Setelah Perayaan Itu Usai.

Reads
16
Votes
8
Parts
8
Vote
Report
Setelah perayaan itu usai.
Setelah Perayaan Itu Usai.
Penulis Vixza Diendra

Bab 7 : Perjuangan Di Usia Baru.

Bab 7 : Perjuangan di usia baru.

Lima tahun berlalu. Amara terus menulis hingga kini usianya menginjak 19 tahun. Ia baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Kedua orang tuanya menyarankan Amara mengejar mimpinya dengan berkuliah. Ayah selalu meyakinkan Amara agar mau berkuliah. Ayah selalu meyakinkan dan mengusahakan segalanya demi masa depan cerah bagi putrinya.

Senyum hangat penuh ketulusan yang terukir di wajah kedua orang tuanya menjadi alasan Amara untuk melanjutkan pendidikan. Ia berharap bisa lebih membanggakan mereka. Ia berjuang agar bisa masuk di fakultas terbaik, sementara Ayah banting tulang mencari biaya.

Perjuangan yang setara membuahkan hasil. Amara diterima di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Kesempatan ini tidak ia sia-siakan. Ia memiliki tekad kuat untuk menyelesaikan kuliah secepat mungkin. Tapi Tuhan tidak berkehendak.

Di tengah perjuangannya, kesehatan Ayah menurun. Hal itu sangat mempengaruhi pikiran Amara. Padahal, ia sudah mengawali skripsinya pada semester enam, namun jalannya tak semulus itu. Ia tetap mengikuti kelas tepat waktu. Tapi fokusnya terbelah antara Ayah yang dirawat di rumah sakit atau melanjutkan mengerjakan skripsi.

Ia tidak tenang selama mengikuti kelas. Tak ingin terus bergelut dengan pikirannya sendiri, dengan berat hati ia mengubur mimpinya untuk lulus cepat. Akhirnya dia memutuskan mengambil cuti selama satu semester untuk merawat ayahnya. Karena ayah tumbang, cuti semester ini ia gunakan mencari pekerjaan untuk menambal biaya hidup.

Ia bekerja dari terbit fajar hingga matahari tenggelam di ufuk barat. Malamnya, ia pergi ke rumah sakit untuk menggantikan Bunda menjaga Ayah agar ibundanya bisa beristirahat. Amara tak pernah mengeluh. Segala cobaan dari Tuhan ia syukuri dengan senyuman penuh ketulusan. Mungkin inilah saatnya ia membalas budi atas perjuangan Ayah selama ini.

Dua minggu lamanya Ayah menginap di rumah sakit. Amara sempat merasa pasrah karena letih bekerja. Rasanya ia ingin sekali berhenti sejenak untuk merehatkan badannya, namun ialah satu-satunya sandaran keluarga. Badannya selalu terasa berat setiap kali akan berangkat kerja, seperti ada sebuah batu besar yang menempel di punggungnya. Ia mencoba menyemangati dirinya sendiri meski dirinya tak terlalu kuat menopang beban. Ia harap dengan usaha yang ia lakukan saat ini dapat mengembalikan senyum ceria keluarganya.

Kesehatan ayah berangsur membaik, meski dokter berkata penyakit ayah belum sembuh total, sewaktu-waktu mungkin bisa kambuh kembali. Ayah diizinkan untuk pulang, namun dengan catatan tidak boleh melewatkan jadwal minum obat supaya penyakit ayah tidak kambuh lagi. Bunda dengan antusias menelpon Amara untuk memberi kabar ini lewat telepon. Amara menerima dengan hati gembira, setidaknya kesehatan ayah sudah mulai membaik dari sebelumnya.

Amara mengurus semua keperluan administrasi. Ia memesan taksi daring untuk menjemput orang tuanya di rumah sakit. Hasil kerja keras Amara dalam mencari uang, kini ia gunakan untuk membayar biaya rumah sakit. Amara tidak keberatan, justru ia malah senang bisa meringankan beban orang tuanya meski baru dalam hal kecil.

Sesampainya di rumah, Amara berpesan kepada ayahnya.

“Setelah ini, jangan pikirkan pekerjaan dulu, Yah. Pikirkan kesehatan Ayah dulu. Aku sudah punya pekerjaan tetap kok,” bujuk Amara..

“Tapi nanti kamu kecapekan dong, Nak,” bagaimanapun keadaannya, Ayah selalu khawatir pada anak tunggal kesayangannya itu.

“Begini, Yah. Kalau Ayah masih ingin bekerja, untuk saat ini pikirkan kesehatan Ayah dulu. Aku tidak mau hal ini malah memberatkan Ayah. Kalau pun nanti Ayah sudah bekerja lagi, stamina Ayah sudah harus siap untuk bertempur dengan keringat. Jadi saat ini aku mau Ayah peduli sama diri Ayah sendiri dulu, ya?”

