Rembulan Digenggam Malam

Reads
4
Votes
1
Parts
1
Vote
Report
rembulan digenggam malam
Rembulan Digenggam Malam
Penulis Moon

Chapter 1

EMPAT JAM SETELAH TAHUN BARU 2101

Kamu pernah nggak membayangkan suatu hari kamu bangun terus kamu diberi tahu kalau uang udah nggak ada artinya lagi?

Wah, mau ketawa kan? Kayak rasanya mustahil banget deh!

Berabad-abad lamanya manusia nggak segan-segan saling menipu, mencelakai, bahkan menyakiti satu sama lain demi uang. Ya kali uang nggak bermakna?!

Well, well, well, bisa-bisa aja sih itu terjadi, tapi mungkin di akhirat nggak sih?

Sayangnya, Rembulan bahkan nggak percaya reinkarnasi, kehidupan setelah mati, or ya no matter what people call it. Baginya hidup ya saat ini. Sama kayak ingatannya yang kosong sebelum lahir, dia cukup yakin mati pun nanti nggak akan berbeda jauh dari itu. Dia hanya akan dimakan cacing terus jadi tanah. Percaya deh, kalau kamu hidup terlalu lama kadang yang kamu damba tuh cuma hidup itu berakhir begitu saja dan udah.

Entahlah saat orang sibuk berlomba-lomba mencari uang untuk bisa terus menyambung nyawa, Rembulan justru sibuk menghabiskan uang yang susah-payah dia dapatkan guna mencari cara mempersingkat waktu hidupnya.

Gila? Hm, Rembulan bahkan selalu iri tiap kali mendengar berita orang mati. Dia selalu ingin bertukar tempat dengan mereka yang diantar oleh iring-iringan orang menuju kuburan. Dia juga selalu bermimpi andai dia bisa mati dengan tenang dalam tidurnya seperti sekarang, ah, ya ... jika dia betulan mati udah pasti dia nggak akan mampu lagi mendengar suara bising alarm ponselnya. Iya, kan? Namun, nyatanya telinganya kini justru penuh oleh bunyi-bunyian semacam ini ....

“And now, the end is near ....”

Oh, Tuhaaaan, bayangkan kamu mendengar alarm semacam itu tiada henti sepanjang 36.500 hari, siapa sih yang tahan dan nggak kepengen buru-buru mati?!

Metavia, salah satu kota terbesar di negerinya—banyak orang dari berbagai tempat berbondong-bondong mengadu nasib ke tempat yang katanya bisa bikin kamu kaya raya, Rembulan dulu juga salah satunya yang percaya kalau hidupnya akan lebih terjamin, tapi apalah artinya terjamin bila satu hal tersisa yang dia inginkan hanyalah kematian—beberapa minggu lalu baru saja ulang tahun ke-576.

Huh, bagaimana coba kalau Rembulan mesti hidup hingga selama itu? Membayangkannya pun dia tak sudi!

Sumpah, hidup di kota sepadat Metavia tuh melelahkan. Apalagi jika kamu udah menjalaninya secara monoton sepanjang 100 tahun. Okay, sekali lagi akan diulangi, 100 tahun!

Pun, Rembulan bahkan sempat dengar bahwa berdasarkan laporan sensus berbasis digital tahun lalu saja ada sekitar 20 juta jiwa menghuni Metavia. Praktis naik 10 juta dalam kurun seabad!

Ah, bicara soal seabad, memang banyak hal telah berubah. Agaknya hampir semua berubah—terlebih di luar negerinya—kecuali Rembulan, keinginannya untuk mati, serta kerakusan manusia-manusia di Metavia.

Sekarang nih ya, semakin banyak rumah bergaya menara sampai-sampai semalam saat kembang api ingar-bingar memenuhi sepenjuru langit Metavia, Rembulan cukup duduk maka dari balik kaca tempat tinggalnya dia dapat menikmati warna-warni kembang api yang belum juga berhenti jadi simbol perayaan.

Tak lupa, bahkan ada taksi online hilir-mudik di angkasa macam pesawat kertas yang dulu dia mainkan di awal-awal abad ke-21, serta drone-drone pengantar paket milik ekspedisi yang seolah tak kenal rehat.

“And now, the end is near ....”

