Aku Ingin Kau Menjadi Ibu Dari Anak-Anakku

Reads
0
Votes
0
Parts
1
Vote
Report
Aku Ingin Kau Menjadi Ibu Dari Anak-Anakku
Aku Ingin Kau Menjadi Ibu Dari Anak-Anakku
Penulis Dedi Sutisna

Aku Ingin Kau Menjadi Ibu Dari Anak-anak Ku

AKU INGIN KAU MENJADI IBU DARI ANAK-ANAKKU
Oleh: Dedi Sutisna

Suasana malam di rooftop restoran Jakarta begitu memikat—lampu kota berkelap-kelip di bawah, angin malam menyegarkan wajah yang sudah berkeringat karena kegelisahan. Rafi menatap tangan Maya yang sedang memutar gelas jus mangga, matanya penuh harap yang tak tersembunyikan.

“Maya,” ucap Rafi dengan suara yang sedikit gemetar, “kita sudah bersama tiga tahun lebih. Kamu tahu kan, bagaimana aku mencintaimu dan menghargai setiap momen bersamamu.”

Maya mengangkat pandangannya, mata coklatnya terpikat pada tatapan Rafi yang dalam. Tapi seketika, bibirnya menekuk ke bawah. “Aku tahu, Rafi. Aku juga mencintaimu dengan sepenuh hati. Tapi…”

Titik-titik koma itu seperti duri yang menusuk hati Rafi. Dia sudah menduga apa yang akan keluar dari mulut Maya. “Tapi kamu masih tak bisa menerima anak-anakku dari perkawinan lama?”

Anak kembar, Rara dan Rian, berusia lima tahun. Mereka adalah segalanya bagi Rafi. Setelah istrinya meninggal karena penyakit tiga tahun lalu, Rafi menghabiskan setiap waktu luangnya untuk mereka. Ketika dia mulai menjalin hubungan dengan Maya, seorang desainer muda yang penuh semangat, dia sudah memperkenalkan kedua anak itu sejak awal.

Maya menghela napas panjang. “Bukan aku tidak mau, Rafi. Tapi kamu tahu kan kondisi keluargaku? Ibuku selalu bilang bahwa menikah dengan duda yang sudah punya anak adalah hal yang akan membuat hidupku sulit. Dia bahkan mengancam akan memutus hubungan jika aku tetap bersamamu.”

Rafi meraih tangan Maya, erat. “Tapi itu hidup kita, bukan hidup mereka. Rara dan Rian sudah mencintaimu seperti kamu adalah ibu kandung mereka. Kamu sendiri kan juga suka bermain dengan mereka, mengajari mereka melukis, membacakan cerita sebelum tidur…”

Sensasi kehangatan yang dulu mereka rasakan bersama anak-anak itu tiba-tiba muncul kembali di benak Maya. Dia ingat betul bagaimana Rara pernah menggenggam jarinya saat sakit, atau bagaimana Rian selalu berlari ke arahnya dengan senyum lebar setiap kali dia datang ke rumah Rafi.

“Kamu tidak mengerti, Rafi!” Maya tiba-tiba naik suara, menarik tangan nya kembali. “Kemarin aku bertemu dengan ibuku dan kakakku. Mereka bahkan sudah menjodohkanku dengan teman bisnis keluarga—seorang dokter muda yang belum pernah menikah. Mereka bilang itu adalah kesempatan emas untukku.”

Rafi merasa dunia nya berputar. “Jadi kamu akan memilih mereka daripada kita? Daripada anak-anak yang sudah menyayangimu?”

Ketegangan memenuhi udara. Kedua orang itu saling menatap, mata masing-masing penuh dengan perasaan yang saling bertentangan—harapan dan ketakutan, cinta dan keterbatasan.

Maya meneteskan air mata. “Aku ingin menjadi ibu dari anak-anakmu, Rafi. Sungguh aku inginnya. Tapi bagaimana dengan impian ku untuk membangun karir sendiri? Keluargaku bilang bahwa jika aku menjadi ibu tiri, aku tidak akan punya waktu untuk pekerjaan ku. Dan aku tak bisa membayangkan hidup tanpa anak-anak kita juga…”

Rafi mendekat, menyeka air mata Maya dengan lembut. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya. Di dalamnya adalah cincin tunangan dengan desain unik—gambar dua anak yang sedang bermain dengan seorang wanita, dibuat berdasarkan sketsa yang pernah Maya buat.

“Aku tahu kamu mencintai pekerjaan mu, sayang,” ucap Rafi dengan lembut. “Dan aku tidak akan pernah meminta kamu untuk meninggalkannya. Aku sudah berbicara dengan pihak kantormu—mereka setuju untuk memberikan fleksibilitas waktu jika kamu mau. Dan tentang keluargamu… biarkan aku yang menghadapi mereka. Aku akan menunjukkan bahwa cinta kita dan perhatian kita pada anak-anak adalah hal yang indah, bukan beban.”

Maya menangis lagi, kali ini karena kebahagiaan. Dia memeluk Rafi erat, merasakan detak jantungnya yang kuat dan penuh janji.

“Kita akan menghadapinya bersama kan?” tanya Maya dengan suara mendesis.

“Selamanya,” jawab Rafi sambil memasangkan cincin pada jari Maya. “Karena aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu sebagai ibu dari anak-anak ku.”

Di bawah mereka, kota Jakarta terus bersinar, seolah menyaksikan awal dari sebuah cerita cinta yang penuh perjuangan tapi akan tetap kuat.

Other Stories
Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

Bali Before Sun Set

Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...

Kukejar Impian Besarku

Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...

Akibat Salah Gaul

Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...

Langit Di Atas Warteg Bu Sari

hari libur kita ngapain yaa ...

Cinta Di Ibukota

Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...

Download Titik & Koma