Istri Bosku Yang Paling Enak Episode 3
Di apartemen Tebet, suara kunci pintu berputar. Andi mendorong pintu masuk sambil membawa tas kerja yang basah kuyup.
Andi (suara lelah tapi riang): “Sayang, aku pulang! Hujannya deras banget, aku pulang lebih cepat dari rencana. Proyeknya sudah hampir selesai kok.”
Sinta (masih panik, suara berbisik ketakutan ke Pak Budi sambil buru-buru menarik dasternya ke bawah): “Pak! Andi pulang! Cepat! Sembunyi atau apa pun!”
Pak Budi (tersenyum tenang tapi nakal, kontolnya masih setengah tegang sebelum cepat dimasukkan kembali ke celana): “Tenang saja. Kita lihat seberapa pintar kamu menutupi jejak ini, Sinta.”
Dalam hitungan detik, Pak Budi dan Sinta bergerak cepat. Sinta buru-buru merapikan dasternya, menyeka cairan yang masih menetes di pahanya dengan tisu, dan duduk di sofa sambil berpura-pura mengatur meja. Pak Budi berdiri di dekat meja makan, pura-pura membantu membersihkan gelas-gelas kopi yang tadi mereka minum.
Andi masuk ke ruang tamu dan melihat pemandangan yang “aneh”.
Andi (mengernyit sedikit tapi masih polos): “Eh, Pak Budi masih di sini? Maaf telat, Pak. Proyeknya gimana? Saya sudah siapkan datanya di laptop.”
Pak Budi (tersenyum tenang, suaranya sangat santai): “Bagus, Andi. Kita bisa bahas sebentar. Istri kamu sangat membantu tadi. Sinta, kamu istri paling baik.”
Sinta (wajah masih merah, kakinya lemas, suaranya berusaha normal): “I-iya, Mas. Pak Budi tadi nunggu kamu lama. Saya cuma… bantu siapkan minum.”
Andi mendekat dan mencium pipi Sinta. Ia merasakan tubuh istrinya agak panas dan berkeringat, tapi mengira itu karena cuaca.
Andi (khawatir): “Kamu demam ya, Sayang? Wajahmu merah sekali. Dan… kok bajumu agak kusut?”
Sinta (gugup, menghindari tatapan suaminya): “Hujan masuk angin tadi, Mas. Saya… agak kedinginan. Capek juga nunggu kamu.”
Pak Budi (melirik Sinta sekilas dengan senyum tipis): “Iya, Andi. Cuacanya memang tidak enak. Saya duluan ya, besok kita lanjut di kantor. Terima kasih banyak atas keramahannya, Sinta.”
Sinta hanya mengangguk. Di dalam hatinya, badai sedang terjadi. Vaginanya masih berdenyut, penuh sperma kental Pak Budi yang masih menetes pelan ke celana dalamnya. Bau sex samar masih tercium di ruangan, tapi untungnya hujan deras di luar menutupi aroma itu.
Setelah Pak Budi pergi, Andi mendekati Sinta dan memeluknya dari belakang.
Andi (suara mesra, tangannya merayap ke pinggang Sinta): “Sayang, aku kangen. Malam ini kita… ya?”
Sinta (tubuhnya menegang, buru-buru menolak halus): “Mas… aku capek banget hari ini. Besok aja ya? Badanku agak pegal.”
Andi (kecewa tapi pengertian): “Ya sudah. Kamu istirahat ya. Aku mandi dulu.”
Malam itu, Sinta berbaring di samping Andi yang sudah tidur pulas. Vaginanya masih lengket dengan sisa sperma Pak Budi. Setiap kali ia bergerak, ia merasakan cairan itu mengalir lagi. Tubuhnya panas, pikirannya penuh bayangan kontol besar Pak Budi yang menghantamnya tadi. Ia tak bisa tidur.
Sinta (berbisik pelan sendiri di kegelapan): “Apa yang aku lakukan… Tapi… kenapa rasanya enak sekali?”
Keesokan paginya, setelah Andi berangkat kerja, Sinta duduk sendirian di sofa yang sama tempat ia disetubuhi semalam. Tubuhnya masih terbayang kenikmatan itu. Dengan tangan gemetar, ia mengambil ponsel dan mengetik pesan ke nomor Pak Budi.
Sinta (mengirim WA): “Kapan lagi, Pak? Saya kangen… Malam tadi masih terasa.”
Pak Budi (balas WA hampir seketika): “Besok siang di hotel dekat kantor. Kamu berani cuti setengah hari?”
Sinta (menggigit bibir, mengetik cepat): “Berani, Pak. Saya mau lagi.”
Hari-hari berikutnya, Sinta berubah. Di depan Andi ia tetap istri yang manis dan perhatian, tapi di belakang ia menjadi wanita haus nafsu. Pertemuan kedua dengan Pak Budi terjadi di sebuah hotel mewah di kawasan Thamrin.
Di kamar hotel, Sinta sudah tak sabar. Begitu pintu tertutup, ia langsung memeluk Pak Budi dan menciumnya liar.
