Bab 10 Semuanya Baik-baik Saja
Hari itu tiba. Aku berada di sebuah ruangan panjang dengan dinding berwarna krem muda. Lampu neon yang menempel di langit-langit memancarkan cahaya pucat. Ruangan itu terasa sedikit hangat, hampir ramah, tapi entah kenapa setiap tarikan napas justru terasa berat dan dingin.
Aku duduk di tengah ruangan, di sebuah kursi kayu dengan sandaran berwarna hijau. Telapak tanganku terasa dingin, sedikit lembap. Jemariku bergetar pelan, tapi aku menahannya di atas pangkuan. Wajahku tetap datar, terkendali. Aku tahu semuanya akan baik-baik saja.
Di sebelah kananku duduk dua orang jaksa penuntut dengan toga hitamnya. Di sebelah kiriku, Pak Arif yang juga memakai toga hitam. Di depanku, tiga orang hakim dengan wajah muram menghadap ke arahku. Aku tidak menoleh ke belakang. Tapi aku tahu mereka ada di sana. Merry… dan adik Arya. Tangisan mereka terdengar pelan, tertahan seperti sesuatu yang dipaksa untuk tidak pecah sepenuhnya. Suara itu mengganggu. Mengacaukan ritme napasku. Aku menarik napas lebih dalam, lebih pelan. Fokus.
Sidang pun dimulai. Jaksa penuntut membacakan dakwaannya. Kata demi kata terdengar jelas, teratur, seperti sesuatu yang sudah disusun rapi untuk menjatuhkan satu orang. Aku hanya mendengarkan, tanpa ekspresi. Lalu mereka mulai menanyaiku.
Lagi.
“Saudara Rio, tolong ceritakan kepada kami semua yang ada di sini, kejadian malam itu.”
Aku menelan ludah sebentar.
“Saya dan Arya pulang lembur pukul sebelas. Kami melewati jalan pintas. Lalu di ujung gang ada dua orang mengikuti kami. Salah satunya memakai masker dan topi biru muda. Mereka menyerang, saya pingsan…dan saat bangun, Arya sudah tak bernyawa.”
Aku berhenti sejenak.
“Itu yang terjadi.”
“Anda yakin malam itu anda diserang oleh dua orang?”
“Iya.”
“Tapi anda tidak bisa mengenali mereka?”
“Tidak terlihat. Saat itu gelap.”
“Gelap?”
“Iya.”
“Lalu…topi biru itu dari mana?”
Aku terdiam sepersekian detik.
“I…Iya. Saya melihatnya.”
Jaksa itu berdiskusi dengan rekannya.
“Saya akan memanggil seorang saksi, Yang Mulia.”
Degup jantungku sedikit melambat. Pelan… namun terasa sampai ke tenggorokan. Lalu naik lagi tanpa izin.
Aku menunggu orang yang dipanggil Jaksa untuk menjadi saksi. Pintu di belakangku terbuka. Derap Langkah terdengar… tidak asing. Napasku tertahan sepersekian detik, lalu kembali ku atur seperti semula.
Aku tidak menoleh.
Belum.
Sosok itu melewatiku dan menuju ke kursi di depanku. Perlahan ia duduk, dan saat aku akhirnya mengangkat pandangan, kami berhadapan.
Joko.
Dia menatapku dengan berani. Sorot matanya memancarkan sesuatu yang terlalu yakin, hampir seperti kemenangan. Aku menatapnya kembali. Datar. Tanpa ekspresi. Jaksa mulai melempar pertanyaan.
“Saudara Joko, apakah anda mengenal dengan baik terdakwa?”
“Iya. Kami rekan satu tim, operator mesin sablon.”
“Apakah anda yang melaporkan kepada polisi mengenai pisau itu?”
“Betul.”
“Bisa tolong ceritakan?”
Joko menarik napas sebentar, lalu menatap ke arah hakim sebelum kembali ke arah ku.”
“Saya pernah melihat Rio menyembunyikan sesuatu di loker. Waktu itu saya belum tahu itu apa. Tapi seminggu yang lalu… saya melihat dia lagi. Dia memindahkan sesuatu dari loker ke Gudang kain yang sudah tidak terpakai.”
Jeda.
“Dan saat saya cek…itu pisau. Ada darahnya. Sudah mengering.”
