Bagian Empat
Mungkin tiga puluh tahun silam, Dani berhasil mengingkari kematian pertamanya. Alih-alih merasa menang, ia justru merasa kalah. Sejak saat itu, hidupnya seolah hanya perjalanan dari satu kematian ke kematian lainnya.
Gadis itu tidak banyak bicara, atau memang tidak suka bicara. Namun, dialah yang menyeret tubuh Dani menuju cahaya hingga bantuan datang. Dani tidak sempat bertanya siapa namanya, ia hanya tahu mereka mengenakan seragam SMP yang sama.
Butuh waktu lama untuk menemukannya kembali. Gadis itu ternyata putri seorang pejabat. Namun, tidak seperti anak pejabat kebanyakan, ia tampak tidak begitu menikmati hidupnya sendiri.
“Terima kasih sudah menolongku,” ucap Dani kala itu.
Gadis itu hanya menatapnya sekilas, lalu kembali tenggelam dalam buku di tangannya. “Aku Dani.”
Tetap tidak bergeming.
Bahkan setelah Dani menjauh, gadis itu tidak melepaskan pandangan dari buku. Dari bisik-bisik murid lain, Dani akhirnya tahu namanya: Hening. Gadis yang tidak ingin berteman dengan siapa pun. Diam-diam, Dani mulai memperhatikannya, meski ia sadar tak ada ruang bagi wajahnya dalam ingatan Hening.
Hingga hari terakhirnya di sekolah karena terkendala biaya, tidak ada perpisahan resmi. Seolah mereka memang hanya ditakdirkan bersinggungan sekejap. Dani sering berandai-andai; berjalan bersama Hening sepulang sekolah, atau menonton film di hari Minggu. Sesuatu yang mustahil. Sampai akhirnya Jojo yang tolol menabrak sebuah mobil, dan Hening ada di sana.
“Tolong, biarkan anakku pergi,” mohon Hening. Suaranya bergetar, memecah lamunan masa lalu Dani.
“Kami tidak yakin kalian akan diam. Seharusnya jika tadi kamu menerima uang itu, semua tidak akan jadi begini,” sahut Jojo dingin. Ia sudah menetapkan hati untuk menghabisi Hening dan putrinya.
“Tolong…”
“Mama!”
Seorang ibu akan mengorbankan apa saja bahkan dirinya sendiri untuk menyelamatkan darah dagingnya dari mara bahaya. Namun seorang iblis pun tidak akan bisa menyelamatkan anak mereka dari hukuman Tuhan.
Diam-diam Dani setuju dengan pendapat Jojo bahwa selama ini dia jarang tersenyum. Tanpa sadar ia selalu mengatakan hal seperti seorang yang sudah ratusan tahun mengarungi kehidupan.
“Kami butuh mobil baru. Bisakah kamu mendapatkannya? Dan kami harus bersembunyi.”
“Dani..” Jojo seolah ragu dengan ucapannya.
“Aku bisa membantu kalian tapi, tolong lepaskan kami.”
“Seseorang bisa berjanji saat ingin mendapatkan sesuatu.” Sindir Dani. “Apa kamu bisa menepatinya?”
Terdengar suara ponsel dari saku Hening.
“Ini dari kakakku. Ibuku sakit. Aku harus menjawab panggilan ini..”
“Hei!” Jojo kehilangan kesabaran. Namun Dani menahannya dengan memberi isyarat agar Hening menjawab.
“Kau sudah gila?” Jojo mendorong bahu Dani setelah Hening menjauh sedikit dan posisi mereka masih dalam jangkauan.
“Lalu apa rencanamu?”
“Menerima pekerjaan ini saja sudah gila,” keluh Jojo lagi tanpa menunggu jawaban. “Mayat itu masih di mobil. Seseorang pasti melakukan sesuatu pada pria besar itu. Bagaimana bisa dia tiba-tiba mati dengan mulut berbusa?”
“Entahlah. Yang jelas, seseorang ingin kita berdua keluar dari kota ini dan jadi mayat,” sahut Dani. Matanya tidak lepas dari Hening yang sedang berusaha menenangkan anaknya.
“Mayatnya akan ditemukan bukan? Sial, racun itu masih ada di mobil? Siapa pria besar itu sebenarnya?” tanya Jojo kesal.
“Leo bilang dia menyimpan rahasia besar kasus korupsi yang sedang ramai. Dia algojo kepercayaan di sana.”
“Tidak aneh. Kita sudah sering menghabisi orang seperti itu. Apa bedanya?”
“Mereka meminta agar kita menghabisi orang itu dengan yang hanya mereka berikan. Aku tidak bisa menghubungi Leo.”
“Menurutmu, Leo menjebak kita?”
“Bukan, bodoh!” balas Dani. “Aku harap Leo tidak dalam bahaya.”
“Jadi, kita juga dikorbankan?”
Belum sempat Dani menjawab, Hening menghampiri mereka. Ia tidak lagi memohon. Kali ini, ia menyodorkan sebuah tawaran yang mungkin menjadi satu-satunya tiket bagi Dani dan Jojo untuk keluar dari kota ini dengan selamat.
