Tirmo Ghar

Reads
1
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
tirmo ghar
Tirmo Ghar
Penulis Atpress2014

12

TUJUH hari setelah Chanira, Kamal, dan Prabin dihukum untuk tidak menjalankan misi, malam ini adalah malam pertama mereka terbebas dari hukuman dan akan kembali ditugaskan. Waktu hampir menunjukkan pukul 00.00; Chanira, Kamal, dan Prabin ditugaskan untuk mengantar bubuk mesiu ke Pos B. Sersan Singh yang mulai tidak percaya dengan kinerja tim itu, akhirnya memutuskan untuk menambahkan satu orang lagi yang sudah cukup berpengalaman untuk memastikan bahwa misi pengantaran mereka kali ini benar-benar berhasil.

“Senang bisa melihatmu membantu tim ini, Kak Sejun,” ujar Kamal kepada anak laki-laki berumur dua belas tahun yang ditugaskan bersama mereka.

“Aku harap tak ada yang mengacau,” jawabnya.

Kali ini Sejun yang menjadi pemimpin, Kamal hanya bertugas mengawasi, sedangkan Prabin dan Chanira bertugas seperti biasa. Anjing militer diserahkan, lagi-lagi Muto yang bertugas bersama mereka. Mereka pun segera melangkah untuk menjalankan misi.

Di tengah perjalanan, perasaan ragu mulai melanda diri Chanira. Ia memikirkan apakah keputusan untuk tidak mengikuti rencana Kamal ke Baglung adalah keputusan yang tepat. Dan setelah Kamal benar-benar pergi, siapa yang akan menjadi teman baiknya di tempat ini?

Sementara itu, Kamal terus memperhatikan gerak-gerik Sejun dan Prabin. Ketika momen itu sudah dekat, Kamal akan segera kabur.

Mereka melangkah dan melangkah pada satu-satunya rute yang belum diblokade oleh pasukan Maois. Ketika sampai di rute alternatif yang direncanakan Kamal untuk melarikan diri, ia meminta izin kepada Sejun untuk buang air kecil.

“Hati-hati, jangan sampai malah diterkam harimau. Cepatlah! Lewat tiga menit kau harus kembali lagi ke sini,” ucap Sejun, sambil memperhatikan gelagat Kamal yang dinilainya sedikit aneh.

“Iya, aku mengerti,” jawab Kamal.

Kamal mengangguk, Chanira yang melihat Kamal, hanya memperhatikan dari kejauhan. Kamal pergi ke arah semak-semak dekat perkebunan jagung, di sana ia sedikit menutupi senternya dengan ibu jari. Setelah langkahnya sudah cukup jauh dari pengawasan, ia benar-benar melarikan diri.

Chanira yang sudah tahu dan diminta tolong untuk pura-pura tidak tahu, tiba-tiba merasa sangat ragu. Ia benar-benar takut kehilangan teman baiknya. Di kepalanya, terlintas sebuah kalimat: apa aku beritahu saja bahwa Kamal akan kabur sehingga ia gagal dan aku tak akan kehilangan teman baikku? Tapi bagaimana kalau perbuatanku ini akan mendatangkan hukuman yang lebih besar untuk Kamal?

Chanira terus-menerus memikirkan hal tersebut selama beberapa menit, hingga satu-satunya keputusan yang tersisa adalah tetap diam dan pura-pura tidak tahu. Namun, di sisi lain, Sejun yang sejak awal mencurigai Kamal, membangkitkan insting kecilnya seolah ia baru saja membaca pikiran Chanira.

Secara refleks, ketika hitungan waktu di tangan Sejun belum genap dua menit, ia tiba-tiba berkata, “Kamal kabur! Kejar dia!”

Muto langsung menyalak tatkala Sejun dan Prabin berlari ke tempat di mana Kamal pergi membuang air kecil. Namun, di sana hanya ada tas kayu, helm, seragam, dan sepasang sepatu yang telah Kamal tanggalkan. Semua benda tersebut juga menguarkan aroma pesing yang bercampur dengan aroma minyak urut. Rencana Kamal yang menutupi bau tubuhnya dengan sisa minyak urut yang ia dapat di sekitar Pos Bengala, ternyata berhasil mengelabui Muto sampai kesulitan mendeteksi jejaknya.

“Sialan!” pekik Sejun.

Sementara itu, Prabin mencurigai Chanira. “Pasti kau sudah tau, kan kalau Kamal akan kabur? Dasar si juling sialan! Kenapa kau tak beritahu kami dari awal?”

“Eh, eh, sudahlah.” Sejun menenangkan Prabin. “Lagi pula barang penting itu dia tinggalkan di sini. Lupakan Kamal, kita lanjutkan perjalanan. Chanira, kamu sekarang bawa tas Kamal juga, ya.”

