1
SATU jam sebelum gerilyawan Maois menyerang pos tentara Gurkha di Thankot pada malam final Piala Dunia, Chanira Tharu yang berusia sembilan tahun, terpaksa harus mengantarkan sebuah kotak hitam kepada Kopral Faneel dengan berlari sejauh 3 km di medan yang penuh ranjau. Ranjau-ranjau itu hanya dianggap Chanira seperti petasan yang biasa ia mainkan di desa, karena badan dan kakinya telah diolesi dengan ramuan ajaib dari para dhami—hasil rapalan doa dan mantra—yang konon bisa membikin penggunanya menjadi kuat dan kebal. Dengan rasa percaya diri, Chanira hampir saja meledakkan tubuh anjing militer karena langkahnya yang tergesa-gesa. Ia juga hampir membikin tubuh babi hutan terbakar akibat ledakan. Namun, alih-alih memikirkan kemungkinan terburuk apabila dirinya terkena ranjau, ia malah memikirkan bahwa jika babi hutan tersebut benar-benar terpanggang, ia bisa menjualnya kepada oknum polisi dan tentara Gurkha untuk dihidangkan saat menonton final Piala Dunia.
Beberapa oknum polisi dan tentara Gurkha memang sedang dilanda penyakit demam Piala Dunia, terutama Kopral Faneel.
“Yang gila bola, jangan lupa datang ke Pos Bengala. Kita nonton bareng final Brazil vs Jerman. Kita adakan judi,” kata Kopral Faneel ketika mengundang oknum polisi dan tentara lainnya secara sembunyi-sembunyi dua hari yang lalu.
Undangan tersebut juga ditujukan kepada beberapa prajurit di timnya yang baru saja berhasil memukul mundur gerilyawan Maois di perbatasan Thankot. Atas keberhasilan itu, mereka hendak merayakan sebuah pesta kecil-kecilan, meskipun selalu diperingatkan oleh Jenderal untuk tidak cepat berpuas diri sebelum kedua kubu menyepakati perjanjian damai.
Pada mulanya, tak ada tanda-tanda bahaya atau pun firasat buruk dari Kopral Faneel beserta oknum polisi dan tentara Gurkha lainnya bahwa gerilyawan Maois akan menyerang wilayah mereka pada malam itu. Beberapa prajurit yang menjaga gerbang utama pun ikut ke Pos Bengala untuk menonton pertandingan final Piala Dunia.
Ketika waktu yang ditunggu-tunggu hampir tiba, Kopral Faneel mengangkat televisi berukuran 14 inci yang ia sembunyikan di bawah meja. Total ada sepuluh orang di pos itu, mulai dari prajurit hingga Kopral. Mereka duduk berimpit-impitan di Pos Bengala yang diterangi lampu bohlam oranye, cahayanya remang-remang. Di sana, mereka juga menggunjal sekotak daaru untuk dinikmati bersama cerutu di depan televisi sambil menunggu siaran langsung final Piala Dunia, serta menunggu kedatangan Chanira.
Chanira sudah memiliki firasat buruk bahwa kamp tentara Gurkha akan diserang habis-habisan dalam waktu dekat. Firasat itu muncul setelah ia melihat kebiasaan orang-orang di Pos Bengala yang gemar berjudi. Malam itu, Chanira mengetahui rencana orang-orang Maois untuk melancarkan serangan yang lebih besar, sehingga ia terpaksa harus melakukan misi terakhirnya dengan mengantar kotak hitam.
Perjalanan Chanira dari Pos Elang yang terletak di dekat sarang Maois menuju Pos Bengala yang merupakan pos penting dalam pengawalan pusat administrasi kota, sungguh sangat mengerikan. Terlebih, pada malam itu, Chanira melakukan perjalanan seorang diri tanpa arahan dari ketua tim. Ia hanya dipandu oleh anjing militer.
Di tengah-tengah perjalanan, terkadang Chanira merasa ingin menyerah. Namun setiap kali perasaan tersebut muncul, ia kembali memikirkan orang-orang yang menjadi tempatnya pulang. Melalui pikiran itu, Chanira teringat akan nasihat Ama: untuk meneguhkan hati dan membangkitkan semangat, ia harus bernyanyi dengan penuh khidmat, seperti para pahlawan.