Rahangku mengeras tipis. Jadi benar… waktu itu ada yang melihat. Bukan kesalahan. Hanya… kurang rapi. Aku mengalihkan pandangan sejenak, lalu kembali menatap lurus. Wajahku tetap tenang. Semuanya baik-baik saja.
“Saya tidak berani menyentuhnya. Lalu besoknya saya lapor polisi.” Nadanya mantap, seperti kata-kata yang sudah dilatih untuk diucapkan.
Kini giliran Pak Arif yang bertanya.
“Apakah anda mengenal korban dengan baik juga?”
“Iya. Kami masih satu tim.”
“Saya mendapat laporan bahwa sehari sebelum korban tewas, dia sempat ribut dengan anda?”
“Iya. Kami ada sedikit salah paham.”
“Bisa tolong diceritakan?”
“Waktu itu, saya disuruh mengambil kain untuk orderan PT. Asa oleh Arya. Dan ternyata orderan yang jalan hari itu adalah PT. Makmur. Saya kena marah atasan. Makanya kami sedikit ribut.” Nadanya seperti penyesalan.
Aku ingat hari itu aku menyampaikan informasi ke Arya. Tidak sepenuhnya tepat… tapi cukup.
“Jadi bukan karena korban akan diangkat jadi kepala produksi dan anda tidak terima?”
“Bukan. Tentu saja bukan. Arya bekerja jauh lebih lama daripada saya, dia pantas naik jabatan.”
“Baik, saya rasa cukup.” Ucap Pak Arif.
“Kami akan memanggil saksi ke-dua.” Suara Jaksa Penuntut kembali menggema.
Ada jeda kecil. Ruangan terasa lebih sempit dari sebelumnya. Aku tidak tahu siapa yang akan masuk. Tapi… aku berharap tidak mengenalnya.
Pintu di belakangku kembali terbuka. Derap Langkah kali ini berbeda. Lebih berat. Lebih lambat. Mendekat… lalu melewatiku… dan berhenti di kursi yang tadi diduduki Joko. Tubuh tinggi itu membungkuk saat duduk. Rambutnya dipenuhi uban, kulinya mulai keriput.
Pak Ucok, bagian Afdruk.
Kenapa dia?
Seperti sebelumnya, sumpah saksi diucapkan. Formal. Dingin. Tidak berarti apa-apa bagiku saat ini.
“Pak Ucok, bisa diceritakan siapa anda, dan hubungannya dengan kasus ini?” Tanya Jaksa.
“Nama saya Ucok. Saya bekerja di bagian Afdruk, di pabrik sablon yang sama dengan tersangka dan korban.”
Ia berhenti sebentar. Menarik napas.
“Malam itu… saya lembur di bagian Afdruk. Sekitar pukul sebelas Arya pulang terlebih dahulu sendirian. Beberapa menit kemudian disusul Rio. Dan saya di belakang Rio.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Saat di gang sempit, mereka seperti rebut. Arya berlari… Rio mengejarnya. Itu yang saya lihat.”
Ruangan terasa mengecil.
“Jadi mereka tidak pulang Bersama-sama seperti yang diceritakan terdakwa?” Tanya Jaksa.
“Tidak.”
Satu kata. Tegas. Tanpa ragu.
“Apakah anda melihat mereka berkelahi? Saling menyerang?”
“Tidak. Saya hanya melihat sampai gang sempit. Setelah itu saya berbelok. Rumah saya ke arah lain.”
“Jadi kita menemukan fakta bahwa keterangan terdakwa tidak benar. Dan dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa terdakwa tidak jujur.”
Nada suara jaksa terdengar puas.
Seolah semuanya sudah selesai.
Pak Arif berdiri.
“Pak Ucok, boleh diceritakan… hari itu anda memakai pakaian seperti apa?”
Pak Ucok mengernyit. Aku tidak tahu dia sedang mengingat… atau mulai ragu.
“Saya…”
“Apakah anda memakai topi? Jaket hijau army, mungkin?” Potong Pak Arif.
Dadaku menegang.
Iya. Itu dia. Harusnya dia. Aku melihatnya malam itu. Aku dan Arya berlari. Dia mengejar kami. Topi. Jaket. Jelas.
Ceritanya harus seperti itu.
“Saya memakai jaket hitam. Dan tidak memakai topi.”
Kalimat itu jatuh… pelan…tapi menghantam keras.
