Bab 11: Pencapaian Setelah Perjalanan Panjang.
Bab 11: Pencapaian Setelah Perjalanan Panjang.
Hari ini hasil sidang sudah keluar. Kabar itu diumumkan melalui grup WhatsApp angkatan. Amara tidak sabar menunggu pukul dua belas siang untuk melihat hasilnya melalui portal akademik.
Amara sengaja mengambil cuti kerja hari ini. Bukannya malas bekerja, tapi karena ia merasa hari ini adalah hari yang istimewa.
Sebelum mengecek hasilnya, Amara beribadah terlebih dahulu. Ia berdoa agar lulus tanpa revisi. Setelah selesai, dengan tergesa-gesa ia segera melepas mukenanya dan membiarkannya begitu saja tanpa dirapikan.
Ia segera mengambil laptop lalu membukanya. Mulutnya tak berhenti berdzikir. Amara mengajak Bunda untuk ikut melihat hasil kelulusannya. Jantungnya berdegup kencang sekali, mirip saat akan presentasi kemarin. Tapi kali ini ketegangannya berbeda. Kali ini rasanya seperti berdiri di tali tipis antara menuju kekecewaan atau kebahagiaan.
Ia mengetik nomor induk mahasiswa dan kata sandinya dengan tangan yang gemetar. Layar putih itu berputar sangat lama membuat jantungnya seolah akan melompat keluar. Amara menghela napas panjang. Bunda yang berada di sampingnya pun ikut tegang.
Akhirnya halaman itu terbuka.
Di sana, di bawah kolom status kelulusan, kata itu tertulis jelas dengan huruf kapital. Yang kaget pertama kali bukanlah Amara, tetapi malah Bunda. Di saat Bunda menangkap kata itu, ia bangun dari tempat duduknya dan bersorak “Hore! Hore!”
LULUS.
Amara masih mencerna kalimat itu sebelum akhirnya ia ikut bersorak dan bersujud syukur. Bunda dan Amara langsung berpelukan merayakan kemenangan. Pertama kalinya ia merasa sangat bahagia atas sebuah pencapaiannya, meski sudah banyak pencapaian yang diraihnya sewaktu masih berada di bangku sekolah menengah.
Bunda bangga anaknya benar-benar berhasil memperjuangkan impiannya yang selama ini terkubur. Amara bukan hanya sedang memperjuangkan mimpinya, tetapi juga mimpi kedua orang tuanya. Mereka dulu tidak bisa melanjutkan pendidikan bukan karena malas, tetapi karena ekonomi. Sekarang Amara mematahkan kata ‘kekurangan ekonomi’. Di keadaan keluarganya saat ini, ia berhasil.
Bunda berlari menuju kamarnya untuk mengambil ponsel. Saat ini Ayah sudah memasuki waktu istirahat. Bunda segera mencari nomor Ayah lalu menelponnya.
Ayah menerima kabar itu seperti tidak percaya. Namun, Bunda meyakinkan Ayah bahwa putrinya itu berhasil mewujudkan impian mereka. Ayah tersenyum, tak lupa ia bersujud syukur saat mendengar kabar ini. Satu kabar itu membuat sang Iron Man kembali bekerja dengan semangat yang membara.
Hari ini hasil sidang sudah keluar. Kabar itu diumumkan melalui grup WhatsApp angkatan. Amara tidak sabar menunggu pukul dua belas siang untuk melihat hasilnya melalui portal akademik.
Amara sengaja mengambil cuti kerja hari ini. Bukannya malas bekerja, tapi karena ia merasa hari ini adalah hari yang istimewa.
Sebelum mengecek hasilnya, Amara beribadah terlebih dahulu. Ia berdoa agar lulus tanpa revisi. Setelah selesai, dengan tergesa-gesa ia segera melepas mukenanya dan membiarkannya begitu saja tanpa dirapikan.
Ia segera mengambil laptop lalu membukanya. Mulutnya tak berhenti berdzikir. Amara mengajak Bunda untuk ikut melihat hasil kelulusannya. Jantungnya berdegup kencang sekali, mirip saat akan presentasi kemarin. Tapi kali ini ketegangannya berbeda. Kali ini rasanya seperti berdiri di tali tipis antara menuju kekecewaan atau kebahagiaan.
Ia mengetik nomor induk mahasiswa dan kata sandinya dengan tangan yang gemetar. Layar putih itu berputar sangat lama membuat jantungnya seolah akan melompat keluar. Amara menghela napas panjang. Bunda yang berada di sampingnya pun ikut tegang.
Akhirnya halaman itu terbuka.
Di sana, di bawah kolom status kelulusan, kata itu tertulis jelas dengan huruf kapital. Yang kaget pertama kali bukanlah Amara, tetapi malah Bunda. Di saat Bunda menangkap kata itu, ia bangun dari tempat duduknya dan bersorak “Hore! Hore!”
LULUS.
Amara masih mencerna kalimat itu sebelum akhirnya ia ikut bersorak dan bersujud syukur. Bunda dan Amara langsung berpelukan merayakan kemenangan. Pertama kalinya ia merasa sangat bahagia atas sebuah pencapaiannya, meski sudah banyak pencapaian yang diraihnya sewaktu masih berada di bangku sekolah menengah.
Bunda bangga anaknya benar-benar berhasil memperjuangkan impiannya yang selama ini terkubur. Amara bukan hanya sedang memperjuangkan mimpinya, tetapi juga mimpi kedua orang tuanya. Mereka dulu tidak bisa melanjutkan pendidikan bukan karena malas, tetapi karena ekonomi. Sekarang Amara mematahkan kata ‘kekurangan ekonomi’. Di keadaan keluarganya saat ini, ia berhasil.
Bunda berlari menuju kamarnya untuk mengambil ponsel. Saat ini Ayah sudah memasuki waktu istirahat. Bunda segera mencari nomor Ayah lalu menelponnya.
Ayah menerima kabar itu seperti tidak percaya. Namun, Bunda meyakinkan Ayah bahwa putrinya itu berhasil mewujudkan impian mereka. Ayah tersenyum, tak lupa ia bersujud syukur saat mendengar kabar ini. Satu kabar itu membuat sang Iron Man kembali bekerja dengan semangat yang membara.
Other Stories
Loren Ipsum
test ...
Kisah Cinta Super Hero
cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Pintu Dunia Lain
Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...
Liburan Ke Rumah Nenek
Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...