Lydia

Reads
651
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nabila Sungkar

Tawa Sesak Di Restoran Manado

Malam itu, restoran Manado dipenuhi tawa tim kantor Lydia. Mereka sedang makan malam bersama. "Jangan pulang malam-malam, nanti Ibam nggak kelihatan!" teriak Bangkit, suaranya menggelegar di seluruh ruangan. Sontak, seluruh meja tertawa.

Lydia ikut tertawa, suaranya sedikit dipaksakan. Tentu saja Ibam, yang berkulit gelap, tetap terlihat walau lampu jalanan Jakarta redup. Apa perlu Ibam diteriaki dan dijadikan bahan lelucon?

"Ibam, lo utang beli sepeda ke Aldri, kan?" tanya Faiz dengan lantang, menambah rentetan ejekan.

"Hahaha, iya, tapi gue bayar kok tiap bulan, woyyy," balas Ibam. Ia tertawa santai, seolah tak ada yang salah.

Ibam memang selalu menjadi bahan lelucon, mulai dari warna kulitnya yang gelap hingga kariernya yang tak pernah beranjak.
Hati Lydia terasa berat.
Ada perasaan ingin menjadi pahlawan super—seorang power ranger yang bisa membela temannya.
Dadanya sesak. Ia tahu rasanya pasti tidak nyaman menjadi bahan tertawaan.

Namun, dia kembali menahan diri.
"Buat apa menolong orang yang bahkan dia sendiri tidak merasa keberatan dijadikan bahan candaan?" bisiknya pada diri sendiri.
"Nggak usah nambah masalah, Lyd."

Di tengah keramaian itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
"Besok jadi makan siang bareng?"

Lydia mengetik balasan. "Yuk. Makan di mana, ya? hehehe."

Setelah itu, ia pergi ke toilet. Di depan cermin, Lydia menatap pantulan dirinya. Kenapa dia begini? Kenapa ia cepat merasa iba? Kenapa ia menggunakan hehehe di setiap konteks yang sebenarnya tidak butuh tawa?

Hehehe—kata itu bukan lagi sekadar tawa, tapi sebuah tanda.
Pengakuan bahwa dia baik-baik saja.
Bahwa dia legowo, supel, dan ramah.
Hehehe adalah perisai yang ia pakai untuk meyakinkan orang lain bahwa ia tidak terluka.
Tapi, apakah ia benar-benar baik-baik saja? Ataukah ia hanya ingin orang lain berpikir demikian?

Hehehe seperti perisai yang dia pakai untuk menyembunyikan kerapuhannya.
Tawa riuh di luar terdengar, tapi yang paling berisik adalah pertanyaan dalam benaknya. Sebuah pertanyaan yang tidak akan dia bagikan ke siapa pun.

Other Stories
Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Bahagiakan Ibu

Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...

Hotel De Rio

Di balik kemewahan Hotel De Rio, Bianca terjebak dalam pengkhianatan saat Dante, pria dari ...

Dream Analyst

Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...

Hompimpa Alaium Gambreng!

Dalam liburan singkat di sebuah vila pegunungan, Jibon dan teman-temannya berniat menghidu ...

Hati Yang Beku

Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...

Download Titik & Koma