Setelah Perayaan Itu Usai.

Reads
16
Votes
8
Parts
8
Vote
Report
Setelah perayaan itu usai.
Setelah Perayaan Itu Usai.
Penulis Vixza Diendra

Bab 2 : Detik-detik Perpisahan.

Bab 2 : Detik-detik perpisahan.

Senin ini adalah hari terakhir Amara bersekolah di dusun tersebut. Pagi hari tadi, ketika Amara bangun tidur, hatinya masih ceria seperti biasanya. Ia membuka tirai jendela kamarnya dengan senyumnya yang hangat. Matahari menyambutnya dengan sopan. Dedaunan bergoyang pelan tertiup angin, seolah menyapanya.

Ia berangkat ke sekolah diantar oleh ayahnya. Sesampainya di sana, Ayah berkata,
“Amara, hari ini adalah hari terakhirmu sekolah. Jangan lupa berterima kasih kepada semua teman dan gurumu, ya? Berikan hadiah kecil ini untuk mereka. Setelah ini, jangan lupakan mereka. Kenanglah mereka di hatimu yang terdalam.”

Seketika Amara teringat bahwa besok ia sudah harus meninggalkan dusun yang penuh kenangan ini. Kalimat itu seolah membuat Amara yakin bahwa nantinya ia tidak akan bisa kembali ke sini. Senyumnya memudar, tergantikan oleh tatapan kosong yang menyiratkan rasa kehilangan.

Dengan suara lesu, Amara menjawab ayahnya,

“Hmm… baiklah, Ayah.”

Di antara lamunan itu, terbersit sebuah pemikiran. Amara sadar ini adalah hari terakhirnya bersekolah di sini. Sebab itu, ia ingin menikmati saat-saat bersama temannya—momen yang mungkin takkan terulang kembali.

Bel pulang sudah berbunyi.

Hadiah yang Ayah titipkan kepadanya sudah terbagi rata untuk semua teman dan guru-gurunya. Senyum itu masih terukir di wajah manisnya, meski matanya tak kuasa menahan tangis.

Mungkin setelah ini kesepian akan menerpa. Mungkin setelah ini teman baruku tidak sepengertian seperti temanku saat ini.

Suara isakan memenuhi setiap sudut ruang kelas. Semua pipi mulai basah dengan air mata. Kalimat perpisahan mulai diucapkan dengan hati yang berat. Kata demi kata menusuk hati seperti anak panah yang tertancap berkali-kali.

“Teman-teman dan Ibu Guru yang tersayang, terima kasih ya sudah melukis kisah manis di hidupku. Semua kenangan kita akan selalu kukenang dan kusimpan di lubuk hati yang terdalam. Semoga hadiah kecil ini bisa terus membuat kalian mengingatku. Orang tuaku tidak menjamin bisa kembali ke sini lagi, tapi semoga saja Tuhan mempertemukan kita kembali tanpa timbul rasa asing di antara kita. Aku sayang kalian semua.”

Air mata Amara mengalir lebih deras dari sebelumnya. Wali kelasnya bahkan ikut tersentuh mendengar kalimat itu. Tidak ada naskah untuk contekan, tidak ada air mata buatan hanya demi mencari perhatian. Sedih adalah hal yang wajar ketika kita harus meninggalkan orang beserta kenangan bersama kita. Ucapan itu murni keluar dari mulut Amara, manis seperti orangnya.

Wali kelasnya tak pernah menyangka kalimat menyentuh ini dilontarkan oleh anak kecil berumur delapan tahun. Dan akhirnya, yang tidak diinginkan itu terjadi. Ikatan pertemanan harus dilepaskan. Dada harus dilapangkan. Hari harus tetap dijalani meski rasa kosong menghampiri. Sebentar lagi, lembaran baru akan dimulai.

***

Pagi berikutnya Amara bangun, namun tidak lagi dengan senyumnya. Hari ini adalah jadwal Amara dan keluarganya pindah kota. Kereta berangkat pukul satu siang. Setidaknya, ia masih punya waktu untuk menikmati kembali setiap sudut dusun. Pagi-pagi sekali, Amara dibangunkan bundanya karena Angga mengajak Amara bermain.

Jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Matanya masih lengket, belum terbuka sempurna. Rambutnya kusut, bajunya lusuh karena ia belum bersiap diri. Amara meminta waktu sebentar untuk mencuci muka, lalu berpamitan kepada kedua orang tuanya. Angga mengajak Amara untuk berjalan-jalan pagi ini.

Matahari yang baru terbit seolah menyoroti persahabatan dua anak kecil ini. Angga benar-benar mengajak Amara menikmati indahnya desa. Angga memperkenalkan setiap sudut dusun selayaknya pemandu wisata. Amara menyimak dengan fokus.