Chanira mengangguk, mereka pun melanjutkan perjalanan.

Pukul 00.30, mereka sudah berada di jalan tempat anak-anak Maois dilindas. Prabin memberitahu kepada Sejun bahwa bisa saja Maois akan menuntut balas dan melakukan penyerangan mendadak di sekitar jalan itu. Maka, mereka berjalan dengan sangat hati-hati. Chanira yang selalu tertinggal akibat kakinya yang gemetar saat bertugas, ditambah lagi beban yang semakin memberatkan langkahnya, membuatnya semakin jauh tertinggal. Namun, Sejun dan Prabin yang sedang penuh waspada, tidak begitu memperhatikan Chanira yang tertinggal di belakang.

Tak lama kemudian terdengar suara ledakan yang begitu dekat dan nyaring. Ledakan itu membuat Muto melolong, dan lolong itu rupanya dibalas oleh anjing lain.

“Anggrek Hitam! Itu pasti anjing milik mereka,” ucap Sejun, lalu mengajak Prabin dan Chanira untuk segera bersembunyi.

Malang, karena jarak Chanira yang terlampau jauh dari Sejun dan Prabin, Chanira langsung ditangkap oleh anggota Anggrek Hitam yang muncul secara mendadak. Mereka memukul Chanira hingga membuatnya terjatuh pingsan, lalu Sejun segera membidik anggota Anggrek Hitam itu. Pada saat Sejun menarik pelatup senapannya, ia didorong oleh anggota Anggrek Hitam lain yang muncul dari balik rerumputan, sehingga tembakan Sejun meleset dan hanya mengenai ranting pohon.

Sementara itu, Prabin mengejar anggota Anggrek Hitam untuk menyelamatkan bubuk mesiu di tas kayu, juga menyelamatkan Chanira. Tapi sayang, mereka kalah jumlah. Satu per satu anggota Anggrek Hitam muncul dengan cepat dari balik reruntuhan tembok dan pepohonan bersama anjing-anjing mereka.

“Inilah akibatnya jika sudah membunuh teman kami!” pekik salah satu anggota Anggrek Hitam.

Lalu, Sejun dan Prabin benar-benar terkepung. Mereka berusaha melawan, tetapi tenaga mereka tak mampu mengalahkan Anggrek Hitam. Pada akhirnya, sebuah tendangan keras mendarat tepat ke kemaluan Sejun dan Prabin. Mereka merintih kesakitan. Sedangkan Chanira yang sudah pingsan sejak tadi, sudah lebih dulu dibopong oleh Anggrek Hitam. Kini, mereka beserta Muto dan barang-barang yang akan diantarkan, berada di tangan Anggrek Hitam.

Pukul 01.00, Chanira baru saja siuman. Ketika ia membuka matanya pertama kali, ia melihat dirinya bersama Prabin dan Sejun terkurung dalam sebuah kandang berjeruji besi yang sempit, kotor, dan beraroma tahi kambing.

Mereka terus meneriakkan ‘tolong’, sambil menggedor jeruji, sementara Muto terus melolong agar anjing militer lain mendengarnya dan membawa bantuan. Jerit-menjerit, lolong-melolong, gedor-menggedor; mereka terus berupaya mencari pertolongan. Meskipun mereka berteriak sekuat mungkin selama berjam-jam, tak ada tanda-tanda datangnya pertolongan. Tempat itu masih sunyi tanpa keberadaan manusia lain; yang ada hanyalah daun-daun yang jatuh dari pohon bodhi dan beberapa ekor capung yang melintas. Mereka merasa seperti terkurung di semesta yang lain, di mana angin membungkam suara mereka dan alam menjadi tuli terhadap teriakan mereka.

“Jika saja kau tidak berjalan lambat, kita semua tak akan terkurung di sini!”

Lagi-lagi Prabin menyalahkan Chanira. Prabin juga menganggap bahwa Chanira adalah sosok pembawa sial di setiap misi-misinya.

Sementara itu, Chanira yang masih merasakan sedikit pusing, semakin dibuat pusing ketika suara-suara penyesalan itu muncul di kepalanya: Kenapa aku tidak ikut Kamal kabur? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana? 


Other Stories
(bukan) Tentang Kita

Tak sanggup menanggung rada sakit akibat kehilangan, Arga, seorang penulis novel romantis ...

People Like Us

Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...

Metafora Diri

Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...

Reuni Mantan

Iko dan tiga mantan Sarah lainnya menghadiri halalbihalal di vila terpencil milik Darius, ...

Hujan Dan Lagu-lagu Tentang Rindu

Randy sekarat, dan seorang malaikat maut memberinya pilihan untuk meminta maaf pada para p ...

Aku Versi Nanti

Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...

Download Titik & Koma