Oh Malam Biru
Hari ini acara pembukaan lomba olahraga antarangkatan.
Dan pasti—tentunya, otomatis, kudu—The Booms tampil.
The Booms.
Satu-satunya band sekolah, dengan setlist yang bisa ditebak: Sandy Sondoro, Malam Biru.
“Suatu malam yang biru tanpa dirimu…”
Kalau di drama Korea, band sekolah otomatis jadi idola cewek-cewek.
Kalau di sini? Nope.
Kalau di drama Korea, tribun basket penuh sama cewek-cewek yang teriak histeris.
Kalau di sini? Nope.
Malah banyak yang buru-buru pulang, takut ketahuan guru dan disuruh jadi suporter.
This school is nothing like K-drama.
Lydia ikut goyang tipis-tipis jauh dari panggung, sambil pura-pura jaga image biar classy.
Hasilnya? Kikuk.
Setelah manggung, The Booms ikut ngadem di area dekat air cooler—tempat Lydia dan gengnya berkumpul.
Kak Yudha, vokalis, nyapa:
“Bagus nggak penampilan kita tadi?”
“Iya kasih review dong,” timpal Kak Sebastian, gitaris.
“Iya bagus, Kak,” jawab Si Cantik-Cantik serentak.
“Selain bagus, ada kritik?” pancing Kak Yudha.
Tanpa mikir Lydia nyeletuk:
“Lagunya keseringan Sandhy Sondoro ‘Malam Biru’, ya. Mungkin coba lagu lain?”
Teman-teman Lydia melotot. Tapi Kak Yudha ketawa.
“Hahaha, bosen ya. Tenang, kita lagi latihan lagu lain kok. Thanks masukannya.”
“Oke deh Kak, kita masuk kelas dulu ya,” Icha tiba-tiba memberi aba-aba.
Padahal hari itu nggak ada kelas sama sekali.
“Cha, buru-buru banget sih,” bisik Fely.
“Tadi ada Kak Shilla ngeliatin kita ngobrol sama Kak Yudha. Serem,” jawab Icha.
“Kan mereka udah putus,” Citra menimpali.
“Pokoknya gue takut aja!”
Tak lama kemudian, Lydia dapat BBM masuk.
“Halo Lydia, ini Yudha. Thanks a lot masukannya.”
Lydia senyum-senyum sendiri.
Hehe.
Happy.
.
.
.
Minggunya, suasana rumah slow motion.
Hanya tiga bersaudara leyeh-leyeh di kamar utama.
Kak Kartika rebahan sambil ngemil kripik, Siska sibuk ganti-ganti channel TV.
“Lyd, HP kamu mana?” tanya Kak Kartika tiba-tiba.
“Buat apa?” Lydia tetap pura-pura fokus nonton iklan sampo.
“Mau telepon Mama. HP Kakak lagi dicas.”
Belum sempat Lydia ngeles, Kak Kartika nemu HP itu.
“Ini, kan?” katanya sambil ngangkat ponsel Lydia.
DEG.
BBM masuk. Nama pengirim: Kak Yudha.
“Eh jangan pake HP Lydiaaa!” Lydia langsung nyamber panik.
Kak Kartika ngangkat alis.
“Oh~ ada apa ini?”
Soal cowok?
Lydia nggak pernah cerita apa pun ke keluarga.
Pacaran itu topik sensitive di keluarga.
Dan Lydia nggak tahu gimana caranya bilang bahwa ada cowok yang nge-chat duluan.
Jadi semua kisah “Malam Biru” ia simpan rapat-rapat — kayak diary yang gak pernah dikunci tapi tetap gak boleh dibaca siapa pun.
.
.
.
Walaupun Lydia berusaha keras untuk tidak ada yang tahu terlalu dalam soal dirinya, bukan berarti dia nggak suka kalau ada yang deketin.
Chat-chat PDKT justru favoritnya.
Di tahap ini, dia bisa ngayal bebas: jalan-jalan bareng, nemenin Kak Yudha manggung, duduk manis di bangku penonton.
What a life.
Sebulan udah berlalu.
“Lyd, Kak Yudha masih suka chat?” tanya Fely.
“Masih. Terakhir semalem,” jawab Lydia, tanpa balik nanya.
Sampai suatu hari —
“Lyd, lo suka onigiri?” tanya Kak Yudha lewat BBM.
Lydia langsung auto-geer.
Please jangan ajak makan bareng. Chat aja cukup.
“Suka, Kak. Kenapa?”
Besoknya, di depan kelas.
“Lyd, ini onigirinya.”
