Bab 9: Ruang Penuh Ketegangan.
Bab 9: Ruang Penuh Ketegangan.
Amara berdandan rapi. Ia mengenakan kemeja garis putih-biru, kerudung putih, celana warna putih yang selaras, dan sepatu putih yang menambah kesan formal namun tetap santai. Di tangannya, ia membawa tas tenteng berisi perlengkapan kuliahnya.
Matahari hampir tepat berada di atas kepala ketika Amara berjalan menuju gedung perkuliahan. Langit tampak cerah, seolah selaras dengan warna pakaiannya. Namun, cerahnya langit tak mampu menenangkan hatinya yang gelisah. Hari ini ia akan mempresentasikan hasil penelitiannya di depan dosen penguji.
Langkahnya semakin mendekati ruangan yang sering disebut mahasiswa sebagai tempat penuh ketegangan. Jantungnya pun berdetak semakin cepat.
Di depan ruangan itu tertulis “Aula Utama”. Banyak mahasiswa duduk berjejer rapi menunggu giliran presentasi. Tiap nama yang dipanggil serasa seperti menuju suatu hal yang menyeramkan. Kisah seram itu bukanlah hantu atau semacamnya, melainkan dosen-dosen yang terkenal ketus siap menguji kemampuan para mahasiswa.
Mereka tentu telah mempersiapkan diri, termasuk Amara. Menyusun kalimat-kalimat beserta intonasinya. Tujuannya sama, yaitu agar dosen tertarik pada pembahasan materi mereka. Mereka juga bersiap jika sewaktu-waktu dosen melontarkan pertanyaan yang dapat membuat panik.
Lika-liku perkuliahan saja cukup menantang bagi Amara. Ia sempat melamun dan berpikir,
"Kata orang dunia kejam. Lalu bagaimana nanti ketika aku benar-benar menghadapinya setelah kuliah?"
"Bagaimana jika suatu hari nanti Tuhan mengambil salah satu orang yang kusayangi?"
Amara menggeleng pelan, seakan ingin menyingkirkan pikiran buruk itu.
"Semoga saja Tuhan memberikan umur panjang bagi orang-orang yang kusayang. Aamiin…"
Padahal banyak hal lain yang bisa ia pikirkan. Namun, entah mengapa justru pikiran buruk itu muncul tiba-tiba saat ia sedang merasa tegang.
Tanpa ia sadari, pikirannya justru membuat dirinya semakin gelisah. Ia segera kembali menghafalkan susunan kalimat yang telah ia siapkan.
Terlalu fokus menghafal, Amara tidak menyadari bahwa namanya telah dipanggil.
“Dengan saudari Navidi Licia Amara?”
Tidak ada jawaban.
“Saudari Navidi Licia Amara?”
Masih sunyi. Para mahasiswa saling berpandangan satu sama lain dengan kebingungan.
“Saya panggil sampai lima kali jika tidak segera berdiri, akan saya lewati.”
Suara itu terdengar seperti nada tegas dan kesal. Mungkin karena hari sudah siang dan tenaga mereka mulai terkuras.
Amara tersentak. “Lho? Bukannya itu namaku? Aduh,” ia menepuk jidatnya.
Dengan tergesa-gesa ia mengumpulkan semua barang yang dibawanya. Karena terlalu panik, tangannya menjadi kikuk hingga barangnya hampir terlepas dari genggaman.
Ketika memasuki ruangan itu, hawa dingin langsung menusuk kulitnya. Bulu kuduknya berdiri, seolah itu adalah ruangan horor. Dinginnya menambah ketegangan membuat Amara semakin gugup. Tiba-tiba semua kalimat yang ia hafalkan hilang begitu saja.
Amara menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia membuka selembar kertas berisi susunan kalimat presentasinya. Secepat kilat ia membaca kembali catatan itu. Perlahan, kata demi kata mulai teringat kembali.
Presentasi dimulai.
Amara membuka presentasi dengan sikap ramah. Pelafalannya jelas dan tegas, intonasinya tenang, sehingga para penguji dapat mengikuti presentasinya dengan nyaman. Ketegangan tadi perlahan menghilang tertelan waktu. Ruangan itu sunyi dan tenang, tetapi justru kesunyian itu membuat para mahasiswa semakin tertekan. Ternyata, Amara mampu melewati tantangan kedua.
Tantangan yang terasa mustahil, akhirnya berhasil ia tuntaskan dengan lantang. Bahkan Amara mulai menghayati setiap kalimat pada materinya. Usaha belajar kilat yang ia lakukan pagi tadi sangat membantu membuat pikirannya lebih terbuka dengan materi.
