Bab 8 Semua Terkendali
Hari pertamaku sebagai kepala produksi berjalan pelan. Langkahku mantap saat memasuki area produksi. Beberapa orang berpapasan denganku. Aku hanya mengangguk kecil, menjaga ekspresi tetap datar. Terlihat biasa. Seolah tidak ada yang berubah. Namun sesuatu di dalam diriku tidak bisa sepenuhnya dibendung.
Pandanganku menyapu seluruh area produksi. Mesin-mesin yang berdengung, tumpukan kain, orang-orang yang bergerak mengikuti ritme kerja. Ini wilayahku sekarang. Semua terkendali. Aku berhenti di depan jadwal produksi hari ini, membaca sekilas, lalu mulai bekerja.
“Den, ambil kain nomor 031 di Gudang. Orderan PT. Pratama.”
“Bayu, siapkan screen sama tintanya.”
“Joko… pasang screen-nya.”
Suaraku tenang, stabil, tanpa emosi.Aku tetap berdiri di dekat mesin, menatap layar, mulai mengatur setting.
Joko tidak menjawab. Tidak mengangguk. Tidak juga menoleh. Dia hanya bekerja… dalam diam.Tanganku tetap bergerak di atas panel mesin, menekan beberapa tombol, mengatur angka-angka seperti biasa. Presisi. Terukur. Seperti tidak ada yang salah. Namun sudut mataku menangkap sesuatu. Cara Joko berdiri, terlalu kaku. Seolah-olah dia sadar sedang diperhatikan. Atau justru sengaja tidak ingin terlihat memperhatikan. Aku mengalihkan pandangan sepenuhnya ke arahnya.
“Joko.”
Kali ini suaraku sedikit lebih rendah. Bukan lebih keras, hanya… lebih tegas. Dia berhenti sepersekian detik. Lalu, tanpa menatapku, dia mulai memasang screen seperti yang kuperintahkan. Aku menatap punggungnya lebih lama dari yang seharusnya. Ada jeda di sana, kecil tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam kepalaku mulai berisik. Atau mungkin… dari awal tidak pernah benar-benar diam.
Aku memalingkan pandangan, kembali ke layar mesin. Angka-angka lebih mudah dipahami daripada manusia. Tidak berubah. Tidak berbohong. Berbeda dengan…Aku mengangkat kepala sedikit. Joko masih di sana. Bekerja seperti biasa. Memasang screen, mengencangkan, menyesuaikan posisi. Sangat rapi. Seolah dia sedang memastikan semuanya sempurna. Atau… memastikan sesuatu tidak terlihat. Dadaku terasa sedikit sesak. Tidak nyaman. Aku menghembuskan napas pelan. Berhenti…Ini konyol. Joko memang seperti itu dari dulu. Pendiam. Fokus. Tidak banyak bicara. Aku yang terlalu jauh berpikir. Aku yang…Namun pikiranku tidak benar-benar berhenti. Ada sesuatu yang mengganggu. Kecil. Tapi terus muncul. Seperti serpihan yang terselip di bawah kulit. Aku kembali menatapnya.Kali ini lebih lama. Dan untuk sesaat… Joko berhenti. Bukan karena pekerjaannya selesai. Tapi karena dia menoleh. Langsung ke arahku. Tatapan kami bertemu. Singkat. Terlalu singkat untuk disebut kebetulan. Aku segera mengalihkan pandangan, pura-pura kembali fokus pada mesin. Detak di pelipisku sedikit lebih cepat.Tidak.Tidak ada apa-apa.Dia hanya kebetulan melihat ke arah sini. Semua orang bisa melakukan itu. Tidak berarti apa-apa. Tidak mungkin dia tahu. Tanganku berhenti di atas panel. Sepersekian detik.Lalu kembali bergerak, lebih cepat dari sebelumnya. Seolah dengan begitu, pikiranku juga akan ikut tertata. Terkendali. Seperti seharusnya. Semuanya terkendali.Pisau itu sudah tidak ada. Aku sudah memastikan.Tidak mungkin ada yang menemukannya.Tidak mungkin.
