Berkemah, Jangan Berlemah!
Dinda adalah seorang anak perempuan berambut hitam legam, berkacamata, dan berwajah ceria. Dia cukup tinggi untuk seorang anak berumur sebelas tahun, dan tinggal di Pondok Allun, sebuah pondok di komplek yang dia baru saja pindah.
Ayah Dinda, Pak Bagus, seorang polisi hebat yang baru saja dipromosikan ke tingkatan lebih tinggi, maka mereka harus pindah. Ibu Dinda, Bu Ema, adalah seorang wanita baik hati yang memilih menjadi ibu tetangga. Dia membuat puding yang enak sekali!
Teman baik Dinda, Skye, juga tinggal di komplek tersebut, dan mereka berdua sangat bahagia karena bisa main bersama lebih sering. “Dinda! Dinda!” teriak Skye dari luar Pondok Allun suatu pagi yang cerah. Hari itu adalah hari kedua liburan musim panas, dan Dinda senang sekali karena dapat bermain dengan Skye lebih sering.
Dinda segera keluar. “Ada apa Skye?” tanya Dinda. “Aku mendapatkan seekor anjing baru! Namanya Luna!” Skye berkata. Dinda mengikutinya ke halaman depan Skye dimana dua dari anjingnya sedang bermain: Minny dan Lin. Di antara anjing-anjing itu, seekor anjing bayi kecil terlihat di tengah Minny dan Lin. Luna.
“Lucu sekali Skye!’ Dinda berkata, mengelus-elus Luna.
Ayahnya Skye seorang ahli ilmu hewan, dan Minny (seekor terrier), Lin (seekor golden retriever), dan Luna, yang paling baru (seekor corgi) adalah anjing-anjing diberinya untuk hewan peliharaan. “Bagaimana menurutmu? Luna imut?” Tanya Skye. Dinda mengangguk, dan mereka masuk ke dalam rumah Skye.
Bu Rini, ibunya Skye, sedang menyiapkan cemilan untuk Stanley dan Sally, saudara-saudari Skye. Stanley hanya setahun lebih muda dari Sally, tapi dia sangat menyebalkan. Sally berumur tiga belas tahun, tapi dia suka bermain dengan Skye begitu pula Dinda. “Hai Dinda! Mau kue?”Tanya Bu Rini. Dinda mengangguk, dan memakan kue buatan Bu Rini dengan Skye, Sally, dan Stanley dengan lahap.
Stanley terlihat cemburu. Dia bahkan tak menghabiskan kuenya, meskipun tadi terlihat seperti makan dengan lahap, dan biasanya, (Skye dan Sally tahu) dia selalu menghabiskan kue dan kadang-kadang menambah lagi. “Bu, memang kita harus berkemah? Tanpa Ayah?” Stanley berkata tiba-tiba, mendorong piring kuenya jauh darinya. Lagi pula, dia hanya dua tahun lebih tua dari Skye dan Dinda. Bu Rini mengangguk kepala. “Iya, coba lihat sana kosmetik baru Sally. Bagus-bagus lho..” katanta, sambil menatap Stanley dengan tajam. Itu lebih aneh lagi. Pikir Skye. Ibunya biasanya tak suka Skye memakai kosmetik karena baru berumur sebelas tahun.
Tapi akhirnya, Dinda dan Skye mengikuti Sally ke kamar tidurnya untuk melihat kosmetik baru miliknya. Mereka memang ingin melihatnya lagi pula. Mengecewakan untuk mereka kosmetik baru milik Sally hanya sebatang lip gloss dan beberapa maskara hitam legam yang terlihat aneh di bulu mata Sally.
Biasanya, Sally hanya mengajak Dinda dan Skye melihat kosmetik miliknya jika lebih seru, seperti eyeshadow neon atau mengkilat dan semacamnya. Kali ini Dinda dan Skye bosan tepat setelah Sally mendemonstrasi memakainya dan bahkan tidak memohon atau meminta mencoba memakai kosmetiknya juga. Mereka keluar dari kamar Sally dan Skye mengantar Dinda pulang ke rumahnya.
Bu Ema sedang membuat puding dan melihat Dinda pulang. “Oh, halo Dinda! Kupikir ini waktu aku memberitahumu…” dia mengajak Dinda untuk duduk di kursi.
“Bu Rini, Ibunya Skye, dan saya, telah mendiskusi, dan Ayahmu dan Ayah Skye tidak akan balik sampai Juli. Jadi… Bu Rini dan saya sudah setuju untuk berlibur bersama. Berkemah di Kemah Bunga. Bersama anjing-anjing Skye, dan kakak perempuan Skye, Sally. Dalam tiga hari. Dinda hampir berteriak. BERKEMAH?! Dinda sangat bersemangat. Dan dengan Skye! Juga Minny, Lin, dan Luna! Anjing-anjing itu pasti menganti suasana di berkemah. Itu pasti yang Stanley membicarakan! Terakhir kali Dinda berkemah itu saat dia masih berumur tujuh tahun. Dia, Pak Bagus, ayahnya Dinda, dan Bu Ema, pergi ke Kemah Pinus Tinggi, dan melakukan ratusan hal seru. Sayangnya, liburan itu bahkan tak pernah berakhir dengan jelas karena Pak Bagus dipanggil untuk urusan polisi yang serius, dan Dinda dan Bu Ema harus pulang lebih cepat.
Esok harinya, saat Dinda baru pulang dari rumah Skye, Ibu Ema sedang membuka sebuah koper besar berwarna merah dan memasukan baju. ‘Oh! Halo Dinda! Ayo bersiap-siap berkemah. Kau bawa tas kucingmu saja.’ Ibu berkata saat melihat Dinda masuk. Dinda pergi ke kamar tidurnya dan mengambil tas kucingnya.
Tas itu berukuran sedang, berwarna hitam, dengan gambar kucing warna ungu. Dinda suka anjing, tapi dia juga suka kucing. Dia memasukan beberapa baju ke dalam tas koper kecilnya yang berwarna hijau dan dua buku di dalam tas kucingnya. Dinda juga memasukan dua senter, sebuah buku tulis, tempat pensil dengan pensil warna, beberapa pensil, dua penghapus, dan beberapa pulpen berwarna.
Setelah itu, Dinda mengambil kotak peralatan emergensinya. Hanya sebulan lalu, salah satu teman baik Ayah yang sedang melakukan expedisi hilang. Akhirnya ditemui, dengan kaki terkilir dia berkata tak sengaja pergi ke jalan yang salah. Dinda terhantui cerita itu, maka dia membuat kotak dengan peralatan penting saat jalan-jalan.
