Bab 1: Lantai Paling Atas
Maren baru saja pindah ke apartemen kecil di lantai paling atas beberapa hari sebelum Tahun Baru saat liburan Tahun Baru dimulai. Gedung itu hampir kosong. Sebagian besar penghuni pulang ke kampung halaman untuk merayakan pergantian tahun, meninggalkan koridor panjang yang sepi, remang-remang, dan terasa dingin. Sunyi di lantai itu terasa berat, menekan seperti lapisan udara yang sulit ditembus. Setiap langkah kaki bergema, terdengar jelas dan membuat bulu kuduknya meremang. Dari jendela kamarnya, lampu-lampu kota tampak seperti titik-titik kecil yang berkelap-kelip di kejauhan, seolah menunggu diamati dari lantai paling atas. Angin malam menembus celah jendela, membawa aroma kota yang bercampur dengan bau hujan yang tersisa di jalanan serta sedikit bau cat baru dan debu bangunan.
Setelah lulus sekolah, Maren berhasil mendapatkan pekerjaan pertamanya. Pekerjaan itu bukan stabil, bukan pula sesuatu yang ia impikan, tapi cukup untuk bertahan hidup sendiri. Ia merasa bangga, meski sedikit cemas menghadapi hidup mandiri untuk pertama kalinya. Kesendirian membuatnya gelisah, tetapi ia mencoba menenangkan diri bahwa ruang kosong ini bisa menjadi kesempatan untuk mengenal dirinya sendiri lebih dalam.
Saat pertama kali tiba di gedung, Maren berhenti di meja penjaga dekat pintu masuk. Seorang pria paruh baya duduk sambil membaca koran. Matanya yang lelah menatap Maren beberapa saat sebelum bertanya dengan suara pelan, “Lantai paling atas?”
“Ya, saya baru pindah ke lantai itu,” jawab Maren sambil tersenyum. Ia menaruh beberapa kardus di lantai dan menatap sekelilingnya.
Pria itu terdiam beberapa saat sebelum berkata bahwa kamar itu sudah lama kosong. Ketika Maren bertanya mengapa, ia hanya mengangkat bahu. Penghuni sebelumnya katanya tidak tinggal lama. Maren mengucapkan terima kasih dan melanjutkan perjalanan ke tangga dengan beberapa kardus di tangannya.
Koridor lantai paling atas panjang, sepi, dan remang-remang. Lampu redup memantulkan bayangan panjang di dinding, seolah ikut bergerak bersamanya. Setiap langkah terdengar jelas, bergema di sepanjang lorong hampa. Di ujung koridor, pintu apartemen Maren berdiri sendiri dan tidak ada pintu lain di dekatnya. Suasana sepi terasa begitu berat, seolah lantai itu menahan napas, menunggu sesuatu terjadi.
Begitu masuk, ruangannya sederhana dan terasa kosong. Beberapa kardus masih tersisa di lantai, dan bau cat baru masih samar. Ia menaruh tas di meja kecil dan mulai membuka isi kardus satu per satu, menata barang-barangnya. Waktu berlalu cepat, tetapi sunyi itu tetap menekan. Setiap kali Maren menatap ke jendela, ia merasa kota di luar begitu jauh, sementara di dalam apartemen hanya ada diam yang pekat, seolah dinding dan langit-langit mengamatinya. Suasana itu membuat kulitnya merinding, meski ia berusaha menenangkan diri dengan minum segelas air dan menarik napas panjang.
Saat malam tiba, Maren mematikan lampu dan berbaring di tempat tidur. Ia menutup mata, mencoba melepas lelah, menenangkan pikiran yang masih kacau karena kepindahan dan rutinitas baru. Tapi keheningan itu pecah oleh sesuatu yang membuatnya menegang. Langkah kaki. Pelan, seperti seseorang berjalan tepat di atas plafonnya.
Maren membuka mata perlahan, menatap plafon, menahan napas untuk mendengarkan lebih jelas. Langkah itu berhenti. Sunyi kembali. Kemudian terdengar lagi, lebih dekat, bergerak dari satu sisi kamar ke sisi lain. Tubuhnya kaku. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan. Dalam kepanikan, ia meraih kursi, menaruhnya di tengah kamar, dan menaikinya. Di sudut plafon, ada retakan tipis yang sebelumnya tak terlihat. Seolah menandai asal suara itu.