"Hisssh!" Rembulan buru-buru mengubur telinganya pakai bantal. Sungguh sialan memang, alarm ponselnya bernyanyi lagi!

Tetapi, uang ....

Oh, benar! Rembulan ingat ini tanggal 1 Januari. Tak peduli libur dan semestinya orang-orang sibuk liburan dia toh tetap harus bayar dengan tepat waktu sewa flat-nya. Ingatkan, dia juga harus belanja bulanan. Selain itu, dia juga wajib mengirim uang ke rumah untuk membiayai kucing-kucingnya yang terpaksa dia tinggalkan karena tempat tinggal sewaannya tiap tahun di Metavia justru tambah sempit saja.

Huh, belum juga mengecek gaji, tapi Rembulan udah bisa membayangkan jika seluruh nominal uangnya baik itu 76 tahun lalu pas dia masih jadi karyawan fresh grad atau pun hari ini nasib gajinya sama saja cuma akan lewat di rekening!

Hish, ingatkan juga bahwa dia mesti memanggil robot teknisi—demi harga lebih miring biasanya kalau hari libur beberapa vendor lebih sering mengirim robot dibanding teknisi sungguhan, meski kalau nggak beruntung bisa saja ketemunya robot yang gampang error—buat memperbaiki kran dapurnya yang bocor hari ini. Owh, uang uang uang semua butuh uang!

“Die with a smile ....”

Bukan lagi alarm, kini handphone-nya lah, yang entah dia letakkan di mana mulai memperdengarkan nada dering. Lagi, siapa sih yang menelepon subuh-subuh begini?

"Jawab," Rembulan berbisik malas dan detik berselang tanpa perlu menggeser layar atau menggenggam ponselnya di tangan, teknologi langsung bikin sambungan tersebut terhubung.

"Buuul?" Itu suara Amaiya, tetangga flat-nya. Kenapa dia mesti telepon segala? Ah, mungkin karena di Metavia kecepatan internet lebih kencang dari berkedip. Andai Wakil Wali Kota nggak tamak menilep uang proyekan pengadaan infrastruktur digital harusnya bisa lebih cepat lagi sih!

See? Mau sekarang, seratus, atau bahkan seribu tahun lalu manusia memang selalu menghamba uang!

"Huh? Baru juga subuh," keluh Rembulan melenguh begitu di kejauhan telinganya mendengar samar-samar kumandang suara adzan. "Lo nggak tidur apa?"

"Gimana gue bisa tidur?"

"Ya tinggal merem lah." Saat ini bahkan tersedia kacamata yang bisa bikin kamu langsung tidur bak menelan zolpidem. Meski harganya tentu selangit sehingga baik Rembulan maupun Amaiya udah jelas bukanlah target pasarnya. "Kenapa? Tetangga atas flat lo gaduh?"

"Heran sama yang bisa tidur. Seluruh kota pasti gaduh sih," katanya, menyindir Rembulan nggak tuh?

Namun, ya Rembulan sudah lama berhenti jadi manusia baperan oleh sebab itu dia hanya menanggapi santai, "Kenapa? Komisi Pemburu Korupsi berhasil nemuin jejaknya Wakil Wali Kota?"

Wakil Wali Kota yang lagi kabur dan jadi sumber berita terpanas belakangan adalah anak dari Wali Kota Metavia. Dia bahkan lebih muda dari Rembulan. Seumpama mereka nggak mengakali sistem dan regulasi Rembulan yakin sih anak itu mungkin hanya akan sibuk menjajakan donat pakai drone-nya keliling kota!

"Emang Wakil Wali Kota bakal dipenjara kalau duit nggak ada artinya?"

Rembulan meringis. "Gue kemaren lihat anak-anak pulang sekolah berebut mungutin duit recehan dekat halte yang nggak sengaja dicecerin sama vending robot error. Duit nggak berharga? Kasih tahu gue kalau kita lagi di Kayangan!"

"Lo belum cek hape?" Amaiya bertanya, nadanya gregetan.

"Kenapa sih?"

"Skor gue 500 lebih dikit, Buuul!"

"Toelf? Memang masih make gituan ya?" Rembulan memang udah nggak update soal pendidikan. Amaiya katanya mau lanjut S2. Hal wajar sih dia toh memang masih muda dan belum hidup selama 100 tahun!

