Randa Pulau Rante

Reads
323
Votes
14
Parts
13
Vote
Report
Penulis Janiva Ayu Lestari

Pertemuan Itu

Sejak pagi, Kota Prabha dipenuhi kesibukan. Jalan menuju istana ramai oleh pedagang, pelayan, dan penjaga kerajaan. Bunga-bunga digantung di gerbang, karpet panjang digelar, dan para pemusik kerajaan bersiap menyambut tamu penting.
Hari itu keluarga Kerajaan Anantara datang ke Prabha.
Kabar tentang rencana perjodohan antara Putri Raisa dan Pangeran Bhima sudah lama beredar di kalangan bangsawan, tetapi hari itu semuanya terasa nyata. Dua kerajaan besar akan dipertemukan.
Di dalam istana, Raisa sedang dipersiapkan.
Ia menjalani pemandian bunga dengan air hangat yang ditaburi mawar, melati, dan kenanga. Para pelayan menyisir rambut panjangnya, memakaikan gaun gading keemasan yang anggun, lalu menghiasnya dengan jepit rambut kecil berwarna emas.
Saat melihat dirinya di cermin, Raisa terdiam sejenak.
Ia tampak dewasa dan anggun, tetapi di dalam hatinya ada perasaan asing, campuran gugup dan ketidakpastian tentang masa depan yang tiba-tiba terasa begitu dekat.
“Hari ini datang terlalu cepat,” katanya pelan.
Sementara itu, di ruang tamu agung istana, Pangeran Bhima justru tampak gelisah.
Ia berdiri, berjalan, lalu merapikan pakaiannya berkali-kali. Ibunya, Ratu Anantara, hanya tersenyum melihat kegugupannya.
“Pegang tanganku, Ibu. Jantungku berdetak sangat kencang,” kata Bhima.
Bhima dikenal sebagai pemanah yang hebat dan pangeran yang tangguh. Namun di balik keberaniannya, ia sebenarnya pemuda yang tidak terbiasa berbincang akrab dengan orang baru. Hidupnya selama ini dipenuhi latihan dan aturan kerajaan.
Karena itu, memikirkan pertemuan dengan seorang putri membuatnya jauh lebih gugup daripada menghadapi pertempuran.
Tak lama kemudian, suara terompet penyambutan terdengar.
Keluarga Anantara memasuki aula kehormatan. Raja Khandra dan Ratu Althea menyambut mereka dengan penuh kehormatan. Para bangsawan dan pengawal berdiri rapi di sepanjang ruangan megah itu.
Semua orang menunggu satu orang.
Putri Raisa.
Beberapa saat kemudian Raisa muncul di ujung tangga aula. Ia menuruni tangga dengan langkah tenang, gaunnya menyapu lantai marmer. Cahaya pagi jatuh lembut di sekelilingnya.
Seluruh ruangan menjadi hening.
Banyak bangsawan menatap kagum.
Namun yang paling terdiam adalah Bhima.
Ia terpaku melihat Raisa. Semua kalimat sopan yang sebelumnya ia hafalkan seolah menghilang dari kepalanya.
Putri Raisa tampak anggun, lembut, dan bersinar dengan cara yang tidak dibuat-buat.
Raisa memberi salam hormat.
“Salam hormat untuk Raja dan Ratu Anantara. Selamat datang di Kerajaan Prabha.”
Bhima sempat terdiam sebelum akhirnya menundukkan kepala.
“Merupakan kehormatan besar bagi kami diterima di sini, Putri Raisa.”
Saat Raisa menatapnya untuk pertama kali, Bhima merasa jantungnya kembali berdetak tidak teratur.
Percakapan resmi antara kedua kerajaan pun dimulai. Para raja dan ratu berbicara tentang persahabatan, kekuatan kerajaan, dan masa depan hubungan kedua negeri.
Namun di sela percakapan itu, Bhima beberapa kali mencuri pandang pada Raisa.
Ia melihat bagaimana putri itu mendengarkan dengan penuh perhatian, berbicara dengan lembut, dan bersikap ramah kepada semua orang.
Tanpa ia sadari, sebuah perasaan baru mulai tumbuh dalam hatinya.
Ia datang dengan kegugupan.
Namun ia akan meninggalkan aula itu dengan kekaguman yang perlahan berubah menjadi benih perasaan.
Sementara Raisa sendiri tetap bersikap seperti seorang putri, tenang dan penuh kehormatan. Ia hanya berusaha menjalani hari penting itu sebaik mungkin demi kerajaan.
Dan di sudut lain istana, tanpa seorang pun menyadarinya, ada seseorang yang kelak memandang semua perubahan ini dengan hati yang jauh lebih berat.
Arutala.
Pemuda yang mengenal Raisa bukan sebagai putri di aula kerajaan, melainkan sebagai gadis yang dulu berlari tanpa alas kaki di tepi sawah dan tertawa di bawah matahari.
Namun hari itu, aula kerajaan hanya dipenuhi cahaya, senyum, dan harapan akan masa depan yang tampak indah.
Seolah takdir sedang menenun jalannya dengan tenang.


Other Stories
Namaku May

Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...

The Pavilion

35 siswa 12 IPA 3 dan 4 guru mereka, sudah bersiap untuk berangkat guna liburan bersama ke ...

Viral

Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...

Lombok, Tempat Aku Belajar Melepaskan

Rara menghabiskan liburan sekolahnya di Lombok bersama kakak pertamanya yang telah menikah ...

Rei Kazama

Sebuah helm retak. Sebuah arwah yang tak bisa pergi. Dan seorang gadis yang bisa mendengar ...

.

. ...

Download Titik & Koma