Setelah Perayaan Itu Usai.

Reads
16
Votes
8
Parts
8
Vote
Report
Setelah perayaan itu usai.
Setelah Perayaan Itu Usai.
Penulis Vixza Diendra

Bab 6 : Kehidupan Setelahnya.

Bab 6 : Kehidupan setelahnya.

Keluarga Amara mulai beradaptasi dengan lingkungan baru. Bermacam-macam sifat tetangga sudah mereka rasakan sejak masih di dusun dulu. Mereka tidak kaget harus menghadapi uniknya karakter orang-orang di lingkungan ini.

Memegang prinsip ‘membuang semua omongan tidak penting’, bukan berarti mereka harus membenci orang tersebut. Keluarga ini selalu ramah kepada siapa pun, meski tidak tahu bagaimana sikap orang-orang itu di belakang mereka. Tidak ada salahnya berbuat baik. Setidaknya jika tidak ada orang baik di lingkungan ini, mereka tetap menanamkan sifat itu dalam diri sendiri.

Banyak orang baik di sini, tetapi tidak menutup kemungkinan ada juga yang buruk. Di setiap tempat yang kita pijak, setiap kisah yang kita lewati, semuanya sama; ada yang baik dan ada yang jahat. Kita tidak bisa menyalahkannya karena itu murni sifat mereka, kalau pun ingin mengubahnya, bagaimana caranya? Kita bukan siapa-siapa bagi mereka.

Kita tidak tahu dasar apa yang membentuk sifat itu. Mungkin saja mereka bersikap demikian karena latar belakang yang penuh luka. Kita hanya bisa mengetuk pintu Tuhan, mendoakan agar kelak mereka disadarkan, serta memohon agar diri ini diberi ruang kesabaran yang luas. Itulah prinsip Ayah yang diturunkan kepada anak dan istrinya.

Hari-hari mereka selalu tenang karena tidak terlalu memusingkan urusan orang lain. Mereka fokus memperbaiki diri untuk masa depan. Ayah sibuk mencari nafkah agar putrinya mendapat kehidupan layak, namun tak lupa meluangkan waktu untuk keluarga. Bunda sibuk dengan pekerjaan rumah, tetapi tetap menjalankan kewajiban menemani putrinya, entah itu bermain atau belajar.

Mereka sadar, sesibuk apa pun orang tua, anak tetap perlu diperhatikan karena hal itu sangat memengaruhi masa depannya. Amara hidup penuh cinta. Ia tumbuh menjadi sosok baik seperti yang diajarkan orang tuanya. Amara menyebarkan cinta dan kebaikan itu kepada orang lain. Dan mereka menyadari didikannya selama ini berhasil membangun karakter kuat dalam diri Amara.

Bangga sudah pasti. Putri mereka tumbuh cantik dalam segala hal. Pikirannya terbuka, ia unggul dalam pelajaran sekolah, wajahnya manis, begitu pula hatinya. Semuanya ia bisa, meski tak ahli di semua bidang. Banyak orang kagum kepadanya. Banyak yang menjadikannya teman karena ia memiliki aura damai. Ia menjadi ketenangan bagi banyaknya hati yang riuh.

Sesekali Amara rindu pada tempat tinggal lamanya. Gelang pemberian Angga masih ia pakai hingga kini ia berusia lima belas tahun. Lama-kelamaan gelang itu semakin ketat, hingga Amara memutuskan untuk melepasnya. Gelang itu terlepas setelah tujuh tahun menemani kesepiannya. Kenangan akan tetap tersimpan meski saksi bisu itu sudah terlepas.

Selama ini, Amara menjadi ‘rumah’ bagi banyak orang. Namun, Amara juga butuh rumah untuk memeluk dirinya sendiri. Andai saja saat perpisahan dulu ia sudah mengenal ponsel, pasti ia masih berhubungan jarak jauh dengan teman-temannya. Meski ada Bunda yang selalu siap mendengarkannya, rasanya sungkan. Bunda pasti memiliki banyak keluh kesah tersendiri, ia tak mau menambah beban ibundanya.

Sekarang ia butuh sahabat. Sahabat yang mau memeluknya. Mungkin itu Angga. Namun, sekarang Amara bahkan tak tahu bagaimana kabarnya. Hidup harus terus berjalan. Amara menjalani kesehariannya dengan keceriaan, meski terkadang rasa sepi itu muncul kembali. Amara mencoba melawannya dengan menekuni hobi baru yaitu membaca.

Di beranda media sosialnya, muncul sebuah aplikasi yang berisi kisah fiksi dikemas dalam bentuk narasi atau beberapa paragraf. Tahun itu Wattpad menjadi perbincangan hangat banyak orang. Karena penasaran, ia mengunduh aplikasi tersebut. Ia membaca banyak cerita fiksi secara gratis di situ.

Ia mengunjungi profil penulis salah satu cerita yang ia baca. Niatnya untuk melihat banyak cerita yang dibuatnya. Tapi ternyata ia malah mendapat informasi bahwa penulis itu memiliki akun media sosial. Dengan antusias ia menekan tautan yang ada di profil penulis itu. Saat mengunjungi akun penulis itu, ternyata cerita yang ia baca dialihwahanakan ke dalam bentuk buku. Dari sinilah ia menyisihkan uang sakunya sedikit demi sedikit untuk membeli novel keinginannya.

Novel pertama dengan 210 halaman ia tamatkan dalam waktu kurang dari satu minggu saking semangatnya dia. Novel kedua, novel ketiga, dan seterusnya menyusul, hingga akhirnya tercetus sebuah ide di pikirannya.

“Bagaimana kalau aku menulis semua keluh kesahku dengan bahasa sastra seperti di novel-novel ini?”

Ide cemerlang, Amara!

Ia berpikir bahwa mungkin dengan langkah ini, suatu saat nanti ia bisa menerbitkan buku berisi kata-kata indah yang diukirnya sendiri. Ia mulai merangkai kata di atas kertas. Awalnya, kalimat itu tak seindah kalimat yang ia baca di novel-novel miliknya. Tidak ada pencapaian yang diraih secara serta-merta. Namun, lambat laun jemarinya semakin mahir mengukir kalimat.

Sahabatnya saat ini adalah buku dan pensil. Semua keluh kesahnya ia tumpahkan ke dalam buku.

“Sastra adalah karya paling indah untuk meluapkan seluruh emosi dengan tenang.”

Begitulah kutipan curahan hati Amara yang kagum pada keindahan karya sastra. Apakah seterusnya sahabat Amara hanyalah buku dan pulpen?




Other Stories
After Honeymoon (17+)

Dipaksa menikah demi ambisi keluarga, Kirana dan Rhea terjebak dalam pernikahan tanpa cint ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...

Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...

Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

Download Titik & Koma