***
Waktu istirahat tiba lebih cepat dari yang kukira. Atau mungkin… pikiranku yang terlalu penuh sejak tadi. Area produksi mulai sedikit lengang. Suara mesin berhenti satu per satu, menyisakan dengung samar yang menggantung di udara. Aku berjalan ke arah loker. Langkahku biasa saja. Tidak terburu-buru. Tidak juga terlalu lambat. Namun begitu berbelok di ujung lorong, Aku berhenti.
Joko.
Dia berdiri di sana. Di dekat deretan loker. Bukan di bagiannya. Bukan di tempat yang seharusnya. Jarak loker itu dengan miliknya cukup jauh untuk membuat keberadaannya di sana terasa… salah. Joko tidak menyadari kehadiranku. Atau mungkin…. dia belum sempat menyadarinya. Tangannya berada di salah satu pintu loker. Tidak terbuka sepenuhnya. Hanya sedikit. Cukup untuk membuat sesuatu di dalamnya… bisa dilihat. Atau diambil. Dadaku menegang.
“Apa yang lu lakuin di situ?” Suaraku keluar lebih cepat dari yang kurencanakan.
Joko langsung menoleh.Ada jeda.Sekilas.Lalu dia menutup pintu loker itu.
“Nyari barang,” jawabnya singkat.
Aku mendekat beberapa langkah.
“Loker lu bukan di sini.”
Dia tidak langsung menjawab. Hanya menatapku. Datar. Seolah pertanyaanku tidak cukup penting untuk dijelaskan.Atau… dia sedang memilih jawaban.
“Salah liat,” katanya akhirnya pelan. Hampir seperti tidak peduli.
Aku menahan napas sejenak. Menatapnya. Mencari sesuatu. Apa saja…. Tanda ragu. Panik. Atau sekadar kesalahan kecil.Tapi tidak ada. Wajahnya kosong. Aku tertawa kecil. Pendek.
“Jangan sampai salah lagi,” kataku ringan, seolah tidak ada apa-apa.
Seolah aku percaya. Seolah semua ini memang tidak berarti apa-apa. Joko tidak menjawab. Dia hanya melewatiku, berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Aku tetap berdiri di sana. Beberapa detik. Menatap deretan loker di depanku. Tanganku perlahan mengepal. Ini konyol. Dia cuma salah lihat. Semua orang bisa salah. Aku yang terlalu curiga. Aku yang… Pandanganku jatuh ke satu titik. Lokernya. Napas terasa lebih berat. Tidak. Tidak ada yang perlu dicek. Aku sudah memastikan semuanya.Aku tahu persis.…kan?Tanganku terangkat. Perlahan. Berhenti tepat di depan pintu loker itu. Sebelum akhirnya menyentuhnya. Aku menarik napas sebentar, lalu membukanya. Tidak ada yang berubah. Semuanya masih di tempatnya. Baju cadangan, tas kecil, botol minum.
Dan…Pisau itu.Terbungkus kain gelap, terselip di bagian belakang. Tidak mencolok. Tidak mudah terlihat. Masih ada.