Gadis itu tidak banyak bicara, atau memang tidak suka bicara. Namun, dialah yang menyeret tubuh Dani menuju cahaya hingga bantuan datang. Dani tidak sempat bertanya siapa namanya, ia hanya tahu mereka mengenakan seragam SMP yang sama.
Butuh waktu lama untuk menemukannya kembali. Gadis itu ternyata putri seorang pejabat. Namun, tidak seperti anak pejabat kebanyakan, ia tampak tidak begitu menikmati hidupnya sendiri.
“Terima kasih sudah menolongku,” ucap Dani kala itu.
Gadis itu hanya menatapnya sekilas, lalu kembali tenggelam dalam buku di tangannya. “Aku Dani.”
Tetap tidak bergeming.
Bahkan setelah Dani menjauh, gadis itu tidak melepaskan pandangan dari buku. Dari bisik-bisik murid lain, Dani akhirnya tahu namanya: Hening. Gadis yang tidak ingin berteman dengan siapa pun. Diam-diam, Dani mulai memperhatikannya, meski ia sadar tak ada ruang bagi wajahnya dalam ingatan Hening.
Hingga hari terakhirnya di sekolah karena terkendala biaya, tidak ada perpisahan resmi. Seolah mereka memang hanya ditakdirkan bersinggungan sekejap. Dani sering berandai-andai; berjalan bersama Hening sepulang sekolah, atau menonton film di hari Minggu. Sesuatu yang mustahil. Sampai akhirnya Jojo yang tolol menabrak sebuah mobil, dan Hening ada di sana.
“Tolong, biarkan anakku pergi,” mohon Hening. Suaranya bergetar, memecah lamunan masa lalu Dani.
“Kami tidak yakin kalian akan diam. Seharusnya jika tadi kamu menerima uang itu, semua tidak akan jadi begini,” sahut Jojo dingin. Ia sudah menetapkan hati untuk menghabisi Hening dan putrinya.
“Tolong…”
“Mama!”
Seorang ibu akan mengorbankan apa saja bahkan dirinya sendiri untuk menyelamatkan darah dagingnya dari mara bahaya. Namun seorang iblis pun tidak akan bisa menyelamatkan anak mereka dari hukuman Tuhan.
Diam-diam Dani setuju dengan pendapat Jojo bahwa selama ini dia jarang tersenyum. Tanpa sadar ia selalu mengatakan hal seperti seorang yang sudah ratusan tahun mengarungi kehidupan.
“Kami butuh mobil baru. Bisakah kamu mendapatkannya? Dan kami harus bersembunyi.”
“Dani..” Jojo seolah ragu dengan ucapannya.
“Aku bisa membantu kalian tapi, tolong lepaskan kami.”
“Seseorang bisa berjanji saat ingin mendapatkan sesuatu.” Sindir Dani. “Apa kamu bisa menepatinya?”
Terdengar suara ponsel dari saku Hening.
“Ini dari kakakku. Ibuku sakit. Aku harus menjawab panggilan ini..”
“Hei!” Jojo kehilangan kesabaran. Namun Dani menahannya dengan memberi isyarat agar Hening menjawab.
“Kau sudah gila?” Jojo mendorong bahu Dani setelah Hening menjauh sedikit dan posisi mereka masih dalam jangkauan.
“Lalu apa rencanamu?”
“Menerima pekerjaan ini saja sudah gila,” keluh Jojo lagi tanpa menunggu jawaban. “Mayat itu masih di mobil. Seseorang pasti melakukan sesuatu pada pria besar itu. Bagaimana bisa dia tiba-tiba mati dengan mulut berbusa?”
“Entahlah. Yang jelas, seseorang ingin kita berdua keluar dari kota ini dan jadi mayat,” sahut Dani. Matanya tidak lepas dari Hening yang sedang berusaha menenangkan anaknya.
“Mayatnya akan ditemukan bukan? Sial, racun itu masih ada di mobil? Siapa pria besar itu sebenarnya?” tanya Jojo kesal.
“Leo bilang dia menyimpan rahasia besar kasus korupsi yang sedang ramai. Dia algojo kepercayaan di sana.”
“Tidak aneh. Kita sudah sering menghabisi orang seperti itu. Apa bedanya?”
“Mereka meminta agar kita menghabisi orang itu dengan yang hanya mereka berikan. Aku tidak bisa menghubungi Leo.”
“Menurutmu, Leo menjebak kita?”
“Bukan, bodoh!” balas Dani. “Aku harap Leo tidak dalam bahaya.”
“Jadi, kita juga dikorbankan?”
Belum sempat Dani menjawab, Hening menghampiri mereka. Ia tidak lagi memohon. Kali ini, ia menyodorkan sebuah tawaran yang mungkin menjadi satu-satunya tiket bagi Dani dan Jojo untuk keluar dari kota ini dengan selamat.
Other Stories
Hibur Libur
Aku (Byru) mencoba mencari nikmatnya sebuah "Liburan" dengan kesehariannya yang sangatlah ...
Ngidam
Clara mengira ngidam anehnya—memegang milik pria lain—akan membuat suaminya murka. Nam ...
Koper Coklat Ibu
Bagi Arini, Yogyakarta bukan lagi tempat untuk pulang, melainkan ruang bawah tanah yang ia ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...