6
SUARA dentang mengingatkan Chanira pada obrolannya bersama Kamal saat mereka pertama kali melihat bus besar melintas di perbatasan desa. Pada waktu itu, imajinasi liar mereka menganggap bahwa bus tersebut adalah alat yang digunakan oleh monster untuk menculik anak-anak di desa secara misterius.
“Kak Anjali, umur 10 tahun, hilang. Kak Alisha, umur 12 tahun, hilang. Kak Priya, umur 10 tahun, hilang. Kak Kavita, umur 11 tahun, hilang. Mereka semua pergi tanpa pamit setelah kita bermain di sungai dulu,” ucap Chanira, mengabsen nama-nama anak perempuan yang menurutnya hilang, satu tahun yang lalu.
“Ingat pesan Ama-mu dan Buba-ku, Chanira. Kita tak perlu tahu urusan orang dewasa. Mereka yang kamu sebutkan, yang mungkin dimasukkan ke dalam bus besar saat pagi-pagi buta, semua itu adalah masalah orang dewasa,” jawab Kamal.
“Tapi Kamal, jika aku menghilang, apa kau akan mengejar bus besar itu untuk mencariku?”
“Aku rasa begitu.”
“Janji?”
“Janji! Tapi aku harap kamu tidak akan pernah menghilang ….”
Sebentar kemudian ada yang melempar botol minuman ke kotak sampah yang tidak jauh dari kursi Chanira. Tak-tak. Suara dentang kembali terdengar, menyadarkan Chanira dari lamunannya. Di sinilah Chanira berada sekarang, duduk di samping Kopral Faneel di dalam sebuah bus menuju Thankot. Kopral Faneel terlihat sibuk mengasah kukri, senjata kebanggaan tentara Gurkha. Sementara Chanira yang baru saja melihat senjata tajam itu, plus merenungi ingatan yang baru saja terlintas di kepalanya, semakin merasa gelisah jikalau dirinya akan betul-betul menghilang.
Di tengah kegelisahan, Chanira melihat bayangan dirinya dari jendela bus yang tampak seperti anak laki-laki. Dan lagi-lagi, ingatan bergasing di kepalanya. Kini, Chanira teringat akan cerita Srikandi yang pernah diceritakan oleh Ama. Rindunya kepada Ama begitu kuat, sehingga selama di perjalanan, ingatan tersebut berputar seolah-olah Ama sedang berada di sampingnya untuk menuturkan kisah tersebut sekarang.
Dengarlah ….
Sebuah kereta perang yang megah bergemuruh melintasi dataran luas Kurukshetra. Kuda-kuda mendengus di bawah terik matahari Bharat. Namun, ini bukanlah kisah tentang manusia biasa, melainkan kisah yang sangat epik: Mahabharata. Sebuah permadani indah tentang kemenangan, kesengsaraan, dan kebijaksanaan abadi.
Salah satu kisah menarik dalam Mahabharata adalah kisah Srikandi, seorang perempuan yang pernah menjadi laki-laki dalam waktu sehari saja.
Kisah Srikandi dimulai dengan cerita kelahirannya. Ia lahir sebagai putri dari Raja Drupada dari Panchala dan diberi nama Shikhandini. Sejak kecil, ia telah menunjukkan minat dan bakat dalam bela diri. Namun, saat kelahirannya, seorang bijak bernama Vyasa memberi tahu Raja Drupada bahwa putrinya merupakan reinkarnasi Dewi Amba yang akan menjadi penyebab kematian Bisma, pahlawan tua yang berjanji untuk tidak menikah.
Drupada merasa bingung dan khawatir dengan takdir putrinya. Untuk menyelamatkan Shikhandini, Raja Drupada menyelenggarakan ritual kuat untuk mengubah jenis kelamin Shikhandini. Dengan kekuatan mantra dan kehendak para dewa, di hari kedelapan perang Baratayudha ketika Pandawa beserta pasukannya kewalahan menghadapi serangan Bisma, Shikhandini berubah menjadi seorang laki-laki dan akhirnya diberi nama Srikandi. Dalam wujud laki-lakinya yang hanya satu hari, ia harus berhasil membunuh Bisma.
