Bagian Lima
Tujuanku adalah bertemu dengan Ibu dan menyelamatkan Endaru.
Aku mencoba bersikap tenang di hadapan Lukman dan istrinya. Sementara Ibu berbaring dengan mata terpejam. Aku mendengarkan cerita mereka perihal kesehatan ibu tiga bulan terakhir.
“Ibu terus-terusan memanggil namamu dan Endaru.” Kakak ipar membawa secangkir teh hangat.
“Endaru tidak ikut?”
“Dia akan menyusul. Endaru kerja hari ini tidak bisa libur mendadak.”
Mendadak kepalaku berdenyut karena mengingat sementara Endaru harus ikut dua laki-laki bersenjata sebagai syarat agar dilepaskan. Pertukaran akan terjadi sore ini. Aku akan menukar Endaru dengan sebuah mobil dan uang. Rasanya seperti ada ratusan jarum yang menusuk secara bersamaan dari dalam. Sakit bukan main.
“Mas Lukman, aku nanti bisa pinjam mobil Ibu buat jemput Endaru di terminal?”
“Bisa.”
Lukman dan Kakak Ipar memberi ruang untukku bisa berdua bersama Ibu. AKu tidak tahu apa yang harus aku lakukan karena pikiranku masih mengarah pada keselamatan Endaru. Aku menyembunyikan pria bersenjata di bangunan kosong milik keluargaku.
Ibu, menurutmu aku harus melakukan apa?
Apakah harus aku laporan saja mereka ke polisi dan polisi bisa dengan cepat bertindak?
Haruskah aku melawan mereka?
Ibu, apa kamu pura-pura tidur? Tahukah Ibu bahwa aku memaksa Endaru untuk ikut pulang dan melibatkan anakku sendiri dalam masalah besar ini?
“Ibu, ini aku Hening.”
Aku mencoba menyapanya. Mata itu masih tertutup. Dadanya terlihat mengembang dan mengempis dengan susah payah. Aku melihat ruangan ini. Tidak ada yang berubah.
Apa Ibu masih suka berdiri melihat halaman belakang dari balik teralis jendela kamar? Aku kadang membayangkan Ibu seperti tinggal di sebuah penjara. Ibu tidak pernah bahagia.
“Aku tidak tahu kenapa Ibu ingin aku pulang. Tapi aku sedang kesulitan sekarang. Jadi, mungkin kita akan bicara lain waktu. Aku harus menjemput Endaru.”
Sebuah pertemuan yang aneh dan percakapan bodoh.
Lukman masuk dengan raut wajah antara takut dan bingung. Langkahnya ragu.
“Ada apa?”
“Hening, ayo ikut sebentar.”
Aku mengikutinya keluar kamar. Kakak Ipar sudah menangis. Mereka melihat berita di TV.
“Hening, itu Bima.”
Jantung seperti berhenti berdetak. Sebuah siaran langsung meliput lokasi kecelakaan yang melibatkannya dengan dua pria bersenjata yang sekarang menahan Endaru. Ada beberapa korban dengan luka tembak. Yang membuatku merasa mati di tempat adalah jasad Dani ada di dalam mobil yang terlibat kecelakaan dengannya.
Kenapa jasad Bima ada di sana?
Apa dua laki-laki itu yang membunuhnya?
Kenapa BIma ada di kota ini?
Endaru bersama orang-orang yang mungkin saja membunuh ayahnya?
Aku segera berlari keluar. Aku harus segera mengantar mobil ini dan membawa Endaru. Bagaimana bisa ini terjadi secara kebetulan? Mobilku menabrak mobil yang membawa jasad mantan suamiku sendiri?
“Hening, kamu mau ke mana?”
“Menjemput Endaru.”
“Jangan pergi!” Lukman menahanku. “Terlalu berbahaya. Aku akan meminta bantuan orang untuk menjemput Endaru.”
Tidak bisa. Bahkan tidak ada siapapun yang bisa menyelamatkan Endaru selain diriku sendiri. Aku baru saja membuat kesepakatan dengan pembunuh mantan suamiku dan anakku menjadi jaminannya.
Aku mengemudikan mobil dengan tenang. Di kota kecil ini sedikit kesalahan bisa menjadi perhatian dan nyawa Endaru dalam bahaya.
Apakah mereka tahu identitasku dan Endaru?
