Akhir Desember
Silih berganti hari, mentari mengitari. Ku terbangun dalam kabin kereta dengan tingkap yang tak tertutup gorden rapat. Melaju cepat buatku mual sekarat. “Untung sebentar lagi sampai, hangatnya pelukan sudah kupikir dan berandai-andai” ujar hatiku yang berdetak tak kian melandai. Derai? Iya, tangisku terus berderai hingga tak terasa jendela kabin halus selimuti bak gelaran sprei. “Sebentar lagi, kereta akan berhenti di stasiun…” Yap itu yang kudengar disaat hati dan pikiranku tengah bertengkar. Suara yang menjadi jawaban dari 4 jam perjalanan yang terus buat bahu ku lelah karena bersandar. Grup keluarga di ponsel mulai berkabar. Lantang notifikasi nya tak lagi terasa hambar, ada senyum di sana yang melebar. Pijak kaki kananku keluar dari balik kabin, begitu pula dengan berbagai bilik yang dipenuhi orang lain. Tapak demi setapak mulai bergerak kencang, bahu ku sempat berat walau linu nya tak bisa ku tentang. Rinduku itu akan ranjang yang bisa bebas ku untuk terlentang, kurasa semakin dekat begitu ku berlari hingga keluar dari stasiun Tawang. Sambut keluargaku hangat disana, tak hanya dekapan yang berharap perlahan lega. Rekam geluduknya buat redam di telingaku ketika bersamanya.
Pulang, perjalanan yang cukup lelah tadi belum usai. Belum pada rumah yang menjadi destinasi utamaku saat perkuliahan semester ini telah selesai. Aku berkendara, menyantap menu khas Semarang yang menggugah selera. Aku pesan menu favoritku, Nasi Paru namanya dengan Es Teh yang melengkapi hidanganku malam itu. Begitu pula keluargaku, santapannya tidak mau kalah. Porsi demi porsi ludas habis, bak sekelompok busung lapar yang tak lagi terlantar. Latarnya berpindah selepas kami puas dengan apa yang buat perut kami meluas. Kurang lebih 30 menit kami berada pada perjalanan yang riang, malam bukan hening seperti yang aku bayangkan.Senandung obrolan kami dinikmati bintang yang nurnya semakin benderang. Kediamanku malam itu berbeda, sudah tidak ada pohon mangga yang sebelumnya rindang menutup halaman depan rumahku dari sinar teriknya. Tepat pada pukul 9 malam, kami turun dari jarak tempuh yang memorinya penuh kami rekam. Griya yang dulu menemaniku selama 17 tahun bertumbuh, akhirnya kembali ku pijakkan langkah ini padamu. Langkah yang kini sudah jauh lebih besar, langkah yang tak lagi lengah dalam hal “takut nanti seperti apa ketika sudah besar”. “Assalamualaikum” salam kami di depan pintu yang gagangnya sudah tak lagi mengkilap, namun banyak peristiwa yang tak terlihat dan waktu belum jua melahap papan kayunya.
Senyum lebar ku melihat tatanan kursi dan meja makan pada ruang keluarga yang lebih luas. Mainan yang dulunya berserakan di karpet Hotwheels berwarna biru sudah tertata di bilik lemari kayu dengan ukiran kelopak bunga. TV yang dulunya berukuran besar menjadi kembali TV tabung yang sudah disfungsi. Tak peduli seberapa canggih atau modern sebuah barang, lambat laun diantaranya berakhir sama. TV yang ada di kamarku dan ruang keluarga kala itu juga tidak bari menyala, “Walaupun bisa menyala, ada garis yang mengganggu tayangannya” imbuh Papaku. Ikan koki yang dulu berjumlah 7 sepertinya berkurang jika ku tak salah ingat. Salah satunya bahkan tidak bisa lagi berenang seperti teman-temannya. Jika berlandaskan pencarianku pada laman digital, insangnya tak bisa lagi bekerja karena beberapa kondisi. Namun jika aku lihat secara seksama, beberapa bagian tubuhnya hilang dengan bentuk seperti telah termakan. Ia juga ikan koki yang paling kecil di sana, selalu kalah dalam perebutan makanan dan ruang berenangnya yang paling kecil karena selalu bertabrakan dengan “teman-temannya”. Surprisingly ia masih bisa bertahan hidup, walau hidup sendiri memberi batas padanya untuk bergerak. Kuucap selamat tinggal, karena pandangku terpana akan kursi goyang dan meja mesin jahit milik Eyangku masih ada dan tidak terkoyak sedikitpun. Karena kalaupun iya, mungkin mereka para rayap juga tahu sebelum apa yang mereka makan perlulah mereka tuk lebih dahulu mencium tangan. Hari itu aku beristirahat di kamar atas, kamar yang dulunya milik kakakku. “Kamarnya dedek masih banyak debunya kemarin belum servis AC dan TV juga jadi dedek tidur dulu diatas ya” balas Mamaku. Lebih gelap dari biasanya kawasan itu, rupanya lampu dapurku tak lagi menyala karena kabel aliran listriknya terputus pada dinding putih dapurku.
Putihnya ubin tanggaku juga mulai menguning, namun sesampaiku di kamar kakakku aroma apel itu masih terasa. Memang sedari beranjak remaja kakakku suka membeli pengharum ruangan yang menggunakan lilin agar bekerja. Entah apa itu istilahnya, yang kuingat hanyalah harumnya yang tidak pernah pergi atau berganti. Tidak ada yang bergeser di kamar, hanya berganti pemilik yang jua sudah jauh bertumbuh dari bocah sekolah dasar. Bocah yang dulu takut naik karena masih digunakan sebagai gudang sebelum beralih sebagai kamar. Barang-barangku kujatuhkan seketika karena pundak ini tak lagi kuat membawa keperluan pribadi semasa berpindah kota. Badanku tergerak untuk merebah, meski ia pula belum bersih semasa pulang dari perjalanan panjangnya. Saku yang biasanya penuh dengan kunci kamar kos, kunci motor dan perlengkapan pemanis lainnya sudah tiada, terasa berbeda jika dirasa hanya handphone saat itu yang menggenggam semua keperluanku. Lelah, aku pejamkan sudah kedua mataku mengingat kondisi kesadaranku yang sudah melemah. Nafasku yang berat aku hembuskan bersama seluruh pikiran yang masih membulat dalam segala keputusan yang kubuat, hari itu. “ADEK! BELUM MANDI! AYO MANDI DULU!” teriak Mamaku dari lantai bawah. Kembali sudah, terpaksa bangun dengan pegal yang cepat mencengkram lengan dan kakiku. Gagangnya kubuka, langkahku terasa berbeda. Sadar, engkau telah kembali ke rumah. Hibur Liburmu, Byru.
Aku melihat liburan bukan lagi sebagai waktuku bermain hobi sepuasnya, namun waktuku untuk menjadikan hobi sebagai super-power utama dan achievement pribadi untuk masa depan nantinya. Meski harus terlambat pulang, aku percaya yang seperti ini tidak akan bisa terulang.
Other Stories
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Desa Di Ujung Senja
Namaku Anin, aku hanya ingin berlibur ke rumah oma untuk mengisi liburanku seperti biasany ...
Dentistry Melody
Stella ...
Penulis Misterius
Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...