Tirmo Ghar

Reads
1
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

11

MEREKA bertiga tidak dapat melanjutkan perjalanan untuk sementara waktu karena kondisi kaki Kamal, sehingga mereka hanya bisa duduk bersembunyi di sela-sela rerumputan kering sambil menunggu pertolongan. Muto segera mencari pertolongan dengan pergi ke pos terdekat.

Setelah Muto pergi, Kamal dan Prabin saling menatap satu sama lain. Lalu, mereka bertengkar di tengah padang rumput yang kering. Kata-kata kasar dan kalimat-kalimat pembelaan terlontar dengan begitu lantang.

“Sudah kubilang si juling itu tidak berguna! Kau sebagai ketua juga tidak berguna!”

“Kau selalu saja menyalahkan orang lain!”

“Memang semua itu kesalahan kalian! Lebih baik aku bertugas bersama monyet Nepal!”

“Tidak seharusnya kau bicara seperti itu!”

Kemudian, Kamal dan Prabin melanjutkan perkelahian dengan saling beradu tinju.

Chanira sangat sakit hati setelah mendengar ucapan Prabin, tetapi alih-alih bersedih dan mengingat kalimat-kalimat buruk seperti biasanya, kali ini ia merasa marah. Sangat marah. Barangkali dewa, roh para leluhur, dan roh alam sekarang telah mengizinkannya untuk marah, pikir Chanira. Bukan hanya marah atas ucapan Prabin, Chanira juga marah terhadap dirinya sendiri. Dan kemarahan itu semakin membangkitkan keberaniannya untuk bertindak. Rasa marah itu mendorong tindakannya untuk mengambil peta yang Kamal letakkan di bawah sekumpulan batu kerikil secara diam-diam, lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka. Chanira bertekad untuk me-lakukan tugas itu sendirian; sekaligus membuktikan bahwa dirinya berguna; sekaligus memanggil tenaga medis untuk menolong Kamal; sekaligus menghapus rasa bersalahnya. Chanira mau menanggung beban pekerjaan itu sendirian.

Di bawah terik matahari yang membikin panas kepalanya, Chanira berjalan sendirian. Ia, melalui insting asal-asalan saat membaca peta, melewati jalan di dekat area hutan di perbatasan wilayah Naubise. Ia menebak-nebak agar tidak terjebak dalam perangkap musuh yang sedang bersembunyi di balik lebatnya pepohonan.

“Apa benar ini jalannya?” gumam Chanira sambil terus melihat peta, lalu berjalan ke dekat area hutan, kemudian kembali ke peta lagi. Bolak-balik ia mencocokkan untuk memilih jalan yang tepat.

Sudah barang tentu Chanira masih belum bisa membaca peta sehingga menyebabkan dirinya tersesat. Alih-alih mendapati jalan yang dapat dilalui, ia malah sampai ke area perbukitan yang terjal. Beruntung, berkat ingatannya yang kuat, ia kembali menyusuri jejaknya untuk kembali ke posisi awal di dekat perbatasan wilayah Naubise. Namun, setelah berhasil kembali ke titik itu, Kopral Faneel bersama Muto, serta Prabin dan Kamal, sudah duduk di depan mobil bersama tenaga medis.

“Oh, jadi si kepala kosong tidak berguna ini mau membuktikan kalau dirinya berguna? Acha? Lucu sekali!” bentak Kopral Faneel sembari mengarahkan senapannya ke dahi Chanira.

Chanira yang terkejut sekaligus takut, segera berlutut di hadapan Kopral Faneel. “Ma-maaf Kopral Faneel … kshama garhunos. Kshama ….”

Kopral Faneel tidak peduli dengan apa yang baru saja dikatakan Chanira. Ia lalu membawa mereka kembali ke kamp tentara Gurkha. Setelah kembali, karena dianggap telah melalaikan tugas sehingga menggagalkan misi, Sersan Singh sangat marah dan melarang mereka menjalankan misi selama tujuh hari. Chanira, Kamal, dan Prabin juga akan mendapatkan hukuman dari Sersan Singh.

