The Innocent

Reads
364
Votes
2
Parts
10
Vote
Report
Penulis CaRyn

Bab 7 Cerita Yang Beredar

Udara pagi yang lembap menemaniku berjalan menuju pabrik hari ini. Entah kenapa hari ini terasa… ringan, tapi juga sesak di saat yang sama. Tidak seperti biasanya, aku tidak datang terlalu pagi. Hari ini aku ingin menjalani semuanya dengan lebih santai.

Saat sampai di pabrik, orang-orang sudah mulai berdatangan. Biasanya aku yang paling awal. Aku berjalan ke arah loker untuk mengganti baju dengan kaos kerjaku yang penuh tinta sablon. Di tengah langkahku, beberapa orang terlihat mengobrol pelan, setengah berbisik. Aku tidak benar-benar memperhatikan… sampai beberap potong kalimat itu terdengar jelas.

“Katanya penyerangnya dua orang…”

“Pakai masker.”

Langkahku tetap berjalan, seolah taka da yang aneh. Aku melewati tiga orang lain yang duduk berdekatan. Kali ini suaranya lebih jelas.

“gara-gara jabatan… kok bisa ya setega itu.”

“Menakutkan…”

“katanya dua orang… Pakai masker semua. Tapi satu lagi siapa?”

Langkahku melambat.

Dua orang….

Aku tidak pernah bilang begitu.

…… atau pernah?

Dadaku terasa menyempit. Nafasku berubah tanpa izin. Aku menelan ludah, lalu kembali berjalan. Lebih cepat. Seolah dengan begitu, semua suara itu bisa tertinggal di belakang. Sesampainya di loker, dua orang sedang berbicara pelan. Mereka berhenti saat melihatku.

Aku tidak menoleh.

Aku membuka loker, mengganti baju, pura-pura sibuk dengan gerakan yang terlalu rapi. Tapi aku bisa merasakan tatapn mereka. Menempel. Menunggu…. Setelah aku selesai, mereka mendekat.

“Yo…untung kamu selamat,” kata salah satu dari mereka.

Aku mengangguk kecil.

“Nggak nyangka Joko bisa senekat itu,” Kata yang lain.

“gara-gara jabatan…” sambung yang pertama.

Aku tetap diam.

“Dia pakai masker…tapi tetap kamu kenal dari topinya, ya?”

Aku mengangguk lagi. Pelan.

Dua orang.

Pakai masker.

Aku menarik napas. Mungkin memang begitu. Mungkin aku hanya tidak melihatnya dengan jelas. Dan kalau semua orang mengatakan hal yang sama….

Mungkin memang itu yang sebenarnya terjadi.

***

Aku berjalan menuju mesin sablon. Hari ini ada orderan dari Silverline Studio – Brand besar yang biasanya tidak pernah masuk ke pabrik seperti ini. Sejak kemarin si Bos terlihat gelisah karena permintaan sablonnya agak sulit. Desainnya rumit. Gradasi warna yang tidak boleh meleset sedikit pun.

Saat melewati Gudang kain, suara Joko terdengar sedang berbicara di telepon. Aku tidak berniat mendengar…tapi langkahku melambat.

“…jadi kalau pakai teknik itu, hasilnya lebih tajam ya. Tapi harus dua kali proses. Oke gue paham…”

Aku diam. Dua kali proses. Sederhana… Harusnya aku juga bisa memikirkan itu.

Aku sampai di mesin sablon, mulai mempersiapkan orderan hari ini. Pak Erik datang dengan tergesa, membawa worksheet di tangannya. Wajahnya terlihat tegang.

“Klien mau warnanya seperti ini…tapi bahannya begini.” Katanya sambil menunjuk lembaran itu.

“Gradasinya harus halus. Mereka nggak mau ada perbedaan sedikit pun. Ini standar mereka.” Ia menghela napas.

“Kliennya rewel. Tapi ini brand besar. Kalau gagal, kita bisa rugi besar. Mereka ngga mau sistem klaim.”

Aku menatap lembar itu sebentar, lalu berbicara.

“Kalau pakai tinta biasa, hasilnya nggak bakal keluar, Pak…”

Aku berhenti sejenak.

“…mungkin kita bisa pakai Teknik layering. Dua tahap. Biar gradasinya lebih halus.”

Pak Erik langsung mengangguk-ngangguk.

