Prologue
Langit merah menggantung di atas lembah. Kabut tipis merayap rendah di antara pinus-pinus tua, Aroma tanah basah dan anyir darah bercampur di udara.
Ujung sendal Raka mendorong mayat di depannya. Wajah mayat itu menganga ke langit. Raka membungkuk, menyobek ujung baju kotor, ia menekan kain kotor ke bilah tombak, darah lama merembes di sela jarinya. Orang-orang berlari menjauh saat suara ledakan pertama terdengar di atas awan. Tiupan angin berhenti, suara hewan dan gesekan daun diantara pohon pinus menghilang.
Tangannya memegang erat tombaknya, urat lengannya menonjol. Ia menatap bekas lubang menganga di sisi lembah. Kepalanya bergerak, mendongak. Matanya menatap dua sosok berdiri saling berhadapan di langit malam. Tinggi, berjubah panjang, tanpa zirah.
Puluhan tombak hitam melayang diam di belakang sosok pertama. Di hadapannya, sosok kedua berdiri bertangan kosong. Garis awan dan kerlip bintang di belakang tubuh makhluk itu meliuk patah, terdistorsi oleh dengung rendah.
BUM.
Burung-burung hitam beterbangan dari hutan pinus. Seluruh lembah amblas, pohon-pohon pinus patah bersamaan. Batu-batu terangkat dari tanah sebelum hancur di udara. Beberapa manusia yang terlambat lari, roboh lalu memuntahkan darah.
Raka menghantamkan pangkal tombak ke tanah, mencengkeramnya erat-erat saat tubuhnya terseret. Napasnya tersengal. Matanya menyipit, menatap ke langit.
Makhluk bertombak bergerak, puluhan tombak hitam melesat turun seperti hujan.
BUMMMM.
Suara ledakan terdengar di langit, angin besar menyapu awan. Separuh puncak gunung runtuh ke dalam kabut merah. Makhluk pengendali gravitasi terpukul mundur. Tubuhnya jatuh menghantam lembah seperti meteor.
BUMMMM.
Gelombang lumpur menyapu tanah, gerobak kayu terpental. Mayat-mayat manusia berguling bersama batu dan akar pohon. Raka tetap berdiri. Lumpur mencapai lututnya saat tubuh makhluk itu terseret panjang, berhenti beberapa langkah di depan Raka.
Raka menatap lurus penguasa langit di depannya. Tubuhnya seperti manusia, kulit pucat, rambut putih panjang. Mata Raka bergeral mengikuti retakan hitam bercaya dari dari hingga leher.
Tanah di bawah tubuhnya melengkung ke bawah. Makhluk itu menoleh pelan, matanya hitam gelap. Tatapannya jatuh tepat ke arah Raka.
\"Ambil.\" Suara itu terdengar langsung di dalam kepala Raka.
Setetes darah hitam pekat keluar dari luka di dada makhluk tersebut. Darah itu melayang di udara, berdenyut pelan seperti jantung kecil.
Di kejauhan, makhluk bertombak turun dari langit. Puluhan tombak hitam di belakang tubuhnya perlahan mengarah lurus ke Raka.
Raka menggenggam tombaknya lebih erat, urat lengannya menonjol. Ia menyambar darah itu tanpa ragu. Cairan hitam bergerak liar di telapak tangannya seperti makhluk hidup. Lalu Raka menelannya.
Rasa panas menghantam tenggorokannya seperti besi cair. Tubuhnya jatuh berlutut. Tanah di bawah kedua lututnya retak.
Sesuatu bergerak liar di dalam tubuhnya. Suara ratakan tulang terdengar. Pembuluh darah di lehernya menghitam.
Makhluk bertombak mengangkat tangan, puluhan tombak hitam meluncur turun. Raka mengangkat kepalanya.
BUM. Tanah di sekeliling tubuhnya runtuh.
Tombak-tombak hitam itu jatuh sebelum menyentuhnya, menghantam lumpur seperti ditarik paksa oleh sesuatu yang tidak terlihat. Batu-batu kecil melayang di sekitar tubuh Raka. Lumpur di sekitarnya turun membentuk cekungan dalam, air yang beterbangan berhenti sesaat di udara sebelum jatuh kembali.
Makhluk bertombak berhenti berjalan. Senyum di bibirnya turun.
Raka perlahan berdiri. Udara di sekeliling tubuhnya terasa berat. Makhluk bertombak menggerakkan jarinya. Sisa tombak hitam yang masih melayang, berputar dan melesat dari segala arah. Raka mengangkat tangan kirinya.
BUM.
Seluruh tanah di depan tubuhnya runtuh. Tombak-tombak hitam itu berubah arah di udara, lalu menghantam tanah satu per satu seperti ditarik kekuatan raksasa tak terlihat.
Makhluk bertombak bergerak. Tubuhnya menghilang dari pandangan, muncul tepat di depan Raka, tangannya menggenggam tombak hitam panjang.
Tombak itu menembus bahu kiri Raka, menghancurkan tanah di belakang tubuhnya, pandangan Raka bergetar.
Makhluk itu menatapnya tanpa emosi. Lalu mencoba mencabut tombaknya kembali. Raka menggenggam batang tombak tersebut dengan satu tangan sambil menyeringai tipis. Darah mengalir dari sudut bibirnya.
BUM.
Lengan makhluk bertombak patah ke arah belakang. Tanah di bawah tubuhnya amblas. Retakan besar menyebar ke seluruh lembah.
Untuk pertama kalinya sejak perang mereka dimulai. Salah satu penguasa langit menjerit. Kabut merah di atas lembah bergetar bersama gema suaranya.
***
Other Stories
Cerita Pendekku
Firman salah satu tipe orang yang belum berani mengunkapkan perasaan yang dimiliki kepada ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
Lombok, Tempat Aku Belajar Melepaskan
Rara menghabiskan liburan sekolahnya di Lombok bersama kakak pertamanya yang telah menikah ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...