Atau jangan-jangan setelah ini semua akan berakhir?
Aku mencoba bersikap tenang di hadapan Lukman dan istrinya. Sementara Ibu berbaring dengan mata terpejam. Aku mendengarkan cerita mereka perihal kesehatan ibu tiga bulan terakhir.
“Ibu terus-terusan memanggil namamu dan Endaru.” Kakak ipar membawa secangkir teh hangat.
“Endaru tidak ikut?”
“Dia akan menyusul. Endaru kerja hari ini tidak bisa libur mendadak.”
Mendadak kepalaku berdenyut karena mengingat sementara Endaru harus ikut dua laki-laki bersenjata sebagai syarat agar dilepaskan. Pertukaran akan terjadi sore ini. Aku akan menukar Endaru dengan sebuah mobil dan uang. Rasanya seperti ada ratusan jarum yang menusuk secara bersamaan dari dalam. Sakit bukan main.
“Mas Lukman, aku nanti bisa pinjam mobil Ibu buat jemput Endaru di terminal?”
“Bisa.”
Lukman dan Kakak Ipar memberi ruang untukku bisa berdua bersama Ibu. AKu tidak tahu apa yang harus aku lakukan karena pikiranku masih mengarah pada keselamatan Endaru. Aku menyembunyikan pria bersenjata di bangunan kosong milik keluargaku.
Ibu, menurutmu aku harus melakukan apa?
Apakah harus aku laporan saja mereka ke polisi dan polisi bisa dengan cepat bertindak?
Haruskah aku melawan mereka?
Ibu, apa kamu pura-pura tidur? Tahukah Ibu bahwa aku memaksa Endaru untuk ikut pulang dan melibatkan anakku sendiri dalam masalah besar ini?
“Ibu, ini aku Hening.”
Aku mencoba menyapanya. Mata itu masih tertutup. Dadanya terlihat mengembang dan mengempis dengan susah payah. Aku melihat ruangan ini. Tidak ada yang berubah.
Apa Ibu masih suka berdiri melihat halaman belakang dari balik teralis jendela kamar? Aku kadang membayangkan Ibu seperti tinggal di sebuah penjara. Ibu tidak pernah bahagia.
“Aku tidak tahu kenapa Ibu ingin aku pulang. Tapi aku sedang kesulitan sekarang. Jadi, mungkin kita akan bicara lain waktu. Aku harus menjemput Endaru.”
Sebuah pertemuan yang aneh dan percakapan bodoh.
Lukman masuk dengan raut wajah antara takut dan bingung. Langkahnya ragu.
“Ada apa?”
“Hening, ayo ikut sebentar.”
Aku mengikutinya keluar kamar. Kakak Ipar sudah menangis. Mereka melihat berita di TV.
“Hening, itu Bima.”
Jantung seperti berhenti berdetak. Sebuah siaran langsung meliput lokasi kecelakaan yang melibatkannya dengan dua pria bersenjata yang sekarang menahan Endaru. Ada beberapa korban dengan luka tembak. Yang membuatku merasa mati di tempat adalah jasad Dani ada di dalam mobil yang terlibat kecelakaan dengannya.
Kenapa jasad Bima ada di sana?
Apa dua laki-laki itu yang membunuhnya?
Kenapa BIma ada di kota ini?
Endaru bersama orang-orang yang mungkin saja membunuh ayahnya?
Aku segera berlari keluar. Aku harus segera mengantar mobil ini dan membawa Endaru. Bagaimana bisa ini terjadi secara kebetulan? Mobilku menabrak mobil yang membawa jasad mantan suamiku sendiri?
“Hening, kamu mau ke mana?”
“Menjemput Endaru.”
“Jangan pergi!” Lukman menahanku. “Terlalu berbahaya. Aku akan meminta bantuan orang untuk menjemput Endaru.”
Tidak bisa. Bahkan tidak ada siapapun yang bisa menyelamatkan Endaru selain diriku sendiri. Aku baru saja membuat kesepakatan dengan pembunuh mantan suamiku dan anakku menjadi jaminannya.
Aku mengemudikan mobil dengan tenang. Di kota kecil ini sedikit kesalahan bisa menjadi perhatian dan nyawa Endaru dalam bahaya.
Apakah mereka tahu identitasku dan Endaru?
Atau jangan-jangan setelah ini semua akan berakhir?
Other Stories
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
Viral
Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...