Sebuah tali panjang dan kuat, bendera SOS, kertas dan alat tulis untuk membuat tulisan, obat-obatan, sebuah gayung, beberapa uang rupiah, koin-koin besar untuk meninggalkan jalur, dan makanan (dimasukan saat baru jalan). Dinda bahkan sempat memasukan sebuah permainan kartu jika bosan.
Malam menjelang, dan tercium wangi nasi goreng yang Bu Ema sedang membuat. Dinda segera ke bawah, bermain dengan Minny sebentar, lalu pergi ke dapur. ‘Wah, aromanya enak sekali Bu!’ ucap Dinda saat dia mencuci tangan. Bu Ema tersenyum.
Setelah itu, Dinda dan Bu Ema makan bersama. Beberapa kali, Pak Bagus ikutan makan bersama, tapi dia ber sering kali sibuk. Minny ada di luar, memakan nasi goreng yang tersisa dan beberapa biskuit anjing. Saat waktu makan, lebih sering segalanya hening dan sangat diam.
Dinda merasa agak kesepian. Dia merasa jika menjadi anak satu-satunya memang seru atau tidak. Tiba-tiba, dia teringat sesuatu. Sepupu Dinda, Mei, pernah datang mengunjungi, dan terkejut mendengar Dinda sering sendiri dengan Ibunya. Keluarga Mei besar, ibu dan ayahnya, paman dan bibi Dinda, Paman Agus dan Bibi Rena sudah berpisah, maka Mei memiliki keluarga yang besar.
Mei memang memiliki tiga kakak perempuan: Milia, Atika, dan Arinda, lalu Paman Agus menikah lagi dengan Bu Nari dan memiliki tiga anak lagi: dua perempuan dan satu laki-laki- Selena, Savia, dan Aston.
Lalu Bibi Rena juga menikah lagi dengan Pak Kardi dan memiliki dua anak laki-laki bernama Sam dan Ardi.
Karena Bibi Rena ternyata suka Bu Nari, dan Paman Agus suka Pak Kardi, seluruh keluarga sekarang tinggal bersama di sebuah rumah yang besar sekali. Bu Rena kaya raya, dan tak bermasalah membayar rumah itu. Mei selalu mengeluh kepada Dinda soal keluarganya yang super besar dan kakak-adik tirinya.
‘Selena terus meminjam gelangku!’ atau ‘Ardi sangat menyebalkan.’ dan ‘Aku harap aku memiliki keluarga kecil sepertimu’ ucap Mei sering kali saat bertemu Dinda.
Dinda dan Ibu melanjutkan memakan makan malam mereka. Hari berikutnya pergi seperti biasa, dengan Dinda dan Ibu memakan makan pagi mereka lalu bermain dengan Skye, dan anjing baru Skye Luna! Luna dan Minny berteman cepat, dan Dinda dan Skye bermain bersama mereka dua jam penuh sampai Bu Ema memanggil Dinda.
Malam, itu, Dinda tidur tak sabar. Besok, dia akan menaiki mobil ke Kemah Bunga! Dengan Skye, Minny, Luna, Sally, Ibu, Bu Rini, dan… oh. Stanley. Dinda lupa semua tentangnya karena keasyikan.
Jika Stanley merusak semuanya, bisakah Dinda, Skye, para anjing, dan Sally berseru-seru?
Esok harinya, Dinda terbangun jatuh dari tempat tidurnya, dan berteriak. Dia membangunkan diri dan berteriak lagi- dengan semangat. ‘HARINYA!’ Dinda berlari ke bawah dan sadar waktu masih pagi sekali. Matahari belum naik, dan jam dinding berkata masih jam empat pagi.
Bu Ema juga belum bangun, maka Dinda pergi mengambil makanan untuk kotak emergensinya. Beberapa paket biskuit untuk anjing dan manusia, sekotak nasi uduk dan tempe, beberapa paket coklat, buah plum, dan lain-lainnya.
Dinda juga membuatkan makan pagi. Dia menyiapkan nasi goreng untuknya dan Bu Ema, lalu mengisi dua gelas air. Bu Ema turun tak lama kemudian. Tak hanya dia suka bangun pagi, tapi juga karena harus bersiap-siap untuk ke Kemah Bunga.
Dia berterima kasih pada Dinda, dan makan dengan lahap makan paginya, lalu mereka berdua bersiap-siap untuk berangkat.
Dinda keluar dan menemui Skye, sudah siap, menggenggam tali anjing dengan Luna, anjing collie milik Skye! “Sudah siap?” tanya Bu Rini yang keluar dari rumah diikuti oleh dua saudara laki dan perempuan Skye, Sally dan Stanley. Sally terlihat sedikit seperti Skye, dengan rambut coklat tebal dan cukup tinggi, tapi Stanley terlihat jauh beda dengan adik-adiknya. Dia berambut emas dan bermata biru gelap, begitu pula setinggi Sally. “Siap!” ucap Bu Ema sambil mengunci pintu depan.
Dia menarik kopernya ke mobil putih besar yang miliknya. Skye, Bu Rini, Sally, Stanley dan anjing baru Luna masuk ke dalam mobil, lalu Dinda mengikut masuk dengan Minny dan akhirnya Bu Ema di tempat duduk penyetir.
Perjalanan panjang mereka mulai.
Dinda coba bermain kartu dengan Skye untuk melewati waktu, tapi mobil terus bergoyang, maka mereka akhirnya berhenti dan bermain Cap Cip Cup. Sally kadang-kadang ikutan bermain, tapi dia sendiri akhirnya bosan, sementara Stanley berdiam lama sekali. Di tengah-tengah perjalanan Bu Ema menghentikan mobil di Alfamart paling dekat dan mereka semua turun untuk membeli peralatan.
Skye dan Dinda ingin melihat permen-permen, Bu Ema dan Bu Rini ingin melihat jika ada peralatan berkemah kecil-kecil, Sally ingin melihat minuman soda dan semacamnya, dan Stanley ingin melihat keripik-keripik. Mereka berpisah dan membeli banyak barang.
Tak lama setelah mereka mulai jalan lagi, mereka sampai sebuah bukit tinggi dan mulai menanjak dengan mobilnya. “Sedikit lagi kita sampai” kata Bu Ema, menyetir lebih cepat.
“Sedikit” ternyata empat puluh menit. Beberapa kali, salah satu dari mereka ingin membeli sesuatu dari ruko yang lewat, seperti “AAK!! Hentikan mobilnya! Lihat, ada topi Popstar Petrifiers yang lama milik kita! Aku harus membelinya!” Teriak Sally. Atau “Wah, ada panci untuk membuat nasi goreng nanti. Beli dulu yuk!” kata Bu Rini dan “Bu!! Lihat ada bola besar plastik! Kita harus membeli itu sehingga tak bosan!!” Skye berkata.
