Awal Kisah
Kabar tentang penyakit Putri Raisa tidak lagi berhenti di dalam tembok Kerajaan Prabha. Cerita itu menyebar ke berbagai kota dan kerajaan, berubah menjadi kisah-kisah menakutkan tentang kutukan yang membawa bencana.
Berita itu akhirnya sampai ke Kerajaan Anantara.
Di istana Anantara, para penasihat menyarankan agar Putri Raisa diasingkan demi keselamatan kerajaan dan hubungan antarkerajaan.
Ratu Anantara berkata pada putranya, Pangeran Bhima, bahwa ia beruntung karena pernikahan mereka belum terjadi. Namun Bhima terdiam. Ia tidak mampu menyamakan gadis yang pernah ia kenal dengan cerita mengerikan yang kini beredar.
Malam itu, diam-diam ia memerintahkan pengawal kepercayaannya untuk mencari tahu ke mana Raisa akan diasingkan.
Sementara itu di Kerajaan Prabha, sidang besar kerajaan digelar. Aula istana dipenuhi para dewan hukum dan pejabat tinggi. Dengan berat hati, mereka menyatakan bahwa demi keselamatan rakyat, Putri Raisa harus diasingkan dari kerajaan.
Raja Khandra menolak keras keputusan itu. Ia berteriak bahwa Raisa adalah putrinya, bukan kutukan. Namun tekanan rakyat dan para pejabat semakin besar hingga akhirnya keputusan pengasingan tetap disahkan.
Dua hari kemudian, hari pengasingan tiba.
Karena Raisa sudah terlalu marah dan terluka, para pelayan membiusnya dengan ramuan penenang. Saat kesadarannya memudar, para penjaga mengangkat tubuhnya keluar dari kamar seperti seorang tahanan.
Di pelataran istana telah disiapkan kandang besar di atas kereta. Tangan dan kaki Raisa dirantai, seolah ia makhluk berbahaya.
Rakyat berkumpul di sepanjang jalan untuk menyaksikan. Tatapan mereka dipenuhi takut dan jijik.
Di antara kerumunan itu berdiri Arutala. Dengan mata penuh air mata, ia menyaksikan sahabat masa kecilnya diperlakukan seperti makhluk hina.
Kereta pengasingan mulai bergerak meninggalkan istana.
Sebelum kereta keluar dari gerbang, seorang dewan hukum membacakan aturan baru.
Siapa pun yang menemui Putri Raisa di tempat pengasingannya akan dihukum mati.
Kerumunan seketika hening.
Arutala mengepalkan tangannya. Keputusan itu bukan hanya membuang Raisa, tetapi juga memastikan tidak ada seorang pun yang berani mencarinya.
Dari dalam kandang, Raisa yang mulai sadar melihat ke arah kerumunan dan menemukan satu wajah yang tidak menjauh. Arutala.
Untuk sesaat mata mereka bertemu, tatapan penuh luka, tetapi juga kesetiaan.
Kereta itu terus berjalan menjauh, membawa Putri Raisa keluar dari kerajaannya.
Arutala tetap berdiri sampai kereta itu menghilang dari pandangan. Hari itu Raisa kehilangan kerajaannya.
Namun bagi Arutala, hari itu justru menjadi awal dari tekad besar, suatu hari ia akan melawan keputusan itu dan membawa Raisa pulang.
Dan tanpa diketahui siapa pun, di kerajaan lain, Pangeran Bhima juga mulai mencari jejak ke mana gadis itu diasingkan.
Pengasingan itu bukanlah akhir.
Itu adalah awal dari takdir yang akan mengubah segalanya.
Berita itu akhirnya sampai ke Kerajaan Anantara.
Di istana Anantara, para penasihat menyarankan agar Putri Raisa diasingkan demi keselamatan kerajaan dan hubungan antarkerajaan.
Ratu Anantara berkata pada putranya, Pangeran Bhima, bahwa ia beruntung karena pernikahan mereka belum terjadi. Namun Bhima terdiam. Ia tidak mampu menyamakan gadis yang pernah ia kenal dengan cerita mengerikan yang kini beredar.
Malam itu, diam-diam ia memerintahkan pengawal kepercayaannya untuk mencari tahu ke mana Raisa akan diasingkan.
Sementara itu di Kerajaan Prabha, sidang besar kerajaan digelar. Aula istana dipenuhi para dewan hukum dan pejabat tinggi. Dengan berat hati, mereka menyatakan bahwa demi keselamatan rakyat, Putri Raisa harus diasingkan dari kerajaan.
Raja Khandra menolak keras keputusan itu. Ia berteriak bahwa Raisa adalah putrinya, bukan kutukan. Namun tekanan rakyat dan para pejabat semakin besar hingga akhirnya keputusan pengasingan tetap disahkan.
Dua hari kemudian, hari pengasingan tiba.
Karena Raisa sudah terlalu marah dan terluka, para pelayan membiusnya dengan ramuan penenang. Saat kesadarannya memudar, para penjaga mengangkat tubuhnya keluar dari kamar seperti seorang tahanan.
Di pelataran istana telah disiapkan kandang besar di atas kereta. Tangan dan kaki Raisa dirantai, seolah ia makhluk berbahaya.
Rakyat berkumpul di sepanjang jalan untuk menyaksikan. Tatapan mereka dipenuhi takut dan jijik.
Di antara kerumunan itu berdiri Arutala. Dengan mata penuh air mata, ia menyaksikan sahabat masa kecilnya diperlakukan seperti makhluk hina.
Kereta pengasingan mulai bergerak meninggalkan istana.
Sebelum kereta keluar dari gerbang, seorang dewan hukum membacakan aturan baru.
Siapa pun yang menemui Putri Raisa di tempat pengasingannya akan dihukum mati.
Kerumunan seketika hening.
Arutala mengepalkan tangannya. Keputusan itu bukan hanya membuang Raisa, tetapi juga memastikan tidak ada seorang pun yang berani mencarinya.
Dari dalam kandang, Raisa yang mulai sadar melihat ke arah kerumunan dan menemukan satu wajah yang tidak menjauh. Arutala.
Untuk sesaat mata mereka bertemu, tatapan penuh luka, tetapi juga kesetiaan.
Kereta itu terus berjalan menjauh, membawa Putri Raisa keluar dari kerajaannya.
Arutala tetap berdiri sampai kereta itu menghilang dari pandangan. Hari itu Raisa kehilangan kerajaannya.
Namun bagi Arutala, hari itu justru menjadi awal dari tekad besar, suatu hari ia akan melawan keputusan itu dan membawa Raisa pulang.
Dan tanpa diketahui siapa pun, di kerajaan lain, Pangeran Bhima juga mulai mencari jejak ke mana gadis itu diasingkan.
Pengasingan itu bukanlah akhir.
Itu adalah awal dari takdir yang akan mengubah segalanya.
Other Stories
Cinta Satu Paket
Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...
Bunga Untuk Istriku (21+)
Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...