Di Luar Rencana

Reads
65
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Penulis Ema Riyanawati

Bagian Enam

“Kalian membunuhnya?” Pertanyaan Endaru tidak membuat Dani dan Jojo balik badan untuk menjawab.

“Sekarang akan menjadi sedikit rumit.” Jojo mengeluh.
“Orang-orangnya akan mengejar kita.”
“Mengejar kita semua.” Balas Endaru.
“Hei, kau anak kecil!” Jojo mengarahkan kembali pistolnya.
“Kalian membunuh ayahku?” Endaru menahan senyum. “Tidak, kalian membunuh laki-laki itu?”
“Apa maksud dari pertanyaanmu?” Jelas Dani paling terkejut di antara semua orang dalam ruangan pengap itu. TV tua masih menayangkan siaran langsung penemuan jasad dalam bagasi mobil.
“Terima kasih karena sudah melakukannya.”
“Hei, kami tidak membunuhnya!” Bentak Jojo. “Dani, apa anak ini sudah gila? Apa benar dia anaknya?”
“Jelaskan sebelum aku kehilangan kesabaran.” Dani merebut pistol Jojo.
“Bima. Dia adalah ayahku. Sayangnya, kami sudah lama tidak bertemu. Hampir 15 tahun. Aku tidak akan menyangka akan bertemu dengannya dalam situasi kacau ini.” Penjelasan Endaru jelas terdengar tenang. Dani tidak pernah bertemu dengan perempuan muda seperti itu.
“Orang tuamu bercerai?”
“Secara hukum resmi bercerai.”
“Anak kecil, apa maksudmu?” Jojo mendekat.
“Meski sudah bercerai, dia masih mencoba mengancam Mama. Kalian tahu, aku tidak bisa melakukan apapun saat dia menyiksa Mama. Dan yang lebih parah, keluarga Mama tidak pernah mau tahu.”

Dani terdiam. Kebetulan macam apa ini?

“Ada yang salah dengan kepalanya.” Bisik Jojo.
“Aku sempat ingin membunuhnya. Pikiran itu selalu terlintas setiap kali aku membuka mata. Aku selalu berharap bisa membunuhnya. Aku harap bisa melakukannya dengan kedua tanganku sendiri.”

Dani memandang wajah Endaru. Ia tidak pernah berniat membunuh mereka berdua. Tapi jika seperti ini, sepertinya masalah akan menjadi semakin rumit.

“Dengar, ada yang tidak beres!” Ucap Jojo dengan nada bergetar.

“Apa tujuanmu datang ke kota ini?”
“Dani, kenapa kamu bertanya?”

“Nenek sakit keras dan ingin bertemu Mama. Aku harus membatalkan liburan akhir tahun di Bangkok demi menemani Mama pulang. Aku kesal karena melewatkan liburan menyenangkan. Tapi setelah tahu ini menyenangkan…”
“Stop!” Jojo menghampiri Endaru dan bersiap memukul namun Dani menahannya.
“Aku hanya terlalu senang.” Endaru tersenyum.


Dani dan Jojo duduk sedikit menjauh dari Endaru. Jojo yang panik tanpa sadar mulai menggigit ujung jarinya sendiri.
“Jo..” bisik Dani. “Jojo!”
“Apa?”
“Bisa tenang dulu.”
“Ini tidak benar, Dan.”
“Aku tahu.” Dani melihat ke arah Endaru. “Bima datang ke kota ini karena melarikan diri. Tapi kita tidak pernah tahu jika sebenarnya dia punya tujuan lain dengan datang ke kota ini. Sementara ibu anak itu datang karena undangan.”
“Aku tidak paham, Dan.”
“Biarkan aku berpikir.”

“Dan?”
“Dalam perjalanan ke kota ini, Bima sudah pasti mati. Tapi kenapa?”
“Dan mantan istri juga anaknya?” Jojo memijat kepalanya sendiri.
“Apakah ada yang mengincar mereka?”
“Itu bukan urusan kita, Dani.”

Jojo benar. Namun naluri Dani seolah bekerja di luar kemauannya sendiri. Ada rasa ingin menyelamatkan Hening setelah gadis itu menyelamatkannya tiga puluh tahun silam.

Terdengar suara mesin mobil. Dani segera bangkit dan bersiap menembak. Pintu dibuka perlahan. Hening berdiri membawa tas besar di tangan kanan dan kunci mobil di tangan kiri.
“Di mana Endaru?”


Dani berjalan mendekati Hening dan memastikan tidak ada yang mengikutinya. Tapi itu tidak mungkin. Bahaya yang lebih besar pasti akan datang setelah ini.
“Kita pergi bersama!” Ucap Dani dengan tegas.
“Tidak.” Hening membantah.
“Dani, kamu sudah gila?” Sebenarnya Jojo terlalu kesal namun tidak punya tenaga untuk menghajar Dani.
“Aku sudah membawa uang dan mobil. Sekarang lepaskan kami.”
“Dan masalah besar.”
“Apa?” Hening tidak mengerti.