Kotak kaca.
Homemade.
Dari tangannya sendiri.
Dan rasanya? Enak, homie, walau bentuknya agak… eksperimen.
New level unlocked: dikasih bekal cowok.
.
.
.
Keesokan harinya.
Lydia ke kantin, beli cokelat buat balas budi.
Pesan BBM diketik cepat:
“Halo Kak, kotak onigirinya sudah kucuci.”
Beberapa detik kemudian muncul balasan:
“Gue ke kelas lo sekarang.”
Lydia senyum kecil. Wah, rajin banget, pikirnya.
Belum sempat napas lega, BBM baru masuk lagi.
“Lo kelas berapa?”
Lydia berhenti ngetik.
Keningnya berkerut.
Lho… baru kemarin dia ke kelas gue, kok nanya lagi?
Tapi ya sudah.
“Kelas 1A, Kak,” balas Lydia tetap sopan.
Tak lama, pesan masuk lagi:
“Keluar lo sekarang. Gue di depan.”
Nada pesannya, kok beda ya?
Lydia keluar. Deg-degan.
Yang datang ternyata… Kak Shilla.
Model.
Tinggi semampai.
Rambut badai— terlihat dari poni yang keluar dari kerudungnya.
“Lo ada hubungan apa sama Yudha?” Suara Kak Shilla dingin, menusuk.
Lydia blank.
Kalau kata geng Si Cantik-Cantik: Lydia bengong dua menit, still processing.
“Maaf, Kak.”
Itu kalimat pertama yang keluar.
“Yudha itu pacar aku, ya, sayang.”
Kata "sayang" itu terdengar seperti tamparan keras.
“Enak onigiri-nya, ya?”
Lydia diam.
Refleks menyodorkan kotak kaca itu kembali.
Tangannya gemetar.
Dan Kak Shilla pergi, meninggalkan Lydia di antara tatapan semua orang di kelas.
.
.
.
Malamnya.
“Sis, buat kamu.”
“Yeay, makasih Kak Lydia!”
Sebutan “Kak” dari Siska yang hanya muncul kalau lagi ada maunya.
Siska menyantap cokelat itu dengan lahap.
Thanks for the experience, Kak Yudha.
Bye.
Dan pasti—tentunya, otomatis, kudu—The Booms tampil.
The Booms.
Satu-satunya band sekolah, dengan setlist yang bisa ditebak: Sandy Sondoro, Malam Biru.
“Suatu malam yang biru tanpa dirimu…”
Kalau di drama Korea, band sekolah otomatis jadi idola cewek-cewek.
Kalau di sini? Nope.
Kalau di drama Korea, tribun basket penuh sama cewek-cewek yang teriak histeris.
Kalau di sini? Nope.
Malah banyak yang buru-buru pulang, takut ketahuan guru dan disuruh jadi suporter.
This school is nothing like K-drama.
Lydia ikut goyang tipis-tipis jauh dari panggung, sambil pura-pura jaga image biar classy.
Hasilnya? Kikuk.
Setelah manggung, The Booms ikut ngadem di area dekat air cooler—tempat Lydia dan gengnya berkumpul.
Kak Yudha, vokalis, nyapa:
“Bagus nggak penampilan kita tadi?”
“Iya kasih review dong,” timpal Kak Sebastian, gitaris.
“Iya bagus, Kak,” jawab Si Cantik-Cantik serentak.
“Selain bagus, ada kritik?” pancing Kak Yudha.
Tanpa mikir Lydia nyeletuk:
“Lagunya keseringan Sandhy Sondoro ‘Malam Biru’, ya. Mungkin coba lagu lain?”
Teman-teman Lydia melotot. Tapi Kak Yudha ketawa.
“Hahaha, bosen ya. Tenang, kita lagi latihan lagu lain kok. Thanks masukannya.”
“Oke deh Kak, kita masuk kelas dulu ya,” Icha tiba-tiba memberi aba-aba.
Padahal hari itu nggak ada kelas sama sekali.
“Cha, buru-buru banget sih,” bisik Fely.
“Tadi ada Kak Shilla ngeliatin kita ngobrol sama Kak Yudha. Serem,” jawab Icha.
“Kan mereka udah putus,” Citra menimpali.
“Pokoknya gue takut aja!”
Tak lama kemudian, Lydia dapat BBM masuk.
“Halo Lydia, ini Yudha. Thanks a lot masukannya.”
Lydia senyum-senyum sendiri.
Hehe.
Happy.
.
.
.
Minggunya, suasana rumah slow motion.