"Buuul ihhh! Wake up! Duit gue di rekening semuanya berubah jadi skoooor!" paniknya.

"Hah?"

"Duit gue yang mau gue beliin bitcoin jadi skor dan gue yakin punya lo juga!"

"Whaaat?" Rembulan pun bangun dalam satu kali sentakan. Tak peduli dia baru tidur satu sampai dua jam pandangannya toh langsung terang benderang.

"Cek hape lo!" Dan, panggilan pun terputus.

Menuruti kata-kata Amaiya yang sepertinya nggak bercanda, kini dalam ponselnya yang dia temukan tergeletak bak sebilah pecahan kaca di lantai dekat kamar mandi bisa Rembulan lihat telah banyak notifikasi masuk. Baik panggilan tak terjawab maupun chat.

Namun, di atas segalanya, ada satu sih yang menarik perhatian Rembulan yakni hadirnya sebuah aplikasi aneh berwarna merah-putih-hijau.

"Buka deh yang baru terinstal itu," gumam Rembulan. Nggak sepenuhnya takut kayak Amaiya soalnya dia udah hidup selama 100 tahun. Ingat kan? Bukannya mau sombong, tapi mulai dari wabah penyakit hingga mesti disuntik vaksin dadakan, Rembulan telah menghatamkannya.

Lalu, benar saja berkat internet super-sat-set yang selalu dibangga-banggakan oleh pejabat Metavia—yang padahal masih kalah jauh dari negeri-negeri tetangga—aplikasi tersebut kilat saja terbuka, dan di layar transparan ponselnya hingga rasanya huruf-huruf tersebut keluar dari telapak tangannya sendiri tampaklah tulisan yang dapat Rembulan baca ....

Selamat datang di Sistem Kehidupan Baru. Skor ini menentukan hak dan akses Anda. Kepada:

Rembulan Ambari

29, Perempuan, Karyawan Swasta

Skor 520/1000 ( Risiko Tinggi )

Jaga baik-baik reputasi digital Anda.

Tidak, data itu tidak salah kok. Rembulan memang 29 tahun sejak 2031. Tepatnya, sejak Komet Tempel-Tuttle lewat terakhir kali lalu ditutup dengan fenomena gerhana bulan Penumbra. Maka, sejak itu usianya seolah nggak bisa bertambah. Mukanya tidak sedikit pun menua. Rambut putih maupun kulit keriput khas manusia renta berusia 100 tahun juga nggak dimilikinya. Jadi, wajar dong kalau Rembulan ingin sekali mati? Karena, mau dinalar sama otak jeniusnya Einstein pun dia nih hitungannya nggak normal!

Tapi kembali dulu deh ke data, itu apaan coba maksudnya?

***

1 JAM SEBELUM 1 JANUARI 2101 USAI

"Loh, kok tanya saya? Tanya Presiden langsung lah. Intinya kita itu mending jangan panik dulu lah!" Rekaman orang berbicara yang masih diputar sedari pagi bak mars kebangsaan berasal dari hasil wawancara Wali Kota Metavia. Setali tiga uang dengan sang anak yang bikin masalah, sebelum natal kemarin berita di televisi sekaligus jagat maya pun ramai oleh selentingan kabar kalau ijazah Wali Kota Metavia tuh palsu.

Ah, sayang sekali padahal santer kabar tersiar dia bakal diperiksa Komisi Pemburu Korupsi, bagaimana caranya kalau hartanya jadi poin begini coba?!

Mengabaikan tivinya yang berisik menyala, sejujurnya tak ubahnya orang yang berbondong ke bank guna menanyakan di mana rimba dari uang mereka seharian ini, atau ke toko emas buat secepat mungkin menukar barang berharga mereka tak peduli bila ini tahun baru, Rembulan sempat panik juga. Bagaimana pun Rembulan tidak datang dari masa depan. Oh, andai begitu saja yang terjadi pasti akan terasa lebih baik sih. Dia jadi bisa seribu langkah lebih maju dari orang-orang. Dia bisa lebih awal invest kripto atau bahkan bio teknologi yang tahun-tahun ini lagi digandrungi. Dia bisa beli emas karena tahu harganya akan melonjak sebab krisis energi bikin aktivitas pertambangan kian langka. Sayangnya, dia cuma manusia yang sudah terlalu bosan hidup.