Tapi akhirnya sampai di Kemah Bunga, dan mereka mengecek masuk.
Lalu, salah satu pekerja di Kemah Bunga mengantar mereka semua ke area berkemahnya. “Oke, kita taruh tendanya di sini dan disini.” kata Bu Rini, membuka dua tenda instan besar di sebelah masing-masing. Dinda masuk ke dalam tenda pertama dan segera membuka tas kucingnya. “Wah, kau bawa kotak emergensi milikmu!” ucap Skye. Dia juga tahu tentang kotak emergensi Dinda karena di karya wisata mereka tahun lalu Dinda membawanya.
“Ya, kalau berkemah, pasti harus.” jawab Dinda. Sally masuk dan juga mulai mengeluarkan barang-barangnya. “Ibu bilang kita harus mulai siap-siap, mau naik arung jeram.” katanya. “Ayo!” Dinda berkata, cepat-cepat mengambil tasnya dengan kotak emergensi dan keluar, diikuti Skye, lalu Sally. Bu Rini dan Bu Ema sedang berbicara dengan salah satu pekerja di Kemah Bunga. Namanya Aldi.
“Arung jeram lewat sini. Nanti kalau mau langsung berenam, bisa naik raft yang ukuran besar. Dan anjingnya tidak bisa ikutan……” Dinda mendengar Aldi berkata. “Aku tak sabar!” Skye berkata padanya. Dinda baru saja berkata dia juga, saat dia sadar Stanley tidak ada di sana. “Di mana Stanley?” tanyanya. Skye dan Sally melihat sekitar mereka.
“Harusnya sekitar sini.” kata Sally. “Mungkin dia ada di tenda yang kedua.” ucap Skye, dan mereka mengecek di situ. Tapi Stanley tidak ada.
Akhirnya, Sally pergi ke Bu Rini dan memberitahunya soal Stanley. Tapi saat itu juga Stanley muncul dari belakang pohon! Bu Rini sedikit sebal dengan Sally karena memikir dia berbohong padanya, tapi sibuk lagi berbicara dengan Aldi dan Bu Ema. “Stanley! Mengapa kau lakukan itu?” tanya Sally dengan marah. Stanley tidak menjawab.
Dia memang pendiam. Pikir Dinda. Beberapa menit kemudian, Bu Rini, Bu Ema, dan Aldi berhenti berbicara dan mendatangi anak-anak. “Kita akan naik arung jeram!” Bu Ema berkata. “Horee!” teriak Dinda dan Skye serempak.
“Bagaimana dengan Luna dan Minny?’ Skye tiba-tiba bertanya. “Dia akan diurus dengan Aldi untuk sementara, hanya sampai kita selesai naik arung jeram.” jawab Bu Rini. Aldi membawa tali-tali milik Minny dan Luna, lalu mengantar Bu Rini, Bu Ema, Stanley, Sally, Skye, dan Dinda ke area mulai arung jeram. Seorang laki-laki tua bernama Erga ada di sana.
Erga menjelaskan peraturan keamanan arung jeram pada mereka, menunjukan raftnya, dan mengenalkan mereka pada supervisor mereka, Pak Catu. Erga memberi mereka semua dengan jaket pelampung untuk dipakai, lalu Pak Catu membantu mereka semua masuk ke dalam raftnya.
“Perjalanan selamat! Jika butuh bantuan, ada supervisor di area akhir, dengan bendera AREA EMPAT!” teriak Erga saat Pak Catu mulai menjalankan raftnya.
“Ini seru sekALi!!” teriak Dinda, di tengah-tengah berteriak karena raftnya melonjak naik. Sally tiba-tiba berteriak. “Lihat! Lihat! Ada kucing disana!”Semuanya berputar dan melihat sebuah bayi kucing hitam di pinggir bebatuan. “Kita harus menyelamatkannya! Hentikan raft!” teriak Sally. “Raft ini tak bisa dihentikan.” Pak Catu berkata, tapi terlambat.
Sally sudah mencoba maju dan jatuh ke dalam air! “SALLY!!” teriak Bu Rini. “Dimana supervisor nya?” tanya Bu Ema, sudah melonjak ke depan dan berteriak pada Pak Catu. “Supervisor hanya ada di Area Empat. Kita masih di Area Dua.” Pak Catu berkata, dan langsung menahan raftnya dengan memasukan dayung ke batu besar untuk menahan raft.
Dinda sudah mengeluarkan kotak. Sally berteriak-teriak. Mengapa dia masih di area itu karena ada sebuah tali panjang diikat ke pinggir bebatuan dimana kucingnya berada, tapi bahkan tali itu sudah mau putus.
“ Sally, Bertahan!” teriak Skye, lalu membantu Dinda mengeluarkan tali emergensi panjangnya dan melemparnya ke Sally. Sally tidak mau berpegangan dengan tali. Dia terus menarik diri ke tali yang sudah mau putus ke kucingnya, mengangkatnya, dan coba balik lagi. Namun, talinya putus!
Dinda merogoh kotak emergensinya untuk bendera SOS miliknya. Saat ketemu, dia memberikan kepada Skye, yang mengoyang-goyangkan bendera itu! Bu Ema membantu melempar tali Dinda kepada Sally, tapi saat itu juga, Stanley memukul tangan Dinda! Dia memukul tangan Dinda, dan tali itu jatuh ke air dan hilang. “Stanley! Itu untuk menyelamatkan Skye!” Teriak Dinda. “TOLONG! SOS!” teriak Skye saat sebuah raft lewat dan terlibat dengan batang pohon tinggi. Supervisor di raft yang itu bernama Pak Andi. Pak Andi juga memiliki tali panjang, dan melempar nya pada Skye. Skye dan Bu Rini melemparnya pada Sally, yang mengikatnya di pinggang.
“Cepat! Raft ini akan kebawa arus sedikit lagi!” Pak Catu berteriak, menahan dayung-dayungnya pada batu besar. Sally melirik ke kotak emergensi milik Dinda, lalu melirik kepada kucingnya. Dinda mengerti.
Dia mengeluarkan gayungnya dan melemparnya pada Sally, hampir saja jatuh ke air dan terbawa arus. Sally menangkapnya, memasukan bayi kucing itu ke dalam gayung, dan membiarkan Skye, Bu Rini, dan Dinda menariknya. “Dayungku tak tahan lagi! CEPAT!” ucap Pak Catu. Bu Ema menemukan dayung emergensi di bawah salah satu tempat duduk dan memasukkannya pada batu besar.