Terdengar suara mesin mobil mendekat. Dani segera menarik Hening dan Endaru. Mereka bersembunyi di balik dinding.
“Berapa usia bangunan ini?” tanya Jojo dengan suara hampir tak terdengar.

“Seratus tahun.”
“Mungkin dindingnya masih bisa menahan peluru,” balas Endaru dengan tenang.

Lukman masuk dengan beberapa anak buahnya.
“Ah, merepotkan saja.” Keluh Lukman.
“Kamu klien itu? Orang yang bertemu dengan Leo?”
“Kamu benar. Kita pernah bertemu sebelumnya. Sebenarnya aku membayar mahal untuk pekerjaanmu tapi kenapa kamu cukup ceroboh dengan meninggalkan mayat itu di bagasi mobil?”
“Mas Lukman?” Hening merebut pistol Jojo.
“Kenapa?” Lukman tersenyum. “Bima selalu saja memerasku untuk bertahan hidup. Tidak ada cara lain. Dan kalian berdua, entah kenapa Ibu lebih percaya padamu padahal aku adalah anak kandungnya sendiri? Apa kamu bisa mengurus perusahaan yang hampir bangkrut itu? Aku memintamu pulang bukan tanpa alasan.”

Endaru meraih tangan Hening.

“Dengar, sampah!” Dani maju satu langkah. Anak buah Lukman bersiap menembak. “Kami tidak membunuhnya. Dia mati karena racun di tubuhnya yang sudah ada sebelum bertemu kami.”
“Menurutmu aku percaya?” Lukman tertawa. “Aku tidak mau berlama-lama. Jadi, semoga kita bertemu di neraka.”
Hening, Endaru, Dani dan Jojo tidak bisa berkutik.

Satu tembakan melesat mengenai bahu Dani.
“Hei, kau sudah gila?” Jojo menahan tubuh rekannya.
“Aku tidak ingin meninggalkan jejak dengan melepaskan kalian berempat. Melihat kalian saja aku sudah merasa pusing. Dan kamu,” Lukman menunjuk Dani. “Kamu sudah menembak anak buahku tadi pagi.”

Dua tembakan melesat dari arah yang tidak disangka. Hening berhasil melumpuhkan dua ajudan Lukman. Bahkan Endaru tidak menyangka tembakan itu berasal dari pistol di tangan ibunya. Jojo segera membereskan yang tersisa dengan tangan kosong karena mereka tidak bersenjata.

Sebelum Lukman merebut senjata. Dani membidiknya tepat di kaki dan lengan kanannya.

“Ah, sial..” Lukman meringis kesakitan. Tubuhnya yang roboh di lantai tidak bisa bergerak lagi.

Hening mendekat dan mengarahkan pistolnya. Tidak mungkin menjadi seorang pembunuh di depan putrinya sendiri.
“Kalian bisa pergi.” Hening menjatuhkan pistol ke lantai. Lalu bersimpuh dan membiarkan Endaru memeluknya. Jojo mengambil kembali pistolnya.

Dalam ruangan itu, tidak ada yang lebih menyedihkan dari Dani. Ia berhasil menemukan cinta pertamanya. Dan lagi, Hening menyelamatkannya. Namun mereka akan kembali berpisah tanpa kata. Tidak ada wajah Dani dalam ingatan Hening.

Sementara, setelah Dani dan Jojo pergi. Polisi dan Tim Medis datang. Media segera memenuhi halaman depan. Sesuai rencananya, media akan memberitakan bahwa Lukman, kakak tirinya terlibat dalam pembunuhan mantan suaminya dan rencana pembunuhan adik tiri dan keponakannya.

Tidak akan ada yang tahu, bahwa kemarin sore Hening bertemu dengan Bima yang mengancam akan menghancurkan hidup Endaru jika Hening tidak bisa memberikan uang. Hening mencampurkan bubuk racun ke dalam botol minuman. Butuh setidaknya kurang dari 8 jam racun itu akan bekerja.

Bima butuh banyak uang untuk ke luar negeri. Sementara Lukman, bukan satu dua kali dia mencoba membunuh Hening.

Rencana akan sedikit mulus jika tabrakan itu bisa dihindari. Tapi ternyata rencana yang berantakan itu malah menyelamatkannya. Sekali lagi. Di luar rencana.

“Mama di sini.” Hening memeluk Endaru dengan erat. Kali ini tidak ada lagi yang perlu mereka takutkan.

Other Stories
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Sepuluh tahun setelah kepergian ibunya saat melahirkan Ale, Khalil tumbuh dengan luka yang ...

Cinta Harus Bahagia

Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Prince Reckless Dan Miss Invisible

Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...

Persembahan Cinta

Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Download Titik & Koma