Rahasia Desa Teluk Roban

Reads
35
Votes
1.8K
Parts
3
Vote
Report
Rahasia desa teluk roban
Rahasia Desa Teluk Roban
Penulis Anggi Gayatri Purba

Rahasia Di Teluk Roban

Pagi di Teluk Roban selalu menusuk pori-pori. Farhan terbangun oleh angin laut yang menyelinap melalui celah-celah papan rumah panggungnya. Dulu suara itu bercampur dengan banyak hal seperti ayam berkokok, umak-mak menumbuk daun ubi dan anak-anak yang berlari menuju lapangan. Sekarang tidak. Yang tersisa hanya bisik-bisik angin.
Farhan duduk di tepi tempat tidur dan melihat keluar jendela. Cahaya matahari menerangi rumah-rumah kosong di sekitarnya. Beberapa rumah masih berdiri. Yang lainnya sudah tinggal rangka kayu. Farhan menunduk lesu. Entah apa yang akan dilakukannya di desa kosong ini.
     Tak lama Farhan menoleh ke arah lapangan bola. Dadanya naik turun. Ia merasa tenggelam dalam lumpur. Lapangan itu sekarang hanya tanah keras yang dipenuhi rumput liar.
Anak lelaki kurus itu pun turun dari rumah panggung. Tangga kayunya berderit panjang seperti mengeluh setiap kali diinjak. Umak sudah bangun lebih dulu. Ia menyapu halaman dengan sapu lidi yang diambil dari bawah rumah. 

     “Manga juo diparelok rumah ko, nandak ditinggakan juo anyo," ujar Farhan.

     Umak berhenti menyapu. Ia memandang halaman lama sekali sebelum menjawab.

     “Buek ang juo iko anyo beko,”  balas Umak murung.

     Jawaban itu membuat Farhan garuk kepala. Umak sendiri tahu ia selalu benci pulang kampung.  Bahkan tak berniat kembali ke kampung ini lagi ketika tua nanti. Tapi malah akan diwariskan kepadanya.
     Farhan menghentikan langkah. Di depan matanya hanya ada laut. Di samping rumah lapangan semak. Desa ini sudah berubah. Banyak rumah yang sudah kosong. Ada yang pindah ke kota. Ada yang pindah ke desa lain. Yang tersisa hanya orang-orang tua. Persis seperti lelaki tua yang lewat dengan sepeda tuanya di depan rumah. Ia melambat ketika melihat Umak. Matanya menyipit. Seolah ia sedang mencoba mengingat wajah seseorang yang pernah dikenal.

     “Fatimah? Pabilo ang pulang? Manga dak mangecek? Manga dak ka rumah sajo?" tanyanya pada Umak yang berdiri di tangga rumah. 

     "Dak mangapo Uda, nandak mampature rumah ko anyo. Farhan, salam Pak Tuo," perintah Umak.

     Lelaki itu menatap Farhan lama sekali. Ada percik kesedihan di matanya. Tapi ia tetap mengulurkan tangan. Farhan pun menyalam tangan orang tua itu.

     “Elok-elok ang ka Umak yo," ucap Pak Tuo sambil mengelus kepala Farhan. Tapi tak kena, Pak Tuo malah mengelus angin di sebelahnya.

     Farhan maklum saja, mungkin Pak Tuo sudah rabun. Pak Tuo langsung pamit mengayuh sepeda pergi tanpa penjelasan. Siang di desa terasa lambat. Tidak ada teman bermain. Tidak ada suara televisi dari rumah tetangga. Hanya suara ombak dari kejauhan dan sesekali derit papan rumah yang memuai oleh panas. 
     Anak laki-laki itu berjalan ke lapangan di samping rumah. Baru sehari berlibur, ia merasa sudah setahun saking lambatnya. Lapangan itu tampak mengecil gara-gara dikelilingi rumput liar. Di tengahnya masih ada bekas garis gawang yang hampir hilang. Farhan mencoba mengingat wajah teman-temannya dulu. Aneh sekali. Nama mereka seperti hilang dari kepala Farhan. Padahal dulu mereka bermain di sini hampir setiap hari.
     Malam datang cepat di Teluk Roban. Langit menjadi hitam tanpa lampu kota. Rumah Farhan satu-satunya yang menyala di sekitar lapangan. Farhan hampir tertidur ketika suara itu muncul.