Ayolah, apalah artinya abadi kalau nggak ada uangnya?!

Baik itu 2031, maupun di hari terakhir tahun 2100 kemarin, uang masihlah segalanya. Meneliti pakai uang, mencari orang pakai uang, menyogok pejabat pakai uang, bahkan untuk mati sekali pun butuh ... uang!

Sekarang bagaimana caranya Rembulan bisa mendapatkan kematiannya?

Pasrahkan kepada Tuhan?

Coba saja kamu hidup sampai 100 tahun dengan memandangi wajah yang sama, dengan menjalani rutinitas yang itu-itu saja. Kadang Rembulan berangan-angan jika memang benar Tuhan ada apa Tuhan kelupaan tidur ya sampai-sampai lupa untuk menjemputnya?

Jujur, dia udah lelah sekali!

Seratus tahun mencuci piring, berdiri di bus, bersembunyi dari dunia—semua tanpa bisa mati. Andai ada orang yang tahu kamu lahir di 18 November tahun 2001 semua akan digiring ke Lab penampungan. Rembulan tidak tahu apakah lebih baik hidup di penampungan itu atau luntang-lantung selama 100 tahun dengan harus berpindah-pindah serta gonta-ganti identitas?

Dan, yang tahu semua rahasia ini hanya ....

"Hadeeeh, sekarang gue bisa bayar kematian pakai apa kalau pemerintah brengsek ini bikin uang jadi angka nggak berguna kayak gini?!" Rembulan nyaris menjambak rambutnya frustasi. Oh, tentu, gimana dia nggak berasa mau gila? Selama ini dia menggelontorkan banyak uang buat cari cara supaya dia bisa mati tanpa harus bunuh diri.

"Sttttt!" Memecah suara interview Wali Kota, suara yang terdengar selembut tahu sutra itu gegas menegurnya. "Gosipnya berkata-kata kasar apalagi mengumpati pemerintah juga bisa bikin kredit skor kita turun."

Benar saja. Sedetik dari mendengarnya notif muncul di layar ponsel Rembulan.

Peringatan!!

Rembulan Ambari

Baru saja mengkritisi pemerintah (-10)

Skor 510/1000

Buseeeet!

Rembulan jadi gregetan lalu memeriksa detail aplikasi itu. Begitu dia klik pada bagian namanya langsung saja berbaris-baris riwayat pelanggarannya muncul semua. Paling atas tertulis begini:

PERILAKU DIGITAL

Jejak media sosial:

• 2 kali mengunggah kritik terhadap pemerintah (-20).

• 8 kali membagikan tautan berisi kata-kata tidak pantas yang ditujukan pada pemerintah (-80).

Dan lain-lain.

CATATAN KHUSUS PEMERINTAH

Diperlukan pengawasan lebih lanjut!

Data diperbarui otomatis dan tidak dapat diubah tanpa seizin otoritas berwenang. Untuk keberatan ajukan banding melalui aplikasi (biaya: 500).

Yaelah, itu sih sama dengan nggak bisa diubah sama sekali karena untuk orang kayak Rembulan juga Amaiya itu berarti harus mempertaruhkan seluruh skor mereka!

Dih, dih, dih!

Celingak-celinguk, Rembulan sepertinya tahu kenapa kota yang bahkan bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun cuma buat menambal jalan bolong mendadak begitu gencar mengadakan pemasangan CCTV. Ini kah tujuannya? Buat mengawasi gerak-gerik warganya?

Dasar! Kapan sih orang-orang berkuasa itu mau berbenah? Kapan sih mereka berhasil sekali saja membuat kebijakan yang nggak bikin masyarakat gerah?!

Well, jika memang merasa privasinya dijarah mengapa Rembulan nggak menonaktifkan saja ponselnya? Huh, mimpi gih sana! Sejak 2045 ponsel tidak lagi bisa sesuka hati dinonaktifkan. Ponsel hanya bisa mati nanti kalau kamu ada beli baru sebagai gantinya—rasanya, ponsel tuh udah jadi mata-mata pribadi. Parahnya, harga ponsel begitu pricey. Mana semua juga tetap harus seizin pemerintah!

