The Innocent

Reads
364
Votes
2
Parts
10
Vote
Report
Penulis CaRyn

Bab 3 Terkubur Dalam

Cahaya hangat menembus tirai tipis jendela kamar kost. Pagi datang dengan lembut. Aku bangkit perlahan, kepalaku masih terasa berat. Hari ini akan kembali berjalan seperti biasa. Orang-orang akan mulai melupakan peristiwa kemarin. Hidup akan kembali ringan, seperti seharusnya. Setidaknya… itu yang diharapkan.

Aku menjalani rutinitas seperti biasa. Sesampainya di tempat kerja, aku menyalakan mesin sablon. Mengecek jadwal orderan. Menyiapkan semuanya, dari mulai screen, cat, worksheet, sampai mengambil kain dari Gudang. Satu per satu operator lain mulai berdatangan. Mereka tinggal berdiri di depan mesin, melakukan bagian mereka.

Aku yang memastikan semuanya berjalan. Jika ada cacat, aku yang kena marah atasan. Aku sudah layak jadi kepala produksi.

Tapi mereka memilih Arya.

Aku terdiam sejenak.

Mungkin ini memang sudah seperti kesepakatan yang tidak pernah diucapkan. Atau… aku yang terlalu lemah.

Mesin sablon berbentuk lingkaran dengan enam kaki, seperti laba-laba. Tujuh orang untuk satu mesin. Dan aku dibgian paling penting, Setting dan kontrol. Arya biasanya berdiri disampingku. Sekarang, tempat itu diisi orang lain. Pukul delapan tepat, mesin mulai berjalan. Produksi berjalan lancar selama satu jam. Sampai Langkah tergesa mendekat.

“Rio, hentikan produksinya sekarang.”

Aku menoleh.

Pak Erik.

“Hari ini kita tidak kerja. Si Bos bilang kita harus berkabung. Kita ke pemakaman Arya.”

Ia berhenti sebentar.

“Arya dimakamkan hari ini.”

Ia langsung berlalu.

Mesin masih berdengung beberapa detik sebelum akhirnya berhenti. Sesuatu terasa berat di dadaku.

Hari ini… aku tidak bisa menghindar.

***

Membutuhkan sekitar tiga puluh menit untuk sampai di tempat pemakaman. Kami berangkat menggunakan mobil kantor, tiga unit dikerahkan. Tidak semua ikut, hanya perwakilan dari setiap bagian. Bagian operator mesin diwakili oleh aku dan Joko. Sepanjang perjalanan yang canggung, aku lebih banyak diam. Yang lain sesekali bicara lewat isyarat mata. Ada yang mencoba bercanda, meski terdengar setengah hati. Tawa mereka jatuh begitu saja, tidak benar-benar hidup.

Aku duduk di dekat pintu, barisan kedua, di dalam mobil AVP hitam. Hanya aku dan Joko di deretan ini, sedikit terpisah dari yang lain. Tiga puluh menit itu terasa lebih panjang dari yang seharusnya. Seperti waktu sengaja ditarik pelan-pelan. Atau mungkin… aku yang tidak benar-benar ingin sampai.

Akhirnya kami tiba. Pemakaman itu tidak terlalu ramai. Hanya sekitar dua puluh orang yang mengantar Arya ke peristirahatan terakhirnya. Ditambah beberapa rekan kerja dari kantor. Tidak sesak. Itu membuat segalanya terlihat lebih jelas. Aku bisa melihat Merry, istri Arya menangis tersedu tanpa terhalang apa pun. Tubuhnya sedikit membungkuk, seperti ada beban yang terlalu berat untuk ditahan sendiri. Orang-orang disekitarnya tampak terpukul, termasuk Joko. Beberapa hari lalu mereka sempat bersitegang, tapi hari ini matanya basah. Beberapa kali ia menyeka air mata dengan punggung tangan. Semua orang tampak…sebagaimana mestinya. Aku mencoba mengingat sesuatu. Apa saja. Kenangan, percakapan, tawa. Hal-hal yang seharusnya cukup untuk membuatku ikut merasa kehilangan. Aku mencoba menggali rasa itu… kosong. Aku mengigit bibirku sendiri, berharap rasa sakit bisa memancing sesuatu, apa saja. Bahkan sekedar air mata. Tapi tidak ada. Aku menarik napas, lalu menyedot hidung keras-keras, memaksa tubuhku meniru reaksi yang seharusnya muncul. Tetap tidak ada. Tangisan disekitarku terdengar… jauh. Seperti bukan untuk seseorang yang aku kenal. Aku mulai merasa ada yang salah. Bukan pada mereka. Tapi pada diriku sendiri. Aku melirik sekilas ke arah orang-orang disekitar. Tidak lama. Cukup untuk memastikan, Aku tidak boleh terlihat berbeda. Aku tidak ingin mereka berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak ingin ada yang bertanya. Karena aku sendiri tidak punya jawaban.