Salah seorang dosen tampak terus menganggukkan kepala, memperhatikan Amara dengan saksama. Amara sedikit gugup, namun ia membatin. Gerakan tangan dan setiap kata yang diucapkan Amara diamati dengan teliti.
Kegugupan kembali menyerangnya. Ia hanya membatin,
“Tenang Amara. Mereka mengamatimu karena kamu sedang presentasi. Itu memang tugas mereka. Mereka tidak menggigit kok. Tenang, tenang.”
Ia terus mencoba menenangkan dirinya.
Setiap kali rasa gugup datang, ia berusaha melawannya. Hingga akhirnya dosen membuat pertanyaan yang membuatnya cukup mengejutkan.
“Dari mana kamu mendapatkan teori ini?”
Untung saja ia menghafal sumber referensi yang ia gunakan.
Amara menjawab pertanyaan dosen tersebut dengan sangat kritis. Tidak ada jawaban kosong. Semua yang ia sampaikan didasarkan pada fakta dan data hasil pengamatannya.
Bagi Amara skripsi ini bukan hanya sebuah tugas. Skripsi ini membuat dirinya melakukan pengamatan, mencari data yang akurat, dan memperluas pemikirannya. Kemudian mengambil kesimpulan dari semua observasi yang ia lakukan. Kesimpulan itu tidak sekedar kesimpulan singkat, tapi kesimpulan yang dirangkai selama berbulan-bulan untuk membentuk satu laporan yang berisi fakta dan data.
Dosen tidak memberikan reaksi yang berlebihan seperti kemarin. Amara merasa presentasinya berjalan cukup baik—normal seperti mahasiswa lainnya. Padahal, jauh di dalam hatinya ia ingin sekali mendapat pujian seperti yang pernah ia terima sebelumnya.
Meskipun begitu, setidaknya belajar kilat yang ia lakukan tidak sia-sia.
Amara keluar dari ruangan itu tanpa senyum lebar. Namun, di dalam hatinya tumbuh rasa bangga yang tenang. Ia tahu dirinya telah berhasil melewati ketegangan itu. Ia melihat para mahasiswa yang berjejer di kursi tunggu. Meskipun ia tidak mengenal mereka, Amara mendoakan agar presentasi mereka berjalan lancar.
Amara berdandan rapi. Ia mengenakan kemeja garis putih-biru, kerudung putih, celana warna putih yang selaras, dan sepatu putih yang menambah kesan formal namun tetap santai. Di tangannya, ia membawa tas tenteng berisi perlengkapan kuliahnya.
Matahari hampir tepat berada di atas kepala ketika Amara berjalan menuju gedung perkuliahan. Langit tampak cerah, seolah selaras dengan warna pakaiannya. Namun, cerahnya langit tak mampu menenangkan hatinya yang gelisah. Hari ini ia akan mempresentasikan hasil penelitiannya di depan dosen penguji.
Langkahnya semakin mendekati ruangan yang sering disebut mahasiswa sebagai tempat penuh ketegangan. Jantungnya pun berdetak semakin cepat.
Di depan ruangan itu tertulis “Aula Utama”. Banyak mahasiswa duduk berjejer rapi menunggu giliran presentasi. Tiap nama yang dipanggil serasa seperti menuju suatu hal yang menyeramkan. Kisah seram itu bukanlah hantu atau semacamnya, melainkan dosen-dosen yang terkenal ketus siap menguji kemampuan para mahasiswa.
Mereka tentu telah mempersiapkan diri, termasuk Amara. Menyusun kalimat-kalimat beserta intonasinya. Tujuannya sama, yaitu agar dosen tertarik pada pembahasan materi mereka. Mereka juga bersiap jika sewaktu-waktu dosen melontarkan pertanyaan yang dapat membuat panik.
Lika-liku perkuliahan saja cukup menantang bagi Amara. Ia sempat melamun dan berpikir,
"Kata orang dunia kejam. Lalu bagaimana nanti ketika aku benar-benar menghadapinya setelah kuliah?"
"Bagaimana jika suatu hari nanti Tuhan mengambil salah satu orang yang kusayangi?"
Amara menggeleng pelan, seakan ingin menyingkirkan pikiran buruk itu.
"Semoga saja Tuhan memberikan umur panjang bagi orang-orang yang kusayang. Aamiin…"
Padahal banyak hal lain yang bisa ia pikirkan. Namun, entah mengapa justru pikiran buruk itu muncul tiba-tiba saat ia sedang merasa tegang.
