Bab 5: Terlihat
Malam itu Maren memutuskan keluar untuk makan malam, mencoba menenangkan pikiran setelah dua malam penuh ketegangan. Ia duduk di restoran, menatap kota malam yang sejuk, lampu-lampu jalan memantul di jendela kaca, seolah kota itu sendiri menunggu sesuatu terjadi.
Secara kebetulan, Elara melewati gedung apartemen Maren. Ia menoleh ke balkon dan melihat sosok Maren berdiri menatap bintang-bintang. Senyum Maren tampak aneh, terlalu lebar dan kaku, berbeda dari biasanya. Ada sesuatu yang salah dengan ekspresinya.
Elara mengambil foto, memperbesar, dan terkejut. Di belakang Maren, ada makhluk berkaki empat, menyerupai serangga, dengan wajah pucat persis seperti Maren. Jantung Elara berdegup kencang. Panik melanda seluruh tubuhnya.
Ia segera menelpon Maren, suaranya bergetar.
“Maren, kau di restoran kan? Lalu itu… apa tadi di foto itu?”
Maren mendengar nada panik sahabatnya. Ia menatap ponsel, kemudian berlari pulang secepat mungkin. Setibanya di apartemen, semua terlihat normal. Hanya retakan besar di plafon tepat di atas ranjang, lubang yang sebelumnya tak ada. Mata pucat itu menatapnya dari lubang, mengikutinya dengan penuh perhatian. Tubuhnya gemetar, jantung seperti ingin meledak.
Sejak malam itu, apartemen terasa berbeda. Maren yang asli sudah tidak ada, digantikan sepenuhnya oleh sosok yang menirunya. Tiruan itu sempurna. Gerakannya persis seperti Maren, suaranya sama, bahkan senyum yang dulu hangat kini terlihat alami, meski ada sesuatu yang samar dan menakutkan di baliknya. Ia melakukan semua hal yang biasa dilakukan manusia, mandi, makan, tidur, menata barang-barang, berbicara dengan orang lain, semua agar dunia melihatnya sebagai Maren yang nyata.
Beberapa hari kemudian, Elara datang, berharap menemukan sahabatnya seperti dulu. Sosok itu membuka pintu, tersenyum, menyapa dengan suara yang familiar. Elara terpaku, tidak bisa merasakan ketakutan atau keraguan di mata Maren yang baru ini. Segalanya tampak normal, namun ada kekakuan yang aneh, kesempurnaan yang terlalu tepat. Sesuatu yang gelap tetap tersembunyi di balik tatapan itu, memberi tahu bahwa Maren yang asli sudah hilang, digantikan sepenuhnya.
Malam-malam berikutnya, apartemen tetap sunyi. Tiruan itu menjalani hidupnya, meniru rutinitas manusia tanpa henti. Bayangan di plafon, suara samar, atau gerakan yang sebelumnya menakutkan, kini hanya menjadi sisa-sisa ketegangan bagi mereka yang mengetahuinya. Dunia luar melihat Maren seperti biasa. Biasa bekerja, biasa tertawa, biasa berjalan ke toko atau menatap kota dari jendela, tapi siapa pun yang tahu rahasianya akan merasakan sesuatu yang salah, samar, dan menakutkan. Masalahnya adalah tidak ada seorang pun yang tahu tentang rahasianya itu.
Kadang, ketika lampu kota memantul di jendela, ada tatapan yang terlalu tenang, terlalu sempurna, seolah melihat lebih dari sekadar dunia yang nyata. Tiruan itu menunggu, belajar, dan menyesuaikan diri, menyembunyikan asal-usulnya, menunggu saat yang tepat untuk muncul jika diperlukan. Identitas Maren yang asli hilang selamanya, digantikan oleh tiruan yang diam, sempurna, dan misterius.
Dan di lantai paling atas apartemen itu, dunia tetap tampak normal, tapi lantai itu menyimpan rahasia yang tidak bisa diketahui siapa pun. Sesuatu yang pernah menjadi manusia, kini berjalan dan hidup seperti manusia, tapi bukan lagi manusia yang sebenarnya.
Akhirnya, Maren tidak lagi seperti dirinya yang dulu. Dia sudah menjadi seperti orang berbeda tahun itu. Andai saja orang-orang yang dimintai tolong benar-benar peduli, mungkin Maren yang asli masih ada di sini, aman seperti seharusnya. Inilah kenyataan yang tersisa, samar dan menakutkan, bahwa beban dan ketakutan seseorang kadang tersembunyi, bahkan ketika dunia terlihat biasa.
