7
AMA sedang menghitung uang untuk keperluan pokok. Namun, raut wajahnya tampak sangat gelisah karena sisa uangnya hanya 20 rupee. Hal ini benar-benar di luar perkiraan karena sudah dua minggu Kopral Faneel tidak mengirim uang gaji Chanira kepadanya tanpa alasan. Ama telah beberapa kali pergi ke rumah Kisan Tua untuk membantunya menanyakan hal ini kepada keluarga Thapa, tetapi selalu gagal bertemu dengannya. Ketika Ama datang ke rumah Kisan Tua, adik laki-laki Kisan Tua memberikan kabar bahwa Kisan Tua beserta istri dan anaknya sedang pergi menjual daaru dan madu ke Baglung.
Ama semakin bingung, kegelisahan demi kegelisahan datang bertubi-tubi. Ia semakin khawatir akan kabar Chanira, ditambah lagi dengan kondisi anak perempuan bungsunya, Ishika, yang sudah berbaring selama dua hari akibat demam. Adik laki-laki Kisan Tua berkali-kali menyarankan agar Ama menyusul ke Baglung karena mungkin Kisan Tua bersedia meminjamkan uang hasil berjualan. Namun, Ama merasa ragu, terutama karena kondisi Ishika yang sedang sakit, ditambah lagi dengan pengalaman buruknya di Baglung pada masa lalu.
“Bantu kami dewa. Mohon, bantu kami dewa,” ucap Ama, melakukan anjali mudra di hadapan patung Dewa Khrisna di rumahnya, lalu berjalan ke depan pintu luar dan merapal doa, “Wahai roh alam, berkatilah kami. Wahai roh nenek moyang, tuntunlah kami.”
Angin berdesir lembut menenangkan hati Ama. Dalam hatinya menampung segala harap bahwa minggu depan Kopral Faneel akan membayar gaji Chanira selama tiga minggu, juga berharap bahwa Kisan Tua akan pulang dan bersedia meminjamkan uang untuk menambah keperluan.
Hari demi hari, keadaan Ishika semakin parah. Dhami yang secara sukarela membantu, tidak bisa berhasil meredakan demam yang diderita Ishika. Dhami berpendapat bahwa penyakit yang menimpa Ishika, mungkin disebabkan oleh karma dari nenek moyang ataupun orang tua. Mendengar kalimat itu, ingatan Ama berkelana pada peristiwa di Baglung tahun 1993 ketika ia masih bekerja sebagai pelayan di rumah bordil. Ingatan yang begitu menyesakkan dadanya; ingatan yang membikin kepalanya sepuluh kali lebih sakit daripada biasanya.
Sudah tujuh hari Ama menunggu, tetapi tak ada kepastian dari Kopral Faneel, juga Kisan Tua masih belum kembali. Pada akhirnya, Ama menyerah pada satu-satunya jalan: menemui Kisan Tua ke Baglung untuk meminjam uang. Mungkin juga ini adalah pertanda yang diberikan dewa untuk membayar kesalahan di masa lalu, pikirnya.
Ama kembali bertanya kepada adik laki-laki Kisan Tua tentang lokasinya secara pasti, karena Baglung merupakan wilayah yang cukup luas. Namun, adik laki-laki Kisan Tua tidak mengetahui. Yang ia tahu adalah bahwa kakaknya pergi ke Baglung untuk menjual dagangan yang tidak laku selama dua bulan.
Ama pun segera pulang untuk mengemas barang-barang. Meskipun tidak mengetahui lokasi pasti Kisan Tua, Ama tahu betul akan ke mana dan kepada siapa ia harus bertanya ketika tiba di sana. Dengan uang 20 Rupee, yang hanya bisa mencukupi biaya bus dan membeli makanan ringan, Ama membulatkan tekad untuk pergi. Ishika, yang belum mampu berjalan akibat demam, dimasukkan ke dalam keranjang besar untuk dijinjing. Ama melangkah dan melangkah, meskipun ia menyadari bahwa tindakannya seakan menjilat ludah sendiri. Padahal, sudah berkali-kali ia memperingatkan Chanira agar tidak pergi ke Baglung, tetapi sekarang ia malah melakukannya.
Ama membatin, Kira-kira apa yang sedang dikerjakan Chanira di Kathmandu sekarang?
Other Stories
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Lain Dari Foto Biasanya
Kata yang mungkin saja tepat, yaitu, ada cerita di balik setiap foto yang di abadikan. Mom ...
Randa Pulau Rante
“Kadang, kebebasan hanya bisa ditemukan setelah kita berani meninggalkan semuanya.” Sa ...
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
Loren Ipsum
test ...