi dia bilang, kalau ada teman lamanya yang cari, teman yang namanya Rayan atau Clara, kasih tau bahwa dia baik-baik saja."
Clara duduk diam di parkiran LSM sepuluh menit sebelum bisa ngetik dengan tangannya yang sedikit gemetar.
"Dia oke. Dia ada di sini. Dia belum siap ketemu, tapi dia tau kita nyari."
Rayan bales duluan:
"..."
"Syukurlah."
Fabian baca pesan itu di kos, malam, sendirian. Dia taruh hapenya, liatin langit-langit yang catnya mulai mengelupas di sudut, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan bukan lega, bukan senang. Tapi sesuatu yang lebih tenang dari dua-duanya ddia bisa napas panjang tanpa ada yang nyangkut di dadanya. Dia ketik balasannya tiga menit kemudian:
"Oke. Kita tunggu dia siap. Seberapapun lamanya."
Itu yang gue inget dari akhir semester empat Fabian di Semarang. Bukan demo-nya, bukan Nando yang ditangkep, bukan tatapan Rifky di tengah kerumunan, bukan suara perempuan paruh baya di forum yang ngomong soal dua puluh tahun menunggu keadilan. Yang paling gue inget adalah pesan itu. Dan cara Fabian nulis balasannya. Karena Fabian yang nulis kalimat itu bukan Fabian yang sama dengan yang nelpon gue jam tiga pagi setahun sebelumnya dengan suara yang hampir nggak kedengeran.
Masih banyak yang belum selesai, Rifky yang belum dikonfrontasi, Hasna yang belum siap ketemu. Dan keadilan di luar sana, di tingkat yang jauh lebih besar dari satu kota, satu kampus, atau satu kelompok mahasiswa. Masih belum jelas akan datang dalam bentuk apa dan kapan. Tapi Fabian udah belajar sesuatu yang nggak bisa diajarkan di tempat mana pun:
Bahwa marah yang nggak punya arah hanya akan membakar dirinya sendiri. Bahwa sabar bukan berarti menyerah. Dan bahwa kadang, cara paling keras kepala buat nunjukin bahwa lo peduli adalah dengan tetap ada hari ini, besok, dan hari-hari setelahnya sampai orang yang lo tunggu akhirnya siap buat pulang.
Other Stories
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
The Unkindled Of The Broken Soil
Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...
Jjjjjj
ghjjjj ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...