Lydia

Reads
651
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nabila Sungkar

Masa Sekolah Menengah Pertama

Hari itu adalah hari pertamanya mengenakan jilbab ke sekolah.
Walaupun ia tidak percaya diri dengan rambutnya yang frizzy dan bergelombang, mengenakan kerudung tetap terasa seperti sebuah drama besar.

“Anak Mama cantiknya pakai kerudung,” puji Mama, yang baru saja mulai mengenakan jilbab belum lama ini.

“Lydia, kerudungnya berantakan,” celetuk Siska, si bungsu yang masih SD dan belum diwajibkan memakai kerudung ke sekolah.

Mendengar celetukan Siska, Lydia hanya meleweh—mengeluarkan lidah dan membuat suara mengejek yang tak jelas.

"Hari ini kan baru hari pertama Lydia ke sekolah pakai kerudung," Mama membela, sambil memegang kedua pundak Lydia.

Di sisi lain, Kak Kartika sibuk mencari peniti.
"Peniti Kakak yang tadi Kakak taruh di sini mana, ya?" Lydia diam. Padahal dialah yang mengambilnya.

"Ambil lagi aja, Kak, di kamar Mama," jawab Mama dengan tenang.

"Ayo, sudah jam 5.35 pagi nih! Ditunggu di mobil ya," teriak Mama sambil berjalan menuju mobil.

Lydia mengikat sepatunya sendiri, menyandang ransel, lalu berangkat ke mobil.

Rasanya ada yang beda.
Tak ada lagi Mbak Anah yang biasa mengingatkan sepatu atau masak ayam goreng terenak sedunia.
Tak ada lagi Ayah yang selalu menelakson mobil keras-keras.

Pelan-pelan Lydia terbiasa dengan keadaan baru, meski kadang isak tangisnya masih muncul.

Segala pengeluaran memang harus dipangkas agar anak-anaknya bisa tetap bersekolah di sekolah Islam terbaik versi Mama.

.
.
.

SD dan SMP masih di naungan yang sama, jadi masih banyak wajah familiar buat Lydia, tapi rasanya… tetap jauh di hati.

“Lydiaaaaa!” teriak Ipeh panjang di lapangan, saat akan upacara pertama di SMP.

“Ipehhhh!” balas Lydia sama semangatnya.

Mereka berangkulan sebentar, lalu cepat-cepat lepas karena harus masuk barisan kelas masing-masing.
Lydia masuk kelas unggulan.
Ipeh di kelas… ya, kelas biasa.

-

Kriiinggg… bel istirahat.

Suasana seperti lebah keluar dari sarang.
Lydia membawa bekalnya ke kelas Ipeh.
Tapi ternyata Ipeh lagi asik mengobrol dengan teman barunya.

“Lydia!” sapa Ipeh, melambaikan tangan dari tempat duduknya, melihat Lydia berdiri di depan pintu.

Senyum Lydia merekah. Ia langsung berjalan cepat ke meja Ipeh.

“Kenalin, ini Ipin,” kata Ipeh. “Ipin, ini Lydia.”

Sejak hari itu, Ipin, Ipeh, dan Lydia menjadi trio biasa-biasa saja. tapi kalau ngumpul? Ketawanya bisa kedengeran satu lantai.

“Peh, kalau makan jangan ngomong,” Lydia sering mengingatkan.

“Kenapa sih, Lyd?” sahut Ipeh, sambil sedikit nyipratin liur (iyuh).

“Peh, muncrat-muncrat tuh. Stop ngomong,” lanjut Ipin.

Lalu mereka bertiga diam makan… dan setelahnya meledak ketawa bareng.

Other Stories
Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Setelah Perayaan Itu Usai.

Amara tumbuh di sebuah dusun kecil, ditemani sahabatnya, Angga. Setiap hari mereka lalui d ...

Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Yume Tourou (lentera Mimpi)

Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...

Download Titik & Koma