"Gue bahkan udah mengalami berkali-kali demo besar di Metavia. Mulai dari kenaikan harga bahan bakar minyak, tuntutan standarisasi upah buruh, sampai tunjangan House of Representatives yang terus meroket. Banyak korban gugur, tapi cara kerja mereka selama lebih dari seabad masih begini aja?" gerutu Rembulan. "Sekarang gimana nasib gue? Lo masih berpikir kalau masuk CAMP 01 itu bakal bikin semuanya lebih baik buat gue?"

Dulu, semua orang kelahiran 18 November 2001 yang masih hidup hingga tahun 2031 digiring. Ada yang bilang dijadikan kelinci percobaan di Lab. Entahlah. Lebih dari 300 ribu nyawa menghilang dari peradaban. Dunia seolah ter-skip satu hari. Tanggal 18 November 2001 seakan tidak pernah ada. Rembulan andai ibunya dulu nggak ngotot menyogok pejabat supaya dia bisa bertukar identitas dengan tetangganya yang telah tiada, mungkin juga sedang ada di CAMP 01 yang sekarang hanya seperti cerita legenda.

Well, kalau boleh berandai-andai lebih jauh, sebenarnya Rembulan harap dia nggak lahir di 18 November 2001 sih. Di mana hari itu bumi melintasi puing-puing Komet Tempel-Tuttle, atau andai saja ibunya nggak perlu mendengar ocehan neneknya buat lahiran normal, serta langsung menjalani operasi caesar seperti kebanyakan orang yang mengincar cantiknya tanggal 11-11-01 maka, malapetaka ini mungkin nggak akan Rembulan alami.

Huh, benar. Rembulan bakalan hidup senormalnya orang-orang yang lahir di tanggal berapa pun selain 18 November di sepanjang tahun 2001.

Namun, apa pun itu, keseluruhan cerita takdirnya boleh jadi akan lain andai komet sialan bernama Tempel-Tuttle yang gelombang hujan meteor storm-nya sempat bikin korban hoax Nancy Lieder terkait Planet Nibiru dan Kiamat 2003-nya percaya bahwa akhir dari dunia betulan akan tiba. Bukan di 2003, tapi di hari itu saat pekatnya langit dipenuhi oleh cahaya yang mirip tetes-tetes api. Cuma, kendati sejarah kelahirannya mirip kiamat, hidup Rembulan pasti bisa berjalan wajar sih bila komet yang cuma lewat tiap 33 tahun sekali mendekati tata surya itu tak kembali di tahun 2031—masa-masa terakhir saat hidupnya terasa baik-baik saja.

Sungguh, Rembulan masih ingin percaya kalau pada 9 Desember 2031 dia memilih tidur saja di ranjangnya, dan bukannya naik gunung sekaligus berkemah di puncak gunung Sunjani untuk menemukan bulan, matahari, serta bumi berada dalam satu garis sejajar hingga membentuk peristiwa yang Ahli Astronomi sebut-sebut sebagai Purnama Penumbra, tentu kemalangan ini besar kemungkinan nggak akan terjadi.

Ah, atau justru semua akan lebih baik seumpama Rembulan mengakhirnya saja di 2026, 2027, atau kapan pun sebelum tahun 2031 datang.

Percaya deh, kalau kamu hidup udah terlalu lama kadang kematian tuh udah semacam anugerah atau malah keistimewaan yang rasanya ingin kamu tukar dengan segalanya yang kamu punya termasuk ... uang.

"Seenggaknya di sana semua sama kan? Manusia lebih merasa aman kalau bareng-bareng sama yang satu golongan," Suara yang sama dengan yang tadi menegurnya kembali kecil menyahuti.

"Menurut lo kelahiran 18 November 2001 lain masih hidup?" tanya Rembulan lebih kepada dirinya sendiri.

"Hmm, gimana ya, Bul? Kalau kita saja nggak mati-mati emangnya mereka semua bakalan gampang matinya?"

Nah itu dia. Jangan dikira Rembulan nggak bosan mencoba. Dia pernah sengaja nggak makan. Sakit iya, tapi tak kunjung mati juga, yang ada uangnya justru pelan-pelan terkikis habis untuk membayari tagihan rumah sakit yang makin tahun makin dikit aja yang ter-cover asuransi!

Kayaknya satu-satunya yang belum dia coba tuh ....

"Kenapa nggak terjun saja? Belum pernah coba kan?" Suara lembut itu lebih dulu membaca isi kepala Rembulan, menyuarakan ide yang sama sekali nggak ada lembut-lembutnya.