Ketika Bisma, yang telah bersumpah untuk tidak melukai perempuan, menolak untuk melawan Srikandi. Pandawa menggunakan kesempatan ini untuk mengatasi sumpah Bisma. Srikandi menjadi tameng bagi Pandawa dan memungkinkan mereka menyerang Bisma. Pada akhirnya, Bisma jatuh dalam pertempuran, dan Srikandi memainkan peran penting dalam penghancuran sumpah Bisma.
Demikian penuturan kisah Srikandi dari sudut pandang Ama untuk membikin Chanira dan Ishika tertidur nyenyak pada malam itu. Chanira berpikir bahwa nasibnya sekarang sudah mirip seperti Srikandi. Tak lama kemudian, ia teringat kalimat Ama, “Perempuan harus siap menerima takdirnya, sayang. Meskipun ia merasa kalau takdirnya itu benar-benar sulit.”
Ingatan memang ampuh untuk membangkitkan keberanian. Namun, di umurnya yang masih sembilan tahun, lumrah saja jika Chanira masih belum bisa mengatasi rasa takutnya.
Setelah sampai di kamp tentara Gurkha, Chanira dan Kopral Faneel berpisah. Chanira diantar ke tenda pelatihan prajurit muda dan kebetulan tiba saat jam makan siang. Di sinilah ia sekarang, dengan sepiring daal bhat tersaji di hadapannya. Di hadapannya juga ada seorang anak laki-laki yang duduk bersila dengan tangan kotor, sedang meraup nasi dengan sangat lahap.
“Makanlah yang banyak. Kamu sedang sakit, ya?” ucap seorang anak laki-laki itu.
Chanira hanya mengangguk. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mencampurkan kuah daal ke nasi. Lalu, meraupnya.
“Pasti enak, kan. Makanan tentara sudah seperti harta karun bagi kami,” kata anak laki-laki itu sambil melirik ke arah anak laki-laki yang duduk di sebe-lahnya. “Namaku Kamal, dan ini temanku, Prabin. Kamu anak baru, ya? Belum punya seragam? Siapa namamu?”
“Iya, namaku Chanira. Namaste!” jawab Chanira sambil melirik Kamal yang wajahnya mirip sapi dengan alis dan bibir yang tebal, lalu melirik Prabin yang wajahnya mirip belalang sembah dengan mata yang besar. Mereka berdua sedang sibuk mengunyah nasi.
“Chanira, sebuah nama yang anggun, tapi juga gagah,” kata Kamal.
Bagi Kamal, gagah adalah kata yang istimewa, tetapi bagi Chanira kata itu hanya sebuah tipuan yang menjerumuskannya pada kesengsaraan setelah penga-laman buruknya pagi tadi; ekspetasinya hancur lebur ketika menerima pukulan dan tendangan dari Kopral Faneel, yang ia harapkan bisa menjadi sosok figur ayah untuknya. Sejak dulu, Chanira menginginkan seorang ayah, atau setidaknya sosok yang bisa menjadi figur ayah. Sampai sekarang hal itu hanya sebuah angan. Bahkan Kisan Tua tidak dapat menjadi figur ayah untuknya karena ia adalah ayah dari keluarga lain yang teramat sibuk mengurusi anggota keluarganya. Hanya acara-acara tertentu Kisan Tua dapat menjadi wali untuk anak keluarga lain.
Makanan habis, mereka mengantre untuk me-ngambil air minum dari gentong yang berada di depan. Setelah makan dan minum, Chanira beristirahat sejenak di dalam tenda. Ia ternyata satu tim dengan Kamal dan Prabin. Pada saat Chanira sampai di sana, ia dipanggil oleh prajurit untuk segera mengambil seragam barunya di kamp perlengkapan.
