Istri Bosku Yang Paling Enak Episode 4
Beberapa hari setelah pertemuan pertama yang penuh risiko di apartemen, kesempatan emas datang. Andi harus dinas luar kota selama tiga hari ke Surabaya untuk proyek besar perusahaan. Sinta pura-pura sedih saat mengantar suaminya ke bandara, tapi hatinya berdegup kencang karena excited.
Begitu Andi berangkat, Sinta langsung menghubungi Pak Budi.
Sinta (via telepon, suara manja): “Mas Andi sudah berangkat, Pak. Saya bebas tiga hari ini…”
Pak Budi (tertawa rendah di ujung telepon): “Bagus. Malam ini jam 7, aku jemput kamu. Kita ke hotel mewah di Thamrin. Siapkan diri ya, Sinta. Kali ini aku mau nikmati kamu sepuasnya.”
Sore harinya, Sinta mandi lama, memakai lingerie hitam seksi yang baru dibelinya diam-diam, lalu memakai dress sederhana di atasnya. Tubuhnya sudah panas sejak pagi hanya karena memikirkan Pak Budi.
Tepat jam 7 malam, Pak Budi menjemput dengan mobil mewahnya. Mereka langsung menuju hotel bintang lima di kawasan Thamrin. Di lift menuju suite di lantai tertinggi, Pak Budi sudah tak sabar. Ia menekan Sinta ke dinding lift dan menciumnya rakus.
Pak Budi (sambil meremas payudara Sinta dari luar dress): “Kamu sudah basah ya dari tadi?”
Sinta (napas tersengal): “Iya, Pak… basah sekali.”
Sesampainya di kamar suite mewah dengan king size bed, pemandangan kota malam Jakarta yang berkelap-kelip, dan jacuzzi di balkon, Sinta sudah tak bisa menahan diri. Begitu pintu tertutup, ia主动 maju, mencium Pak Budi dengan liar, tangannya melepas kancing kemeja Pak Budi satu per satu.
Sinta (sambil melepas bajunya sendiri dengan cepat): “Pak… saya sudah tak sabar. Saya mau Bapak sekarang.”
Pak Budi (tersenyum puas, membiarkan Sinta melepas pakaiannya): “Jalangnya sudah keluar ya? Bagus.”
Sinta kini hanya memakai lingerie hitam transparan. Payudaranya yang besar hampir tumpah dari bra. Ia berlutut di depan Pak Budi, membuka resleting celananya dengan rakus.
Pak Budi (memegang kepala Sinta lembut): “Bagus, Sinta. Kamu emang jago. Isap kontol bosmu yang besar ini.”
Sinta (mulutnya langsung mengulum kepala kontol Pak Budi): “Mmmhh… enak, Pak…”
Ia menjilat dari bawah ke atas dengan lidahnya yang panas, lalu mengulum dalam-dalam hingga air liurnya menetes ke lantai. Sinta yang dulu malu-malu kini menjadi sangat rakus. Ia memainkan bola-bola Pak Budi dengan tangan sambil mengisap batang kontolnya kuat-kuat, kepalanya naik turun dengan irama cepat.
Pak Budi (mengerang nikmat, tangannya memegang rambut Sinta): “Ahh… bagus sekali. Kamu emang jago ngisap. Lebih dalam, Sinta!”
Sinta berusaha memasukkan sebanyak mungkin hingga tersedak, air matanya keluar sedikit tapi ia terus melanjutkan dengan semangat. Pak Budi menahan kepalanya dan mendorong pinggulnya pelan, face-fucking Sinta dengan lembut tapi dalam.
Setelah beberapa menit, Pak Budi mengangkat Sinta dan melemparnya ke ranjang.
Pak Budi (melepas seluruh pakaiannya): “Sekarang giliran aku yang makan kamu.”
Ia membuka kaki Sinta lebar-lebar, menjilat vagina yang sudah banjir itu dengan lapar. Lidahnya menari di klitoris, dua jarinya masuk dan mengaduk titik G Sinta.
Sinta (jerit kenikmatan, tangannya mencengkeram sprei): “Aahhh! Pak! Enak sekali! Jangan berhenti… saya mau keluar!”
Sinta orgasme pertama di hotel itu datang dengan cepat. Cairannya menyembur kecil ke wajah Pak Budi.
Pak Budi (membalik tubuh Sinta ke posisi doggy style, meremas bokong montoknya kuat): “Sekarang rasakan dari belakang.”
Ia menghantamkan kontolnya yang besar dalam satu dorongan kuat.
Sinta (jerit nyaring): “Aaahhh! Besar! Penuh sekali, Pak!”
Pak Budi (menghantam ritmis sambil meremas bokong dan menampar pelan): “Enak kan? Bilang kamu milik siapa!”
Sinta (erangan tak berhenti, bokongnya bergoyang mengikuti hantaman): “Saya milik Pak Budi! Andi nggak sebanding! Lebih dalam, Pak! Hantam lebih keras!”