Dan, bukannya belum kali, tapi nggak akan! Rembulan memang mendamba kematian, tapi tidak dengan mati konyol! Memang pernah ada kasus-kasus orang nekat terjun dari taksi terbang, tetapi Rembulan tak pernah tertarik mengekorinya.

Iya, mereka itu manusia normal jatuh dari ketinggian maka besar kemungkinan mereka tak selamat. Nah, Rembulan? Kalau malah cacat permanen bagaimana? Bukan hanya nggak bisa cari uang—sama seperti 76 tahun lalu, Metavia masihlah kota yang tidak ramah disabilitas—tapi, kalau sampai Rembulan mesti hidup yang entah sampai kapan ujungnya dalam kondisi seperti itu, siapa yang akan mengurusnya?

"Lagian kamu tuh aneh. Kenapa sih ingin mati tapi ribet? Ingin mati dalam keadaan berarti lah! Ingin die with a smile lah! Sekarang mau gimana? Apa yang bisa kita dapat tanpa uang?"

Itu juga yang sedang Rembulan pikirkan.

Tadi dia ingin minum matcha, tapi kredit skornya bahkan nggak mencukupi buat dapat barang seharga 515 skor.

Rembulan yakin kendati semua ini terjadi begitu tiba-tiba, tetapi ini bukan sekadar mimpi di siang bolong belaka.

Pun, lebih daripada itu, tanpa uang ambisi manusia apa akan otomatis hilang?

Hanya sedetik dari Rembulan merenungkannya, di kejauhan kembali terdengar seruan ribut-ribut yang disusul suara tembakan pistol satu kali. Hadeeeh, tanpa perlu mengeceknya dari balik jendela, Rembulan udah bisa menebak sih pasti ada orang yang tengah dikejar-kejar robot polisi. Entah karena mencuri atau mengamuk di public area.

Well, tak ada uang bukan berarti tak ada kejahatan. Selama berabad-abad lamanya uang selalu jadi kambing hitam. Katanya, darinya awal kejahatan datang. Namun, mau ada uang atau nggak pada dasarnya manusia memang terobsesi untuk jadi beda kan? Penuh ambisi, serakah, tamak. Mereka bahkan mungkin lebih beringas dari singa saat berupaya mengungguli kawanannya.

"Bul?" Suara lembut yang sama, yang telah didengarnya selama 100 tahun, kembali memecah keterpekuran Rembulan.

Sembari mendesah lelah, Rembulan kontan balas menggumam, "Hm?"

"Menurut kamu apa yang bakal terjadi kalau kredit skor kita jadi nol?"

Nol?

Ah, iya, jika terus berkurang tanpa tahu bagaimana cara menambahnya maka skor mereka tentu akan habis. Apakah Rembulan bisa mati dengan itu? Atau, dia hanya akan jadi digital exile yang konsepnya mirip-mirip manusia tanpa warga negara?

Entahlah.

Rembulan menoleh sekali lagi ke arah lawannya bicara. Tampak gumpalan cokelat mirip bola bulu duduk anteng di ujung sofa. Well, dia ... Miciko. Kucingnya yang kebetulan lahir berbarengan dengannya. Miciko bisa bicara dan Rembulan menyembunyikannya dari dunia. Tapi, mau sampai kapan?

"Bul, kamu nggak akan lakuin apa yang aku pikirin kan?" Miciko lalu bertanya.

Rembulan lagi-lagi mendesah. "Lo lihat ada yang berubah nggak selama 100 tahun ini? Selain langit makin sumpek karena banyak benda-benda yang terbang? Atau, jalanan yang makin semerawut karena bumi over populasi? Atau, gunungan sampah yang makin tinggi ngapung-ngapung di laut?" Mata Rembulan yang telah lama kehilangan cahayanya menatap Miciko lurus-lurus sebelum lanjut membeber fakta, "Emangnya lo udah lupa berapa banyak ikan yang mati gara-gara makan plastik tiap hari? Atau, lo lupa berapa kali kita udah kebanjiran dalam setahun sebab sampah yang sama? Berapa banyak orang yang udah menderita gara-gara harus kehilangan rumah mereka yang tenggelam karena permukaan air laut terus naik? Nggak cuma di sini, di luar Metavia juga sama aja, Ko. Lari ke mana pun sama aja. Kalau orang-orangnya masih orang-orang ini mau umur kita terus nambah dan Metavia merdeka 1.000 tahun juga nggak akan ada bedanya."