Aku menghembuskan napas pelan. Bodoh. Aku terlalu jauh berpikir. Joko tidak mungkin tahu. Tidak ada yang tahu. Aku menatap benda itu lebih lama dari yang seharusnya. Entah kenapa… sekarang terasa berbeda. Seperti kehadirannya tiba-tiba menjadi terlalu nyata.Terlalu dekat.Tidak aman.Tanganku bergerak lebih dulu sebelum pikiranku selesai. Aku mengambilnya. Merasakan beratnya lagi di telapak tangan. Nyata. Terlalu nyata.Tidak. Ini tidak bisa tetap di sini. Terlalu mudah. Terlalu… terbuka. Aku menutup loker dengan cepat, lalu berjalan menjauh tanpa melihat ke belakang. Langkahku tetap stabil.Terlihat biasa. Seolah aku hanya mengambil sesuatu yang tidak penting.Aku menyusuri lorong belakang, menuju area gudang yang jarang dilewati saat jam istirahat. Sepi. Hanya suara langkahku sendiri. Aku berhenti di sudut sempit, di antara rak kain yang tinggi. Menunduk. Menyelipkan pisau itu ke dalam celah di balik tumpukan kain bagian bawah yang sudah tidak terpakai. Tertutup. Tidak terlihat. Tidak ada yang akan menemukannya di sini. Aku berdiri kembali. Menepuk tanganku pelan, seolah menghilangkan debu yang sebenarnya tidak ada.Selesai.Lebih aman. Lebih baik. Aku berbalik. Langkah pertama terasa normal. Langkah kedua… aku berhenti. Ada sesuatu. Bukan suara. Bukan juga gerakan. Hanya… perasaan. Seolah ada yang memperhatikan. Aku menoleh perlahan. Lorong itu kosong. Rak-rak kain berdiri diam, sunyi, tidak berubah.Tidak ada siapa-siapa. Aku menatap lebih lama. Mencari sesuatu yang bahkan aku tidak yakin ada. Lalu aku menghembuskan napas pelan. Menggeleng tipis. Tidak ada apa-apa. Hanya pikiranku saja.Sejak awal… memang cuma itu masalahnya. Aku memaksa kakiku melangkah lagi, meninggalkan lorong itu tanpa menoleh. Langkah demi langkah terasa kembali ringan.Terkendali.Seperti biasa.
***
Malamnya berlalu tanpa sesuatu yang berarti. Tidak ada yang mengikuti. Tidak ada yang aneh. Semuanya kembali seperti seharusnya. Aku bahkan sempat menertawakan diriku sendiri. Terlalu jauh berpikir. Terlalu banyak asumsi. Aku hanya lelah.Hanya itu.
***
Keesokan paginya, semuanya terasa normal. Aku datang lebih awal seperti biasa. Area produksi masih setengah kosong. Beberapa mesin sudah menyala, sisanya masih diam menunggu. Aku menaruh tas, menyapu pandangan sekilas ke sekitar. Tidak ada yang berbeda. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada Joko. Aku mengalihkan fokus ke pekerjaan. Lebih baik begitu. Lebih aman. Sampai suara itu datang. Bukan suara mesin. Bukan juga percakapan biasa. Lebih berat. Lebih tegas. Langkah kaki yang tidak asing… tapi juga tidak biasa terdengar di tempat ini. Aku mengangkat kepala. Beberapa orang di area produksi mulai berhenti bekerja. Saling melihat. Bingung.Dan saat aku menoleh ke arah pintu masuk, mereka sudah berdiri di sana. Beberapa orang berseragam. Tanpa pemberitahuan. Tanpa tanda apa pun sebelumnya. Datang begitu saja. Dadaku mengencang. Pelan. Tidak terlihat. Aku berdiri tegak. Menjaga ekspresi tetap datar. Tenang… Seperti tidak ada yang perlu dikhawatirkan.Seperti semuanya…masih bisa dikendalikan.
Beberapa polisi turun ke meja-meja produksi, menghampiri mesin-mesin. Ada HRD bersama mereka. Tampaknya mereka sudah mendapat izin dari HRD untuk menggeledah tempat ini. “Tetap lanjut kerja. Ini hanya pemeriksaan internal, tidak perlu panik." Ucap HRD dengan sedikit kesal.
Beberapa polisi menuju belakang, ke tempat loker. Tanganku mulai terasa dingin, pandanganku kurang fokus, hingga aku terlalu cepat mencabut kain dan menjadikan sablonnya bleberan. tinta yang melebar di kain seperti sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali. Aku menarik napas pelan berusaha menenangkan dadaku yang bergemuruh. Tenang... semua sudah aman, mereka tidak akan menemukan apa-apa.