Tanpa ia sadari, pikirannya justru membuat dirinya semakin gelisah. Ia segera kembali menghafalkan susunan kalimat yang telah ia siapkan.
Terlalu fokus menghafal, Amara tidak menyadari bahwa namanya telah dipanggil.
“Dengan saudari Navidi Licia Amara?”
Tidak ada jawaban.
“Saudari Navidi Licia Amara?”
Masih sunyi. Para mahasiswa saling berpandangan satu sama lain dengan kebingungan.
“Saya panggil sampai lima kali jika tidak segera berdiri, akan saya lewati.”
Suara itu terdengar seperti nada tegas dan kesal. Mungkin karena hari sudah siang dan tenaga mereka mulai terkuras.
Amara tersentak. “Lho? Bukannya itu namaku? Aduh,” ia menepuk jidatnya.
Dengan tergesa-gesa ia mengumpulkan semua barang yang dibawanya. Karena terlalu panik, tangannya menjadi kikuk hingga barangnya hampir terlepas dari genggaman.
Ketika memasuki ruangan itu, hawa dingin langsung menusuk kulitnya. Bulu kuduknya berdiri, seolah itu adalah ruangan horor. Dinginnya menambah ketegangan membuat Amara semakin gugup. Tiba-tiba semua kalimat yang ia hafalkan hilang begitu saja.
Amara menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia membuka selembar kertas berisi susunan kalimat presentasinya. Secepat kilat ia membaca kembali catatan itu. Perlahan, kata demi kata mulai teringat kembali.
Presentasi dimulai.
Amara membuka presentasi dengan sikap ramah. Pelafalannya jelas dan tegas, intonasinya tenang, sehingga para penguji dapat mengikuti presentasinya dengan nyaman. Ketegangan tadi perlahan menghilang tertelan waktu. Ruangan itu sunyi dan tenang, tetapi justru kesunyian itu membuat para mahasiswa semakin tertekan. Ternyata, Amara mampu melewati tantangan kedua.
Tantangan yang terasa mustahil, akhirnya berhasil ia tuntaskan dengan lantang. Bahkan Amara mulai menghayati setiap kalimat pada materinya. Usaha belajar kilat yang ia lakukan pagi tadi sangat membantu membuat pikirannya lebih terbuka dengan materi.
Salah seorang dosen tampak terus menganggukkan kepala, memperhatikan Amara dengan saksama. Amara sedikit gugup, namun ia membatin. Gerakan tangan dan setiap kata yang diucapkan Amara diamati dengan teliti.
Kegugupan kembali menyerangnya. Ia hanya membatin,
“Tenang Amara. Mereka mengamatimu karena kamu sedang presentasi. Itu memang tugas mereka. Mereka tidak menggigit kok. Tenang, tenang.”
Ia terus mencoba menenangkan dirinya.
Setiap kali rasa gugup datang, ia berusaha melawannya. Hingga akhirnya dosen membuat pertanyaan yang membuatnya cukup mengejutkan.
“Dari mana kamu mendapatkan teori ini?”
Untung saja ia menghafal sumber referensi yang ia gunakan.
Amara menjawab pertanyaan dosen tersebut dengan sangat kritis. Tidak ada jawaban kosong. Semua yang ia sampaikan didasarkan pada fakta dan data hasil pengamatannya.
Bagi Amara skripsi ini bukan hanya sebuah tugas. Skripsi ini membuat dirinya melakukan pengamatan, mencari data yang akurat, dan memperluas pemikirannya. Kemudian mengambil kesimpulan dari semua observasi yang ia lakukan. Kesimpulan itu tidak sekedar kesimpulan singkat, tapi kesimpulan yang dirangkai selama berbulan-bulan untuk membentuk satu laporan yang berisi fakta dan data.
Dosen tidak memberikan reaksi yang berlebihan seperti kemarin. Amara merasa presentasinya berjalan cukup baik—normal seperti mahasiswa lainnya. Padahal, jauh di dalam hatinya ia ingin sekali mendapat pujian seperti yang pernah ia terima sebelumnya.
Meskipun begitu, setidaknya belajar kilat yang ia lakukan tidak sia-sia.
Amara keluar dari ruangan itu tanpa senyum lebar. Namun, di dalam hatinya tumbuh rasa bangga yang tenang. Ia tahu dirinya telah berhasil melewati ketegangan itu. Ia melihat para mahasiswa yang berjejer di kursi tunggu. Meskipun ia tidak mengenal mereka, Amara mendoakan agar presentasi mereka berjalan lancar.
Other Stories
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
My Love
Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...
Pintu Dunia Lain
Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...