Kisah Remaja
Waktu berjalan diam-diam, seperti sungai yang terus mengalir. Masa kecil yang dulu dipenuhi tawa di sawah dan permainan di tepi sungai perlahan berubah. Banyak hal masih terlihat sama, tetapi sebenarnya tidak lagi benar-benar sama. Putri Raisa kini berusia enam belas tahun. Ia tumbuh menjadi gadis anggun dengan tutur kata lembut dan sikap yang tenang. Banyak orang istana memuji bahwa ia benar-benar mencerminkan darah kerajaan.
Arutala pun tidak lagi seperti anak laki-laki usil dahulu. Ia tumbuh menjadi pemuda cerdas dan tegap. Tangannya yang dulu melempar lumpur kini lebih sering memegang pena dan buku hukum. Meski masih suka bercanda, ada keteguhan baru dalam dirinya.
Namun bertambahnya usia juga mengubah hubungan mereka.
Percakapan yang dulu ringan kini kadang terhenti canggung. Tatapan yang dulu biasa kini kadang dihindari. Ada sesuatu yang berubah di antara mereka, meski tak pernah dibicarakan.
Di istana, suasana juga mulai berubah.
Dalam ruang dewan kerajaan, para penasihat sedang membahas masa depan Putri Raisa.
“Sebentar lagi Putri Raisa berusia tujuh belas tahun,” kata seorang penasihat. “Sudah saatnya mempertimbangkan pernikahan politik.”
Kerajaan Anantara mengusulkan pernikahan dengan pangerannya untuk memperkuat hubungan kedua kerajaan.
Raja Khandra akhirnya berkata tegas, “Jika pernikahan Raisa dapat menjaga keamanan Prabha, maka keputusan itu tidak boleh ditunda.”
Tak lama kemudian Raisa dipanggil ke ruang pribadi ayahnya.
“Sebentar lagi usiamu tujuh belas tahun,” kata Raja Khandra. “Ayah telah memutuskan untuk mempersiapkan pernikahanmu dengan pangeran dari Kerajaan Anantara.”
Raisa terdiam.
“Apakah keputusan itu sudah pasti, Ayah?” tanyanya pelan.
“Ini yang terbaik bagi kerajaan.”
Jawaban itu cukup membuat Raisa mengerti bahwa keputusan tersebut tak bisa ia ubah.
Begitu keluar dari ruangan itu, ia tidak berjalan seperti biasanya.
Ia berlari.
Melewati lorong istana dan taman belakang hingga tiba di tempat yang selalu ia datangi saat hatinya berat, di bawah pohon besar tempat ia sering bertemu Arutala.
Dan Arutala memang ada di sana, duduk di bangku batu sambil menulis catatan dari buku hukumnya.
“Aru...” panggil Raisa.
Arutala langsung menoleh. “Raisa? Ada apa?”
Raisa berhenti di depannya, napasnya masih cepat.
“Aku… akan menikah dengan seorang pangeran.”
Kata-kata itu membuat Arutala terdiam.
Sejenak ia tidak tahu harus berkata apa. Perasaan aneh memenuhi dadanya, campuran sedih, bingung, dan kosong.
Namun Raisa belum menyadari sepenuhnya apa yang terjadi dalam hati sahabatnya.
Ia mencoba tersenyum kecil. “Menurutmu pangeran itu gagah seperti kamu? Baik dan cerdas juga?”
Biasanya Arutala akan langsung membalas dengan candaan.
Namun kali ini ia hanya diam.
Diam yang panjang dan asing di antara mereka.
“Aru?” panggil Raisa pelan.
“Oh...” jawab Arutala akhirnya. “Begitu, ya.”
Hanya itu.
Tak ada tawa, tak ada ejekan seperti biasanya.
Untuk pertama kalinya Arutala benar-benar merasakan jarak di antara mereka, jarak yang selama ini seolah tidak pernah ada.
Ia hanyalah anak petani.
Sementara Raisa adalah putri kerajaan.
Raisa sendiri juga merasa ada sesuatu yang berbeda, meski ia belum sepenuhnya memahami perasaannya. Dari semua orang, justru Arutala yang paling ingin ia temui setelah mendengar keputusan ayahnya.
Seolah kabar itu baru terasa nyata setelah ia mengatakannya di depan pemuda itu.
“Ayah bilang ini demi kerajaan,” kata Raisa pelan.
“Ya,” jawab Arutala. “Biasanya memang begitu.”
“Aru,” tanya Raisa lagi, “kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?”
Arutala menggenggam penanya erat. Ia ingin berkata jujur, tetapi ia tahu dunia mereka tidak sesederhana itu.
“Aku akan melakukan apa yang menurutku benar,” katanya akhirnya.
“Dan apa yang benar?”
Arutala terdiam. “Aku tidak tahu. Karena yang menjalani ini bukan aku.”
Raisa menunduk.
Mereka kemudian duduk berdampingan di bangku batu seperti biasanya, tetapi kali ini jarak kecil di antara mereka terasa sangat jauh.
Senja perlahan turun di taman istana.
Di atas kertas Arutala, kalimat yang ia tulis masih belum selesai.
Sementara di dalam hati mereka, sesuatu yang jauh lebih rumit baru saja dimulai.