     Dak.

     Dak.

     Dak.

     Suara bola yang disepak. Farhan membuka mata. Suara itu datang dari lapangan. Teriakan anak-anak terdengar riuh dari luar rumah. Seperti pertandingan kecil yang dulu sering ia mainkan. Farhan bangkit dari tempat tidur dan mengintip dari jendela kayu. Namun lapangan itu gelap. Tidak ada siapa pun.
     Farhan membuka jendela sedikit. Angin malam masuk bersama suara tawa anak-anak yang tak terlihat. Dada Farhan tiba-tiba terasa dingin. Keesokan paginya Farhan menceritakan hal itu pada Umak.
     Perempuan bermata cekung itu berhenti memotong sayur. 

     “Mimpi sa tu anyo,” kata Umak cepat.

     “Tapi Mak, kapatang Farhan danga jale bana—”

     “Makonyo kok nandak tidu baco doa. Jang pai-pai kamano-ang, beko ditarikkan begu baru tau!" nasehat Umak.

      Adzan terdengar dari arah kampung. Farhan yang merasa bosan pun minta izin ke Umak untuk salat di masjid. Siapa tahu di sana ia bisa bertemu teman-teman lamanya dulu. Tapi Umak melarang. Katanya salat di rumah saja. Padahal masjid itu hanya bangunan kecil dengan dinding putih yang mulai kusam. Tak berbahaya sama sekali.
     Larangan tanpa alasan selalu membuat Farhan semakin penasaran. Hari-hari berikutnya terasa makin membosankan. Farhan duduk di tangga rumah hampir sepanjang hari. Kadang melihat laut. Kadang melihat lapangan kosong. Suatu sore Farhan akhirnya tidak tahan lagi. Ia bergegas ke masjid tanpa sepengetahuan Umak. Tapi di tengah jalan, ia malah melihat Umak berpas-pasan dengan seorang ibu berdaster hijau yang mengantar anaknya mengaji. 

     "Fatimah! Kau anyo itu? Baru pulang? Nandak kamano?" Ibu itu bertanya dengan sangat antusias.

     "Ikkola ha Baidah, nandak mancari si Farhan, keceknyo nandak ka masjid, mancalik kawan-kawan. Takut ambo inyo tasasek." Umak tampak seperti orang linglung.

     "Disiko si Farhan?" tanya ibu lagi. Namun raut wajahnya berubah dingin, tak secerah matahari tadi.

     Umak mengangguk dan meninggalkan ibu tadi dalam keadaan bingung. 

     "Fatimah tunggu dulu!" cegah ibu tadi. Ia berlari dan memeluk Umak dengan tatapan yang tak Farhan mengerti. Farhan sendiri langsung berbalik ke rumah sebab Umak ternyata mencarinya dengan membawa sapu lidi.
     Esoknya, di rumah, Farhan mengemas baju-bajunya sendiri karena ingin kembali ke kota secepatnya. Biarkan saja Umak liburan di desa ini sendiri, pikirnya. Tapi ketika ingin keluar kamar sambil menyeret tas ranselnya, ia mendengar percakapan Umak dan Pak Tuo di ruang tengah.

     "Ala yakin ang anyo nandak manjua rumah ko?" Pak Tuo memperhatikan raut wajah Umak.

     Umak mengangguk. "Tahun depan mungkin ambo dak kasiko lai."

     Farhan tersenyum. Ia kembali ke kamar dengan perasaan yang begitu lega. Sebab tahun depan tak perlu pulang kampung lagi. Ia ingin berterima kasih pada Umak yang telah memutuskan untuk menjual rumah. Namun di kamar Umak, Farhan melihat sesuatu. Tiket bus. Hanya satu. Umak pun masuk ke kamar.

     “Umak manga mambali saincek sajo?" tanya Farhan. Jangan-jangan Umak ingin menyuruhnya pulang lebih dulu.

