Putri Raisa Dan Anak Petani
"Raisa, awaaass!”
Teriakan itu terlambat.
Byurrr!
Lumpur dari bajak sawah memercik mengenai gaun biru muda seorang gadis kecil di pematang. Ia melompat kaget, bajunya kini penuh bercak cokelat.
“ARUTALA!” serunya kesal.
Anak laki-laki di depannya tertawa lepas. Kakinya penuh lumpur, sementara sapi di sampingnya masih menarik bajak.
“Aku sudah bilang awas!” katanya sambil tertawa.
“Jangan mengejekku!”
“Aku tidak mengejek. Aku kagum keberanian Putri Kerajaan Prabha berdiri di tempat paling berbahaya di sawah.”
Raisa mendengus kesal, tetapi sulit benar-benar marah pada Arutala, anak petani yang sejak kecil menjadi sahabatnya.
Raisa adalah putri tunggal Raja Khandra dan Ratu Althea dari Kerajaan Prabha. Namun ia bukan putri yang betah duduk di istana. Ia lebih suka berlari di taman, menyelinap keluar tembok kerajaan, dan bermain di desa bersama Arutala.
Mereka sering bermain di tepi sungai, membuat perahu dari daun pisang, atau memanjat pohon mangga. Bagi mereka, perbedaan status tidak pernah berarti. Raisa tidak melihat Arutala sebagai anak petani, dan Arutala jarang mengingat bahwa sahabatnya adalah seorang putri.
“Jangan panggil aku Aru,” protes Arutala suatu hari.
“Aruu… aruu…” ejek Raisa.
Arutala mengangkat segenggam lumpur. “Aku tambahin lagi di bajumu!”
“Jangaaann!” Raisa langsung berlari menuju rumah sederhana di dekat sawah.
Dari dalam rumah keluar Mbok Iyem, ibu Arutala.
“Aduh, Yang Mulia, bajunya kotor sekali!” katanya panik, lalu menatap tajam anaknya. “Arutala!”
“Kenapa selalu aku yang disalahkan?” protes Arutala.
Raisa menahan tawa. “Ibu, katanya ini hadiah ulang tahunku yang ke sepuluh.”
“Hadiah lumpur?” Mbok Iyem tertawa.
Rumah kecil itu bukan tempat asing bagi Raisa. Mbok Iyem juga bekerja sebagai juru masak istana dan sering merawat Raisa kecil, sehingga Raisa terbiasa memanggilnya “Ibu”.
Di dalam rumah yang sederhana namun hangat itu, Raisa sarapan nasi hangat, telur dadar, dan tempe goreng bersama Arutala.
“Kalau suatu hari aku jadi ratu,” kata Raisa tiba-tiba, “aku akan membuat aturan baru.”
“Apa?”
“Semua putri kerajaan wajib bermain di sawah seminggu sekali.”
Arutala tertawa keras. “Kerajaanmu pasti kacau.”
Meski bercanda, Raisa diam-diam mulai menyadari perbedaan besar antara kehidupan istana dan desa. Pertanyaan tentang keadilan sering muncul di pikirannya.
Setelah makan, Arutala menggambar peta dunia di tanah.
“Kalau suatu hari aku melihat dunia,” katanya, “kamu mau ikut?”
Raisa menatap jauh ke arah menara istana. “Aku putri kerajaan. Mungkin tidak bisa.”
“Kalau aturan melarangmu melihat dunia,” kata Arutala jujur, “berarti aturannya bodoh.”
Raisa belum sempat menjawab ketika dua pengawal istana datang menjemputnya.
Putri kecil itu akhirnya kembali ke istana, namun sebelum pergi ia melambaikan tangan kepada Arutala dan Mbok Iyem.
Ia belum tahu bahwa masa depan akan mengubah segalanya.
Untuk saat ini, ia hanyalah seorang putri berusia sepuluh tahun dengan baju penuh lumpur, hati penuh tawa, dan seorang sahabat yang melihatnya bukan sebagai putri, melainkan hanya sebagai Raisa.
Teriakan itu terlambat.
Byurrr!