Hanya tiga bersaudara leyeh-leyeh di kamar utama.
Kak Kartika rebahan sambil ngemil kripik, Siska sibuk ganti-ganti channel TV.
“Lyd, HP kamu mana?” tanya Kak Kartika tiba-tiba.
“Buat apa?” Lydia tetap pura-pura fokus nonton iklan sampo.
“Mau telepon Mama. HP Kakak lagi dicas.”
Belum sempat Lydia ngeles, Kak Kartika nemu HP itu.
“Ini, kan?” katanya sambil ngangkat ponsel Lydia.
DEG.
BBM masuk. Nama pengirim: Kak Yudha.
“Eh jangan pake HP Lydiaaa!” Lydia langsung nyamber panik.
Kak Kartika ngangkat alis.
“Oh~ ada apa ini?”
Soal cowok?
Lydia nggak pernah cerita apa pun ke keluarga.
Pacaran itu topik sensitive di keluarga.
Dan Lydia nggak tahu gimana caranya bilang bahwa ada cowok yang nge-chat duluan.
Jadi semua kisah “Malam Biru” ia simpan rapat-rapat — kayak diary yang gak pernah dikunci tapi tetap gak boleh dibaca siapa pun.
.
.
.
Walaupun Lydia berusaha keras untuk tidak ada yang tahu terlalu dalam soal dirinya, bukan berarti dia nggak suka kalau ada yang deketin.
Chat-chat PDKT justru favoritnya.
Di tahap ini, dia bisa ngayal bebas: jalan-jalan bareng, nemenin Kak Yudha manggung, duduk manis di bangku penonton.
What a life.
Sebulan udah berlalu.
“Lyd, Kak Yudha masih suka chat?” tanya Fely.
“Masih. Terakhir semalem,” jawab Lydia, tanpa balik nanya.
Sampai suatu hari —
“Lyd, lo suka onigiri?” tanya Kak Yudha lewat BBM.
Lydia langsung auto-geer.
Please jangan ajak makan bareng. Chat aja cukup.
“Suka, Kak. Kenapa?”
Besoknya, di depan kelas.
“Lyd, ini onigirinya.”
Kotak kaca.
Homemade.
Dari tangannya sendiri.
Dan rasanya? Enak, homie, walau bentuknya agak… eksperimen.
New level unlocked: dikasih bekal cowok.
.
.
.
Keesokan harinya.
Lydia ke kantin, beli cokelat buat balas budi.
Pesan BBM diketik cepat:
“Halo Kak, kotak onigirinya sudah kucuci.”
Beberapa detik kemudian muncul balasan:
“Gue ke kelas lo sekarang.”
Lydia senyum kecil. Wah, rajin banget, pikirnya.
Belum sempat napas lega, BBM baru masuk lagi.
“Lo kelas berapa?”
Lydia berhenti ngetik.
Keningnya berkerut.
Lho… baru kemarin dia ke kelas gue, kok nanya lagi?
Tapi ya sudah.
“Kelas 1A, Kak,” balas Lydia tetap sopan.
Tak lama, pesan masuk lagi:
“Keluar lo sekarang. Gue di depan.”
Nada pesannya, kok beda ya?
Lydia keluar. Deg-degan.
Yang datang ternyata… Kak Shilla.
Model.
Tinggi semampai.
Rambut badai— terlihat dari poni yang keluar dari kerudungnya.
“Lo ada hubungan apa sama Yudha?” Suara Kak Shilla dingin, menusuk.
Lydia blank.
Kalau kata geng Si Cantik-Cantik: Lydia bengong dua menit, still processing.
“Maaf, Kak.”
Itu kalimat pertama yang keluar.
“Yudha itu pacar aku, ya, sayang.”
Kata "sayang" itu terdengar seperti tamparan keras.
“Enak onigiri-nya, ya?”
Lydia diam.
Refleks menyodorkan kotak kaca itu kembali.
Tangannya gemetar.
Dan Kak Shilla pergi, meninggalkan Lydia di antara tatapan semua orang di kelas.
.
.
.
Malamnya.
“Sis, buat kamu.”
“Yeay, makasih Kak Lydia!”
Sebutan “Kak” dari Siska yang hanya muncul kalau lagi ada maunya.
Siska menyantap cokelat itu dengan lahap.
Thanks for the experience, Kak Yudha.
Bye.
Other Stories
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Aswin, Kami Menyayangimu
Aswin adalah remaja bermasalah yang terpaksa tinggal di sebuah panti asuhan karena ia tak ...
Padang Kuyang
Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...