     Umak tidak menjawab. Ia hanya memeluk Farhan lama sekali. Pelukannya lebih erat dari biasanya.
     Farhan tidak mengerti apa maksudnya. Sore itu Farhan berjalan sendirian ke masjid desa. Entah kenapa sejak menemukan tiket itu hatinya seperti ombak yang tak tenang. 
     Pagar masjid warna rumput layu selalu terbuka. Di halaman tengah ada tugu berbentuk monumen dari batu yang menarik perhatiannya. Nama-nama korban banjir Desa Teluk Roban 2025. Meninggal 50 orang. Hilang 16 orang. Farhan membaca nama-nama itu satu per satu. Tulisan di batu sebagian pudar dimakan hujan. Beberapa terasa asing,  yang lainnya Farhan kenal tapi lupa wajahnya. Rizal, Udin, Samsul, Ali, lalu Farhan melihat satu nama yang membuat napasnya berhenti. Nama Farhan sendiri. Farhan menatap tulisan itu lama sekali. Tiba-tiba Farhan merasa sangat pusing. Ingatannya berputar cepat seperti pusaran air. 
     Lapangan bola. Hujan deras. Air dari muara. Farhan berdiri di tengah lapangan. Umak berlari ke arahnya. Dan Farhan … tidak pernah berhasil sampai kepadanya. Farhan pulang dengan langkah gemetar. Rumah panggung itu terlihat sama seperti sebelumnya. Namun entah kenapa terasa lebih kosong. Umak duduk di tangga. Matanya merah. Seolah ia sudah menunggu sejak lama.

     “Umak ...."

     Farhan melihat Umak menangis. Tapi tak menghiraukannya. Umak malah masuk ke dalam dan mengemasi barang-barangnya yang tertinggal. 

     "Umak, calik Farhan Mak!" teriak Farhan. Tapi Umak tak menggubris. Ia seolah tak bisa melihat Farhan lagi.

     Umak menatap rumah panggung itu sekali lagi sebelum berjalan ke arah bus Sampri yang menunggu di tepi jalan.

     "Umak! Jang pai! Umak!" pekik Farhan lagi. Umak masih tak mendengar. 

     Farhan mencoba mengejar Umak dan meraih tangannya, tapi tembus. Untuk pertama kalinya Farhan mengerti sesuatu. Selama ini bukan Farhan yang pulang ke desa. Melainkan Umak yang datang setiap tahun untuk menemui anaknya yang tidak pernah benar-benar berhasil pulang dari banjir itu.
     Di dalam bus, Umak kembali teringat kejadian waktu mencari Farhan ke masjid. Kawannya, Zubaidah menawarkan diri membantu mencari Farhan. Lalu Zubaidah membawanya ke kuburan di samping mesjid. Di sanalah ia tersadar jika Farhan sebenarnya tak pernah kemana-mana.


***

12. Kenapa sih rumah ini masih harus dipercantik? Kan mau ditinggal lagi.
 13. Buat kamu juga rumah ini nanti.
14. Fatimah? Kapan pulang? Kenapa nggak bilang? Kenapa nggak ke rumah aja?
15. Nggak apa-apa Bang, mau membetulkan rumah aja. Farhan, salam Pak Tuo.
16. Baik-baik sama ibu ya.
17. Mimpi aja itu.
18. Tapi Mak, semalam Farhan dengar jelas sekali.
19. Makanya sebelum tidur baca doa! Jangan kemana-mana, nanti ditarik hantu baru tau rasa!
20. Fatimah? Kaunya ini? Baru pulang? Mau kemana?
21. Inilah Baidah, mau mencari si Farhan, katanya mau melihat kawan. Takut saya dia tersesat.
22. Disini si Farhan?
23. Kamu sudah yakin mau menjual rumah ini?
24. Tahun depan mungkin saya tak kemari lagi.
25. Mak ke napa hanya beli satu tiket saja?






Other Stories
Mendua

Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

The Pavilion

35 siswa 12 IPA 3 dan 4 guru mereka, sudah bersiap untuk berangkat guna liburan bersama ke ...

Final Call

Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...

Download Titik & Koma