“Ada dayung emergensi satu lagi! Stanley!” teriak Bu Rini, melihat sebuah dayung merah-hijau di bawah kakinya.
Dinda memikir Stanley tak akan mengambilnya. Tapi dia melakukannya! Namun, saat Bu Rini membalik badannya untuk menarik Sally, Stanley melempar dayung itu ke air dan melompati raftnya, sekisah-kisah dia tak sengaja menjatuhkan dayungnya. “ST-” mulai Skye, satu-satunya yang melihat Stanley. Tapi Sally jatuh memasuki raft dan dayung Pak Catu begitu pula yang emergensi lepas dan raft mereka balik beraksi.
“Anak kucing! Pasti baru lahir! Bolehkah kita menyimpannya?” Tanya Sally. Skye terlihat tidak setuju. “Luna dan Minny tak akan menyukainya.” dia berkata. Dinda baru saja ingin berkata Minny berteman dengan kucing baik-baik saja saat muka Sally terlihat sangat asam. “Mengapa harus ada Luna? Kucing lebih baik. Aku tidak tahu mengapa kalian memilih anjing daripada kucing!!” Sally berucap.
Akhirnya Bu Rini menghentikan pertengkaran itu. Mereka ke tenda-tenda mereka dan siap-siap tidur. Stanley sengaja mengambil banyak tempat sehingga mereka tidak bisa muat dengan nyaman. “Stanley!” jerit Sally dengan marah saat dia terus mendorong Sally saat baru mau tidur.
Stanley tertawa-tawa.
Dinda terbangun karena kaki Skye menendang kakinya.
“ADDUUUHHH!!” jeritnya. Skye dan Sally serempak terbangun, dan Sally berteriak. “Sssst!” seseorang berkata, dan Skye, Sally, dan Dinda menjerit. “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!” jerit mereka. “SSSST! Ini aku, Ibu, Skye dan Sally. Dan Bu Rini untuk Dinda.” jawab seseorang itu. Ketiga perempuan itu menghela nafas dengan lega. Bu Rini terlihat lebih jelas, memasuki tenda dengan sebuah senter yang dimatikan. “Kalian jangan berisik sekali, ok? Kita ibu-ibu tak bisa tidur.” katanya. “Okk.” jawab ketiga perempuan itu pelan-pelan.
Lalu, Bu Rini melihat sekitar tenda. “Dimana Stanley?”
Sally melompati area dia meniduri. Stanley tak ada di sana, bahkan di bawah selimut. Yang ditemukan cuma sebuah jam tangan berwarna hijau muda dengan stiker-stiker burung dan waktu menunjukan jam 12:22. “Jam dua belas dua puluh-dua? Tengah malam?” Dinda berkata, kaget. “Itu jam tangan Stan dari Ayah, benarkan Ibu?” tanya Skye, terlihat muram. “I…Iya..” jawab Bu Rini.
BAGIAN AKHIR
“SEORANG ANAK BERUMUR SEPULUH TAHUN BERNAMA STANLEY HILANG DI KEMAH INI. TOLONG BANTU MENCARINYA, SEMUA. INI DESKRIPSI STANLEY: RAMBUT EMAS, PENDEK, …………………………………………..”
Aldi berteriak di intercom.
Stanley telah hilang. Sudah menjelang jam dua pagi dan masih dia tak ditemukan. Setengah dari orang-orang di Kemah Bunga ingin ikutan mencari Stanley. Bu Rini sedang menangis-nangis di tenda pertama, memeluk jam tangan Stanley.
Dinda, Skye, Sally, dan Bu Ema membantu mencari. Mereka melihat banyak orang memakai cara-cara berbeda. Sebuah keluarga sedang membawa senter, stik golf, dan sekotak coklat untuk mencarinya. Dua pasangan mencari Stanley dengan cara menjerit-jerit namanya.
Sekelompok turis Amerika menyanyikan lagu tentang Stanley keras-keras:
Oh, Stanley, oh Stanley, come to us, now, we want youuuu, Oh, Stanley, the golden-haired Indonesian boy, come to us, OH STANLEY! Oh, Stanley… Oh Stanley… We have treats for you, ice cream, biscuits and the best homemade vanilla cakes.
Oh Stanley, oh Stanley, come to us, now the fellow Indonesian BOY!! The ten year-old fellow that’s lost, OH STANLEY, OH STANLEY, USE OUR VOICES AS OUR GUIDE!!!!!!!!
Tidak ada yang bekerja. Mengapa mereka semua ingin mencari Stanley? Karena Bu Rini menjanjikan sejuta rupiah untuk yang menemuinya, dan meski sejuta rupiah tak banyak, tetap semua orang ingin mendapatkannya.
Bu Ema pergi ke satu arah, dan Dinda, Skye, dan Sally pergi ke arah lain, menuju sebuah area yang berangin sangat keras mereka harus sedikit berteriak untuk didengari. Area itu juga kosong, tak ada orang lain.
“EH! POHON ITU TINGGI SEKALI!!” Skye berteriak, menunjuk ke sebuah pohon tinggi dan tua di pinggir tebing tinggi. “WAH, YA, KALAU SIANG HARI AKU MAU MENGGAMBAR POHON ITU YA!!” Kata Sally, yang sangat jago di menggambar.
“FOKUS MENCARI STANLEY!!” jerit Dinda keras-keras karena angin sangat kencang.
“SALLLYY!! SKYEE! DINDAAA!” teriak seseorang. “STANLEY!” teriak ketiga perempuan itu serempak. Mereka melihat Stanley di atas pepohonan, hampir jatuh. “ASTAGA, STAN!” Teriak Sally, dan Dinda mengeluarkan tali dari kotak emergensinya. Skye menarik akhir talinya dan memanjat pohon itu sedikit, melempar talinya pada Stanley.
Stanley menangkap tali itu, hampir terjatuh, dan menjerit sangat keras beberapa orang datang ke area itu. Bu Ema dan Bu Rini di sana. “STANLEY!” tangis Bu Rini. Stanley akhirnya sampai ke tanah lagi, dan jatuh menangis-nangis.
Seminggu setelah, Dinda dan Skye bermain bareng di rumah, dengan Stanley duduk di kursinya, dengan sebuah kaki terkilir yang diperban. Stanley mengkilirkan kakinya saat memanjat pohon. Dia juga dimarahi sama Bu Rini karena kabur di tengah malam dan memanjat pohon yang sangat bahaya.
Tapi Bu Rini sangat lega karena Stanley aman, dan begitu juga Skye dan Sally, meskipun mereka tidak menunjukkannya.
Minny, Lin, dan Luna melonjak-lonjak dengan senang dan bingung melihat Stanley dengan perbannya.