Mereka berganti posisi ke cowgirl. Sinta naik di atas, menggoyang pinggulnya liar. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang mengikuti gerakan naik turunnya. Pak Budi meremas dan menjepit putingnya.
Sinta (mata setengah terpejam, suara parau): “Ahh… ahh… saya suka posisi ini… kontol Bapak nabrak di dalam banget!”
Pak Budi (dari bawah menghentak ke atas): “Goyang lebih cepat, jalangku!”
Setelah itu, missionary. Mereka berciuman dalam sambil Pak Budi menghantam pelan tapi sangat dalam. Tubuh mereka basah keringat, cairan cinta menetes ke sprei.
Sinta (berulang kali berteriak): “Saya milik Pak Budi sekarang… Andi nggak sebanding! Saya ketagihan kontol Bapak!”
Mereka melakukan beberapa ronde panjang. Di jacuzzi balkon, di sofa ruang tamu suite, bahkan berdiri menempel di jendela kaca dengan pemandangan kota. Sinta orgasme berkali-kali, suaranya sudah serak.
Pak Budi (saat ronde terakhir, menyemburkan sperma di dalam rahim Sinta lagi): “Ini untuk kamu, Sinta. Isi penuh.”
Mereka berbaring kelelahan, tubuh saling peluk. Tapi di tengah kenikmatan itu, ponsel Sinta bergetar. Andi menelepon dari Surabaya.
Andi (via telepon, suara khawatir): “Sayang, kamu baik-baik saja kan di rumah? Aku kangen. Besok aku usahakan pulang lebih cepat.”
Sinta (berusaha suaranya normal, tapi masih ngos-ngosan): “Iya, Mas… aku baik-baik saja. Kamu hati-hati ya di sana.”
Setelah telepon ditutup, Sinta memandang Pak Budi dengan tatapan campur aduk rasa bersalah dan nafsu yang masih membara.
Sinta (berbisik): “Pak… saya takut ketahuan… tapi saya nggak mau berhenti.”
Pak Budi (tersenyum sambil meraba payudara Sinta lagi): “Rahasia ini baru mulai, Sinta. Masih banyak yang bisa kita lakukan.”
Rina Amara (di studio, suara dramatis): “Pendengar… Sinta semakin tenggelam dalam kenikmatan terlarang. Tapi telepon dari Andi membuatnya sadar betapa berbahayanya permainan ini. Apakah ia bisa berhenti? Atau justru semakin berani?”
Begitu Andi berangkat, Sinta langsung menghubungi Pak Budi.
Sinta (via telepon, suara manja): “Mas Andi sudah berangkat, Pak. Saya bebas tiga hari ini…”
Pak Budi (tertawa rendah di ujung telepon): “Bagus. Malam ini jam 7, aku jemput kamu. Kita ke hotel mewah di Thamrin. Siapkan diri ya, Sinta. Kali ini aku mau nikmati kamu sepuasnya.”
Sore harinya, Sinta mandi lama, memakai lingerie hitam seksi yang baru dibelinya diam-diam, lalu memakai dress sederhana di atasnya. Tubuhnya sudah panas sejak pagi hanya karena memikirkan Pak Budi.
Tepat jam 7 malam, Pak Budi menjemput dengan mobil mewahnya. Mereka langsung menuju hotel bintang lima di kawasan Thamrin. Di lift menuju suite di lantai tertinggi, Pak Budi sudah tak sabar. Ia menekan Sinta ke dinding lift dan menciumnya rakus.
Pak Budi (sambil meremas payudara Sinta dari luar dress): “Kamu sudah basah ya dari tadi?”
Sinta (napas tersengal): “Iya, Pak… basah sekali.”
Sesampainya di kamar suite mewah dengan king size bed, pemandangan kota malam Jakarta yang berkelap-kelip, dan jacuzzi di balkon, Sinta sudah tak bisa menahan diri. Begitu pintu tertutup, ia主动 maju, mencium Pak Budi dengan liar, tangannya melepas kancing kemeja Pak Budi satu per satu.
Sinta (sambil melepas bajunya sendiri dengan cepat): “Pak… saya sudah tak sabar. Saya mau Bapak sekarang.”
Pak Budi (tersenyum puas, membiarkan Sinta melepas pakaiannya): “Jalangnya sudah keluar ya? Bagus.”
Sinta kini hanya memakai lingerie hitam transparan. Payudaranya yang besar hampir tumpah dari bra. Ia berlutut di depan Pak Budi, membuka resleting celananya dengan rakus.
Pak Budi (memegang kepala Sinta lembut): “Bagus, Sinta. Kamu emang jago. Isap kontol bosmu yang besar ini.”