Matahari begitu terik, membikin panas kepala Chanira yang tak lagi ditutup rambut. Ia yang ditemani Kamal menuju kamp perlengkapan, segera berlari. Setelah seragam didapat, ia pun langsung memakainya dan terlihat gagah. Kemudian, mereka buru-buru kembali ke tenda istirahat. Sesampainya di sana, seorang sersan langsung memerintahkan mereka untuk tidur siang selama tiga puluh menit, karena malam ini akan ada tugas yang panjang.
Dengan cepat, mereka menyanggupi perintah tersebut. Tubuh-tubuh mereka direbahkan di atas tikar, lalu mata mereka terpejam, dan dalam sepuluh menit, mereka sudah berada dalam tidur yang lelap. Chanira yang belum tahu cara tertidur dengan cepat, hanya menonton dari kejauhan. Beruntung, Kamal yang ditugaskan oleh sersan untuk satu tim dengannya, mengajarkan teknik tidur itu.
“Begini caranya,” bisik Kamal. “Lemaskan seluruh otot tubuhmu, berbaringlah dan hilangkan seluruh ketegangan.”
Chanira mengikuti, perlahan-lahan tubuhnya berhasil ia rilekskan meskipun sakit di bagian bengkak itu masih sangat terasa.
“Lalu, bernapaslah dengan perlahan. Tenang, santai, rileks … tarik napas, embuskan. Rilekskan dadamu, biarkan udara mengalir, jangan lupa kendurkan semua otot-ototmu,” bisik Kamal lagi sambil memperagakan melalui tangan dan ekspresi mukanya. Ia sudah seperti seorang pelatih kebugaran.
Chanira mengikuti. Sudah barang tentu ini bukanlah hal yang sulit untuknya.
“Sekarang, kosongkan pikiranmu. Kosongkan-kosongkan. Kosongkan … pikiranmu. Ko-song-kan pi-ki-ran-mu … lalu bayangkan kamu sedang berada di tempat yang paling nyaman. Bayangkan kamu sedang berbaring di atas kasur gantung di bawah pohon kelapa di pesisir pantai. Tarik napas, embuskan, dan bayangkan-bayangkan ….” Kali ini mimik muka Kamal sudah seperti master hipnotis.
Chanira mengikuti, tetapi ia sangat sulit membayangkan karena di pikirannya masih terbayang-bayang ruangan yang ia tempati selama menjadi pembantu rumah tangga di keluarga Thapa; ruangan yang gelap dan kotor seperti kandang kambing dengan tempat tidur berupa alas tikar yang kasar dan kotor dan ada tikus besar hitam yang selalu mengawasi. Ditambah lagi, orang macam apa yang bisa membayangkan kenikmatan tidur di tengah perang seperti ini? Mungkin, pikiran mereka sedang tidak beres, pikir Chanira. Namun, ia tidak mau mengeluh karena ia pikir hal tersebut akan merepotkan Kamal. Jadi, ia hanya berpura-pura paham.
“Apa kamu membayangkannya? Jika tidak berhasil, jangan bayangkan, jangan bayangkan, jangan bayangkan … jangan pikirkan, jangan pikirkan, jangan pikirkan. Di hitungan ke sepuluh kamu akan tertidur lelap. Satu, dua, tiga, empat, lima ….”
Belum genap Kamal menghitung, Chanira pura-pura tertidur.
“Berhasil. Yeh, aku memang andal. Tidurlah, sore nanti akan ada latihan kurir perang.”
Chanira yang masih mendengar dengan jelas kalimat yang diucapkan Kamal, menjadi sangat khawatir. Apa itu latihan kurir perang? pikirnya. Yang ia tahu, di desa ia bermain perang-perangan bersama Imay dan kawan-kawan dengan penuh kegembiraan. Tapi sekarang keadaannya sungguh berbeda.
Other Stories
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Pantaskah Aku Mencintainya?
Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Rembulan Digenggam Malam
Pernah nggak kamu kamu membayangkan suatu hari kamu bangun di 1 Januari, terus kamu diberi ...