Di Luar Rencana

Reads
60
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Di luar rencana
Di Luar Rencana
Penulis Ema Riyanawati

Bagian Pertama

“Kenapa memilih kota ini?”
“Apa ada tujuan lain?”
“Kota ini sudah jadi tempat pensiun sejak zaman Belanda. Kalau anak-anak sekarang bilang, ’slow living’. Aku kira kita akan berhenti dari semua pekerjaan ini dan hidup damai di kota kecil.”
“Kamu lupa berita pagi tadi? Ekonomi di negara ini semakin sulit. Kalau beruntung, kita mungkin akan melakukan pekerjaan ini sampai mati.”

“Jika pekerjaan ini berakhir, aku tidak tahu lagi, bagaimana aku harus hidup?”

​Percakapan dua laki-laki paruh baya itu mengalir tenang dari dalam mobil yang terparkir di depan minimarket 24 jam yang berada di depan terminal bus Kota S. Si pengemudi menatap bus antarkota yang baru saja tiba. Seorang pria bertubuh gempal turun dengan ransel di punggungnya.
​ “Dia orangnya?” tanya pria di kursi penumpang.
“Ya,” jawab si pengemudi. “Setelah hidup yang panjang dan sulit, bahkan orang yang terlihat bengis pun akan pulang ke asalnya. Baginya, menghadapi penolakan jauh lebih baik daripada terus hidup dalam pelarian.”
“Kau bicara seolah sudah hidup ratusan tahun.”
​ Mobil melaju perlahan, menjaga jarak aman. Pandangan mereka terkunci pada target gempal itu. Di kursi penumpang, salah satu dari mereka mulai menuangkan cairan bius ke selembar kain.
​ “Lalu, mau diapakan dia?” pria di kursi penumpang merasa tidak yakin.
“Selesaikan malam ini. Besok kita harus segera pergi dari kota ini.”
“Bukankah di sini kita tidak punya rekan bisnis?”
“Kau pikir kita cukup bodoh untuk membawa mayatnya ke kota busuk itu?” si pengemudi bertanya dengan datar.
“Aku cuma bercanda. Akhir-akhir ini kau jarang tersenyum. Ayolah, hargai usahaku.”

​ Memasuki jalanan sepi, langkah si pria gempal mendadak cepat. Ia tampak sadar mobil itu mengincarnya. Sebelum ia sempat memutar arah, mobil memotong jalan. Si penumpang turun dengan sigap, menghadang langkah target.
​Pria gempal itu menjatuhkan ransel, bersiap melawan. Meski tubuhnya besar, gerakannya lincah. Tiga kali tinjunya mendarat telak di wajah si pengemudi. Darah mengalir dari sudut bibirnya.
“Ah, sial.” Si pengemudi mengusap darah itu dengan punggung tangannya. “Ayo, maju!”
Perkelahian kembali sengit. Tendangan pria gempal mampu membuat pria yang sejak awal berencana membekap wajah itu dengan kain bius malah terjungkal di tanah. Pria gempal memang jago bela diri. Si pengemudi sempat membaca profil itu. Namun, sekali lagi pria gempall kalah jumlah. Atau memang malaikat maut juga turut menyaksikan. Sebuah tendangan bebas menghantam perut kirinya, disusul pukulan bertubi-tubi dan sengatan listrik yang melumpuhkan.
​Tubuh besar itu roboh ke aspal.
​ “Sial, dia kuat juga,” gerutu si pria kursi penumpang sambil mengibas-ngibaskan kain biusnya.
“Tidak berguna,” sahut si pengemudi ketus.
“Aku tidak sempat membekapnya. Maunya halus, tapi dia kasar sekali.”
“Bagaimana wajahku?” Si pengemudi mengusap darah di sudut bibir dengan punggung tangan.
“Tetap tampan. Sekarang bagaimana?”
“Ada racun di dalam mobil.” Si pengemudi mengikat tangan dan kaki pria gempal.
“Dibuat seolah bunuh diri?”
“Kita paksa dia bunuh diri.”
​ Mereka mengangkat tubuh target dengan susah payah ke dalam mobil. Kendaraan itu kembali melaju, membelah keheningan kota dan melewati alun-alun yang tenang. Beberapa pedagang kaki lima masih terlihat menjajakan dagangan.
​ “Wedang ronde...?” gumam si penumpang, menatap gerobak di pinggir jalan.
“Sayangnya, kita tidak punya banyak waktu,” jawab si pengemudi, seolah bisa membaca pikiran rekannya.


Other Stories
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu

Sudah tiga tahun Nadia tidak pulang saat libur lebaran. Bukan karena sibuk. Bukan karena l ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat

Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...

Painted Distance (tamat)

Dara memutuskan untuk pergi ke Sapporo bukan hanya sekadar liburan. Perjalanannya di kota ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...

Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...

Download Titik & Koma