Lumpur dari bajak sawah memercik mengenai gaun biru muda seorang gadis kecil di pematang. Ia melompat kaget, bajunya kini penuh bercak cokelat.
“ARUTALA!” serunya kesal.
Anak laki-laki di depannya tertawa lepas. Kakinya penuh lumpur, sementara sapi di sampingnya masih menarik bajak.
“Aku sudah bilang awas!” katanya sambil tertawa.
“Jangan mengejekku!”
“Aku tidak mengejek. Aku kagum keberanian Putri Kerajaan Prabha berdiri di tempat paling berbahaya di sawah.”
Raisa mendengus kesal, tetapi sulit benar-benar marah pada Arutala, anak petani yang sejak kecil menjadi sahabatnya.
Raisa adalah putri tunggal Raja Khandra dan Ratu Althea dari Kerajaan Prabha. Namun ia bukan putri yang betah duduk di istana. Ia lebih suka berlari di taman, menyelinap keluar tembok kerajaan, dan bermain di desa bersama Arutala.
Mereka sering bermain di tepi sungai, membuat perahu dari daun pisang, atau memanjat pohon mangga. Bagi mereka, perbedaan status tidak pernah berarti. Raisa tidak melihat Arutala sebagai anak petani, dan Arutala jarang mengingat bahwa sahabatnya adalah seorang putri.
“Jangan panggil aku Aru,” protes Arutala suatu hari.
“Aruu… aruu…” ejek Raisa.
Arutala mengangkat segenggam lumpur. “Aku tambahin lagi di bajumu!”
“Jangaaann!” Raisa langsung berlari menuju rumah sederhana di dekat sawah.
Dari dalam rumah keluar Mbok Iyem, ibu Arutala.
“Aduh, Yang Mulia, bajunya kotor sekali!” katanya panik, lalu menatap tajam anaknya. “Arutala!”
“Kenapa selalu aku yang disalahkan?” protes Arutala.
Raisa menahan tawa. “Ibu, katanya ini hadiah ulang tahunku yang ke sepuluh.”
“Hadiah lumpur?” Mbok Iyem tertawa.
Rumah kecil itu bukan tempat asing bagi Raisa. Mbok Iyem juga bekerja sebagai juru masak istana dan sering merawat Raisa kecil, sehingga Raisa terbiasa memanggilnya “Ibu”.
Di dalam rumah yang sederhana namun hangat itu, Raisa sarapan nasi hangat, telur dadar, dan tempe goreng bersama Arutala.
“Kalau suatu hari aku jadi ratu,” kata Raisa tiba-tiba, “aku akan membuat aturan baru.”
“Apa?”
“Semua putri kerajaan wajib bermain di sawah seminggu sekali.”
Arutala tertawa keras. “Kerajaanmu pasti kacau.”
Meski bercanda, Raisa diam-diam mulai menyadari perbedaan besar antara kehidupan istana dan desa. Pertanyaan tentang keadilan sering muncul di pikirannya.
Setelah makan, Arutala menggambar peta dunia di tanah.
“Kalau suatu hari aku melihat dunia,” katanya, “kamu mau ikut?”
Raisa menatap jauh ke arah menara istana. “Aku putri kerajaan. Mungkin tidak bisa.”
“Kalau aturan melarangmu melihat dunia,” kata Arutala jujur, “berarti aturannya bodoh.”
Raisa belum sempat menjawab ketika dua pengawal istana datang menjemputnya.
Putri kecil itu akhirnya kembali ke istana, namun sebelum pergi ia melambaikan tangan kepada Arutala dan Mbok Iyem.
Ia belum tahu bahwa masa depan akan mengubah segalanya.
Untuk saat ini, ia hanyalah seorang putri berusia sepuluh tahun dengan baju penuh lumpur, hati penuh tawa, dan seorang sahabat yang melihatnya bukan sebagai putri, melainkan hanya sebagai Raisa.
Other Stories
Weird Husband
Kanaya bersinar di ballroom Grand Hyatt Jakarta, mengenakan gaun emerald dan kalung berlia ...
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...
Love Falls With The Rain In Mentaya
Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...