Sinta (mulutnya langsung mengulum kepala kontol Pak Budi): “Mmmhh… enak, Pak…”
Ia menjilat dari bawah ke atas dengan lidahnya yang panas, lalu mengulum dalam-dalam hingga air liurnya menetes ke lantai. Sinta yang dulu malu-malu kini menjadi sangat rakus. Ia memainkan bola-bola Pak Budi dengan tangan sambil mengisap batang kontolnya kuat-kuat, kepalanya naik turun dengan irama cepat.
Pak Budi (mengerang nikmat, tangannya memegang rambut Sinta): “Ahh… bagus sekali. Kamu emang jago ngisap. Lebih dalam, Sinta!”
Sinta berusaha memasukkan sebanyak mungkin hingga tersedak, air matanya keluar sedikit tapi ia terus melanjutkan dengan semangat. Pak Budi menahan kepalanya dan mendorong pinggulnya pelan, face-fucking Sinta dengan lembut tapi dalam.
Setelah beberapa menit, Pak Budi mengangkat Sinta dan melemparnya ke ranjang.
Pak Budi (melepas seluruh pakaiannya): “Sekarang giliran aku yang makan kamu.”
Ia membuka kaki Sinta lebar-lebar, menjilat vagina yang sudah banjir itu dengan lapar. Lidahnya menari di klitoris, dua jarinya masuk dan mengaduk titik G Sinta.
Sinta (jerit kenikmatan, tangannya mencengkeram sprei): “Aahhh! Pak! Enak sekali! Jangan berhenti… saya mau keluar!”
Sinta orgasme pertama di hotel itu datang dengan cepat. Cairannya menyembur kecil ke wajah Pak Budi.
Pak Budi (membalik tubuh Sinta ke posisi doggy style, meremas bokong montoknya kuat): “Sekarang rasakan dari belakang.”
Ia menghantamkan kontolnya yang besar dalam satu dorongan kuat.
Sinta (jerit nyaring): “Aaahhh! Besar! Penuh sekali, Pak!”
Pak Budi (menghantam ritmis sambil meremas bokong dan menampar pelan): “Enak kan? Bilang kamu milik siapa!”
Sinta (erangan tak berhenti, bokongnya bergoyang mengikuti hantaman): “Saya milik Pak Budi! Andi nggak sebanding! Lebih dalam, Pak! Hantam lebih keras!”
Mereka berganti posisi ke cowgirl. Sinta naik di atas, menggoyang pinggulnya liar. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang mengikuti gerakan naik turunnya. Pak Budi meremas dan menjepit putingnya.
Sinta (mata setengah terpejam, suara parau): “Ahh… ahh… saya suka posisi ini… kontol Bapak nabrak di dalam banget!”
Pak Budi (dari bawah menghentak ke atas): “Goyang lebih cepat, jalangku!”
Setelah itu, missionary. Mereka berciuman dalam sambil Pak Budi menghantam pelan tapi sangat dalam. Tubuh mereka basah keringat, cairan cinta menetes ke sprei.
Sinta (berulang kali berteriak): “Saya milik Pak Budi sekarang… Andi nggak sebanding! Saya ketagihan kontol Bapak!”
Mereka melakukan beberapa ronde panjang. Di jacuzzi balkon, di sofa ruang tamu suite, bahkan berdiri menempel di jendela kaca dengan pemandangan kota. Sinta orgasme berkali-kali, suaranya sudah serak.
Pak Budi (saat ronde terakhir, menyemburkan sperma di dalam rahim Sinta lagi): “Ini untuk kamu, Sinta. Isi penuh.”
Mereka berbaring kelelahan, tubuh saling peluk. Tapi di tengah kenikmatan itu, ponsel Sinta bergetar. Andi menelepon dari Surabaya.
Andi (via telepon, suara khawatir): “Sayang, kamu baik-baik saja kan di rumah? Aku kangen. Besok aku usahakan pulang lebih cepat.”
Sinta (berusaha suaranya normal, tapi masih ngos-ngosan): “Iya, Mas… aku baik-baik saja. Kamu hati-hati ya di sana.”
Setelah telepon ditutup, Sinta memandang Pak Budi dengan tatapan campur aduk rasa bersalah dan nafsu yang masih membara.
Sinta (berbisik): “Pak… saya takut ketahuan… tapi saya nggak mau berhenti.”
Pak Budi (tersenyum sambil meraba payudara Sinta lagi): “Rahasia ini baru mulai, Sinta. Masih banyak yang bisa kita lakukan.”
Rina Amara (di studio, suara dramatis): “Pendengar… Sinta semakin tenggelam dalam kenikmatan terlarang. Tapi telepon dari Andi membuatnya sadar betapa berbahayanya permainan ini. Apakah ia bisa berhenti? Atau justru semakin berani?”
Other Stories
The Last Escape
The Last Escape, Berawal dari rencana liburan oleh 15 sekawan dari satu universitas, untuk ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...
Bayang Bayang
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Langit Di Atas Warteg Bu Sari
hari libur kita ngapain yaa ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...