Pandangan mataku kembali ke depan. Ke arah liang yang perlahan menutup semuanya. Arya. Sepuluh tahun. Seharusnya ini terasa lebih dari sekedar… diam seperti ini. Aku menelan ludah. Mungkin aku memang bukan orang yang mudah menangis. Atau… memang tidak ada lagi yang bisa dirasakan.

Tanah mulai dijatuhkan satu per satu. Suaranya tumpul, berat, seperti sesuatu yang sengaja ingin dilupakan. Aku menatap liang lahat itu tanpa berkedip. Sampa tanah menutup semuanya. Rapi, sunyi. Arya… hilang begitu saja di bawah sana.

Terkubur dalam.

Bersama kenyataan dan kenangan yang seharusnya masih terasa. Aku tetap berdiri di tempatku. Menunggu sesuatu muncul. Apa saja. Tidak ada…

Setelah pemakaman selesai, satu per satu maju mengucapkan bela sungkawa. Kata-kata penghiburan dilontarkan, atau sekedar kehadiran yang dipaksakan agar terlihat cukup. Aku berdiri di barisan paling belakang. Menunggu.

Atau… menunda.

Sampai akhirnya giliranku tiba. Merry masih berdiri, perutnya yang membesar tampak semakin rapuh di tengah suasana seperti ini. Tak lama lagi ia akan melahirkan. Disampingnya, adik perempuan Arya menopang tubuhnya, seolah siap menangkap jika ia jatuh kapan saja. Saat melihatku mendekat, tangis Merry pecah. Lebih keras dari sebelumnya. Aku berhenti sesaat. Seperti kehilangan langkah berikutnya. Aku mengenal Arya dengan baik, dan mau tidak mau… Aku juga mengenal Merry cukup dekat.

“A…Apa yang sebenarnya terjadi?”

Suaranya patah. Terpotong oleh isak yang tak sempat ia tahan.

Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering tiba-tiba.

“Sabr ya, Mer… maaf…aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Aman. Netral. Kosong.

Tangis Merry semakin menjadi.

“Siapa yang tega berbuat seperti ini padanya?” Katanya di sela tangis. “Benar-benar biadab…”

Ia menutup wajahnya.

Aku tak menjawab.

“Atau…kakak bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?” Suara adik Arya masuk, lebih tenang, tapi justru terasa menekan. “Polisi tidak menjelaskan dengan jelas.”

Aku terdiam. Sepersekian detik terasa terlalu panjang. Aku bisa merasakan detak jantungku sendiri sedikit lebih cepat dari biasanya.

“Malam itu kami pulang lembur pukul sebelas. Arya mengajak pulang lewat jalan pintas agar cepat. Lalu ada beberapa orang mengejar kami. Kami berlari sampai ke dekat sungai. Mereka medaratkan pukulan, aku pingsan. Dan ketika bangun, Arya sudah tidak bernapas. Aku minta maaf.”

Aku berhenti sejenak.

Beberapa orang. Kalimat itu masih menggantung di udara. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa sedikit bergeser. Seperti bukan itu yang sebelumnya terlintas di kepalaku. Tapi mungkin aku hanya terlalu lelah. Atau… memang seperti itu kejadiannya. Aku tidak ingin memikirkannya lebih jauh.

“Siapa pelakunya, kak?”

Pertanyaan itu datang lagi. Lebih tajam. Jantungku berdetak sedikit lebih keras.

Aku menggeleng pelan.

“Maaf… aku tidak tahu.”

Dan kali ini, aku tidak ingin tahu.

“Rio… kita harus segera kembali.”

Suara Joko terdengar dari kejauhan. Aku refleks menoleh. Seperti diselamatkan.

“Iya.” Jawabku cepat.

Aku kembali menatap Merry sejenak. Mengangguk singkat. Lalu berbalik, pergi. Sebelum ada pertanyaan lain yang tak bisa aku jawab.


Other Stories
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...

Bukan Cinta Sempurna

Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...

Setelah Perayaan Itu Usai.

Amara tumbuh di sebuah dusun kecil, ditemani sahabatnya, Angga. Setiap hari mereka lalui d ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Persembahan Cinta

Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...

Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Download Titik & Koma