Tenda Dan Hujan Bercerita

Reads
58
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
tenda dan hujan bercerita
Tenda Dan Hujan Bercerita
Penulis Trusti Dwiyanti

Sedia Tenda Sebelum Hujan

Libur panjang di akhir minggu itu sudah ditunggu banyak keluarga, dengan maksud yang sama, untuk sejenak melepaskan diri dari kejenuhan hidup di ibu kota. Kali ini, kota tujuan kami tidak terlalu jauh dari Jakarta, sebuah kota kecil di kaki Gunung Gede-Pangrango, yaitu Cianjur. Di saat libur panjang, waktu tempuhnya bisa dua kali dari hari biasa, namun itu tidak menyurutkan semangat, karena Cianjur menjanjikan pemandangan alam yang menawan. Mudah ditemui hamparan sawah menghijau, dikelilingi perbukitan yang belum banyak dijarah tangan manusia. Suasana pedesaannya masih asri, dengan bau harum tanaman sayuran yang baru saja tersiram embun di pagi hari. Terkadang kabut turun di siang hari menutup bukit, sawah, perumahan, dan menebarkan hawa dingin ke segala penjuru.

Selain pemandangan indahnya, Cianjur memiliki banyak kuliner yang terkenal enak dan beragam jenisnya. Jika ingin jajanan legendaris, ada 3 Marici (makanan ringan Cianjur) yaitu rengginang, renggining, putu mayang. Ada juga gemblong, moci, roti Popon, juga roti jadul yang pabriknya berada di samping toko roti Tang Keng Cu. Di sepanjang jalan utama, berjajar rumah makan yang menyajikan makanan ikonik dan identik dengan kota Cianjur, seperti bubur ayam, sate maranggi, geco (taoge tauco), dan ikan bakar. Perpaduan antara pemandangan indah dan makanan lezat, menjadikan Cianjur sebagai salah satu tujuan utama wisata keluarga.

Jauh-jauh hari anggota keluarga yang akan berlibur ke Cianjur sudah didata, untuk perkiraan kebutuhan transportasi, penginapan, dan logistiknya. Besar antusiasme mereka untuk mengikuti liburan bersama itu, terdata dari 6 kepala keluarga, total peserta 20 orang, dan beragam usianya, mulai dari orang tua, dewasa, anak muda, dan anak-anak. Setelah semua kebutuhan dipersiapkan, di hari yang ditentukan pagi-pagi sekali berangkatlah kami menuju Cianjur. Sambil memantau kepadatan lalu lintas, menghindari kemacetan, dan melalui jalur alternatif sampailah kami ke tujuan dengan selamat.

Belum bosan rasanya duduk di mobil memandangi alam pegunungan, kami sudah tiba di rumah peristirahatan keluarga, rumah panggung yang artistik dan nyaman, yang sebagian besar dindingnya terbuat dari papan kayu. Halaman rumah ditanami berbagai tanaman bunga, dan halaman yang letaknya lebih rendah terhampar tanah garapan yang ditanami sayuran dan kolam ikan.

Hawa dingin menyergap begitu pintu mobil dibuka. Tanah dan tanaman masih basah oleh hujan yang belum lama berhenti. Rasa letih selama perjalanan, kontan terobati. Kuhirup dalam-dalam udara segar pegunungan, memasukkan udara segar sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru. Tenang, sejuk, harum hawa pedesaan, inilah impian yang selalu hadir ketika penat melanda di tempat kerja.

Terlihat anak-anak sudah berhamburan keluar mobil.

“Golden…. Golden ….”. Mereka memanggil-manggil ikan mas yang ada di dasar kolam, sambil menebar makanan ikan ke dalam air. Seperti paham bahasa manusia, ikan-ikan mas berukuran besar berwarna kuning keemasan merasa terpanggil dan menyembul menampakkan diri, dengan mulut ternganga bulat, menunggu lemparan makanan. Begitu makanan tertangkap, mereka masuk lagi ke dalam air, digantikan ikan-ikan yang lebih kecil mengais remah-remah makanan.

Sebagian ibu-ibu tak kalah heboh, mereka memeriksa tanaman sayur di balik plastik mulsa penutup tanaman, yang terhampar di sebelah kolam ikan

Teh, eta nanam sayuran naon?”, tanya mereka ke Teteh. Kami biasa memanggilnya Teteh saja. Teteh bekerja pada keluarga kami sudah sejak lama. Tugasnya merawat rumah, halaman, dan bersama anaknya menggarap sebidang tanah yang mereka tanami berbagai macam sayuran. Teteh dan keluarganya tinggal tidak jauh dari rumah kami.

“Oh itu daun slada, baru juga seminggu ditanamnya”, sahut si Teteh. “Teteh tidak nanam sawi dulu”, sahutnya lagi, “harganya jeblok, panenan kemarin gak Teteh jual, buat makan ikan saja”. Miris dengar cerita Teteh seperti itu. Serba repot memang menjadi petani, sudah susah payah menanam sayuran namun seringkali hasil panennya dihargai rendah, kapan mereka bisa mendapat kehidupan yang layak?

Rumah panggung itu terletak di area yang lebih tinggi, terdapat beberapa anak tangga untuk mencapainya. Beberapa ibu sudah menapaki anak tangga tersebut, dan begitu memasuki halaman rumah mereka mendapati tanaman bunga yang hampir semuanya bermekaran, terlihat indahnya bunga Alamanda-kuning, Sakura-pink, Amarilis-merah hati, dan banyak lagi. Adegan swa-foto tidak terelakkan di area itu. Tinggallah para pria bertugas memindahkan barang bawaan ke dalam rumah.

Ketika semua anggota keluarga sudah masuk ke dalam rumah, baru terasa bahwa rumah panggung itu terlalu kecil buat kami semua, meski menjadi lebih hangat, namun bagi anak-anak menjadi kurang leluasa bergerak.

“Ayah bagaimana kalau kita tidur di luar saja, di dalam penuh” tiba-tiba salah satu anak laki punya ide, yang langsung diiyakan karena tidak ingin membuatnya kecewa. Para bapak kemudian membangun tenda di halaman depan rumah, dan dalam sekejap berdirilah 1 tenda Bivy dan 3 tenda Dome warna warni siap ditempati. Tanpa menunggu lama anak-anak itu menyeruak masuk ke dalam tenda.

Belum lama mereka menikmati sensasi bermain di dalam tenda, terdengar rintik hujan mulai turun, kemudian menjadi lebih deras. Awalnya anak-anak tampak sedikit khawatir, namun dalam sekejap kembali bercanda riang dan menutup rapat pintu tenda, tak hirau dengan basahnya hujan dan udara yang semakin dingin.


Other Stories
Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Diary Superhero

lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...

Breast Beneath The Spotlight

Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...

Hantu Dan Hati

Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...

Perahu Kertas

Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...

Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

Download Titik & Koma