Ia menempelkan telinga ke plafon. Awalnya hening, lalu terdengar napas berat, tepat di atas kepalanya. Tubuhnya gemetar hebat. “Tidak mungkin. Tidak ada siapa-siapa di atas ini,” bisiknya sambil menutup mulut dengan tangan yang bergetar. Malam itu, langkah itu terdengar lagi, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang belajar berjalan, sesuatu yang menunggu, sesuatu yang menyeramkan.
Setelah lulus sekolah, Maren berhasil mendapatkan pekerjaan pertamanya. Pekerjaan itu bukan stabil, bukan pula sesuatu yang ia impikan, tapi cukup untuk bertahan hidup sendiri. Ia merasa bangga, meski sedikit cemas menghadapi hidup mandiri untuk pertama kalinya. Kesendirian membuatnya gelisah, tetapi ia mencoba menenangkan diri bahwa ruang kosong ini bisa menjadi kesempatan untuk mengenal dirinya sendiri lebih dalam.
Saat pertama kali tiba di gedung, Maren berhenti di meja penjaga dekat pintu masuk. Seorang pria paruh baya duduk sambil membaca koran. Matanya yang lelah menatap Maren beberapa saat sebelum bertanya dengan suara pelan, “Lantai paling atas?”
“Ya, saya baru pindah ke lantai itu,” jawab Maren sambil tersenyum. Ia menaruh beberapa kardus di lantai dan menatap sekelilingnya.
Pria itu terdiam beberapa saat sebelum berkata bahwa kamar itu sudah lama kosong. Ketika Maren bertanya mengapa, ia hanya mengangkat bahu. Penghuni sebelumnya katanya tidak tinggal lama. Maren mengucapkan terima kasih dan melanjutkan perjalanan ke tangga dengan beberapa kardus di tangannya.
Koridor lantai paling atas panjang, sepi, dan remang-remang. Lampu redup memantulkan bayangan panjang di dinding, seolah ikut bergerak bersamanya. Setiap langkah terdengar jelas, bergema di sepanjang lorong hampa. Di ujung koridor, pintu apartemen Maren berdiri sendiri dan tidak ada pintu lain di dekatnya. Suasana sepi terasa begitu berat, seolah lantai itu menahan napas, menunggu sesuatu terjadi.
Begitu masuk, ruangannya sederhana dan terasa kosong. Beberapa kardus masih tersisa di lantai, dan bau cat baru masih samar. Ia menaruh tas di meja kecil dan mulai membuka isi kardus satu per satu, menata barang-barangnya. Waktu berlalu cepat, tetapi sunyi itu tetap menekan. Setiap kali Maren menatap ke jendela, ia merasa kota di luar begitu jauh, sementara di dalam apartemen hanya ada diam yang pekat, seolah dinding dan langit-langit mengamatinya. Suasana itu membuat kulitnya merinding, meski ia berusaha menenangkan diri dengan minum segelas air dan menarik napas panjang.
Saat malam tiba, Maren mematikan lampu dan berbaring di tempat tidur. Ia menutup mata, mencoba melepas lelah, menenangkan pikiran yang masih kacau karena kepindahan dan rutinitas baru. Tapi keheningan itu pecah oleh sesuatu yang membuatnya menegang. Langkah kaki. Pelan, seperti seseorang berjalan tepat di atas plafonnya.
Maren membuka mata perlahan, menatap plafon, menahan napas untuk mendengarkan lebih jelas. Langkah itu berhenti. Sunyi kembali. Kemudian terdengar lagi, lebih dekat, bergerak dari satu sisi kamar ke sisi lain. Tubuhnya kaku. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan. Dalam kepanikan, ia meraih kursi, menaruhnya di tengah kamar, dan menaikinya. Di sudut plafon, ada retakan tipis yang sebelumnya tak terlihat. Seolah menandai asal suara itu.
Ia menempelkan telinga ke plafon. Awalnya hening, lalu terdengar napas berat, tepat di atas kepalanya. Tubuhnya gemetar hebat. “Tidak mungkin. Tidak ada siapa-siapa di atas ini,” bisiknya sambil menutup mulut dengan tangan yang bergetar. Malam itu, langkah itu terdengar lagi, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang belajar berjalan, sesuatu yang menunggu, sesuatu yang menyeramkan.
Other Stories
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...
After Honeymoon (17+)
Dipaksa menikah demi ambisi keluarga, Kirana dan Rhea terjebak dalam pernikahan tanpa cint ...
Penulis Misterius
Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...