Setelah Perayaan Itu Usai.

Reads
10
Votes
8
Parts
8
Vote
Report
Setelah perayaan itu usai.
Setelah Perayaan Itu Usai.
Penulis Vixza Diendra

Bab 8 : Patahkan Mitos Seram Pertama.

Bab 8 : Patahkan mitos seram pertama.

Pekerjaan Amara tetap berjalan, begitu pun dengan skripsinya. Dari jam delapan pagi hingga jam lima sore ia bekerja, lalu malamnya ia mengerjakan skripsi. Amara selalu mengambil cuti saat ada jadwal kelas. Pada hari itu lah ia mengikuti kuliah sekaligus melakukan bimbingan. Langkah yang diambil Amara bagaikan peribahasa ‘sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui’, karena ia sadar bahwa ‘waktu adalah emas’.

Ia memutuskan tetap bekerja sambil kuliah meski ayahnya sudah kembali bekerja. Ia tidak mau menambah beban ayahnya. Biarlah ayah menanggung biaya kontrakan, air, dan listrik, untuk keperluan pribadi Amara mencarinya sendiri. Ia sadar sudah dewasa dan harus belajar mandiri agar tidak kaget setelah lulus kuliah nanti. Sesekali, ketika gaji Amara ada kelebihan, ia ikut menyumbang sedikit untuk biaya kontrakan.

Amara tidak salah langkah. Semuanya terlaksana dengan teratur tanpa ada hal yang bertabrakan. Ia mendapat bos pembimbing dan dosen yang pengertian. Ia berhasil menyelesaikan penelitian besar di akhir semester sembilan. Dan sampailah ia pada fase finalisasi bimbingan.

Alih-alih pengalaman seram yang didapatkannya, ia justru malah memukau dosen pada saat finalisasi bimbingan. Semua sudah ia siapkan dengan matang. Kepala pening selama cuti semester tergantikan oleh pujian para dosen. Ia mematahkan ‘mitos seram’ itu. Nyatanya, jika kita tulus dalam berjuang dan berdoa, jalan kita akan dipermudah—entah kita diberi kekuatan melewati banyaknya rintangan, atau Tuhan menyingkirkan semua hal yang menghalangi jalan kita.

“Aku tidak menyangka ada mahasiswa yang mempunyai draf sematang ini. Amara, saya akui kamu memang hebat. Saya dengar kamu kemarin sempat mengambil cuti semester, ya? Sepertinya kamu tidak benar-benar cuti, tetapi malah belajar mati-matian, hahaha…” ucap salah satu dosen yang terkenal ketus, tetapi saat ini ia malah bersikap seolah dosen paling ramah yang pernah ada.

Amara tidak kuasa menahan senyum bahagianya. Di dalam ruangan, tingkahnya seperti seorang remaja yang baru saja melihat kekasihnya lewat. Amara memberikan bungkukan samar disertai anggukan kepala sebagai ucapan terima kasih.

“Terima kasih, Profesor, atas pujiannya.”

Hari itu ternyata bukanlah hari menyeramkan seperti yang Amara kira. Tapi ternyata justru hari itu adalah salah satu hari yang membuatnya tersenyum lebar.

Setelah salah satu hari yang membahagiakan itu, Amara sadar kebahagiaannya hanya sementara. Dosen penguji tetap setia menunggunya di ruang sidang utama. Ternyata setelah finalisasi bimbingan selesai masih ada lagi ‘mitos seram’ yang harus dilewati Amara. Kemarin mitos pertama sudah ia patahkan, kini ia melangkah menuju mitos kedua.

Dalam gelap kamarnya, lampu belajar adalah satu-satunya sumber cahaya. Di depan laptopnya, ia mengulang kalimat-kalimat untuk menyampaikan presentasinya berulang kali. Dari jam setengah delapan malam hingga hampir tengah malam Amara mencari-cari kalimat yang pas untuk presentasi. Suara jarum jam dan jangkrik semakin terdengar jelas.

Tik… Tok…

Krik… Krik…

Kepalanya perlahan mulai turun tak sadarkan diri. Matanya seperti direkatkan dengan lem yang sangat kuat. Suaranya mulai samar, tergantikan oleh suara dengkuran tipis. Tubuhnya tak kuasa menahan lelah, hingga akhirnya ia tertidur pulas. Dengkuran itu sudah menjelaskan betapa lelahnya ia berjuang selama ini.

Layar laptop semalaman menatap tuannya yang sedang tertidur. Layar itupun ikut mengantuk saat waktu memasuki subuh. Amara membuka mata perlahan. Hingga ia menyadari sesuatu, dengan terburu-buru ia mencari ponselnya. Disana tertulis Rabu, 6 Juni 2025 — 03:56.

“Gawat! Belajarku semalam sia-sia, dong? Argh, ya Tuhan,” hati Amara mengintimidasinya seakan ia berbuat salah, padahal tubuhnya hanya memberi sinyal butuh istirahat.

Untung saja Amara terbangun karena mendengar azan berkumandang. Jika tidak, ia pasti tidak akan mempunyai waktu banyak untuk belajar lagi. Laptop dengan baterai yang nyaris habis itu langsung ia sambungkan ke pengisi daya. Ia menatap kosong mejanya yang bertumpuk buku sambil memutar singkat kejadian semalam.

“Oh, iya! Aku semalam nggak sengaja ketiduran ya? Duh, kok bisa sih? Padahal hari ini aku sudah presentasi. Semua kalimatku semalam hilang, deh.”

“Ya, salah aku juga. Kenapa semalam tidak aku catat saja? Aku ini kenapa, sih?”

Dalam hati kegaduhan terjadi. Amara menyalahkan dirinya sendiri karena ketiduran dan tidak menyimpan materi presentasinya.
Ia tersadar dari lamunannya. Masih ada sedikit waktu untuk menggali berbagai sumber guna mencari referensi. Amara pun mulai menyaring poin penting dari setiap sumber yang ia gali, lalu menarik kesimpulan yang ia rangkai menggunakan kalimat buatannya sendiri. Tidak lupa, Amara pun tetap mengingat dari mana ia mendapatkan referensi tersebut.

Trik ini mungkin bisa kita lakukan ketika waktu sudah menekan kita untuk cepat?

Setelah ia selesai berdoa kepada Tuhan, ia lanjut menggarap proyeknya. Kelas hari ini dimulai pukul sepuluh pagi. Waktunya masih longgar. Semua kalimat sudah tersusun rapi di sebuah kertas. Amara memastikan kembali tidak ada kesalahan, lalu mulai menghafalkannya satu per satu di depan cermin. Amara mengatur raut wajah dan nada bicara agar dosen tidak bosan mengamatinya saat presentasi

Apakah perjuangan Amara mulus sampai hari kelulusan? Ayo simak terus ceritanya.









Other Stories
Petualangan Di Negri Awan

seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

2r

Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...

Dari Luka Menjadi Cahaya

Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...

Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Filosofi Sampah (catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Download Titik & Koma