8
8
DI tim itu, anjing militer yang diberi nama Muto, berjalan paling depan untuk mendeteksi keberadaan Maois. Di belakang Muto, ada Kamal yang menjadi pemimpin sekaligus navigator dalam memutuskan rute yang mereka tempuh. Sementara itu, Chanira, dengan kaki yang gemetar, berjalan di belakangnya, dan Prabin berada di posisi paling belakang sebagai pengawal sambil terus waspada jika ada musuh yang menyerang secara mendadak.
Mereka melintasi area perkebunan jagung. Area tersebut begitu ramai dengan suara jangkrik, ditambah lagi mereka yang tidak sengaja membikin para kepik terganggu, harus mencium aroma kepik yang begitu menyengat. Lalu, Prabin dan Kamal bercakap-cakap.
“Hei, Kamal, apa Chanira bisa mengikuti kita malam ini?” bisik Prabin.
“Dia di bawah tanggung jawab Kopral Faneel, aku percaya saja,” jawab Kamal.
Chanira yang berada di tengah-tengah percakapan itu hanya tertunduk diam. Ia melangkah dengan penuh ketakutan. Di tengah suara jangkrik dan aroma kepik, ia membatin, Apa aku layak? Apa aku layak? Apa aku mampu? Apa aku mampu?
Mereka terus melangkah. Chanira melangkah dengan penuh kepasrahan, dan sedikit demi sedikit, rasa takutnya ia abaikan. Sampai ketika mereka berhasil keluar dari perkebunan jagung, Muto tiba-tiba menyalak; membuat Chanira, Kamal, dan Prabin segera tiarap; bersembunyi di sela-sela rerumputan kering.
“Ada apa ini?” tanya Chanira.
“Waspadalah,” ujar Kamal.
Di belakang, Prabin dengan mata awas terus memperhatikan. Muto yang juga mundur ke sisi kanan Prabin, tak henti-hentinya mendengus sampai beberapa saat kemudian ia menyalak dengan lebih kencang dan berlari jauh ke belakang.
“Kita mundur sekarang!”
“Ada apa ini? Ada apa ini?”
“Lari! Lari! Lari!”
Hanya beberapa detik setelah Kamal berteriak, suara auman hariman Bengal terdengar menggelegar dari dalam hutan, menyebabkan burung-burung berkelebat, daun-daun berguguran, dan jantung ketiga anak itu berdetak tidak karuan. Kamal dan Prabin semakin cepat berlari, tetapi Chanira tertinggal jauh di belakang mereka.
“Cepatlah! Dasar lambat!” pekik Prabin yang sudah berada di paling depan.
Setelah mengetahui hal itu, Kamal langsung kembali ke belakang membantu Chanira. Namun, ketika suara harimau Bengal semakin dekat, kaki-kaki Chanira bergetar sangat hebat sehingga membuatnya sulit untuk berdiri dengan seimbang.
Kamal terus menuntun Chanira, tetapi Chanira terus tersungkur sehingga Kamal akhirnya harus menggendong Chanira dengan langkah yang lamban.
“Hei!” teriak Prabin saat melihat seekor harimau Bengal itu berlari kencang, dan sudah semakin dekat dengan Chanira dan Kamal. Prabin akhirnya berlari menghampiri mereka, tetapi kecepatan lari dari harimau itu jauh melampaui mereka. “Tembak saja binatang itu, Kamal! Cepatlah!”
Kamal masih terus berlari dengan tergopoh-gopoh membawa Chanira beserta tas-tas kayu itu, dan tak lama kemudian ia menyandung kerikil yang membuat mereka tersungkur. Harimau yang sudah semakin dekat, dekat, dan dekat, langsung berlari dan melompat untuk menerkam mereka.
“AWAS! AH!”
Harimau tersebut hampir berhasil mencakar kaki kanan Kamal. Beruntung, Kamal berhasil berguling dengan cepat untuk menghindari serangan itu. Namun, nahasnya, pecahan beling yang berserakan di tanah menancap ke kaki kanannya hingga berdarah, menyebabkan pergerakannya menjadi melambat. Dengan tenaga yang tersisa, ia mendorong Chanira beserta barang-barang menjauh dari tubuhnya. Muto berusaha membantu untuk mengalihkan perhatian harimau, tetapi harimau itu tidak beralih.
Selama sepersekian detik, pikiran Kamal membeku akibat rasa takut. Tubuhnya panas-dingin dan mengucurkan begitu banyak keringat dari dahinya. Sementara Chanira yang tubuhnya semakin gemetar, hampir semaput. Nyawa mereka benar-benar di ujung tanduk.
“HEI! HEI! HEI!” Prabin melempari harimau itu dengan batu untuk menjauhkannya dari Kamal. Si harimau cukup terganggu sehingga ia mengaum ke arah Prabin, lalu mengejarnya. “Cepat tembak dia, Kamal! Atau kita semua akan mati!”
Kamal masih mematung meskipun ia melihat temannya itu sedang dikejar. Tangannya yang masih gemetar, ia usahakan membidik target. Namun, segudang ragu berkelindan di pikirannya; otaknya sudah seperti sebuah koin logam dengan dua sisi berbeda yang masing-masing bertuliskan kata \\\'tembak\\\' dan \\\'tidak tembak\\\'.
Saat Kamal melihat sudah beberapa inci lagi harimau itu akan menangkap Prabin, se-per-sekian detik syaraf pada otaknya melahirkan sebuah insting; memunculkan sisi logam dengan kata tembak. Kamal pun segera menarik pelatuk senapannya.
Dor! Dor! Dor!
