The Innocent

Reads
3
Votes
0
Parts
2
Vote
Report
The innocent
The Innocent
Penulis CaRyn

Bab 2 Masih Berjalan

Pagi datang seperti biasa. Aku menyempatkan untuk membersihkan diri sebentar sebelum pergi bekerja. Aku datang paling pagi. Menjalani rutinitas seperti hari-hari sebelumnya. Aku menyalakan mesin. Suara mesin berdengung memenuhi ruangan, ritmis, konstan, seperti tidak ada yang berubah. Bau tinta sablon yang khas menusuk hidung, bercampur dengan panas logam dan keringat. Aku berdiri di depan mesin. Tanganku bergerak otomatis, menarik, menekan, mengangkat, berulang.

Sepuluh tahun. Tubuh ini sudah hafal ritmenya tanpa peru berpikir. Semuanya berjalan seperti seharusnya. Seharusnya…

Seseorang menepuk bahuku dari belakang.

“Yo…”

Aku menoleh. Bukan dia. Tentu saja bukan. Dadaku sempat berhenti sepersekian detik ssebelum akhirnya kembali normal.

“Itu mesin lu agak miring dikit,” Kata Joko, menunjuk ke arah screen.

Aku mengangguk pelan. “Iya.”

Ia masih berdiri di situ seolah menunggu sesuatu.

“Kemarin… lu sama Arya kan?” tanyanya hati-hati.

Aku mengangkat pandangan, datar. ”Iya.”

Hening sebentar.

“Gue denger…”

“Dia meninggal.”

Kalimat itu keluar begitu saja, sangat ringan.

Joko tidak langsung menjawab. Wajahnya seperti mencari ekspresi yang tepat…dan gagal menemukannya.

“Iya…maksud gue…itu..”

“Polisi sudah tanya semuanya,” lanjutku, memotong. “Gue juga nggak lihat jelas siapa pelakunya.”

Joko akhirnya kembali ke tempatnya. Aku kembali ke mesin, menarik tuas lebih keras dari yang seharusnya. Bunyi gesekan logam terdengar lebih kasar. Seolah ada sesuatu yang tidak pas.

Arya.

Aku seharusnya merasa… kehilangan?

Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Kami mulai dari nol di tempat ini. Dari mesin yang paling tua, dari shift paling malam, dari upah yang nyaris tidak cukup. Kami tahu rasanya pulang dengan tangan kotor tinta dan kepala penuh warna. Kami tahu rasanya bertahan. Bersama… Sampai semuanya berubah. Arya menikah lebih dulu. Aku masih ingat wajahnya waktu itu, lebih ringan. Seolah akhirnya hidupnya bergerak ke arah yang benar. Lalu istrinya hamil. Dan sejak itu… sesuatu di dalam dirinya ikut berubah. Beban. Tanggung jawab. Atau mungkin…ambisi. Posisi kepala produksi hanya satu. Dan arya menginginkannya. Setidaknya itu yang terlihat.

Aku menekan kain lebih kuat dari biasanya. Tinta sedikit meleber keluar garis. Aku berhenti. Menatap hasilnya. Tidak rapi, tidak seperti biasanya. Padahal…kalau dipikir-pikir lagi… aku selalu lebih rapi dari dia. Lebih teliti, lebih konsisten. Jadi…wajar saja kalau dia merasa terancam.

Tanganku berhenti di udara. Pikiran itu datang begitu saja. Halus, masuk tanpa permisi. Aku menghela napas pelan-pelan. Tidak. Ini bukan tentang itu. Ini hanya… kejadian buruk. Dan aku… hanya saksi.

“Rio…”

Seseorang kembali menepuk bahuku. Kali ini Pak Erik, kepala Follow Up, dengan mata sipit dan kulit pucatnya, menarikku dari lamunan.

“Iya…pak.” Jawabku.

“Hari ini kamu harus selesaikan orderan PT. Makmur, sementara kamu yang pimpin produksi. Sebelum ada kepala produksi baru.”

Aku hanya mengangguk. Bahkan setelah Arya tidak ada, ia tidak mempertimbangkan aku untuk jadi kepala produksi.

“Dan Rio…” Lanjutnya sebelum kembali ke kantor. “Turut berduka cita untuk Arya. Saya tahu kalian dekat.”

Aku kembali mengangguk pelan. Seolah itu jawaban yang benar. Seolah semuanya… masih masuk akal.

