Bab 6 Versi Yang Dipilih
Hari ini tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Mesin tetap berdengung, ritme kerja berjalan seperti biasa, dan orang-orang tetap sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang secara langsung berubah. Tidak ada yang secara terang-terangan mencurigakan. Tapi aku tahu.. ada sesuatu yang tidak sama.
Joko.
Sejak aku tiba, aku sudah menyadari satu hal: dia tidak lagi sekadar berada di sekitar. Cara dia menjaga jarak terasa lebih terukur. Lebih… disengaja. Seolah-olah dia sedang memastikan tidak terlihat terlalu dekat, tapi juga tidak ingin kehilangan pandangan dariku. Aku memperhaikannya dari sela waktu kerja. Dia tidak banyak berbicara dengan orang lain, tidak seperti biasanya. Bahkan Ketika ada yang mencoba mengajaknya bicara, jawabannya singkat. Atau mungkin… terlalu hati-hati.
Beberapa kali aku melihatnya berpindah posisi. Tidak mencolok, tapi cukup sering untuk membuatku menyadari satu pola: Dia tidak diam. Dia bergerak… dengan tujuan. Dan entah kenapa, itu terasa seperti bukan kebetulan.
Saat waktu istirahat, aku memutuskan mendekat. Joko sedang duduk sendiri. Tangannya terlipat di atas meja, pandangannya tidak benar-benar fokus terhadap apa pun. Aku berdiri di depannya tanpa langsung berbicara.
Beberapa detik berlalu.
Lalu dia mengangkat kepala.
“Apa?” Tanyanya singkat.
Aku menatapnya sejenak sebelum menjawab.
“Cuma lihat,” Kataku, santai.
Hening sebentar.
Aku menarik kursi di dekatnya dan duduk tanpa diundang.
Joko tidak menunjukan reaksi berlebihan. Tapi aku bisa merasakan perhatiannya berubah. Leih waspada sekarang.
Aku mencondongkan sedikit tubuhku ke depan.
“Belakangan ini lu kelihatan lebih… sibuk dari biasanya.” Ucapku datar.
Joko mengernyit ringan, “Kerja memang sibuk.”
Aku mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu.
“Tapi bukan sibuk kerja yang gue maksud.”
Matanya menatapku lebih lama kali ini. Tidak langsung menjawab.
Aku melanjutkan, tetap dengan nada yang tenang.
“Kadang… ada orang yang kelihatan sibuk bukan karena pekerjaannya. Tapi karena dia lagi cari sesuatu.”
Aku berhenti sejenak.
“Pertanyaannya Cuma satu… dia nyari apa?”
Suasanan diantara kami mengendap.
Beberapa orang lewat dibelakang kami, percakapan kecil terdengar samar, tapi di meja ini hanya ada diam yang terasa lebih berat dari biasanya. Joko akhirnya menjawab, suaranya tetap datar.
“Kalau lu punya waktu buat mikir sejauh itu, berbarti lu juga tak sesibuk yang lu bilang.”
Aku tersenyum tipis.
“kadang yang paling sibuk justru yang paling banyak melihat.”
Dia tidak langsung membalas. Tapi ada jeda singkat… yang cukup untuk membuatku yakin bahwa pesan itu sampai.
Aku berdiri dari kursi perlahan. Sebelum pergi, aku sempat menatapnya sekali lagi.
“Berhati-hatilah.” Kataku, pelan.
Tidak keras. Tidak mengancam secara langsung. Tapi cukup jelas untuk dimengerti. Lalu aku melangkah pergi. Tanpa menoleh kembali. Namun dikepala ku satu hal terasa semakin jelas. Dia tahu aku memeperhatikannya. Dan dari reaksinya… dia tidak sepenuhnya tenang.
Itu saja sudah cukup.
Deru mesin perlahan melambat sebelum akhirnya diam. Aku membereskan sisa-sisa produksi yang berantakan, saat Indera mendekat untuk membantu.
“Yo… aku perhatikan ada yang nggak beres sama kamu dan dia.” ucap Indera, dagunya mengedik ke arah Joko.
Aku tersenyum tipis.
“Biasa… dia masih marah urusan tempo hari.”
“Gara-gara polisi bilang orang yang nusuk Arya pakai topi yang seperti dia pakai?” tanya Indera sambil membantuku mengepel lantai.
Aku mengangguk kecil.
“Aku yang bilang ke polisi. Malam itu orang yang nusuk Arya pakai topi seperti dia.”
“Oh…” Indera berhenti sejenak, lalu melirik ke arahku.
“Emang kamu bisa lihat topinya jelas… tapi nggak bisa lihat wajahnya?”
Gerakanku melambat. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dadaku. Pelan… tapi cukup untuk membuat napasku berubah.
“Saat itu gelap… wajahnya nggak kelihatan,” ucapku cepat.
“Tapi detail topinya sejelas itu?” tanyanya lagi, kini lebih pelan.
Aku tidak langsung menjawab. Tenggorokanku terasa kering. Tanganku yang memegang kain pel mendadak kaku, seolah lupa harus bergerak seperti apa.
“Mungkin… dia pakai masker. Entahlah.” Aku berdiri, terlalu cepat, lalu berjalan ke arah loker.
“Mungkin?” ulang Indera. “Jadi kamu nggak yakin?”
Aku membuka loker, pura-pura sibuk mengganti baju.
“Udahlah… aku nggak mau ingat malam itu lagi.”
Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku. Diam. Menunggu. Tidak percaya begitu saja.
Aku menghembuskan napas pendek, lalu berbalik.
“Kamu tahu sehari sebelum itu, Joko sama Arya sempat ribut?” tanyaku.
Indera mengangguk.
“Mereka berantem gara-gara Arya mau naik jabatan. Joko nggak terima.” Aku menatapnya, mencoba terdengar pasti.
“Waktu pulang lembur… dia udah ngebuntutin kami. Pas di tempat gelap dan sepi… dia nyerang.”
Kata-kataku mengalir lebih lancar sekarang.
Terlalu lancar.
“Itu yang terjadi.”
Indera mengernyit.
“Tapi tadi kamu bilang….”
“Sstt.” Suaraku memotongnya, sedikit lebih tajam dari yang aku inginkan.
Aku menatapnya, menahan napas sesaat.
“Itu yang sebenarnya.”
Ada jeda. Sunyi yang aneh. Bahkan aku sendiri hampir percaya. Aku menutup loker sedikit lebih keras dari seharusnya, lalu melangkah pergi.
Sebelum dia bertanya lagi…
atau sebelum aku mulai meragukan ceritaku sendiri.
Other Stories
Free Mind
KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...
Pintu Dunia Lain
Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
Lust
Bagi Maya, pernikahannya dengan Aris adalah segalanya. Ia memercayai Aris lebih dari si ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Puzzle
Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...