Ayah Dinda, Pak Bagus, seorang polisi hebat yang baru saja dipromosikan ke tingkatan lebih tinggi, maka mereka harus pindah. Ibu Dinda, Bu Ema, adalah seorang wanita baik hati yang memilih menjadi ibu tetangga. Dia membuat puding yang enak sekali!
Teman baik Dinda, Skye, juga tinggal di komplek tersebut, dan mereka berdua sangat bahagia karena bisa main bersama lebih sering. “Dinda! Dinda!” teriak Skye dari luar Pondok Allun suatu pagi yang cerah. Hari itu adalah hari kedua liburan musim panas, dan Dinda senang sekali karena dapat bermain dengan Skye lebih sering.
Dinda segera keluar. “Ada apa Skye?” tanya Dinda. “Aku mendapatkan seekor anjing baru! Namanya Luna!” Skye berkata. Dinda mengikutinya ke halaman depan Skye dimana dua dari anjingnya sedang bermain: Minny dan Lin. Di antara anjing-anjing itu, seekor anjing bayi kecil terlihat di tengah Minny dan Lin. Luna.
“Lucu sekali Skye!’ Dinda berkata, mengelus-elus Luna.
Ayahnya Skye seorang ahli ilmu hewan, dan Minny (seekor terrier), Lin (seekor golden retriever), dan Luna, yang paling baru (seekor corgi) adalah anjing-anjing diberinya untuk hewan peliharaan. “Bagaimana menurutmu? Luna imut?” Tanya Skye. Dinda mengangguk, dan mereka masuk ke dalam rumah Skye.
Bu Rini, ibunya Skye, sedang menyiapkan cemilan untuk Stanley dan Sally, saudara-saudari Skye. Stanley hanya setahun lebih muda dari Sally, tapi dia sangat menyebalkan. Sally berumur tiga belas tahun, tapi dia suka bermain dengan Skye begitu pula Dinda. “Hai Dinda! Mau kue?”Tanya Bu Rini. Dinda mengangguk, dan memakan kue buatan Bu Rini dengan Skye, Sally, dan Stanley dengan lahap.
Stanley terlihat cemburu. Dia bahkan tak menghabiskan kuenya, meskipun tadi terlihat seperti makan dengan lahap, dan biasanya, (Skye dan Sally tahu) dia selalu menghabiskan kue dan kadang-kadang menambah lagi. “Bu, memang kita harus berkemah? Tanpa Ayah?” Stanley berkata tiba-tiba, mendorong piring kuenya jauh darinya. Lagi pula, dia hanya dua tahun lebih tua dari Skye dan Dinda. Bu Rini mengangguk kepala. “Iya, coba lihat sana kosmetik baru Sally. Bagus-bagus lho..” katanta, sambil menatap Stanley dengan tajam. Itu lebih aneh lagi. Pikir Skye. Ibunya biasanya tak suka Skye memakai kosmetik karena baru berumur sebelas tahun.
Tapi akhirnya, Dinda dan Skye mengikuti Sally ke kamar tidurnya untuk melihat kosmetik baru miliknya. Mereka memang ingin melihatnya lagi pula. Mengecewakan untuk mereka kosmetik baru milik Sally hanya sebatang lip gloss dan beberapa maskara hitam legam yang terlihat aneh di bulu mata Sally.
Biasanya, Sally hanya mengajak Dinda dan Skye melihat kosmetik miliknya jika lebih seru, seperti eyeshadow neon atau mengkilat dan semacamnya. Kali ini Dinda dan Skye bosan tepat setelah Sally mendemonstrasi memakainya dan bahkan tidak memohon atau meminta mencoba memakai kosmetiknya juga. Mereka keluar dari kamar Sally dan Skye mengantar Dinda pulang ke rumahnya.
Bu Ema sedang membuat puding dan melihat Dinda pulang. “Oh, halo Dinda! Kupikir ini waktu aku memberitahumu…” dia mengajak Dinda untuk duduk di kursi.
“Bu Rini, Ibunya Skye, dan saya, telah mendiskusi, dan Ayahmu dan Ayah Skye tidak akan balik sampai Juli. Jadi… Bu Rini dan saya sudah setuju untuk berlibur bersama. Berkemah di Kemah Bunga. Bersama anjing-anjing Skye, dan kakak perempuan Skye, Sally. Dalam tiga hari. Dinda hampir berteriak. BERKEMAH?! Dinda sangat bersemangat. Dan dengan Skye! Juga Minny, Lin, dan Luna! Anjing-anjing itu pasti menganti suasana di berkemah. Itu pasti yang Stanley membicarakan! Terakhir kali Dinda berkemah itu saat dia masih berumur tujuh tahun. Dia, Pak Bagus, ayahnya Dinda, dan Bu Ema, pergi ke Kemah Pinus Tinggi, dan melakukan ratusan hal seru. Sayangnya, liburan itu bahkan tak pernah berakhir dengan jelas karena Pak Bagus dipanggil untuk urusan polisi yang serius, dan Dinda dan Bu Ema harus pulang lebih cepat.
Esok harinya, saat Dinda baru pulang dari rumah Skye, Ibu Ema sedang membuka sebuah koper besar berwarna merah dan memasukan baju. ‘Oh! Halo Dinda! Ayo bersiap-siap berkemah. Kau bawa tas kucingmu saja.’ Ibu berkata saat melihat Dinda masuk. Dinda pergi ke kamar tidurnya dan mengambil tas kucingnya.
Tas itu berukuran sedang, berwarna hitam, dengan gambar kucing warna ungu. Dinda suka anjing, tapi dia juga suka kucing. Dia memasukan beberapa baju ke dalam tas koper kecilnya yang berwarna hijau dan dua buku di dalam tas kucingnya. Dinda juga memasukan dua senter, sebuah buku tulis, tempat pensil dengan pensil warna, beberapa pensil, dua penghapus, dan beberapa pulpen berwarna.
Setelah itu, Dinda mengambil kotak peralatan emergensinya. Hanya sebulan lalu, salah satu teman baik Ayah yang sedang melakukan expedisi hilang. Akhirnya ditemui, dengan kaki terkilir dia berkata tak sengaja pergi ke jalan yang salah. Dinda terhantui cerita itu, maka dia membuat kotak dengan peralatan penting saat jalan-jalan.
Sebuah tali panjang dan kuat, bendera SOS, kertas dan alat tulis untuk membuat tulisan, obat-obatan, sebuah gayung, beberapa uang rupiah, koin-koin besar untuk meninggalkan jalur, dan makanan (dimasukan saat baru jalan). Dinda bahkan sempat memasukan sebuah permainan kartu jika bosan.