Sinta (sambil melepas kemeja Pak Budi): “Pak… saya sudah basah dari tadi mikirin Bapak.”
Pak Budi (tertawa pelan, tangannya meremas bokong Sinta): “Jalang kecil. Kemarin baru sekali sudah ketagihan ya?”
Mereka langsung ke ranjang. Kali ini Pak Budi lebih brutal. Ia menyuruh Sinta berlutut dan mengisap kontolnya.
Pak Budi (memegang kepala Sinta): “Isap yang dalam, Sinta. Tunjukkan seberapa kangen kamu.”
Sinta (mulut penuh, suara agak teredam): “Mmm… besar… enak, Pak…”
Ia mengulum dengan rakus, lidahnya menari di kepala kontol, menjilat batangnya hingga basah penuh air liur. Pak Budi mendorong pinggulnya, memasukkan kontol lebih dalam hingga Sinta tersedak.
Setelah itu, Pak Budi meniduri Sinta dalam berbagai posisi. Missionary sambil berciuman dalam, doggy style sambil menarik rambut Sinta, hingga cowgirl di mana Sinta naik turun liar sambil payudaranya bergoyang-goyang hebat.
Sinta (erangan tak terkendali): “Enak, Pak! Lebih keras! Saya milik Bapak sekarang!”
Pak Budi (menghantam kuat): “Bilang lagi! Katakan suamimu nggak sebanding!”
Sinta (hampir menangis kenikmatan): “Andi nggak sebanding, Pak! Kontol Bapak jauh lebih enak! Saya ketagihan!”
Mereka klimaks berulang kali. Pak Budi menyemburkan spermanya berkali-kali di dalam tubuh Sinta.
Sementara itu, Andi di kantor mulai curiga. Sinta sering pulang telat dengan alasan “belanja” atau “ketemu teman”, padahal aroma parfum pria samar melekat di bajunya.
Andi (suatu malam saat makan malam): “Sayang, akhir-akhir ini kamu sering keluar ya? Ada apa?”
Sinta (berbohong dengan wajah polos): “Biasa aja, Mas. Ketemu teman lama kok.”
Tapi di dalam hati Sinta, ia sudah tak bisa berhenti. Setiap malam ia membayangkan Pak Budi, dan setiap kesempatan ia curi untuk bertemu bos suaminya itu.
Rina Amara (di studio, suara semakin intens): “Pendengar… Sinta sudah benar-benar ketagihan. Rahasia baru saja dimulai. Tapi bisakah ia terus menyembunyikannya dari Andi?”
Andi (suara lelah tapi riang): “Sayang, aku pulang! Hujannya deras banget, aku pulang lebih cepat dari rencana. Proyeknya sudah hampir selesai kok.”
Sinta (masih panik, suara berbisik ketakutan ke Pak Budi sambil buru-buru menarik dasternya ke bawah): “Pak! Andi pulang! Cepat! Sembunyi atau apa pun!”
Pak Budi (tersenyum tenang tapi nakal, kontolnya masih setengah tegang sebelum cepat dimasukkan kembali ke celana): “Tenang saja. Kita lihat seberapa pintar kamu menutupi jejak ini, Sinta.”
Dalam hitungan detik, Pak Budi dan Sinta bergerak cepat. Sinta buru-buru merapikan dasternya, menyeka cairan yang masih menetes di pahanya dengan tisu, dan duduk di sofa sambil berpura-pura mengatur meja. Pak Budi berdiri di dekat meja makan, pura-pura membantu membersihkan gelas-gelas kopi yang tadi mereka minum.
Andi masuk ke ruang tamu dan melihat pemandangan yang “aneh”.
Andi (mengernyit sedikit tapi masih polos): “Eh, Pak Budi masih di sini? Maaf telat, Pak. Proyeknya gimana? Saya sudah siapkan datanya di laptop.”
Pak Budi (tersenyum tenang, suaranya sangat santai): “Bagus, Andi. Kita bisa bahas sebentar. Istri kamu sangat membantu tadi. Sinta, kamu istri paling baik.”
Sinta (wajah masih merah, kakinya lemas, suaranya berusaha normal): “I-iya, Mas. Pak Budi tadi nunggu kamu lama. Saya cuma… bantu siapkan minum.”
Andi mendekat dan mencium pipi Sinta. Ia merasakan tubuh istrinya agak panas dan berkeringat, tapi mengira itu karena cuaca.
Andi (khawatir): “Kamu demam ya, Sayang? Wajahmu merah sekali. Dan… kok bajumu agak kusut?”
Sinta (gugup, menghindari tatapan suaminya): “Hujan masuk angin tadi, Mas. Saya… agak kedinginan. Capek juga nunggu kamu.”
Pak Budi (melirik Sinta sekilas dengan senyum tipis): “Iya, Andi. Cuacanya memang tidak enak. Saya duluan ya, besok kita lanjut di kantor. Terima kasih banyak atas keramahannya, Sinta.”