“Iya…iya… benar juga.”

“Mungkin pakai tinta dari PT Sejahtera memang lebih mahal, tapi hasilnya lebih aman.”

Pak Erik menepuk bahuku, kali ini lebih mantap.

“Kamu cerdas, Rio. Si Bos pasti senang kita punya solusi.”

Aku mengangguk pelan.

Memang seharusnya seperti ini. Aku hanya… mengatakan apa yang perlu dikatakan.

Langkah kaki terdengar mendekat.

Joko.

“Pak Erik, saya punya solusi untuk orderan ini.” Ucapnya, napasnya sedikit terburu.

Ada jeda. Singkat.

“Kita sudah punya solusinya, Joko.” Jawab pak Erik sambil tersenyum.

Aku tidak menoleh.

Tidak perlu.

***

Hari itu orderan Silverline studio berjalan lancar, memakai Teknik yang aku usulkan… atau Teknik yang cepat aku usulkan sebelum orang lain.

Sepanjang produksi, Joko berdiri disampingku. Diam. Tatapannya terasa… terlalu lama. Aku berusaha tidak terpancing. Aku fokus pada pekerjaanku. Tinta demi tinta melekat sempurna di atas kain. Gradasi warna turun dengan halus, tanpa cacat. Tidak ada kesalahan. Tidak ada yang perlu diperbaiki. Semuanya berjalan… terlalu sempurna.

Sesekali suara mesin terdengar lebih keras dari biasanya. Berisik. Menekan. Seolah-olah ada sesuatu yang ingin menembus keluar dari kepalaku. Aku mengdipkan mata. Menarik napas pelan. Tidak apa-apa. Aku hanya terlalu fokus.

Saat semua orderan selesai, Bos besar turun langsung ke lantai produksi. Langkahnya mantap, matanya menelusuri setiap hasil sablon satu per satu.

“Good Job, Rio”

Tangannya menepuk bahuku. Untuk sesaat suara disekitarku meredam. Hanya detak jantungku sendiri yang terdengar. Terlalu keras.

Aku mengangguk kecil.

Dari sudut mataku, aku melihat Joko. Ia tidak bertepuk tangan. Tidak juga berbicara. Ia hanya menatapku… terlalu lama. Lalu tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya. Dan aku tidak harus peduli.

“Anak-anak… hari ini kalian bekerja sangat baik. Terima kasih,” suara Pak Erik terdengar, mencoba mengisi ruang yang tiba-tiba terasa berbeda.

Beberapa orang mulai berkumpul. Mesin-mesin masih berdengung pelan, seperti belum benar-benar siap berhenti.

“Dan hari ini… kami akan mengumumkan kepala produksi yang baru.”

Suara itu langsung disambut gemuruh. Bisik-bisik. Tebakan.

Beberapa nama disebut pelan. Aku berdiri diam.

“Selamat kepada Kepala Produksi baru kita… Rio Hermanto.”

Dengung mesin seakan berhenti bersamaan.

Digantikan suara tepuk tangan yang tidak sepenuhnya seragam. Sebagian terdengar tulus. Sebagian… terasa terpaksa. Aku melihat wajah-wajah di sekitarku. Ada yang tersenyum. Ada yang menatap datar. Ada yang berbisik pelan. Dan Joko… akhirnya ikut bertepuk tangan. Pelan. Terlalu pelan. Aku membalas dengan senyum tipis. Mengangguk kecil. Mengucapkan terima kasih seperlunya.

Cukup untuk terlihat… rendah hati. Padahal di dalam, sesuatu bergerak. Mengembang. Memenuhi dadaku. Hangat. Dan… memuaskan.

Memang seharusnya seperti ini.

Aku hanya mengatakan apa yang perlu dikatakan.

Melakukan apa yang perlu dilakukan.

Dan jika pada akhirnya semua ini membawaku ke sini…

…aku hanya mengambil apa yang seharusnya tidak pernah jatuh ke tangan orang lain.


Other Stories
Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

Bapakku Bukan Pengkhianat

Udin, seorang laki-laki biasa, berharap kehidupannya baik-baik saja saat para pengkhianat ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...

Permainan Mematikan: Narsistik

Delapan orang asing diculik dan dipaksa mengikuti serangkaian permainan mematikan. Tujuh d ...

...

Aroma Kebahagiaan Di Dapur

Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...

Download Titik & Koma