Aku menghentikan mesin. Dan memberi isyarat untuk istirahat kepada tim ku yang lain. Aku berjalan menuju loker, untuk melihat apa yang terjadi di sana. Semuanya tampak aman. Aku tidak perlu khawatir karena memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saat akan kembali ke ruang mesin, aku melihat salah satu dari polisi itu berbicara di telpon, lalu bergegas ke belakang menuju gudang kain. Perasaan tak nyaman mulai merambat di dada. Perasaan yang keliru. Karena aku tidak ada alasan untuk gugup.Aku kembali ke mesin. Mencoba meneruskan kerjaan yang tadi sempat tertunda. Beberapa menit kemudian, polisi yang tadi berbicara di telpon datang dari arah gudang kain membawa sebuah bungkusan kecil menuju ruang HRD. Aku menatap bungkusan itu. Kain hitam dibalik plastik beningnya tampak tak asing. Rasa tak nyaman mulai merambat di seluruh tubuh. Jantungku menderu tak karuan, keringat membanjiri pelipis dan tanganku. Bau logam menusuk hidungku, lebih tajam dari sebelumnya. Tiba-tiba tanpa permisi sebuah kilatan memori begitu jelas di benakku. Bau rumput basah, bunyi logam yang mematahkan tulang, dan bau amis yang menyengat. Aku menggeleng pelan. Tidak mungkin. Aku hanya saksi. Itu faktanya.
Beberapa menit berselang polisi itu turun bersama HRD juga pak Erik dan Bos besar. Mereka…menuju ke arahku. Dan berhenti tepat satu meter di depanku.
"Rio…apa benda ini milik kamu?" Tanya pak Erik dengan hati-hati sambil mengangkat sebuah plastik bening yang berisi pisau.
Iya itu pisauku.
"Bukan." Jawabku singkat.
"Tapi sidik jari yang ada di pisau ini cocok dengan rekam sidik jari kamu yang ada di mesin absensi” kata HRD sangat yakin.
Hening sejenak.
"Saya tidak tahu. Itu bukan milik saya."
"Maaf pak Rio anda harus ikut kami ke kantor polisi, untuk memberi keterangan selanjutnya" Ucap polisi itu.
Aku mengatur napas.
"Baik. Saya akan ikut anda... Sebagai saksi."
Pandanganku menyapu seluruh area produksi. Mesin-mesin yang berdengung, tumpukan kain, orang-orang yang bergerak mengikuti ritme kerja. Ini wilayahku sekarang. Semua terkendali. Aku berhenti di depan jadwal produksi hari ini, membaca sekilas, lalu mulai bekerja.
“Den, ambil kain nomor 031 di Gudang. Orderan PT. Pratama.”
“Bayu, siapkan screen sama tintanya.”
“Joko… pasang screen-nya.”
Suaraku tenang, stabil, tanpa emosi.Aku tetap berdiri di dekat mesin, menatap layar, mulai mengatur setting.
Joko tidak menjawab. Tidak mengangguk. Tidak juga menoleh. Dia hanya bekerja… dalam diam.Tanganku tetap bergerak di atas panel mesin, menekan beberapa tombol, mengatur angka-angka seperti biasa. Presisi. Terukur. Seperti tidak ada yang salah. Namun sudut mataku menangkap sesuatu. Cara Joko berdiri, terlalu kaku. Seolah-olah dia sadar sedang diperhatikan. Atau justru sengaja tidak ingin terlihat memperhatikan. Aku mengalihkan pandangan sepenuhnya ke arahnya.
“Joko.”
Kali ini suaraku sedikit lebih rendah. Bukan lebih keras, hanya… lebih tegas. Dia berhenti sepersekian detik. Lalu, tanpa menatapku, dia mulai memasang screen seperti yang kuperintahkan. Aku menatap punggungnya lebih lama dari yang seharusnya. Ada jeda di sana, kecil tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam kepalaku mulai berisik. Atau mungkin… dari awal tidak pernah benar-benar diam.