Di kantin siang itu, semua berjalan seperti biasa. Normal. Semua orang duduk Bersama kelompoknya masing-masing. Dan aku sendri duduk di kursi paling pojok di kantin. Biasanya aku duduk berdua, Bersama seseorang yang seharusnya masih ada tapi sudah tak ada, Arya. Orang-orang mulai berbisik, mencuri pandang ke arahku. Terlalu cepat mengalihkan mata setiap kali aku menoleh. Seolah mereka ingin mengucapkan sesuatu, turut berduka mungkin, tapi di saat yang sama mereka mulai menunjukan sikap curiga. Itu wajar. Hanya aku yang bersama Arya malam kemarin. Mungkin mereka berspekulasi. Tapi aku hanya saksi, yang berada di waktu dan tempat yang salah. Mereka tidak tahu apa-apa, dan memang tidak perlu tahu.

Aku menuntaskan orderan PT. Makmur secepat mungkin. Tanpa cacat. Hari ini aku ingin pulang lebih cepat. Sejak malam kemarin, aku belum tidur sekejap pun. Setelah selesai, aku mengganti baju di loker karyawan. Baju itu berat oleh tinta sablon yang mengering.

Lokerku bersebelahan dengan loker Arya. Masih. Tanganku berhenti di gagang loker. Lalu…bergetar. Keringat mulai membasahi pelipisku. Ada potongan-potongan kecil yang muncul. Terlalu cepat untuk ditangkap. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Bahkan sebelum itu, Arya sudah ada, sejak masa SMA. Terlalu lama untuk hilang begitu saja.

Apakah ini rasa kehilangan atau…

Tidak.

Ini kehilangan.

Bukan yang lain.

Aku berjalan pulang menyusuri jalan besar yang dipenuhi deretan toko. Kali ini aku tidak mengambil jalan pintas. Masih terlalu berat untuk melewati jalan itu lagi. Tidak secepat ini.

Aku berjalan pelan, mengalihkan pikiran dari sesuatu yang sempat mengganggu. Lampu-lampu jalan berpendar tajam. Orang-orang berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Pedagang bersuara tanpa henti, menawarkan dagangan yang mungkin tidak benar-benar dibutuhkan. Untuk beberapa saat, pikiranku tidak berisik. Sampai aku berhenti di depan sebuah toko perlengkapan bayi. Sebuah stroller berdiri di balik kaca etalase. Bersih. Kokoh. Terlihat mahal. Aku menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Kemarin Arya sempat membahasnya. Dengan nada yang ringan, hampir seperti bercanda, meski aku tahu dia serius. Ia ingin membeli stroller seperti itu. Harganya hampir dua kali gaji bulanan operator mesin sablon. Katanya, tidak masalah. Sebentar lagi juga naik jabatan. Kepala produksi.

Tanganku mengepal tanpa sadar. Ada sesuatu yang bergerak di dalam perutku. Tidak nyaman. Mengganggu.

Apakah ini rasa iba?

Ya.

Ini pasti rasa iba.

Aku kembali menapaki jalan luas itu. Pikiranku kembali berisik. Perutku masih terasa tidak nyaman. Tanpa kusadari, lima belas menit berlalu. Aku berhenti di depan kamar kostku. Menghela napas panjang. Tanganku bertahan beberapa detik di gagang pintu, sebelum akhirnya memutarnya.

Kamu akan baik-baik saja, Rio.

Pintu terbuka pelan. Ruangan itu menyambut dengan sunyi yang biasa. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang terasa berbeda. Aku masuk dan menutup pintu di belakangku. Bunyi kunci terdengar lebih keras dari yang seharusnya. Aku melepaskan sepatu tanpa benar-benar melihat ke bawah. Meletakkannya begitu saja di dekat dinding. Baju yang kupakai terasa berat. Lengket di kulit. Aku menariknya lepas, membiarkannya jatuh ke lantai. Untuk sesaat, aku hanya berdiri di tengah ruangan.

Diam.

Seolah menunggu sesuatu. Tapi Tidak ada yang datang.

Aku menghembuskan napas pelan, lalu berjalan ke arah tempat tidur. Kasur tipis itu berderit ringan saat kutarik tubuhku ke atasnya. Aku berbaring, menatap langit-langit yang kusam.

Kosong.

Mataku terasa berat, tapi tidak benar-benar ingin terpejam.

Aku memejamkannya juga. Mencoba diam.

Mencoba tidak memikirkan apa pun.

Ada sesuatu yang tertinggal. Seperti bau logam yang samar.

Aku membuka mata. Menatap tanganku dalam gelap. Kosong. Tidak ada apa-apa. Aku menggeser tubuh, membelakangi cahaya tipis dari jendela. Menarik selimut sampai ke dada. Menutup mata lebih rapat. Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja.


Other Stories
Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Hibur Libur

Aku (Byru) mencoba mencari nikmatnya sebuah "Liburan" dengan kesehariannya yang sangatlah ...

Terlupakan

Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Plan B

Liburan tiga sahabat di desa terpencil berubah jadi mimpi buruk saat satu dari mereka meng ...

Kisah Cinta Super Hero

cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...

Download Titik & Koma