Ayah menyimak sambil menganggukkan kepala.
“Baiklah kalau itu demi kebaikan kita semua. Ayah menyetujui kemauanmu,” balas Ayah.

“Nah, gitu dong, Yah. Pokoknya harus sehat, sehat, sehat! Tiap pagi jangan lupa olahraga ringan sambil berjemur ya!”

“Siap putri kecilku.”

“Ih, aku sudah besar, Ayah!” seru Amara sambil menghentakkan kaki pelan, memprotes namun terselip tawa di ujung kalimatnya.

Candaan itu dapat menghibur hati setelah bersedih karena ayah jatuh sakit. Kembalinya ayah kerumah menjadi semangat baru bagi Amara untuk terus bekerja keras mencari uang dengan tulus.

Setiap pagi, ayah rutin berolahraga untuk fokus pada kesehatannya. Ia tidak sabar segera melihat anaknya wisuda. Ia ingin sekali berjuang kembali untuk putrinya berkuliah. Ayah terus bekerja keras hingga dirasa tubuhnya benar-benar bersedia beraktivitas seperti biasa.

“Nak, Ayah boleh kembali bekerja, kan? Ayah sudah kuat ini!” seru Ayah sambil memamerkan ototnya yang tertutup oleh lemak.

“Apa sih, Yah, yang mau ditunjukin? Ototnya tidak kelihatan tuh,” ucap Amara tertawa.

“Loh, memangnya iya, ya? Hehehe…”

“Ayah sih! Kalau mau pamer ngaca dulu! Hahaha…” Amara menggeleng kepala, lalu menyusul Bunda yang berada di dapur.

“Bun, memang benar ya, kalau ayah sudah benar-benar sehat?”

“Kelihatannya sih sudah. Tiap pagi ayahmu selalu rutin olahraga lho,” info singkat dari bunda.

“Wah, iya, kah? Kalau begitu berarti ayah sudah siap bekerja lagi ya?”

“Kayaknya bisa. Tapi lebih baik jangan yang terlalu berat.”

“Oke deh kalau begitu.”

Amara kembali berlari menemui ayahnya yang ada di ruang tamu. Lantai berguncang seakan monster akan datang, tapi nyatanya itu langkah kaki Amara.

“Jangan lari-lari, Nak.”

Amara sampai di ruang tamu dengan napas tersenggal-senggal.

“Kamu sih, lari-lari nggak jelas. Nanti kalau jatuh gimana?”

“Hehehe, maaf, Yah.”

“Memangnya kamu tanya apa sih sama Bunda?”

“Adalah pokoknya.”

“Ih, kok begitu sih.”

“Ayah mau aku jawab pertanyaan ayah tadi nggak?”

“Mau lah.”

“Jadiii…”

“Ciee ciee nungguin ya?” canda Amara pada ayahnya.

“Ih, ditungguin kok.”

“Jadi, ayah boleh bekerja lagi.”

“Yes!” sorak ayah melonjak dari tempat duduknya sambil mengepalkan tangannya di udara, persis seperti atlet yang baru saja memenangkan pertandingan.

“Tapi tidak boleh yang berat-berat kerjanya!” peringatan Amara ditengah-tengah sorakan ayah.

“Iya, iya. Yang penting Ayah bekerja lagi,” balas Ayah dengan senyum bahagia tergambar di wajah Ayah.

Amara tak tahu mengapa Ayah bisa seantusias itu untuk bekerja kembali. Ayah sembuh dalam waktu kurang dari masa cuti semesternya. Dalam sisa waktu ini, ia menjadi mahasiswa pendengar informal. Mahasiswa pendengar informal adalah mahasiswa yang diizinkan mengikuti kelas untuk mendengarkan materi tapi tidak di absen dan tidak mendapat nilai.

Agar sisa masa cutinya lebih berguna, Amara tetap bekerja dan juga menjadi mahasiswa pendengar. Tentunya sebelum mengikuti kelas, ia meminta izin pada dosen yang bersangkutan. Amara melakukan ini supaya otaknya terasah dan ia tidak tertinggal materi dari teman-temannya.

Amara harus mengatur waktunya. Di pekerjaannya, ia sudah meminta izin pada bosnya agar memberi cuti pada saat Amara mengikuti kelas. Dengan syarat, gaji Amara akan dipotong lumayan banyak. Amara tidak keberatan, setidaknya ia mempunyai penghasilan tetap tersendiri untuk membeli kebutuhan pribadi dan menabung untuk biaya wisuda nanti.


Ikuti perjuangan Amara sampai hari kelulusan nanti!




Other Stories
Hantu Dan Hati

Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Painted Distance (tamat)

Dara memutuskan untuk pergi ke Sapporo bukan hanya sekadar liburan. Perjalanannya di kota ...

Kabinet Boneka

Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...

Download Titik & Koma