TAMAT.
Secara kebetulan, Elara melewati gedung apartemen Maren. Ia menoleh ke balkon dan melihat sosok Maren berdiri menatap bintang-bintang. Senyum Maren tampak aneh, terlalu lebar dan kaku, berbeda dari biasanya. Ada sesuatu yang salah dengan ekspresinya.
Elara mengambil foto, memperbesar, dan terkejut. Di belakang Maren, ada makhluk berkaki empat, menyerupai serangga, dengan wajah pucat persis seperti Maren. Jantung Elara berdegup kencang. Panik melanda seluruh tubuhnya.
Ia segera menelpon Maren, suaranya bergetar.
“Maren, kau di restoran kan? Lalu itu… apa tadi di foto itu?”
Maren mendengar nada panik sahabatnya. Ia menatap ponsel, kemudian berlari pulang secepat mungkin. Setibanya di apartemen, semua terlihat normal. Hanya retakan besar di plafon tepat di atas ranjang, lubang yang sebelumnya tak ada. Mata pucat itu menatapnya dari lubang, mengikutinya dengan penuh perhatian. Tubuhnya gemetar, jantung seperti ingin meledak.
Sejak malam itu, apartemen terasa berbeda. Maren yang asli sudah tidak ada, digantikan sepenuhnya oleh sosok yang menirunya. Tiruan itu sempurna. Gerakannya persis seperti Maren, suaranya sama, bahkan senyum yang dulu hangat kini terlihat alami, meski ada sesuatu yang samar dan menakutkan di baliknya. Ia melakukan semua hal yang biasa dilakukan manusia, mandi, makan, tidur, menata barang-barang, berbicara dengan orang lain, semua agar dunia melihatnya sebagai Maren yang nyata.
Beberapa hari kemudian, Elara datang, berharap menemukan sahabatnya seperti dulu. Sosok itu membuka pintu, tersenyum, menyapa dengan suara yang familiar. Elara terpaku, tidak bisa merasakan ketakutan atau keraguan di mata Maren yang baru ini. Segalanya tampak normal, namun ada kekakuan yang aneh, kesempurnaan yang terlalu tepat. Sesuatu yang gelap tetap tersembunyi di balik tatapan itu, memberi tahu bahwa Maren yang asli sudah hilang, digantikan sepenuhnya.
Malam-malam berikutnya, apartemen tetap sunyi. Tiruan itu menjalani hidupnya, meniru rutinitas manusia tanpa henti. Bayangan di plafon, suara samar, atau gerakan yang sebelumnya menakutkan, kini hanya menjadi sisa-sisa ketegangan bagi mereka yang mengetahuinya. Dunia luar melihat Maren seperti biasa. Biasa bekerja, biasa tertawa, biasa berjalan ke toko atau menatap kota dari jendela, tapi siapa pun yang tahu rahasianya akan merasakan sesuatu yang salah, samar, dan menakutkan. Masalahnya adalah tidak ada seorang pun yang tahu tentang rahasianya itu.
Kadang, ketika lampu kota memantul di jendela, ada tatapan yang terlalu tenang, terlalu sempurna, seolah melihat lebih dari sekadar dunia yang nyata. Tiruan itu menunggu, belajar, dan menyesuaikan diri, menyembunyikan asal-usulnya, menunggu saat yang tepat untuk muncul jika diperlukan. Identitas Maren yang asli hilang selamanya, digantikan oleh tiruan yang diam, sempurna, dan misterius.
Dan di lantai paling atas apartemen itu, dunia tetap tampak normal, tapi lantai itu menyimpan rahasia yang tidak bisa diketahui siapa pun. Sesuatu yang pernah menjadi manusia, kini berjalan dan hidup seperti manusia, tapi bukan lagi manusia yang sebenarnya.
Akhirnya, Maren tidak lagi seperti dirinya yang dulu. Dia sudah menjadi seperti orang berbeda tahun itu. Andai saja orang-orang yang dimintai tolong benar-benar peduli, mungkin Maren yang asli masih ada di sini, aman seperti seharusnya. Inilah kenyataan yang tersisa, samar dan menakutkan, bahwa beban dan ketakutan seseorang kadang tersembunyi, bahkan ketika dunia terlihat biasa.
TAMAT.
Other Stories
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Sepuluh tahun setelah kepergian ibunya saat melahirkan Ale, Khalil tumbuh dengan luka yang ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...