Persahabatan masa kecil mereka perlahan memasuki batas yang berbeda, dan tak satu pun dari mereka tahu apakah semuanya masih bisa kembali seperti dulu.
Arutala pun tidak lagi seperti anak laki-laki usil dahulu. Ia tumbuh menjadi pemuda cerdas dan tegap. Tangannya yang dulu melempar lumpur kini lebih sering memegang pena dan buku hukum. Meski masih suka bercanda, ada keteguhan baru dalam dirinya.
Namun bertambahnya usia juga mengubah hubungan mereka.
Percakapan yang dulu ringan kini kadang terhenti canggung. Tatapan yang dulu biasa kini kadang dihindari. Ada sesuatu yang berubah di antara mereka, meski tak pernah dibicarakan.
Di istana, suasana juga mulai berubah.
Dalam ruang dewan kerajaan, para penasihat sedang membahas masa depan Putri Raisa.
“Sebentar lagi Putri Raisa berusia tujuh belas tahun,” kata seorang penasihat. “Sudah saatnya mempertimbangkan pernikahan politik.”
Kerajaan Anantara mengusulkan pernikahan dengan pangerannya untuk memperkuat hubungan kedua kerajaan.
Raja Khandra akhirnya berkata tegas, “Jika pernikahan Raisa dapat menjaga keamanan Prabha, maka keputusan itu tidak boleh ditunda.”
Tak lama kemudian Raisa dipanggil ke ruang pribadi ayahnya.
“Sebentar lagi usiamu tujuh belas tahun,” kata Raja Khandra. “Ayah telah memutuskan untuk mempersiapkan pernikahanmu dengan pangeran dari Kerajaan Anantara.”
Raisa terdiam.
“Apakah keputusan itu sudah pasti, Ayah?” tanyanya pelan.
“Ini yang terbaik bagi kerajaan.”
Jawaban itu cukup membuat Raisa mengerti bahwa keputusan tersebut tak bisa ia ubah.
Begitu keluar dari ruangan itu, ia tidak berjalan seperti biasanya.
Ia berlari.
Melewati lorong istana dan taman belakang hingga tiba di tempat yang selalu ia datangi saat hatinya berat, di bawah pohon besar tempat ia sering bertemu Arutala.
Dan Arutala memang ada di sana, duduk di bangku batu sambil menulis catatan dari buku hukumnya.
“Aru...” panggil Raisa.
Arutala langsung menoleh. “Raisa? Ada apa?”
Raisa berhenti di depannya, napasnya masih cepat.
“Aku… akan menikah dengan seorang pangeran.”
Kata-kata itu membuat Arutala terdiam.
Sejenak ia tidak tahu harus berkata apa. Perasaan aneh memenuhi dadanya, campuran sedih, bingung, dan kosong.
Namun Raisa belum menyadari sepenuhnya apa yang terjadi dalam hati sahabatnya.
Ia mencoba tersenyum kecil. “Menurutmu pangeran itu gagah seperti kamu? Baik dan cerdas juga?”
Biasanya Arutala akan langsung membalas dengan candaan.
Namun kali ini ia hanya diam.
Diam yang panjang dan asing di antara mereka.
“Aru?” panggil Raisa pelan.
“Oh...” jawab Arutala akhirnya. “Begitu, ya.”
Hanya itu.
Tak ada tawa, tak ada ejekan seperti biasanya.
Untuk pertama kalinya Arutala benar-benar merasakan jarak di antara mereka, jarak yang selama ini seolah tidak pernah ada.
Ia hanyalah anak petani.
Sementara Raisa adalah putri kerajaan.
Raisa sendiri juga merasa ada sesuatu yang berbeda, meski ia belum sepenuhnya memahami perasaannya. Dari semua orang, justru Arutala yang paling ingin ia temui setelah mendengar keputusan ayahnya.
Seolah kabar itu baru terasa nyata setelah ia mengatakannya di depan pemuda itu.
“Ayah bilang ini demi kerajaan,” kata Raisa pelan.
“Ya,” jawab Arutala. “Biasanya memang begitu.”
“Aru,” tanya Raisa lagi, “kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?”
Arutala menggenggam penanya erat. Ia ingin berkata jujur, tetapi ia tahu dunia mereka tidak sesederhana itu.
“Aku akan melakukan apa yang menurutku benar,” katanya akhirnya.
“Dan apa yang benar?”
Arutala terdiam. “Aku tidak tahu. Karena yang menjalani ini bukan aku.”
Raisa menunduk.
Mereka kemudian duduk berdampingan di bangku batu seperti biasanya, tetapi kali ini jarak kecil di antara mereka terasa sangat jauh.
Senja perlahan turun di taman istana.
Di atas kertas Arutala, kalimat yang ia tulis masih belum selesai.
Sementara di dalam hati mereka, sesuatu yang jauh lebih rumit baru saja dimulai.
Persahabatan masa kecil mereka perlahan memasuki batas yang berbeda, dan tak satu pun dari mereka tahu apakah semuanya masih bisa kembali seperti dulu.
Other Stories
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Aparar Keparat
aparat memang keparat ...
Di Luar Rencana
Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...