Melanjutkan Hidup
“dug…dug …dug…dug…dug “, terdengar suara bedug dilanjutkan dengan adzan sholat maghrib dari mushola di belakang rumah.
Aku tersadar dari renungan panjang, tidak terasa sudah senja, saatnya sholat maghrib. Hujanpun sudah berhenti. Para Bapak dan anak laki-laki bersiap menuju mushola untuk sholat berjamaah. Para ibu bersiap melakukan sholat maghrib di dalam rumah.
Selesai sholat maghrib, kami menggelar tikar untuk makan malam bersama, dengan menu andalan Teteh, yaitu nasi liwet, ikan bakar, lalapan daun pohpohan dan sambal.
“Ayah, ikan ini abang yang nangkap tadi di kolam”, ujar keponakan dengan bangga.
“Aku yang menang, dapat tiga ekor, abang dapat dua kan”, sahut adiknya tidak kalah bangga.
Anak-anak tampak gembira menyantap masakan khas Cianjur tersebut, mereka merasa terlibat dalam menyediakan hidangan makan malam itu. Selesai makan, tidak ada kegiatan khusus yang kami lakukan, masing-masing kembali kepada kegiatan semula, bermain, mengobrol, menonton televisi. Ketika malam semakin larut dan udara malam semakin dingin, kami masuk ke kamar masing-masing, dan anak-anak tentu saja kembali masuk ke dalam tendanya.
Esoknya, seperti ingin melanjutkan renungan panjangku kemarin, aku mengajak anak-anak untuk jalan pagi menyusuri jalanan pedesaan, melihat kebun sayuran dan hunian penduduk setelah tiga tahun berlalunya gempa. Udara masih dingin, dimana-mana tampak butiran embun di pucuk-pucuk sayuran, yang makin lama memudar dengan munculnya matahari pagi. Terlihat pemandangan yang menawan, hamparan kebun sayur yang menghijau, tanaman sawi hijau, daun selada, kembang kol, wortel, seperti berlomba menunjukkan keelokannya.
“Pararunten kang, teh, mau jalan-jalan lihat sayuran”, ucapku menjaga sopan santun ketika melewati beberapa petani yang sedang mengarit membersihkan gulma tanaman.
“Mangga bu, hati-hati licin”, jawab mereka. Beberapa petani sudah kukenal, karena seringnya bertemu dan berbincang dengan mereka. Dari senyum dan tatapan mereka, aku melihat wajah-wajah ramah penuh semangat, dan memiliki harapan hidup yang sudah pulih.
Di sepanjang jalan kembali ke rumah, terasa kehidupan sudah kembali normal seperti semula. Ketika bertemu pak RT, terlihat ia tengah menyiapkan beberapa kantong sayuran untuk dibawa ke kota. Pak RT termasuk orang yang tabah, sepeninggal istrinya yang tewas di saat gempa, kini ia sudah bangkit dan menata kembali hidupnya dengan berdagang sayuran ke kota.
Melewati warung, anak-anak mulai merengek minta dibelikan minuman. Rupanya mereka kehausan selama mengikuti perjalanan yang cukup melelahkan tadi. Aku menyerah menuruti permintaan mereka, maka kami beristirahat sebentar di warung itu.
“Ada air mineral kang?”, tanyaku pada penjaga warung.
“Tapi aku mau susu, bunda”, rengek ponakan yang memang tidak pernah jauh dari susu itu. Untungnya warung ini cukup besar, menyediakan segala jenis minuman. Kulihat sediaan sembako juga lengkap dan banyak, belum lagi segala macam snack tersedia. Rupanya warung sudah kembali hidup, sudah menyediakan segala macam kebutuhan warga.
Selagi menunggu anak-anak bersitirahat, Aku memperhatikan kondisi di sekitar warung. Rupanya tidak jauh dari tempatku duduk, ada warung sate maranggi yang sudah buka, dan bau harum daging bakar menyeruak keluar bersama asap putih yang menyembul dari dalam warung. Sepengetahuanku, sate maranggi di sini tidak kalah enaknya dengan sate maranggi yang berada di pinggir jalan utama Cianjur. Potongan dagingnya besar, bumbu kecapnya meresap ke dalam daging, dilengkapi sambal oncom yang sangat lezat. Segera kuhampiri warung Sate Maranggi itu,
“Kang, 30 tusuk, dibungkus ya. Pakai ketan”, pintaku pada tukang sate itu
“Siap bu, saya selesaikan pesanan yang ini dulu, tunggu sebentar ya”, katanya sambil tangannya sibuk mengipas bara api.
Bau sate maranggi yang harum di pagi hari itu, benar-benar menggugah selera. Sarapan pagi dengan sate maranggi, dimana lagi bisa ditemui selain di Cianjur?
Liburan singkat di Cianjur itu kami lalui dengan penuh kegembiraan. Meski hujan dan kabut turun bergantian, meski tidur di rumah panggung berdinding kayu, meski tidur di dalam tenda, tidak mengurangi kegembiraan itu. Dalam perjalanan pulangpun, masih terdengar anak-anak saling bertukar cerita tentang kejadian-kejadian lucu dan mengesankan yang baru saja mereka alami.
Perjalanan ke Cianjur kali ini, bagiku tidak sekedar merasakan kegembiraan berlibur bersama keluarga. Ada kebahagiaan lain yang kurasakan, yaitu di saat melihat masyarakat Cianjur telah bangkit melanjutkan hidupnya, menyongsong hari-hari penuh harapan.Other Stories
Keeper Of Destiny
Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...
Hantu Dan Hati
Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...
Hibur Libur
Aku (Byru) mencoba mencari nikmatnya sebuah "Liburan" dengan kesehariannya yang sangatlah ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Mr. Perfectionist
Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...