Malam menjelang, dan tercium wangi nasi goreng yang Bu Ema sedang membuat. Dinda segera ke bawah, bermain dengan Minny sebentar, lalu pergi ke dapur. ‘Wah, aromanya enak sekali Bu!’ ucap Dinda saat dia mencuci tangan. Bu Ema tersenyum.
Setelah itu, Dinda dan Bu Ema makan bersama. Beberapa kali, Pak Bagus ikutan makan bersama, tapi dia ber sering kali sibuk. Minny ada di luar, memakan nasi goreng yang tersisa dan beberapa biskuit anjing. Saat waktu makan, lebih sering segalanya hening dan sangat diam.
Dinda merasa agak kesepian. Dia merasa jika menjadi anak satu-satunya memang seru atau tidak. Tiba-tiba, dia teringat sesuatu. Sepupu Dinda, Mei, pernah datang mengunjungi, dan terkejut mendengar Dinda sering sendiri dengan Ibunya. Keluarga Mei besar, ibu dan ayahnya, paman dan bibi Dinda, Paman Agus dan Bibi Rena sudah berpisah, maka Mei memiliki keluarga yang besar.
Mei memang memiliki tiga kakak perempuan: Milia, Atika, dan Arinda, lalu Paman Agus menikah lagi dengan Bu Nari dan memiliki tiga anak lagi: dua perempuan dan satu laki-laki- Selena, Savia, dan Aston.
Lalu Bibi Rena juga menikah lagi dengan Pak Kardi dan memiliki dua anak laki-laki bernama Sam dan Ardi.
Karena Bibi Rena ternyata suka Bu Nari, dan Paman Agus suka Pak Kardi, seluruh keluarga sekarang tinggal bersama di sebuah rumah yang besar sekali. Bu Rena kaya raya, dan tak bermasalah membayar rumah itu. Mei selalu mengeluh kepada Dinda soal keluarganya yang super besar dan kakak-adik tirinya.
‘Selena terus meminjam gelangku!’ atau ‘Ardi sangat menyebalkan.’ dan ‘Aku harap aku memiliki keluarga kecil sepertimu’ ucap Mei sering kali saat bertemu Dinda.
Dinda dan Ibu melanjutkan memakan makan malam mereka. Hari berikutnya pergi seperti biasa, dengan Dinda dan Ibu memakan makan pagi mereka lalu bermain dengan Skye, dan anjing baru Skye Luna! Luna dan Minny berteman cepat, dan Dinda dan Skye bermain bersama mereka dua jam penuh sampai Bu Ema memanggil Dinda.
Malam, itu, Dinda tidur tak sabar. Besok, dia akan menaiki mobil ke Kemah Bunga! Dengan Skye, Minny, Luna, Sally, Ibu, Bu Rini, dan… oh. Stanley. Dinda lupa semua tentangnya karena keasyikan.
Jika Stanley merusak semuanya, bisakah Dinda, Skye, para anjing, dan Sally berseru-seru?
Esok harinya, Dinda terbangun jatuh dari tempat tidurnya, dan berteriak. Dia membangunkan diri dan berteriak lagi- dengan semangat. ‘HARINYA!’ Dinda berlari ke bawah dan sadar waktu masih pagi sekali. Matahari belum naik, dan jam dinding berkata masih jam empat pagi.
Bu Ema juga belum bangun, maka Dinda pergi mengambil makanan untuk kotak emergensinya. Beberapa paket biskuit untuk anjing dan manusia, sekotak nasi uduk dan tempe, beberapa paket coklat, buah plum, dan lain-lainnya.
Dinda juga membuatkan makan pagi. Dia menyiapkan nasi goreng untuknya dan Bu Ema, lalu mengisi dua gelas air. Bu Ema turun tak lama kemudian. Tak hanya dia suka bangun pagi, tapi juga karena harus bersiap-siap untuk ke Kemah Bunga.
Dia berterima kasih pada Dinda, dan makan dengan lahap makan paginya, lalu mereka berdua bersiap-siap untuk berangkat.
Dinda keluar dan menemui Skye, sudah siap, menggenggam tali anjing dengan Luna, anjing collie milik Skye! “Sudah siap?” tanya Bu Rini yang keluar dari rumah diikuti oleh dua saudara laki dan perempuan Skye, Sally dan Stanley. Sally terlihat sedikit seperti Skye, dengan rambut coklat tebal dan cukup tinggi, tapi Stanley terlihat jauh beda dengan adik-adiknya. Dia berambut emas dan bermata biru gelap, begitu pula setinggi Sally. “Siap!” ucap Bu Ema sambil mengunci pintu depan.
Dia menarik kopernya ke mobil putih besar yang miliknya. Skye, Bu Rini, Sally, Stanley dan anjing baru Luna masuk ke dalam mobil, lalu Dinda mengikut masuk dengan Minny dan akhirnya Bu Ema di tempat duduk penyetir.
Perjalanan panjang mereka mulai.
Dinda coba bermain kartu dengan Skye untuk melewati waktu, tapi mobil terus bergoyang, maka mereka akhirnya berhenti dan bermain Cap Cip Cup. Sally kadang-kadang ikutan bermain, tapi dia sendiri akhirnya bosan, sementara Stanley berdiam lama sekali. Di tengah-tengah perjalanan Bu Ema menghentikan mobil di Alfamart paling dekat dan mereka semua turun untuk membeli peralatan.
Skye dan Dinda ingin melihat permen-permen, Bu Ema dan Bu Rini ingin melihat jika ada peralatan berkemah kecil-kecil, Sally ingin melihat minuman soda dan semacamnya, dan Stanley ingin melihat keripik-keripik. Mereka berpisah dan membeli banyak barang.
Tak lama setelah mereka mulai jalan lagi, mereka sampai sebuah bukit tinggi dan mulai menanjak dengan mobilnya. “Sedikit lagi kita sampai” kata Bu Ema, menyetir lebih cepat.
“Sedikit” ternyata empat puluh menit. Beberapa kali, salah satu dari mereka ingin membeli sesuatu dari ruko yang lewat, seperti “AAK!! Hentikan mobilnya! Lihat, ada topi Popstar Petrifiers yang lama milik kita! Aku harus membelinya!” Teriak Sally. Atau “Wah, ada panci untuk membuat nasi goreng nanti. Beli dulu yuk!” kata Bu Rini dan “Bu!! Lihat ada bola besar plastik! Kita harus membeli itu sehingga tak bosan!!” Skye berkata.
Tapi akhirnya sampai di Kemah Bunga, dan mereka mengecek masuk.