Ia tak pernah bersedih bila di dekat Angga. Di mata Amara, Angga bukan hanya teman tapi juga guru ketiga baginya setelah Ibu dan wali kelasnya. Banyaknya rasa penasaran Amara selalu dijelaskan dengan sabar oleh Angga. Tanpa Amara sadari, hari ini bukanlah tanggal merah, tapi mengapa Angga tidak bersekolah?

“Ngga, hari ini bukan hari libur, kok kamu tidak sekolah?” tanya Amara.

“Temanku akan pergi. Aku harus menemanimu untuk terakhir kalinya. Katamu kau belum tentu bisa kembali ke sini lagi, jadi Ibu memperbolehkanku untuk izin hari ini.”

“Terima kasih, Ngga. Aku mungkin tidak akan menemukan teman baru sepertimu lagi.”

“Kurasa aku juga begitu.”

“Tapi kau pandai bergaul. Setidaknya temanmu bertambah banyak.”

“Tapi kau berbeda dengan yang lain. Aku rasa sulit menemukan teman sepertimu. Kau mempunyai banyak waktu untuk bermain bersamaku.”

“Aku juga pasti rindu padamu, Ngga. Kamu selalu tahu jawaban dari semua pertanyaanku.”
“Semoga, kita dipertemukan kembali,” tambah Amara.

“Aamiin. Maaf ya, bila aku terlalu banyak membuat kesalahan padamu, Mar.”

“Iya. Aku juga minta maaf, Ngga,” balas Amara pada permintaan maaf Angga.

“Kamu nanti berangkat jam berapa?” tanya Angga.

“Kata Bunda, kereta berangkat jam satu siang.”

“Kalau begitu, sebaiknya kita segera pulang. Kamu pasti juga butuh waktu untuk menyiapkan dirimu sebelum pergi,” saran Angga.

“Hmm… baiklah,” jawab Amara sambil mengangguk.
“Padahal … aku masih ingin bermain denganmu,” tambah Amara.

“Daripada nanti Bunda dan ayahmu marah. Ibuku katanya juga akan ke rumahmu, Mar. Aku akan ikut ibuku.”

“Wah! Benarkah?” tanya Amara antusias.

“Iya. Tapi aku tidak tahu Ibuku sudah datang atau belum. Ayo cepat pulang! Kita lihat apakah Ibu sudah sampai atau belum.”

Mereka berjalan pulang sambil tetap mengobrol. Tema obrolannya berubah-ubah, mulai dari hewan peliharaan, makanan kesukaan, hingga tempat favorit di dusun ini.
Hingga tak terasa, langkah kaki sudah mengantar mereka sampai di depan rumah Amara.

“Assalamu’alaikum,” salam Amara.

“Wa’alaikumsalam. Eh! Sudah pulang kalian berdua,” ucap Tante Listia, Ibu Angga.

Amara mencium tangan Tante Listia sebagai sapaan. Ternyata sudah cukup lama Bunda dan ibunya Angga berbincang. Saat mereka tengah asyik berbincang, di sisi lain Amara dan Angga juga menghabiskan waktu bersama.

Angga berinisiatif membantu Amara mengemasi barangnya sebelum pindah.

“Mar, barangmu sudah kamu kemasi semua?” tanya Angga.

“Bajuku sudah dikemasi Bunda. Memangnya kenapa?” tanya Amara penasaran.

“Aku ingin membantumu mengemasinya. Mainanmu ini tidak kamu bawa?” Angga bertanya sambil menunjuk wadah berisi penuh dengan mainan.

“Oh, iya! Hampir saja lupa. Untung kamu mengingatkan. Sebentar, aku akan ambil kardus untuk wadahnya.”

“Baiklah. Aku tunggu.”

Amara mencari kardus bekas ke sana kemari. Setiap sudut rumah sudah ia teliti, tapi tidak ada kardus bekas yang masih layak dipakai. Akhirnya kantong kresek di meja dapur menjadi pilihannya.

“Huft … tidak ada kardus. Pakai kresek ini saja, ya?”

“Bisa, bisa. Nanti aku bantu merapikannya.”

“Terima kasih, ya!”

Angga hanya membalas ucapan itu dengan senyum tipis. Ia tak pernah bosan membantu Amara jika kesulitan. Kalimat ‘terima kasih’ adalah makanan sehari-hari Angga ketika bersama Amara. Maka dari itu, Amara selalu melihat Angga seperti gurunya sendiri. Padahal mereka teman sebaya, tapi pengetahuan Angga cukup luas melebihi Amara.

Jam bergerak semakin cepat rasanya. Tiba-tiba saja jarumnya menunjukkan pukul sebelas siang. Tandanya, Amara harus segera bersiap-siap merapikan dirinya. Angga masih di sini bersama ibunya.