Miciko yang duduk di sofa ikut mendesah. Mungkin dia juga sadar kalau krisis sumber daya makin nyata. Kadang saat mereka keluar flat sesekali mereka melihat kucing atau anjing diburu bukan untuk dipelihara, tapi untuk jadi lauk makan.

Dunia makin hari makin mengerikan. Selain banyak pejabat yang leha-leha, di sisi lain banyak pula masyarakat yang kelaparan juga hilang harapan.

"Jadi?" Miciko melirih.

Bertepatan dengan itu berita di televisi berganti. Menayangkan chaos orang berebut makanan. Tak lama ponsel Rembulan singkat berdenting.

Amaiya: Nggak adil banget, Buuuul! Masa poin gue sehari ini turun sampai -50, tapi bapaknya teman gue yang anggota House of Representative bisa langsung dapat +100 poin cuma gara-gara muji-muji program kredit skor sialan ini sama neraktirin kopi rekannya!

Amaiya: Gimana gue bisa ngasih-ngasih kalau skor gue aja nggak cukup buat beli-beli?

Amaiya: Kalau gini ceritanya mah yang kaya skornya makin melambung tinggi, tapi orang-orang kayak kita udah nggak cuma terbatasi gerak-geriknya juga cuma kebagian susahnya aja! Lagian, ide siapa sih ini? Duit yang udah gue kumpulin dari hasil keringat gue jadi skor? Ini tuh kita lagi dirampok nggak sih?

Amaiya: Sumpah, gue benci banget sama pemerintah Metavia. Libur tahun baru apaan sih ini?!

See?

Menutup room chat-nya bareng Amaiya, Rembulan beralih ke aplikasi yang seharian ini telah menginvasi seluruh ponsel milik warga di Metavia juga bahkan dunia. Mungkin ini memang jalan terakhir nggak sih?

INFORMASI KASUS

ID pelanggaran:

Tanggal & waktu:

Jenis pelanggaran:

Alasan Banding:

Notifikasi: Pengajuan banding memerlukan 500 poin. Poin akan dipotong otomatis setelah konfirmasi.

STATUS RISIKO

Risiko tambahan jika banding ditolak: -200 poin.

Lalu, di paling bawah ada tombol hijau bertuliskan 'Ajukan Banding', tanpa ada satu pun keterangan batalkan.

Sial! Jelas sih betapa sistem ini nggak mencerminkan keadilan.

Pun, Rembulan sadar bahwa kecil kemungkinan bahwa bandingnya akan diterima. Namun ....

Kendati Miciko melihatnya dengan sorot penuh keragu-raguan, jemari Rembulan toh tetap menekan tombol hijau di layar.

Lalu, singkat saja angka di layar itu turun drastis menuju 0/1000.

Notifikasi terakhir lantas muncul.

Status: Tidak Aktif.

Hak akses dicabut permanen sampai ada keputusan final terkait banding yang diajukan.

Suara hela lembut napas Miciko tak lagi terdengar. Lampu di flat Rembulan pun padam. Koneksi internet terputus. Ponsel transparannya redup, lalu gelap total.

Entah Rembulan akan sungguhan mati atau nggak, tetapi Rembulan tidak pernah menyesal kok bila harus meninggalkan Metavia atau bahkan dunia beserta manusia-manusia di dalamnya, yang kendati bumi memuntahkan seluruh isinya atau bilamana bukan cuma lewat bekas debu-debunya melainkan langsung bertubrukan dengan Tempel-Tuttle sekalipun agaknya sih ambisi mereka untuk bahagia sendirian, serta menyiksa yang lainnya memang tak akan pernah padam.

Kehilangan uang hanya akan membuat mereka menemukan alat lainnya. Lupakan soal insting survival, sejatinya memang begitulah tabiatnya.

Lalu, mampukah kamu membayangkan jika beginilah liburan tahun barumu di 2101 nanti harus dimulai?

***


Other Stories
Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Sebelum Ya

Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...

The Labsky

Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...

The Unkindled Of The Broken Soil

Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...

Download Titik & Koma