Aku memalingkan pandangan, kembali ke layar mesin. Angka-angka lebih mudah dipahami daripada manusia. Tidak berubah. Tidak berbohong. Berbeda dengan…Aku mengangkat kepala sedikit. Joko masih di sana. Bekerja seperti biasa. Memasang screen, mengencangkan, menyesuaikan posisi. Sangat rapi. Seolah dia sedang memastikan semuanya sempurna. Atau… memastikan sesuatu tidak terlihat. Dadaku terasa sedikit sesak. Tidak nyaman. Aku menghembuskan napas pelan. Berhenti…Ini konyol. Joko memang seperti itu dari dulu. Pendiam. Fokus. Tidak banyak bicara. Aku yang terlalu jauh berpikir. Aku yang…Namun pikiranku tidak benar-benar berhenti. Ada sesuatu yang mengganggu. Kecil. Tapi terus muncul. Seperti serpihan yang terselip di bawah kulit. Aku kembali menatapnya.Kali ini lebih lama. Dan untuk sesaat… Joko berhenti. Bukan karena pekerjaannya selesai. Tapi karena dia menoleh. Langsung ke arahku. Tatapan kami bertemu. Singkat. Terlalu singkat untuk disebut kebetulan. Aku segera mengalihkan pandangan, pura-pura kembali fokus pada mesin. Detak di pelipisku sedikit lebih cepat.Tidak.Tidak ada apa-apa.Dia hanya kebetulan melihat ke arah sini. Semua orang bisa melakukan itu. Tidak berarti apa-apa. Tidak mungkin dia tahu. Tanganku berhenti di atas panel. Sepersekian detik.Lalu kembali bergerak, lebih cepat dari sebelumnya. Seolah dengan begitu, pikiranku juga akan ikut tertata. Terkendali. Seperti seharusnya. Semuanya terkendali.Pisau itu sudah tidak ada. Aku sudah memastikan.Tidak mungkin ada yang menemukannya.Tidak mungkin.
***
Waktu istirahat tiba lebih cepat dari yang kukira. Atau mungkin… pikiranku yang terlalu penuh sejak tadi. Area produksi mulai sedikit lengang. Suara mesin berhenti satu per satu, menyisakan dengung samar yang menggantung di udara. Aku berjalan ke arah loker. Langkahku biasa saja. Tidak terburu-buru. Tidak juga terlalu lambat. Namun begitu berbelok di ujung lorong, Aku berhenti.
Joko.
Dia berdiri di sana. Di dekat deretan loker. Bukan di bagiannya. Bukan di tempat yang seharusnya. Jarak loker itu dengan miliknya cukup jauh untuk membuat keberadaannya di sana terasa… salah. Joko tidak menyadari kehadiranku. Atau mungkin…. dia belum sempat menyadarinya. Tangannya berada di salah satu pintu loker. Tidak terbuka sepenuhnya. Hanya sedikit. Cukup untuk membuat sesuatu di dalamnya… bisa dilihat. Atau diambil. Dadaku menegang.
“Apa yang lu lakuin di situ?” Suaraku keluar lebih cepat dari yang kurencanakan.
Joko langsung menoleh.Ada jeda.Sekilas.Lalu dia menutup pintu loker itu.
“Nyari barang,” jawabnya singkat.
Aku mendekat beberapa langkah.
“Loker lu bukan di sini.”
Dia tidak langsung menjawab. Hanya menatapku. Datar. Seolah pertanyaanku tidak cukup penting untuk dijelaskan.Atau… dia sedang memilih jawaban.
“Salah liat,” katanya akhirnya pelan. Hampir seperti tidak peduli.
Aku menahan napas sejenak. Menatapnya. Mencari sesuatu. Apa saja…. Tanda ragu. Panik. Atau sekadar kesalahan kecil.Tapi tidak ada. Wajahnya kosong. Aku tertawa kecil. Pendek.
“Jangan sampai salah lagi,” kataku ringan, seolah tidak ada apa-apa.