Amara sudah bersiap. Ia masih menunggu Bundanya berdandan. Di kesempatan ini, Tante Listia ingin memotret dua anak yang sangat akrab ini. Ya, anaknya dan Amara. Sahabat sejak kecil yang sangat akrab. Bahkan hampir tidak ada pertengkaran di hubungan pertemanan ini.

Tante Listia sudah menggenggam sebuah kamera digital di tangannya, sambil merapikan rambut Angga yang sudah berantakan terhempas angin. Amara menyetujui permintaan Tante Listia untuk memotretnya bersama Angga. Dia masih menunggu sampai rambut Angga benar-benar rapi.

“Satu.”
“Dua.”
“Tiga.”
“Senyum.”

Cekrek.

Instruksi Tante Listia berhasil menangkap gambar dengan ukiran senyum bahagia di wajah kedua anak itu. Tante Listia sampai tersenyum-senyum sendiri melihat foto anaknya itu. Hingga Bunda sudah selesai merias diri, lalu menyusul mereka bertiga di ruang tamu.

“Wah, wah, wah. Ternyata kalian sudah berfoto-foto tidak mengajak Bunda, ya?” kalimat Bunda membuat kaget mereka karena tiba-tiba saja ia muncul.

“E-eh, Bunda sudah selesai,” sahut Amara sambil tersipu malu.

“Bunda ikut boleh tidak, nih?”

“Boleh dong, Tante!” jawab Angga antusias.

“Tante Listia, ayo kita foto berempat. Biar Ayah saja yang menjadi fotografernya,” ajak Amara.

“Loh, Ayah kok dikacangin gini sih?” canda Ayah Amara.

“Ya sudah deh, sini Ayah fotoin.”

“Nah, gitu dong, Yah! Sayang deh sama Ayah,” rayu Amara pada ayahnya.

“Oke. Dalam hitungan ketiga bilang cheese ya!” instruksi Ayah.

“Satu … dua … tiga … cheese.”

Cheese!” ucap empat orang yang berada dalam satu frame dengan sangat ceria.

Kamera digital itu menjadi saksi rukunnya tali persaudaraan antar tetangga. Dan bukti persahabatan yang tulus tercipta sejak masih bayi.

Butuh waktu hampir tiga puluh menit untuk sampai ke stasiun kereta. Amara dan keluarganya memutuskan berangkat pukul dua belas siang. Semua barang yang akan dibawa sudah terangkat semua ke dalam mobil.

Saatnya meninggalkan dusun ini…

Bunda dan Ayah berjabat tangan dengan Tante Listia dan Angga. Amara pun sama, tapi jabatan tangannya dengan Angga cukup lama.

“Jangan lupakan aku ya, Angga? Kalau aku kembali ke sini, aku pasti akan mencarimu.”

“Kau juga jangan lupakan aku! Nanti kita main bersama lagi kalau kamu kembali ke sini, Mar.”

“Sampai jumpa nanti ya, Angga!”

“Sampai jumpa, Amara!”
“Sebentar, Amara! Aku punya sesuatu untukmu,” Angga menghentikan Amara sebelum ia menaiki mobilnya.

“Apa?” tanya Amara penasaran.

Angga mengikatkan gelang yang terbuat dari benang di tangan Amara. Gelang itu Angga buat semalaman, ia tujukan sebagai hadiah sekaligus pengingat supaya Amara selalu mengingat persahabatan mereka.

Namun Amara merasa bersalah karena tidak menyiapkan hadiah apa pun untuk sahabatnya itu. Tapi bagi Angga itu bukan masalah besar. Ia tidak berharap Amara membalas hadiahnya itu, yang ia harapkan hanyalah Amara tetap mengingatnya meski mereka terpisah sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Angga percaya suatu hari nanti Amara pasti akan kembali dan berteman dengannya lagi.

Tante Listia dan Bunda tersentuh melihat pemandangan ini. Tapi mau bagaimana lagi? Langkah ini harus dipilih agar kehidupan keluarga Amara lebih layak lagi. Kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang Angga dengar dari Amara. Momen itu adalah kali terakhir Amara melihat wajah Angga. Wajah itu akan terus terekam di ingatannya sebagai potret sahabat terbaik yang pernah ia miliki.

“Dadah!”

Lambaian Amara perlahan menghilang dari mata Angga karena jarak yang semakin menjauh. Air mata mulai turun membasahi pipinya. Kenangan lama bersama Amara sesaat berputar di benak Angga.

Mungkinkah Angga akan menemukan sahabat yang sama seperti Amara? Dan sebaliknya, mungkinkah Amara menemukan sahabat seperti Angga?




Other Stories
Melupakan

Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...

Haruskah Bertemu?

Aku bertemu dengan wanita di gerbong yang sama dengan satu kursi juga. Dia sangat riang se ...

Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )

(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...

Kado Dari Dunia Lain

Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...

First Love Fall

Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...

Kepingan Hati Alisa

Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...

Download Titik & Koma