Tiga perluru berhasil bersarang ke kepala, badan, dan leher harimau. Darah segar mengalir, bercampur dengan aroma bubuk mesiu dari senapan. Chanira, Kamal, dan Prabin terduduk lemas di hadapan jasad harimau itu. Pada saat Kamal membersihkan luka di kakinya dan membalutnya dengan perban, Prabin mengajaknya berkelahi.
“Kenapa kau tak langsung tembak?!” kata Prabin sembari menarik kerah baju Kamal.
Kamal memegang tangan Prabin. “Harimau Bengal adalah bagian dari leluhur! Kalau aku tembak, kita bisa dapat karma!”
“Kita ini sedang berperang, tau! Bisa-bisanya kau berpikir yang tak masuk akal!” pekik Prabin sampai air liurnya membasahi wajah Kamal.
“Kita bisa saja lari untuk masuk ke lubang batu di sana jika sempat!” balas Kamal yang juga membasahi wajah Prabin dengan air liurnya.
Prabin mendorong Kamal. “Tapi kenyataannya tidak!”
Kamal masih bisa mengendalikan keseimbangan-nya sehingga tidak terjatuh, lalu menjawab perkataan Prabin, “Andai saja jika kita bisa berlari lebih cepat ….”
“Andai saja, andai saja! Anak itu memperlambat! Sejak awal aku memang sudah ragu. Dia tidak pantas berada di tempat ini!”
Kamal akhirnya diam, ia seolah mengalah dari Prabin.
Setelah mendengar perkataan Prabin, ingatan-ingatan buruk Chanira kembali berdatangan. Di pikirannya teringat perkataan Nyonya Manisya dan Kopral Faneel: Chanira, oh Chanira! Rupanya, kau tak pantas berada di tempat ini! Kau, si otak kosong tidak berguna! Tidak layak kau berada di rumah ini!
Di tengah rerumputan kering, Chanira meringkuk. Angin malam yang dingin membikin tubuhnya yang ringkih semakin menggigil. Sementara itu, Kamal sedang berusaha menenangkan amarah Prabin, dan Prabin sedikit menjauh dari mereka.
Kamal berjalan menghampiri Chanira, lalu dengan telapak tangannya yang lebar, ia merangkul anak perempuan itu dan menghiburnya. “Apa yang dikatakan Prabin itu salah. Lagi pula ini bukan salahmu, ini salahku.”
Chanira diam, ia hanya mematung dan tak lama kemudian tubuhnya semakin ia ringkukkan.
“Lupakan saja dia, kalau terus bergini, kita bisa terlambat!” ujar Prabin yang kembali menghampiri mereka.
“Dengar Chanira, orang-orang di Pos A sedang menunggu kedatangan kita. Kita ini pahlawan. Kita harus kuat. Ayo, berdirilah.”
Setelah mendengar kata ‘kuat’ yang diucapkan Kamal, Chanira jadi teringat dengan Bibi Sita yang sangat peduli dengannya sewaktu berada di rumah Kopral Faneel. Bibi Sita pernah memberinya nasihat bahwa setiap manusia mempunyai kemampuan unik masing-masing untuk bertahan, sehingga Chanira terus-menerus memikirkan kemampuan unik apa yang dimilikinya. Pada akhirnya, ingatan tersebut cukup berhasil untuk membangkitkan sedikit keberanian Chanira.
Chanira pun menegakkan kepala dan menatap Kamal yang sedang menyodorkan tangan kanannya. Lalu, Chanira meraihnya.
Malam semakin larut, Kamal menutupi jasad harimau itu dengan rerumputan, lalu berdoa kepada dewa. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Mereka akhirnya sampai di Pos A. Di sana rupanya ada Kopral Faneel yang sedang menunggu.
“Kalian terlambat lima menit! Untung saja pria yang di sana itu dapat bertahan,” kata Kopral Faneel sambil mengeluarkan obat dari dalam tas kayu mereka. Obat itu langsung ia berikan kepada tenaga medis untuk mengobati prajurut Gurkha yang terkena serangan.
“Maafkan kami, Kopral Faneel. Ada sedikit masalah di perjalanan,” ujar Kamal sambil menunjukkan luka di kaki kanannya. “Kami diserang harimau Bengal.”
Tuan Faneel mendekat ke Kamal untuk memeriksa seberapa parah luka itu, kemudian berkata, “Lukamu tidak terlalu dalam. Kau, kan, dibekali senapan dan sudah mendapat pelatihan menembak dari polisi bersenjata yang membawamu. Seharusnya serangan dari hewan itu bukan menjadi masalah bagimu. Apa anak baru itu memperlambat kalian?”
“Tentu saja! Seharusnya dia diberikan hukuman, Kopral!” jawab Prabin.
Chanira menunduk, matanya berkaca-kaca. Sekarang Tuan Faneel berjalan ke arah Chanira dan menatapnya, lalu berbisik, “Lain kali kerja yang benar, atau orang lain bisa mati akibat kesalahanmu.”
“Ba-baik, Tuan,” jawab Chanira, lalu sebuah kalimat terus berputar di kepalanya: orang lain bisa mati akibat kesalahanmu, orang lain bisa mati akibat kesalahanmu, orang lain bisa mati akibat kesalahanmu, orang lain bisa mati akibat kesalahanmu ….
Other Stories
Aparar Keparat
aparat memang keparat ...
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
315 Kilometer [end]
Yatra, seorang pegawai kantoran di Surabaya, yang merasa jenuh dengan kehidupan serba hedo ...
Sonata Laut
Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...
Bangkit Dari Luka
Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...