Sinta hanya mengangguk. Di dalam hatinya, badai sedang terjadi. Vaginanya masih berdenyut, penuh sperma kental Pak Budi yang masih menetes pelan ke celana dalamnya. Bau sex samar masih tercium di ruangan, tapi untungnya hujan deras di luar menutupi aroma itu.
Setelah Pak Budi pergi, Andi mendekati Sinta dan memeluknya dari belakang.
Andi (suara mesra, tangannya merayap ke pinggang Sinta): “Sayang, aku kangen. Malam ini kita… ya?”
Sinta (tubuhnya menegang, buru-buru menolak halus): “Mas… aku capek banget hari ini. Besok aja ya? Badanku agak pegal.”
Andi (kecewa tapi pengertian): “Ya sudah. Kamu istirahat ya. Aku mandi dulu.”
Malam itu, Sinta berbaring di samping Andi yang sudah tidur pulas. Vaginanya masih lengket dengan sisa sperma Pak Budi. Setiap kali ia bergerak, ia merasakan cairan itu mengalir lagi. Tubuhnya panas, pikirannya penuh bayangan kontol besar Pak Budi yang menghantamnya tadi. Ia tak bisa tidur.
Sinta (berbisik pelan sendiri di kegelapan): “Apa yang aku lakukan… Tapi… kenapa rasanya enak sekali?”
Keesokan paginya, setelah Andi berangkat kerja, Sinta duduk sendirian di sofa yang sama tempat ia disetubuhi semalam. Tubuhnya masih terbayang kenikmatan itu. Dengan tangan gemetar, ia mengambil ponsel dan mengetik pesan ke nomor Pak Budi.
Sinta (mengirim WA): “Kapan lagi, Pak? Saya kangen… Malam tadi masih terasa.”
Pak Budi (balas WA hampir seketika): “Besok siang di hotel dekat kantor. Kamu berani cuti setengah hari?”
Sinta (menggigit bibir, mengetik cepat): “Berani, Pak. Saya mau lagi.”
Hari-hari berikutnya, Sinta berubah. Di depan Andi ia tetap istri yang manis dan perhatian, tapi di belakang ia menjadi wanita haus nafsu. Pertemuan kedua dengan Pak Budi terjadi di sebuah hotel mewah di kawasan Thamrin.
Di kamar hotel, Sinta sudah tak sabar. Begitu pintu tertutup, ia langsung memeluk Pak Budi dan menciumnya liar.
Sinta (sambil melepas kemeja Pak Budi): “Pak… saya sudah basah dari tadi mikirin Bapak.”
Pak Budi (tertawa pelan, tangannya meremas bokong Sinta): “Jalang kecil. Kemarin baru sekali sudah ketagihan ya?”
Mereka langsung ke ranjang. Kali ini Pak Budi lebih brutal. Ia menyuruh Sinta berlutut dan mengisap kontolnya.
Pak Budi (memegang kepala Sinta): “Isap yang dalam, Sinta. Tunjukkan seberapa kangen kamu.”
Sinta (mulut penuh, suara agak teredam): “Mmm… besar… enak, Pak…”
Ia mengulum dengan rakus, lidahnya menari di kepala kontol, menjilat batangnya hingga basah penuh air liur. Pak Budi mendorong pinggulnya, memasukkan kontol lebih dalam hingga Sinta tersedak.
Setelah itu, Pak Budi meniduri Sinta dalam berbagai posisi. Missionary sambil berciuman dalam, doggy style sambil menarik rambut Sinta, hingga cowgirl di mana Sinta naik turun liar sambil payudaranya bergoyang-goyang hebat.
Sinta (erangan tak terkendali): “Enak, Pak! Lebih keras! Saya milik Bapak sekarang!”
Pak Budi (menghantam kuat): “Bilang lagi! Katakan suamimu nggak sebanding!”
Sinta (hampir menangis kenikmatan): “Andi nggak sebanding, Pak! Kontol Bapak jauh lebih enak! Saya ketagihan!”
Mereka klimaks berulang kali. Pak Budi menyemburkan spermanya berkali-kali di dalam tubuh Sinta.
Sementara itu, Andi di kantor mulai curiga. Sinta sering pulang telat dengan alasan “belanja” atau “ketemu teman”, padahal aroma parfum pria samar melekat di bajunya.
Andi (suatu malam saat makan malam): “Sayang, akhir-akhir ini kamu sering keluar ya? Ada apa?”
Sinta (berbohong dengan wajah polos): “Biasa aja, Mas. Ketemu teman lama kok.”
Tapi di dalam hati Sinta, ia sudah tak bisa berhenti. Setiap malam ia membayangkan Pak Budi, dan setiap kesempatan ia curi untuk bertemu bos suaminya itu.
Rina Amara (di studio, suara semakin intens): “Pendengar… Sinta sudah benar-benar ketagihan. Rahasia baru saja dimulai. Tapi bisakah ia terus menyembunyikannya dari Andi?”
Other Stories
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Rumah Nenek
Liburan memang menyenangkan. Piyan, yang berumur 9 tahun. Hanya mengerti, liburan itu adal ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...