Lalu, salah satu pekerja di Kemah Bunga mengantar mereka semua ke area berkemahnya. “Oke, kita taruh tendanya di sini dan disini.” kata Bu Rini, membuka dua tenda instan besar di sebelah masing-masing. Dinda masuk ke dalam tenda pertama dan segera membuka tas kucingnya. “Wah, kau bawa kotak emergensi milikmu!” ucap Skye. Dia juga tahu tentang kotak emergensi Dinda karena di karya wisata mereka tahun lalu Dinda membawanya.
“Ya, kalau berkemah, pasti harus.” jawab Dinda. Sally masuk dan juga mulai mengeluarkan barang-barangnya. “Ibu bilang kita harus mulai siap-siap, mau naik arung jeram.” katanya. “Ayo!” Dinda berkata, cepat-cepat mengambil tasnya dengan kotak emergensi dan keluar, diikuti Skye, lalu Sally. Bu Rini dan Bu Ema sedang berbicara dengan salah satu pekerja di Kemah Bunga. Namanya Aldi.
“Arung jeram lewat sini. Nanti kalau mau langsung berenam, bisa naik raft yang ukuran besar. Dan anjingnya tidak bisa ikutan……” Dinda mendengar Aldi berkata. “Aku tak sabar!” Skye berkata padanya. Dinda baru saja berkata dia juga, saat dia sadar Stanley tidak ada di sana. “Di mana Stanley?” tanyanya. Skye dan Sally melihat sekitar mereka.
“Harusnya sekitar sini.” kata Sally. “Mungkin dia ada di tenda yang kedua.” ucap Skye, dan mereka mengecek di situ. Tapi Stanley tidak ada.
Akhirnya, Sally pergi ke Bu Rini dan memberitahunya soal Stanley. Tapi saat itu juga Stanley muncul dari belakang pohon! Bu Rini sedikit sebal dengan Sally karena memikir dia berbohong padanya, tapi sibuk lagi berbicara dengan Aldi dan Bu Ema. “Stanley! Mengapa kau lakukan itu?” tanya Sally dengan marah. Stanley tidak menjawab.
Dia memang pendiam. Pikir Dinda. Beberapa menit kemudian, Bu Rini, Bu Ema, dan Aldi berhenti berbicara dan mendatangi anak-anak. “Kita akan naik arung jeram!” Bu Ema berkata. “Horee!” teriak Dinda dan Skye serempak.
“Bagaimana dengan Luna dan Minny?’ Skye tiba-tiba bertanya. “Dia akan diurus dengan Aldi untuk sementara, hanya sampai kita selesai naik arung jeram.” jawab Bu Rini. Aldi membawa tali-tali milik Minny dan Luna, lalu mengantar Bu Rini, Bu Ema, Stanley, Sally, Skye, dan Dinda ke area mulai arung jeram. Seorang laki-laki tua bernama Erga ada di sana.
Erga menjelaskan peraturan keamanan arung jeram pada mereka, menunjukan raftnya, dan mengenalkan mereka pada supervisor mereka, Pak Catu. Erga memberi mereka semua dengan jaket pelampung untuk dipakai, lalu Pak Catu membantu mereka semua masuk ke dalam raftnya.
“Perjalanan selamat! Jika butuh bantuan, ada supervisor di area akhir, dengan bendera AREA EMPAT!” teriak Erga saat Pak Catu mulai menjalankan raftnya.
“Ini seru sekALi!!” teriak Dinda, di tengah-tengah berteriak karena raftnya melonjak naik. Sally tiba-tiba berteriak. “Lihat! Lihat! Ada kucing disana!”Semuanya berputar dan melihat sebuah bayi kucing hitam di pinggir bebatuan. “Kita harus menyelamatkannya! Hentikan raft!” teriak Sally. “Raft ini tak bisa dihentikan.” Pak Catu berkata, tapi terlambat.
Sally sudah mencoba maju dan jatuh ke dalam air! “SALLY!!” teriak Bu Rini. “Dimana supervisor nya?” tanya Bu Ema, sudah melonjak ke depan dan berteriak pada Pak Catu. “Supervisor hanya ada di Area Empat. Kita masih di Area Dua.” Pak Catu berkata, dan langsung menahan raftnya dengan memasukan dayung ke batu besar untuk menahan raft.
Dinda sudah mengeluarkan kotak. Sally berteriak-teriak. Mengapa dia masih di area itu karena ada sebuah tali panjang diikat ke pinggir bebatuan dimana kucingnya berada, tapi bahkan tali itu sudah mau putus.
“ Sally, Bertahan!” teriak Skye, lalu membantu Dinda mengeluarkan tali emergensi panjangnya dan melemparnya ke Sally. Sally tidak mau berpegangan dengan tali. Dia terus menarik diri ke tali yang sudah mau putus ke kucingnya, mengangkatnya, dan coba balik lagi. Namun, talinya putus!
Dinda merogoh kotak emergensinya untuk bendera SOS miliknya. Saat ketemu, dia memberikan kepada Skye, yang mengoyang-goyangkan bendera itu! Bu Ema membantu melempar tali Dinda kepada Sally, tapi saat itu juga, Stanley memukul tangan Dinda! Dia memukul tangan Dinda, dan tali itu jatuh ke air dan hilang. “Stanley! Itu untuk menyelamatkan Skye!” Teriak Dinda. “TOLONG! SOS!” teriak Skye saat sebuah raft lewat dan terlibat dengan batang pohon tinggi. Supervisor di raft yang itu bernama Pak Andi. Pak Andi juga memiliki tali panjang, dan melempar nya pada Skye. Skye dan Bu Rini melemparnya pada Sally, yang mengikatnya di pinggang.
“Cepat! Raft ini akan kebawa arus sedikit lagi!” Pak Catu berteriak, menahan dayung-dayungnya pada batu besar. Sally melirik ke kotak emergensi milik Dinda, lalu melirik kepada kucingnya. Dinda mengerti.
Dia mengeluarkan gayungnya dan melemparnya pada Sally, hampir saja jatuh ke air dan terbawa arus. Sally menangkapnya, memasukan bayi kucing itu ke dalam gayung, dan membiarkan Skye, Bu Rini, dan Dinda menariknya. “Dayungku tak tahan lagi! CEPAT!” ucap Pak Catu. Bu Ema menemukan dayung emergensi di bawah salah satu tempat duduk dan memasukkannya pada batu besar.
“Ada dayung emergensi satu lagi! Stanley!” teriak Bu Rini, melihat sebuah dayung merah-hijau di bawah kakinya.