Seolah aku percaya. Seolah semua ini memang tidak berarti apa-apa. Joko tidak menjawab. Dia hanya melewatiku, berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Aku tetap berdiri di sana. Beberapa detik. Menatap deretan loker di depanku. Tanganku perlahan mengepal. Ini konyol. Dia cuma salah lihat. Semua orang bisa salah. Aku yang terlalu curiga. Aku yang… Pandanganku jatuh ke satu titik. Lokernya. Napas terasa lebih berat. Tidak. Tidak ada yang perlu dicek. Aku sudah memastikan semuanya.Aku tahu persis.…kan?Tanganku terangkat. Perlahan. Berhenti tepat di depan pintu loker itu. Sebelum akhirnya menyentuhnya. Aku menarik napas sebentar, lalu membukanya. Tidak ada yang berubah. Semuanya masih di tempatnya. Baju cadangan, tas kecil, botol minum.
Dan…Pisau itu.Terbungkus kain gelap, terselip di bagian belakang. Tidak mencolok. Tidak mudah terlihat. Masih ada.
Aku menghembuskan napas pelan. Bodoh. Aku terlalu jauh berpikir. Joko tidak mungkin tahu. Tidak ada yang tahu. Aku menatap benda itu lebih lama dari yang seharusnya. Entah kenapa… sekarang terasa berbeda. Seperti kehadirannya tiba-tiba menjadi terlalu nyata.Terlalu dekat.Tidak aman.Tanganku bergerak lebih dulu sebelum pikiranku selesai. Aku mengambilnya. Merasakan beratnya lagi di telapak tangan. Nyata. Terlalu nyata.Tidak. Ini tidak bisa tetap di sini. Terlalu mudah. Terlalu… terbuka. Aku menutup loker dengan cepat, lalu berjalan menjauh tanpa melihat ke belakang. Langkahku tetap stabil.Terlihat biasa. Seolah aku hanya mengambil sesuatu yang tidak penting.Aku menyusuri lorong belakang, menuju area gudang yang jarang dilewati saat jam istirahat. Sepi. Hanya suara langkahku sendiri. Aku berhenti di sudut sempit, di antara rak kain yang tinggi. Menunduk. Menyelipkan pisau itu ke dalam celah di balik tumpukan kain bagian bawah yang sudah tidak terpakai. Tertutup. Tidak terlihat. Tidak ada yang akan menemukannya di sini. Aku berdiri kembali. Menepuk tanganku pelan, seolah menghilangkan debu yang sebenarnya tidak ada.Selesai.Lebih aman. Lebih baik. Aku berbalik. Langkah pertama terasa normal. Langkah kedua… aku berhenti. Ada sesuatu. Bukan suara. Bukan juga gerakan. Hanya… perasaan. Seolah ada yang memperhatikan. Aku menoleh perlahan. Lorong itu kosong. Rak-rak kain berdiri diam, sunyi, tidak berubah.Tidak ada siapa-siapa. Aku menatap lebih lama. Mencari sesuatu yang bahkan aku tidak yakin ada. Lalu aku menghembuskan napas pelan. Menggeleng tipis. Tidak ada apa-apa. Hanya pikiranku saja.Sejak awal… memang cuma itu masalahnya. Aku memaksa kakiku melangkah lagi, meninggalkan lorong itu tanpa menoleh. Langkah demi langkah terasa kembali ringan.Terkendali.Seperti biasa.
***
Malamnya berlalu tanpa sesuatu yang berarti. Tidak ada yang mengikuti. Tidak ada yang aneh. Semuanya kembali seperti seharusnya. Aku bahkan sempat menertawakan diriku sendiri. Terlalu jauh berpikir. Terlalu banyak asumsi. Aku hanya lelah.Hanya itu.
***
Keesokan paginya, semuanya terasa normal. Aku datang lebih awal seperti biasa. Area produksi masih setengah kosong. Beberapa mesin sudah menyala, sisanya masih diam menunggu. Aku menaruh tas, menyapu pandangan sekilas ke sekitar. Tidak ada yang berbeda. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada Joko. Aku mengalihkan fokus ke pekerjaan. Lebih baik begitu. Lebih aman. Sampai suara itu datang. Bukan suara mesin. Bukan juga percakapan biasa. Lebih berat. Lebih tegas. Langkah kaki yang tidak asing… tapi juga tidak biasa terdengar di tempat ini. Aku mengangkat kepala. Beberapa orang di area produksi mulai berhenti bekerja. Saling melihat. Bingung.Dan saat aku menoleh ke arah pintu masuk, mereka sudah berdiri di sana. Beberapa orang berseragam. Tanpa pemberitahuan. Tanpa tanda apa pun sebelumnya. Datang begitu saja. Dadaku mengencang. Pelan. Tidak terlihat. Aku berdiri tegak. Menjaga ekspresi tetap datar. Tenang… Seperti tidak ada yang perlu dikhawatirkan.Seperti semuanya…masih bisa dikendalikan.
