14. Epilog
Langit
Praak!
Kacamata yang dulunya aku banggakan karena membuatku dipuja banyak wanita kini bingkainya patah jadi dua dan kacanya pun hancur berkeping-keping. Aku sengaja menginjak kacamata itu. Buat apa aku mempertahankan kacamata kematian ini?
Andai saja waktu itu aku tidak punya keinginan jadi ganteng biuar bias dapatkan hati Arshita, pasti sampai sekarang aku masih bias menatap wajah ayunya. Persahabatanku dengan Franco pasti akan baik-baik saja. Apalah daya, nasi sudah jadi spagethy. Itu peribahasa versi baru. Bukankah spaghety masih tetap enak dimakan kalau kita pandai mengolahnya?
Kematian Arshita dan tertangkapnya Franco memberikan pelajaran berharga untukku. Bahwa lebih baik mensyukuri apa yang sudah diberikan oleh Tuhan. Mulai detik ini aku bersumpah bahwa nggak akan punya keinginan yang aneh-aneh lagi. Aku yakin suatu hari nanti akan ada wanita yang bias menerima kekurangan di wajahku ini.
“Arshita, kamu yang tenang ya di alam sana. Maaf, gara-gara aku kamu harus pergi dari dunia ini. Aku bahagia bisaa dekat denganmu walau hanya dalam hitungan hari.”
THE END
Other Stories
Jam Dinding
Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Cahaya Di Ujung Mihrab
Amara adalah seorang wanita yang terjebak dalam gemerlap dunia malam yang hampa, hingga se ...
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...