Dinda memikir Stanley tak akan mengambilnya. Tapi dia melakukannya! Namun, saat Bu Rini membalik badannya untuk menarik Sally, Stanley melempar dayung itu ke air dan melompati raftnya, sekisah-kisah dia tak sengaja menjatuhkan dayungnya. “ST-” mulai Skye, satu-satunya yang melihat Stanley. Tapi Sally jatuh memasuki raft dan dayung Pak Catu begitu pula yang emergensi lepas dan raft mereka balik beraksi.
“Anak kucing! Pasti baru lahir! Bolehkah kita menyimpannya?” Tanya Sally. Skye terlihat tidak setuju. “Luna dan Minny tak akan menyukainya.” dia berkata. Dinda baru saja ingin berkata Minny berteman dengan kucing baik-baik saja saat muka Sally terlihat sangat asam. “Mengapa harus ada Luna? Kucing lebih baik. Aku tidak tahu mengapa kalian memilih anjing daripada kucing!!” Sally berucap.
Akhirnya Bu Rini menghentikan pertengkaran itu. Mereka ke tenda-tenda mereka dan siap-siap tidur. Stanley sengaja mengambil banyak tempat sehingga mereka tidak bisa muat dengan nyaman. “Stanley!” jerit Sally dengan marah saat dia terus mendorong Sally saat baru mau tidur.
Stanley tertawa-tawa.
Dinda terbangun karena kaki Skye menendang kakinya.
“ADDUUUHHH!!” jeritnya. Skye dan Sally serempak terbangun, dan Sally berteriak. “Sssst!” seseorang berkata, dan Skye, Sally, dan Dinda menjerit. “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!” jerit mereka. “SSSST! Ini aku, Ibu, Skye dan Sally. Dan Bu Rini untuk Dinda.” jawab seseorang itu. Ketiga perempuan itu menghela nafas dengan lega. Bu Rini terlihat lebih jelas, memasuki tenda dengan sebuah senter yang dimatikan. “Kalian jangan berisik sekali, ok? Kita ibu-ibu tak bisa tidur.” katanya. “Okk.” jawab ketiga perempuan itu pelan-pelan.
Lalu, Bu Rini melihat sekitar tenda. “Dimana Stanley?”
Sally melompati area dia meniduri. Stanley tak ada di sana, bahkan di bawah selimut. Yang ditemukan cuma sebuah jam tangan berwarna hijau muda dengan stiker-stiker burung dan waktu menunjukan jam 12:22. “Jam dua belas dua puluh-dua? Tengah malam?” Dinda berkata, kaget. “Itu jam tangan Stan dari Ayah, benarkan Ibu?” tanya Skye, terlihat muram. “I…Iya..” jawab Bu Rini.
BAGIAN AKHIR
“SEORANG ANAK BERUMUR SEPULUH TAHUN BERNAMA STANLEY HILANG DI KEMAH INI. TOLONG BANTU MENCARINYA, SEMUA. INI DESKRIPSI STANLEY: RAMBUT EMAS, PENDEK, …………………………………………..”
Aldi berteriak di intercom.
Stanley telah hilang. Sudah menjelang jam dua pagi dan masih dia tak ditemukan. Setengah dari orang-orang di Kemah Bunga ingin ikutan mencari Stanley. Bu Rini sedang menangis-nangis di tenda pertama, memeluk jam tangan Stanley.
Dinda, Skye, Sally, dan Bu Ema membantu mencari. Mereka melihat banyak orang memakai cara-cara berbeda. Sebuah keluarga sedang membawa senter, stik golf, dan sekotak coklat untuk mencarinya. Dua pasangan mencari Stanley dengan cara menjerit-jerit namanya.
Sekelompok turis Amerika menyanyikan lagu tentang Stanley keras-keras:
Oh, Stanley, oh Stanley, come to us, now, we want youuuu, Oh, Stanley, the golden-haired Indonesian boy, come to us, OH STANLEY! Oh, Stanley… Oh Stanley… We have treats for you, ice cream, biscuits and the best homemade vanilla cakes.
Oh Stanley, oh Stanley, come to us, now the fellow Indonesian BOY!! The ten year-old fellow that’s lost, OH STANLEY, OH STANLEY, USE OUR VOICES AS OUR GUIDE!!!!!!!!
Tidak ada yang bekerja. Mengapa mereka semua ingin mencari Stanley? Karena Bu Rini menjanjikan sejuta rupiah untuk yang menemuinya, dan meski sejuta rupiah tak banyak, tetap semua orang ingin mendapatkannya.
Bu Ema pergi ke satu arah, dan Dinda, Skye, dan Sally pergi ke arah lain, menuju sebuah area yang berangin sangat keras mereka harus sedikit berteriak untuk didengari. Area itu juga kosong, tak ada orang lain.
“EH! POHON ITU TINGGI SEKALI!!” Skye berteriak, menunjuk ke sebuah pohon tinggi dan tua di pinggir tebing tinggi. “WAH, YA, KALAU SIANG HARI AKU MAU MENGGAMBAR POHON ITU YA!!” Kata Sally, yang sangat jago di menggambar.
“FOKUS MENCARI STANLEY!!” jerit Dinda keras-keras karena angin sangat kencang.
“SALLLYY!! SKYEE! DINDAAA!” teriak seseorang. “STANLEY!” teriak ketiga perempuan itu serempak. Mereka melihat Stanley di atas pepohonan, hampir jatuh. “ASTAGA, STAN!” Teriak Sally, dan Dinda mengeluarkan tali dari kotak emergensinya. Skye menarik akhir talinya dan memanjat pohon itu sedikit, melempar talinya pada Stanley.
Stanley menangkap tali itu, hampir terjatuh, dan menjerit sangat keras beberapa orang datang ke area itu. Bu Ema dan Bu Rini di sana. “STANLEY!” tangis Bu Rini. Stanley akhirnya sampai ke tanah lagi, dan jatuh menangis-nangis.
Seminggu setelah, Dinda dan Skye bermain bareng di rumah, dengan Stanley duduk di kursinya, dengan sebuah kaki terkilir yang diperban. Stanley mengkilirkan kakinya saat memanjat pohon. Dia juga dimarahi sama Bu Rini karena kabur di tengah malam dan memanjat pohon yang sangat bahaya.
Tapi Bu Rini sangat lega karena Stanley aman, dan begitu juga Skye dan Sally, meskipun mereka tidak menunjukkannya.
Minny, Lin, dan Luna melonjak-lonjak dengan senang dan bingung melihat Stanley dengan perbannya.
Other Stories
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
The Last Escape
The Last Escape, Berawal dari rencana liburan oleh 15 sekawan dari satu universitas, untuk ...
Autumns Journey
Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...
Keeper Of Destiny
Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...
Jogja With You
Tertinggal kereta mungkin tidak selamanya menjadi hal buruk. Mungkin Tuhan mau kamu bertem ...