Chanira, Kamal, dan Prabin dihukum untuk membersihkan semua tenda dan pos tentara Gurkha dan polisi. Mereka tidak saling berbicara. Dari raut wajah Kamal dan Prabin, begitu jelas menampakkan ekspresi kesal. Mereka melakukan tugas bersih-bersih itu sampai menjelang malam. Saat waktu malam tiba, Prabin pergi lebih dulu ke tenda untuk beristirahat. Sementara itu, Chanira dan Kamal masih duduk di luar di dekat Pos Bengala yang baru saja mereka bersihkan.

“Kamal, maaf atas apa yang sudah aku lakukan,” ucap Chanira.

Kamal menoleh, lalu berkata, “Tidak masalah. Semua itu adalah tanggung jawabku sebagai ketua.”

“Bagaimana dengan luka-lukamu?” tanya Chanira, melihat perban yang ada di kaki kanan dan kiri kamal.

“Kalau lukanya parah, aku tidak mungkin bisa dihukum bersama kalian. Tenang, kakiku masih bisa digerakkan. Setelah diberi obat, rasa sakitnya juga perlahan menghilang.”

“Syukurlah.”

Kemudian, keheningan kembali menguasai mereka.

Pada saat para prajurit dan polisi bersenjata kembali ke pos masing-masing, Chanira dan Kamal baru mengetahui bahwa di Pos Bengala ada sebuah televisi 14 inci yang disembunyikan di kolong meja. Salah satu dari polisi membawa kabel yang sangat panjang yang tersambung pada genset yang ada di mobil. Genset itu pun dinyalakan, lalu dari televisi terdengar suara komentator sepak bola dalam bahasa Inggris dan menampilkan gambar Stadion Piala Dunia Seoul beserta para pemain yang ada di dalamnya, yang akan segera bertanding.

“Aku baru melihatnya pertama kali,” bisik Kamal, memecah keheningan di antara mereka.

“Itu namanya televisi, aku pernah melihatnya di rumah Kopral Faneel,” jawab Chanira, lalu menarik tangan Kamal untuk bersembunyi karena ia melihat Kopral Faneel yang baru datang ke pos itu.

Chanira dan Kamal bersembunyi di antara semak-semak dan tumpukan karet ban truk bekas. Celah di antara benda-benda itu masih memungkinkan mata mereka melihat apa yang ditampilkan di televisi. Lalu, suara Kopral Faneel terdengar.

“Kita adakan judi bola. Kumpulkan uang kalian di sini. Aku bertaruh sebanyak 2.000 Rupee untuk kemenangan Prancis malam ini,” kata Kopral Faneel.

Dan yang lain pun langsung menimpali. ”Aku 1.000 Rupee untuk kemenangan Senegal.”

Pos Bengala memang terletak cukup jauh dan cukup terisolasi dari tenda pusat. Itu sebabnya, pada malam hari ketika para polisi dan tentara Gurkha lainnya sedang tidur di tenda masing-masing, para prajurit yang ditugaskan untuk berjaga, serta oknum-oknum di sekitar pos itu, bisa menonton pertandingan Piala Dunia dengan leluasa.

Setelah mengetahui perbuatan judi yang dilakukan Kopral Faneel, Chanira teringat akan cerita Ama tentang Gurumapa, seekor monster yang menelan anak-anak, yang datang akibat ulah orang dewasa yang gemar berjudi. Akibat ingatan itu, Chanira merasa bahwa keadaan buruk akan terjadi di tempat ini. Perasaan takut pun kembali menyelimuti dirinya.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara komentator dari televisi itu: Papa Bouba menggiring bola. Papa Bouba, Papa Bouba dan goooool! Pada menit ke-30 Papa Bouba berhasil membobol gawang Prancis! Senegal memmpin dengan skor 1-0.

