Bertahan Di Tenda Darurat
Berbeda dengan anak-anak yang tidak terusik dengan turunnya hujan, aku memandangi hujan yang mengguyur tenda itu dengan perasaan tidak menentu. Hujan yang membasahi tenda itu membawa kenanganku pada peristiwa tiga tahun silam. Pada saat itu, hujan deras mengguyur tenda-tenda besar bertuliskan BNPB atau Kemensos, yang terpasang di sepanjang jalan utama maupun jalan pedesaan. Tenda besar itu menampung para pengungsi korban gempa. Ya, telah terjadi gempa berkekuatan magnitudo 5,6 di kota kecil ini, menyebabkan ratusan korban tewas, ribuan korban luka-luka, juga menyebabkan ribuan rumah rusak berat. Gempa yang belakangan diketahui akibat pergerakan sesar Cugenang itu, juga dirasakan masyarakat yang berada di Sukabumi, Bandung, Tangerang, dan Jakarta.
Tidak lama setelah mendengar kabar adanya gempa, dari Jakarta aku segera meluncur ke Cianjur untuk memeriksa kondisi rumah ini. Bersyukur rumah panggung kami tidak mengalami kerusakan berarti, bangunan rumah masih berdiri tegak, hanya pagar batu roboh menutup jalan. Namun kondisi di sekitar rumah terlihat memprihatinkan, banyak rumah rusak berat, tidak sedikit rumah yang roboh rata dengan tanah. Terlihat wajah-wajah sendu, bingung, putus asa. Orang tua dan anak-anak berkumpul di tanah lapang, khawatir terjadi gempa susulan. Sebagian orang dewasa mengurus warga yang terluka atau meninggal dunia, sebagian lagi mengais sisa rumah yang roboh mencari barang yang masih bisa digunakan
Dalam beberapa hari setelah peristiwa itu, masyarakat bertahan hidup dengan kondisi mengenaskan. Mereka tidur di dalam tenda darurat, terbuat dari plastik dan potongan kain yang mereka dapatkan dari reruntuhan rumah. Orang tua, perempuan, dan anak-anak diutamakan istirahat di dalam tenda darurat itu. Mereka makan seadanya, ubi, singkong, buah dan sayuran dari kebun yang belum rusak. Beberapa orang bahkan tidak mengenakan pakaian layak, karena barang-barang mereka tertimbun reruntuhan rumah.
Beberapa hari kemudian, aparat pemerintah mulai berdatangan mendata jumlah korban, jumlah kerusakan, dan kebutuhan infrastruktur lainnya. Berbagai media juga berdatangan meliput dampak gempa, dan mengabarkan kondisi pengungsi. Bergandeng tangan para pihak mengupayakan perbaikan infrastruktur jalan, rumah, dan pengadaan logistik untuk korban gempa. Selama pemukiman mereka dibangun kembali, masyarakat tinggal di dalam tenda pengungsian. Kali ini tendanya jauh lebih besar dan tidak bocor di saat hujan. Makanan, pakaian, obat-obatan disediakan pemerintah daerah dan para donatur.
“Teteh tidurnya dimana?”, tanyaku. Saat itu aku berkesempatan mengunjungi Teteh, salah satu korban gempa yang rumahnya roboh rata dengan tanah. Berdua kami berjalan menapaki jalan pedesaan di tengah rintiknya hujan.
“Ini, tenda Teteh disini. Bapak-bapak tendanya di sebelah sana”, jawab Teteh menunjukkan tendanya.
Tenda BNPB itu berukuran 6x8m, dapat menampung 20 orang. Tenda perempuan dipisahkan dari tenda laki-laki. Di dalam tenda yang kukunjungi, terlihat ibu-ibu tengah beristirahat, di atas sebuah kasur tipis, berselimut tipis, seperti belum cukup mengusir dinginnya kabut dan hujan yang turun bergantian. Kental sekali suasana memprihatinkan di dalam tenda itu, apalagi dengan minimnya sarana sanitasi. Untuk MCK mereka memanfaatkan selokan yang biasa dipakai mengairi sawah, sedangkan untuk mendapatkan air bersih, mereka harus berjalan jauh ke arah mushola, disana terdapat satu-satunya sumur jetpump yang masih memancarkan air jernih.
“Sampai kapan tinggal disini, Teh?”, tanyaku lagi, meski sebenarnya tidak memerlukan jawaban, karena siapapun pastinya ingin segera kembali ke rumah yang lebih hangat dan bersih.
“Kata pak Lurah, kira-kira sih setelah lebaran, setelah rumah-rumah selesai diperbaiki, bu”, sahut Teteh. Tertegun aku mendengar jawaban Teteh, terbayang puasa Ramadhan nanti akan menjadi puasa yang berat bagi masyarakat di tempat pengungsian ini.
Tanpa berlama-lama di dalam tenda, aku segera berdiri dan kembali ke rumahku. Di luar tenda terlihat ada mobil donatur datang membawa makanan yang siap dibagikan, para pengungsi berhamburan keluar menyambutnya.
Other Stories
Seoul Harem
Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...
Percobaan
percobaan ...
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...