Di tengah-tengah bising ledakan, gonggong anjing, dan koak gagak, terdengar suara Chanira yang lembut. Namun, tegas, “Bairi saru hara’un, santa ho’un sabai bighna byatha … sri hos thulo hami gorkhali.”
Sementara Chanira telah selesai menyanyikan lagu nasional Nepal: Shreeman Gambhir, orang-orang di Pos Bengala semakin asyik menonton sambil memberikan dukungan kepada tim yang mereka pertaruhkan.
“Ayo, umpan, terobos, yah, yah!” Kopral Faneel bersorak sambil menunjuk-nunjuk pemain Brazil bergigi tonggos itu saat sedang menggiring bola. Dan semua orang di pos yang mendukung timnas Brazil mengikuti aksi serupa, sementara mereka yang mendukung tim Panser Jerman tengah sibuk mengata-ngatai dan menyumpahi pemain Brazil itu agar kembali bermain lemas, seperti yang terjadi pada final Piala Dunia empat tahun yang lalu.
Sejurus kemudian, Kopral Faneel menaikkan volume televisi, maksud hati untuk mengolok-olok pendukung Jerman bahwa pada malam itu mereka akan menerima kekalahan telak dari Brazil, dan Kopral Faneel akan mendapat untung banyak dari judi. Volume televisi pun sudah berada di posisi paling maksimum sehingga suara sang komentator semakin terdengar jelas: Ronaldo Nazario … Ronaldo Nazario berlari menerima umpan dari Rivaldo dan … GOOOL! Brazil memimpin 1-0 berkat gol Ronaldo Nazario di menit ke-67 ….
Suara itu membikin Kopral Faneel dan para pendukung Brazil bersorak kegirangan, juga membikin para pendukung Jerman mengumpat-umpat untuk melampiaskan kekesalan.
Lalu, pada menit ke-68, ketika Kopral Faneel bersama rekan-rekannya masih bersorak begitu lantang, terdengar suara bom yang begitu menggelegar. Ledakan itu mengguncang tanah dan beton, seolah sedang terjadi gempa bumi, menyebabkan jantung orang-orang yang berada di pos itu berdetak tidak karuan. Kesenangan mereka seketika sirna, hangus dibakar tragedi. Suara bom yang begitu menggelegar itu pun disusul dengan suara runtuhnya gerbang utama Thankot. Kemudian, suara itu disusul lagi dengan suara tembakan bertubi-tubi dan teriakan para polisi dan tentara Gurkha.
“KERAHKAN SELURUH PASUKAN! KITA DISERANG! KITA DISERANG!”
Beberapa oknum polisi dan tentara Gurkha memang sedang dilanda penyakit demam Piala Dunia, terutama Kopral Faneel.
“Yang gila bola, jangan lupa datang ke Pos Bengala. Kita nonton bareng final Brazil vs Jerman. Kita adakan judi,” kata Kopral Faneel ketika mengundang oknum polisi dan tentara lainnya secara sembunyi-sembunyi dua hari yang lalu.
Undangan tersebut juga ditujukan kepada beberapa prajurit di timnya yang baru saja berhasil memukul mundur gerilyawan Maois di perbatasan Thankot. Atas keberhasilan itu, mereka hendak merayakan sebuah pesta kecil-kecilan, meskipun selalu diperingatkan oleh Jenderal untuk tidak cepat berpuas diri sebelum kedua kubu menyepakati perjanjian damai.
Pada mulanya, tak ada tanda-tanda bahaya atau pun firasat buruk dari Kopral Faneel beserta oknum polisi dan tentara Gurkha lainnya bahwa gerilyawan Maois akan menyerang wilayah mereka pada malam itu. Beberapa prajurit yang menjaga gerbang utama pun ikut ke Pos Bengala untuk menonton pertandingan final Piala Dunia.
Ketika waktu yang ditunggu-tunggu hampir tiba, Kopral Faneel mengangkat televisi berukuran 14 inci yang ia sembunyikan di bawah meja. Total ada sepuluh orang di pos itu, mulai dari prajurit hingga Kopral. Mereka duduk berimpit-impitan di Pos Bengala yang diterangi lampu bohlam oranye, cahayanya remang-remang. Di sana, mereka juga menggunjal sekotak daaru untuk dinikmati bersama cerutu di depan televisi sambil menunggu siaran langsung final Piala Dunia, serta menunggu kedatangan Chanira.
