Lydia

Reads
651
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nabila Sungkar

Ciee Mamet Ciee

Berbanding terbalik dengan Lydia yang cenderung menutup diri, Kak Kartika itu anak populer.
Ekskul tari saman iya, paskib iya, selalu nonton basket dan pensi ramai-ramai bareng teman-temannya.
Mama pun setia jadi supir pribadi.

Lydia? Pilihannya jatuh ke ekskul Jurnalistik.
Alasannya simpel: suka menulis diary.
Realitanya? Jauh banget dari bayangan. Menulis artikel hanya boleh kakak kelas.
Jobdesknya Lydia: ngurus DUDU—Dari Untuk Dengan Ucapan. Mengumpulkan surat ke setiap kelas, lalu mengetiknya untuk majalah sekolah.

Ekskul Jurnalistik nggak banyak peminatnya. Di angkatan Lydia, hanya ada dua orang.
Bisa ditebak: Lydia dan Ipeh.
Ipin? Dia tentunya ogah ikut ekskul.

Karena hanya berdua, mereka harus bergantian setiap minggu mengumpulkan DUDU.
Minggu itu, giliran Lydia.

“Peh, kamu dong yang ke lantai 3,” Lydia merayu.

“Hahaha! LyMet—Lydia Mamet,” Ipeh malah meledek.

Lydia melipir ke toilet, ngaca sebentar.
Kerudung keriting di bagian atas, muka lusuh kena panas, ketawa gede kalau bareng Ipin dan Ipeh.
Lalu berpikir, “Kenapa sih Kak Mamet bisa suka sama aku? Emangnya aku cantik banget ya?”

Lydia berjalan ke lantai 3, tempatnya anak-anak kelas 3.

3A aman.

3B — kelas Kak Kartika, tapi Kak Kartika lagi nggak ada.
Padahal Lydia pengen banget nyapa, biar kelihatan punya kakak kelas 3. Bangga gitu loh.

3C? Duh.

Sesuai dugaan, tiga huruf itu—C I E—langsung terdengar begitu Lydia sampai di pintu kelas.

“Cieee Mamet cieee,” suara-suara usil bersahutan.

“Permisi, mau ngumpulin DUDU,” kata Lydia sopan ke ketua kelas.

“Kasih gak nih, Met?” teriak ketua kelas ke arah Mamet.
Lydia hanya diam, menunggu.

“Kasihin langsung ya,” kata Mamet, lembut banget.

Alih-alih baper, Lydia cuma bergidik. Ihh geli.
Sore itu, saat mengetik DUDU bareng Ipeh—tentunya ditemani Ipin yang asik makan lidi pedas, sampai bumbu merahnya menempel semua di kerudung putihnya.

Sesuai dugaan, DUDU dari Mamet sudah konsisten muncul sebulan terakhir:

Dari: Mamet
Untuk: Lydia
Dengan Ucapan: Semoga harimu menyenangkan. Jangan lupa makan.
Lydia langsung melempar kertasnya.

“Hahaha!” Ipin dan Ipeh ngakak nggak berhenti.

Other Stories
Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini

Setiap akhir tahun, ia pulang dengan harapan ibunya ada di rumah. Yang berulang justru dap ...

Pertemuan Di Ujung Kopi

Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Perahu Kertas

Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Download Titik & Koma