Orang-orang di Pos Bengala berteriak, lalu disusul suara tawa yang menggelegar. Skor tersebut bertahan hingga peluit akhir pertandingan berbunyi. Kopral Faneel berteriak seperti kesetanan. Ia tidak menyangka bahwa tim juara Piala Dunia 1998, yang sedang dipertaruhkannya, kalah dalam laga pembuka melawan Senegal.

Sementara itu, perasaan takut semakin menyelimuti Chanira. Ia menepuk bahu kanan Kamal dan berkata, “Aku sudah tak tahan di tempat ini, Kamal. Tempat ini sangat jauh dari tempatku untuk pulang.”

Kamal menatap Chanira. “Kalau saja polisi yang sedang duduk di samping Kopral Faneel itu tidak berjanji akan membiayai sekolah sepak bolaku, aku sudah lama kabur dari tempat ini. Tapi sejak apa yang dilakukannya kemarin, aku jadi berubah pikiran.”

“Memangnya apa yang dia lakukan?” tanya Chanira.

Kamal menghela napas. “Dia yang kemarin melindas anak-anak Maois itu. Kau sendiri juga melihatnya.”

“Tapi kita ini hanya anak kecil. Kita tak bisa melakukan apa-apa selain menuruti perintah mereka, Kamal.”

“Kata kakakku, jika kita melihat keburukan dan ketidakadilan, kita harus berani melawan.”

“Lalu, bagaimana caranya?”

“Kita buat rencana untuk kabur dari tempat ini.”

“Apa katamu? Kita mau kabur ke mana, Kamal?”

“Kecilkan suaramu, nanti polisi itu dengar. Kita bicarakan di tempat lain saja.”

Di tengah suara berisik Kopral Faneel dan kawan-kawannya, Chanira dan Kamal mengambil kesempatan untuk keluar dari persembunyian dan segera kembali ke tenda istirahat. Di halaman belakang yang tak jauh dari tenda istirahat, mereka melanjutkan percakapan itu.

Malam itu Chanira dan Kamal menyiapkan rute alternatif agar mereka bisa melarikan diri secara diam-diam saat menjalankan tugas yang akan diterima minggu depan. Kamal mengajak Chanira untuk pergi ke kediaman kakaknya di Baglung dengan alasan karena tempat itu aman dan masih belum terjamah oleh polisi dan tentara Gurkha. Akan tetapi, karena Chanira selalu mengingat perkataan Ama yang senantiasa melarangnya pergi ke tempat itu, menyebabkan mereka tak kunjung sependapat.

“Kalau begitu kau mau kabur ke mana?” tanya Kamal setelah ia mengetahui bahwa Chanira tak mau diajak kabur ke Baglung.

“Ke Dang. Kata Ama, itu adalah tempatku untuk pulang. Di sana banyak orang-orang baik seperti Ama, adikku Ishika, sahabatku Imay, dan buba-nya Imay: Kisan Tua.”

“Dang itu sangat jauh. Mustahil anak sekecil kita bisa pergi dengan bekal yang sedikit ini,” ucap Kamal sambil menunjukkan uang 20 Rupee pada sisi yang bergambar potret Raja Gyanendra.

“Pokoknya aku tak mau ke Baglung! Kata Ama di sana banyak penculik anak! Mereka suka memukuli dengan wajan. Aku tak mau lagi dipukul wajan!”

“Sudah kubilang, di sana ada kakakku.”

“Kau sendiri saja yang ke sana, Kamal. Lebih baik aku tetap di tempat ini daripada harus ke sana.”

Kamal diam sejenak untuk berpikir, lalu berkata, “Baiklah, tapi kalau aku sedang melakukan rencanaku. Tolong bertindak jika kau pura-pura tak tahu, ya.”



Other Stories
Di Bawah Panji Dipenogoro

Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Hold Me Closer

Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...

hjskjdhueysnajkhdHHfhdhffowdwddcnnnnnnnnnnnnnnnndhlwhe;ofh becccccccc 3on4qnmofjinv,hi843 ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Terlupakan

Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...

Download Titik & Koma