Chanira sudah memiliki firasat buruk bahwa kamp tentara Gurkha akan diserang habis-habisan dalam waktu dekat. Firasat itu muncul setelah ia melihat kebiasaan orang-orang di Pos Bengala yang gemar berjudi. Malam itu, Chanira mengetahui rencana orang-orang Maois untuk melancarkan serangan yang lebih besar, sehingga ia terpaksa harus melakukan misi terakhirnya dengan mengantar kotak hitam.
Perjalanan Chanira dari Pos Elang yang terletak di dekat sarang Maois menuju Pos Bengala yang merupakan pos penting dalam pengawalan pusat administrasi kota, sungguh sangat mengerikan. Terlebih, pada malam itu, Chanira melakukan perjalanan seorang diri tanpa arahan dari ketua tim. Ia hanya dipandu oleh anjing militer.
Di tengah-tengah perjalanan, terkadang Chanira merasa ingin menyerah. Namun setiap kali perasaan tersebut muncul, ia kembali memikirkan orang-orang yang menjadi tempatnya pulang. Melalui pikiran itu, Chanira teringat akan nasihat Ama: untuk meneguhkan hati dan membangkitkan semangat, ia harus bernyanyi dengan penuh khidmat, seperti para pahlawan.
Di tengah-tengah bising ledakan, gonggong anjing, dan koak gagak, terdengar suara Chanira yang lembut. Namun, tegas, “Bairi saru hara’un, santa ho’un sabai bighna byatha … sri hos thulo hami gorkhali.”
Sementara Chanira telah selesai menyanyikan lagu nasional Nepal: Shreeman Gambhir, orang-orang di Pos Bengala semakin asyik menonton sambil memberikan dukungan kepada tim yang mereka pertaruhkan.
“Ayo, umpan, terobos, yah, yah!” Kopral Faneel bersorak sambil menunjuk-nunjuk pemain Brazil bergigi tonggos itu saat sedang menggiring bola. Dan semua orang di pos yang mendukung timnas Brazil mengikuti aksi serupa, sementara mereka yang mendukung tim Panser Jerman tengah sibuk mengata-ngatai dan menyumpahi pemain Brazil itu agar kembali bermain lemas, seperti yang terjadi pada final Piala Dunia empat tahun yang lalu.
Sejurus kemudian, Kopral Faneel menaikkan volume televisi, maksud hati untuk mengolok-olok pendukung Jerman bahwa pada malam itu mereka akan menerima kekalahan telak dari Brazil, dan Kopral Faneel akan mendapat untung banyak dari judi. Volume televisi pun sudah berada di posisi paling maksimum sehingga suara sang komentator semakin terdengar jelas: Ronaldo Nazario … Ronaldo Nazario berlari menerima umpan dari Rivaldo dan … GOOOL! Brazil memimpin 1-0 berkat gol Ronaldo Nazario di menit ke-67 ….
Suara itu membikin Kopral Faneel dan para pendukung Brazil bersorak kegirangan, juga membikin para pendukung Jerman mengumpat-umpat untuk melampiaskan kekesalan.
Lalu, pada menit ke-68, ketika Kopral Faneel bersama rekan-rekannya masih bersorak begitu lantang, terdengar suara bom yang begitu menggelegar. Ledakan itu mengguncang tanah dan beton, seolah sedang terjadi gempa bumi, menyebabkan jantung orang-orang yang berada di pos itu berdetak tidak karuan. Kesenangan mereka seketika sirna, hangus dibakar tragedi. Suara bom yang begitu menggelegar itu pun disusul dengan suara runtuhnya gerbang utama Thankot. Kemudian, suara itu disusul lagi dengan suara tembakan bertubi-tubi dan teriakan para polisi dan tentara Gurkha.
“KERAHKAN SELURUH PASUKAN! KITA DISERANG! KITA DISERANG!”
Other Stories
Filosofi Sampah (catatan Seorang Pemulung)
Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...
Kumpulan Cerpen
cerpen yang unik unik aja tanpa ada batas ...
Sweet Haunt
Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...
After Honeymoon (17+)
Dipaksa menikah demi ambisi keluarga, Kirana dan Rhea terjebak dalam pernikahan tanpa cint ...
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...