“Anda yakin?” tanya pak Arif.
“Saya yakin. Saya tidak pernah memakai topi. Saya tidak punya.”
Hening.
“Baik. Cukup.”
Pak Arif duduk kembali.
Dan kali ini ada sesuatu di dalam kepalaku yang tidak bisa langsung aku luruskan.
Jaksa penuntut kembali berdiri. Kali ini ia menghadap ke arahku.
“Baik, Pak Rio. Setelah mendengar kesaksian para saksi…. Apa bantahan anda?”
Jantungku berpacu. Keringat dingin mengaliri pelipis. Napasku terasa berat. Aku menarik napas Panjang. Mengendalikan semuanya.
“Seperti yang sudah saya katakan… Saya dan Arya dikejar seseorang. Dia memakai topi dan jaket.”
Gang sempit itu muncul lagi.
Gelap. Sempit. Napas terengah.
Arya berlari di depanku. Terlihat panik.
“sesampainya di padang rumput dekat sungai…kami dipukuli.”
Tanganku terangkat.
Mengayun.
Menghantam.
Tepat ke kepala Arya.
“Saya… pingsan.”
Arya terjatuh.
Diam.
“Saat saya bangun…tubuh Arya sudah di atas saya. Berlumuran darah.”
Pisau itu terasa di tanganku.
Naik.
Turun.
Lagi.
Lagi.
Sampai bau amis memenuhi udara.
Sampai cairan merah itu hangat di kulitku.
Sampai tubuh Arya… jatuh menindihku.
“Arya… sudah tidak bernyawa.”
Kalimat itu keluar pelan. Seolah aku baru saja mendengarnya untuk pertama kali. Isak tangis Merry yang tadi tertahan… akhirnya pecah. Tanganku masih terasa basah. Entah kenapa.
“Tapi keterangan saksi dan anda sangat berbeda. Dan hanya ada sidik jari anda di pisau itu.” Ucap jaksa lagi.
Aku menghela napas Panjang. Sekali. Dua kali. Menahan sesuatu yang mencoba naik ke permukaan.
“Seperti yang sudah saya katakan… itulah yang terjadi. Dan sidik jari… bisa direkayasa.”
Kata-kata itu keluar lebih mantap dari yang kurasakan.
“Direkayasa bagaimana?”
Nada suaranya tajam. Menyudutkan.
“Saya tidak tahu caranya.”
Aku berhenti sejenak.
“Tapi yang pasti… itu bukan saya.”
Hening. Sepersekian detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.
“Baik. Saya rasa cukup.”
Jaksa itu akhirnya duduk kembali.
Tiga hakim di depan mulai berdiskusi. Suara mereka pelan. Tidak jelas. Seperti sengaja dijauhkan dariku. Aku menunggu. Satu menit. Dua menit. Atau mungkin lebih. Waktu terasa aneh. Melar…. lalu menghilang. Tanganku terasa dingin, entah sejak kapan. Tapi aku tahu… semuanya akan baik-baik saja.
Persidangan ini sebentar lagi menemui akhirnya. Aku diminta berdiri. Sebentar lagi hakim ketua kan membacakan Amar putusan.
“berdasarkan fakta-fakta persidangan, alat bukti, dan keyakinan hakim…”
Suara itu terdengar… tapi tidak benar-benar sampai. Seolah ada jarak yang tiba-tiba tercipta.
“…Menyatakan bahwa terdakwa Rio Hermanto terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan…”
Napasku tercekat.
Satu detik.
Dua detik.
“…Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama lima belas tahun.”
Lima belas tahun.
Angka itu terdengar asing. Jauh. Seperti bukan milikku.
“…menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.”
Palu diketuk.
Sekali.
Tegas.
Mengakhiri segalanya, setidaknya bagi mereka.
Aku masih berdiri. Napasku perlahan melambat.
Telapak tanganku… mulai hangat.
Aneh. Baru saja semunya terasa dingin.
Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mereka tidak melihat apa yang aku lihat.
Dan mungkin… mereka memang tidak akan pernah mengerti.
Aku menghela napas pelan.
Semuanya….
Tetap baik-baik saja.
TAMAT
Other Stories
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...
Aswin, Kami Menyayangimu
Aswin adalah remaja bermasalah yang terpaksa tinggal di sebuah panti asuhan karena ia tak ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...