Beberapa polisi turun ke meja-meja produksi, menghampiri mesin-mesin. Ada HRD bersama mereka. Tampaknya mereka sudah mendapat izin dari HRD untuk menggeledah tempat ini. “Tetap lanjut kerja. Ini hanya pemeriksaan internal, tidak perlu panik." Ucap HRD dengan sedikit kesal.
Beberapa polisi menuju belakang, ke tempat loker. Tanganku mulai terasa dingin, pandanganku kurang fokus, hingga aku terlalu cepat mencabut kain dan menjadikan sablonnya bleberan. tinta yang melebar di kain seperti sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali. Aku menarik napas pelan berusaha menenangkan dadaku yang bergemuruh. Tenang... semua sudah aman, mereka tidak akan menemukan apa-apa.
Aku menghentikan mesin. Dan memberi isyarat untuk istirahat kepada tim ku yang lain. Aku berjalan menuju loker, untuk melihat apa yang terjadi di sana. Semuanya tampak aman. Aku tidak perlu khawatir karena memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saat akan kembali ke ruang mesin, aku melihat salah satu dari polisi itu berbicara di telpon, lalu bergegas ke belakang menuju gudang kain. Perasaan tak nyaman mulai merambat di dada. Perasaan yang keliru. Karena aku tidak ada alasan untuk gugup.Aku kembali ke mesin. Mencoba meneruskan kerjaan yang tadi sempat tertunda. Beberapa menit kemudian, polisi yang tadi berbicara di telpon datang dari arah gudang kain membawa sebuah bungkusan kecil menuju ruang HRD. Aku menatap bungkusan itu. Kain hitam dibalik plastik beningnya tampak tak asing. Rasa tak nyaman mulai merambat di seluruh tubuh. Jantungku menderu tak karuan, keringat membanjiri pelipis dan tanganku. Bau logam menusuk hidungku, lebih tajam dari sebelumnya. Tiba-tiba tanpa permisi sebuah kilatan memori begitu jelas di benakku. Bau rumput basah, bunyi logam yang mematahkan tulang, dan bau amis yang menyengat. Aku menggeleng pelan. Tidak mungkin. Aku hanya saksi. Itu faktanya.
Beberapa menit berselang polisi itu turun bersama HRD juga pak Erik dan Bos besar. Mereka…menuju ke arahku. Dan berhenti tepat satu meter di depanku.
"Rio…apa benda ini milik kamu?" Tanya pak Erik dengan hati-hati sambil mengangkat sebuah plastik bening yang berisi pisau.
Iya itu pisauku.
"Bukan." Jawabku singkat.
"Tapi sidik jari yang ada di pisau ini cocok dengan rekam sidik jari kamu yang ada di mesin absensi” kata HRD sangat yakin.
Hening sejenak.
"Saya tidak tahu. Itu bukan milik saya."
"Maaf pak Rio anda harus ikut kami ke kantor polisi, untuk memberi keterangan selanjutnya" Ucap polisi itu.
Aku mengatur napas.
"Baik. Saya akan ikut anda... Sebagai saksi."
Other Stories
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Pulang Tanpa Diikuti
Sekar menghabiskan liburan panjang di rumah neneknya, sebuah rumah tua di desa yang menyim ...
Cinta Di Ibukota
Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Dua Tanda Baca
Di sebuah persimpangan kota yang ramai, Rafi bertemu Alyaperempuan yang selalu tersenyum l ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...