Di Luar Rencana

Reads
98
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Penulis Ema Riyanawati

Bagian Tiga

“Sekarang kota ini lagi viral karena banyak yang memasukkannya dalam daftar kota ternyaman buat masa pensiun,” ujar Mama.
Suara itu terdengar terlalu antusias di telinga Endaru, sebuah usaha yang terasa dipaksakan untuk menambal keheningan di dalam kabin mobil.
​ Endaru tidak menjawab. Baginya, ocehan itu hanyalah romantisasi orang luar terhadap kemiskinan. Ia tahu benar kenyataan di balik label slow living yang diagungkan media sosial; tetangga mereka yang masih harus terjaga pukul dua pagi demi pasar, atau teman-teman sekolahnya yang terjebak di pabrik dengan upah rendah. Di matanya, kota ini tidak pernah sesantai itu. Kota ini hanya lelah, dan Mama bicara seolah ia baru saja pulang dari liburan panjang.
​ “Lihat, banyak restoran dan kafe baru. Kita bisa mencobanya besok.”
​Mama terus mengocehkan hal-hal yang tidak penting. Endaru membiarkannya saja, meski telinganya mulai panas. Sudah cukup lama ia tidak mendengar suara itu, dan kemunculan Mama yang tiba-tiba di apartemennya kemarin sempat memicu instingnya untuk lari sejauh mungkin. Pelukan saja tidak akan pernah cukup. Endaru tahu ia punya hak untuk marah, atau setidaknya mengusir perempuan yang secara resmi adalah ibu kandungnya ini.
​“Kok sekarang macet, ya?” Mama melirik spion tengah, mencoba mencari celah untuk memancing reaksi.
​Endaru menghela napas panjang, akhirnya menoleh dengan tatapan datar. “Mama simpan saja tenaga itu untuk bertemu Nenek nanti. Pasti bakal jauh lebih berguna daripada ngomongin macet.”
​Suasana mendadak kaku. Endaru bisa melihat dari sudut matanya bagaimana Mama tersentak, lalu perlahan menunduk.
​“Oke,” bisik Mama pelan. “Mama terlalu bersemangat karena tidak menyangka akan kembali ke kota ini bersama kamu.”
​ Endaru kembali memalingkan wajah ke jendela. Ia tidak peduli pada permintaan maaf itu. Kira-kira kurang dari sepuluh menit mereka akan tiba di rumah masa kecil Mamanya. Rumah yang penuh dengan cerita yang tidak pernah ia mengerti.
Hubungan Mama dengan Neneknya memang tidak akur sejak lama. Bisa dibilang, sama seperti hubungan mereka sekarang. Tidak bisa dikatakan karma. Mungkin lebih buruk.
“Mungkin, kamu tidak ingin menjawabnya, tapi..” Mama seperti mempertimbangkan untuk melanjutkan ucapannya. “Apa Papa mencoba menghubungimu?”
Laki-laki itu. Apa dia masih hidup? Apa begitu penting? Endaru mengusap matanya yang lelah. “Tidak pernah.”
Sempat ingin menanyakan hal yang sama, Endaru menahan diri. Pikirannya justru teralih pada sebuah mobil perak dari jalur berlawanan yang tampaknya mengambil jalur mereka. Di dalam sana, dua laki-laki paruh baya tampak tidak peduli pada drama di dalam mobilnya, namun ada sesuatu dari cara mobil bergerak dengan kecepatan aneh yang mendadak membuat tengkuk Endaru meremang.
“Mama, mobil itu akan menabrak kita!!”
Endaru berteriak. Namun sepertinya Mama juga berusaha menghindari tabrakan. Endaru memejamkan mata. Ia mendengar suara benturan yang keras. Telinganya berdengung keras.
“Sayang,” suara Mama mencoba meraih kembali kesadarannya. “Endaru, ayo kita keluar dari mobil. Tidak apa-apa sayang.”
Butuh waktu untuk bisa bergerak. Mobil itu benar-benar menabrak mobil yang mereka tumpangi. Saat dia dan Mama keluar dari mobil, pengemudi mobil silver itu juga keluar. Laki-laki berkumis tipis dengan kulit cokelat terbakar matahari terus memegang tengkuk dan mengeluh kesakitan.
Lalu laki-laki yang duduk di kursi penumpang depan, wajahnya lebih tampan meski ada lebam di bagian sudut mata dan bibir turun dengan tenang.
“Bodoh!” Dia mengumpat. “Sudah aku bilang jangan gegabah. Sekarang bagaimana?”
“Hey!” Tanpa Endaru duga, Mama berteriak dan berjalan ke arah dua laki-laki itu. “Apa kamu tidak bisa menyetir mobil? Kalau latihan jangan di jalan raya.”
Endaru tidak pernah melihat Mama semarah ini. Tapi melihat kerusakan mobil, wajar sekali kemarahan itu terjadi.
“Begini, kami sedang buru-buru. Jadi kami akan membayar kerusakan ini.” Laki-laki tampan dengan lebam itu terlihat sopan. Dia mengeluarkan uang dari dompetnya.
“Begini cara kalian meminta maaf?”
“Maaf tapi kami harus segera pergi.”
“Dani…” Laki-laki berkulit cokelat melihat dua mobil berhenti. Endaru ingin menarik Mama namun tubuhnya masih gemetar. Ia bisa melihat laki-laki berkulit coklat mengeluarkan pistol dari balik jaket hitam. Laki-laki tampan juga melakukan hal yang sama. Mereka mengarahkan tembakan ke arah orang-orang yang keluar dari mobil.
Saat itulah baku tembak terjadi. Dua laki-laki itu seperti pandai menggunakan senjata api. Bahkan mereka juga melindunginya dan Mama.
“Masuk sekarang!” Perintah laki-laki tampan.
“Endaru!” Mama memeluk Endaru dengan erat mereka segera masuk ke kursi penumpang di belakang sambil menutupi telinga. Dua laki-laki itu membajak mobil mereka dan membawa mereka pergi. Meninggalkan orang-orang yang tergeletak di jalan dengan luka tembak.

“Apa yang kamu lakukan?” Mama bertanya dengan takut. “Kamu menembak orang sampai mati?”
Tidak ada jawaban. Laki-laki berkulit cokelat mengarahkan pistol pada mereka. “Diam.”
Endaru bisa melihat laki-laki tampan yang mengemudi sesekali mencuri pandang untuk melihat wajahnya dan Sang Mama. Sepanjang perjalanan, Endaru sempat menyaksikan dua laki-laki itu bertengkar. Saling menyalahkan satu sama lain. Mempertanyakan apa rencana selanjutnya.
“Kita tidak bisa pergi dari kota ini begitu saja. Bagaimana jika memutar jalan?” Laki-laki tampan yang sejak tadi marah tiba-tiba saja melunak.
“Lalu bagaimana mereka?” Mendengar itu, tanpa sadar, tangan Endaru meremas jemari ibunya. “Peluruku masih cukup.”
Laki-laki tampan dengan wajah lebam itu menatap mereka dari spion mobil. Tidak, dia menatap Mama.

Other Stories
Air Susu Dibalas Madu

Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...

32 Detik

Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

DAISY’s

Kisah Tiga Bersaudari ...

Bali Before Sun Set

Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...

Membabi Buta

Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...

Download Titik & Koma