9
KEESOKAN harinya mereka ditugaskan pada siang hari setelah Sersan Singh mengetahui kejadian yang menimpa mereka semalam. Hari ini mereka diberikan tugas yang lebih mudah, membawa bahan makanan ke Pos D.
Mereka masih melewati rute yang sama. Pos D hanya berjarak seratus kaki dari Pos A. Chanira, yang masih terbayang dengan kejadian semalam, dan kalimat dari Kopral Faneel yang terus berputar di kepalanya: ‘orang lain bisa mati akibat kesalahanmu’, membuatnya begitu lemah sehingga ia merasa tak punya upaya lagi dalam melangkah; kaki-kakinya sekarang terasa sepuluh kali lebih berat, menyebabkan ia cepat merasa lelah, padahal baru berjalan selama dua puluh menit. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk istirahat sejenak dengan bersembunyi di balik reruntuhan tembok yang ada di kanan jalan. Kamal pun harus mengganti perbannya yang kotor akibat debu dari tanah, sementara Prabin yang bersemangat terpaksa menunggu mereka.
Tak lama kemudian, samar-samar terdengar deru mobil mendekat. Tidak berselang lama setelah itu, Muto mendekati mereka dan menyalak, memberi isyarat bahwa ada sekumpulan orang yang mendekat. Dengan sigap, mereka pun memasang sikap waspada.
Deru mobil yang mereka dengar semakin dekat, diikuti oleh suara langkah kaki yang mendekat ke reruntuhan tempat mereka bersembunyi. Akhirnya, suara langkah kaki itu menampakkan wujudnya: tiga anak laki-laki mengenakan baju serba hitam dan topi hitam dengan simbol palu dan arit, sambil membawa tas dari karung goni. Salah satu dari mereka memegang senapan sambil membaca peta dengan ekspresi cemas, sementara kedua temannya memasang mata awas dan menyarankan untuk segera mencari tempat bersem-bunyi yang paling aman.
Tak lama kemudian, deru mobil yang sedari tadi mereka dengar juga menampakkan wujudnya: sebuah mobil jip berwarna hitam dengan plat putih yang bertuliskan huruf biru, mengindikasikan bahwa mobil itu milik polisi Nepal. Mobil itu berbelok ke jalan yang sama yang dilewati oleh ketiga anak laki-laki itu.
“Tenang, seseorang di dalam mobil itu ada di pihak kita,” ucap Kamal, membuat Chanira dan Prabin dapat bernapas lega.
Saat ketiga anak laki-laki itu sedang bingung mengambil keputusan, mereka menyadari bahwa mobil jip yang melaju di belakang mereka adalah pihak musuh. Seseorang dari dalam mobil segera mengeluarkan senapan dan mencoba menembak mereka. Sementara itu, Chanira, Kamal, dan Prabin tetap bersembunyi sambil menyaksikan aksi tembak-menembak. Kamal tidak ingin membantu mobil jip itu karena ia yakin seseorang di dalam mobil tersebut seharusnya bisa mengatasi ketiga anak laki-laki itu. Ia menyadari bahwa jika ia membantu menembak dengan senapannya, pelurunya bisa habis pada waktu yang tidak tepat.
Tembakan dari seseorang di dalam mobil tepat mengenai kaki kedua anak itu, sementara anak yang memegang senapan berusaha menghindar dan melawan. Ia berupaya menembak ban, kaca depan, atau apa pun yang bisa menghentikan laju mobil dan tembakan tersebut, tetapi tembakannya selalu meleset. Pada akhirnya, ketika ia sudah berjarak sepuluh kaki dan sejajar pada satu garis lurus dengan mobil, mobil itu semakin melaju kencang dan tanpa ragu menabrak ia dan kedua temannya.
“Pa-padahal … mereka sudah kalah,” kata Chanira, terbata-bata.
Prabin memandang Chanira dengan tatapan tajam, lalu membentak, “Wajar saja, mereka itu Anggrek Hitam! Mereka itu anak-anak Maois!”
Ketiga anak yang merupakan kurir perang dari Anggrek Hitam pingsan akibat ditabrak. Mobil jip pun berhenti sebentar, dan dua orang laki-laki dewasa berseragam polisi mengintip dari jendela mobil untuk memastikan kondisi ketiga anak itu. Tanpa belas kasihan, mobil jip itu dikemudikan ke depan dan melindas anak-anak Maois itu.
“Kejam,” lirih Chanira.
Kamal hanya mematung saat menyaksikan peristiwa itu, sementara Prabin menunjukkan ekspresi yang mengisyaratkan bahwa ia membenarkan apa yang dilakukan oleh polisi tersebut.
Mobil jip sudah jauh melintas. Sekarang, terlihat anak-anak Maois itu terluka parah, dengan darah segar yang terus mengalir dari kaki dan tubuh mereka yang remuk akibat terlindas.
“Ayo kita lanjutkan perjalanan,” ajak Kamal.
Prabin mengangguk, sementara Chanira tetap diam. Kamal kembali berjalan di belakang Muto, diikuti oleh Prabin, dan Chanira berjalan paling belakang. Namun, Chanira berhenti sejenak, menjauhkan dirinya dari tim. Setelah itu, ia melangkah mendekati ketiga anak Maois yang terluka parah.
Prabin terkejut dengan tindakan Chanira, dan segera berteriak, “Hei! Apa yang kau lakukan!” Diikuti dengan Muto yang menyalak. Kamal yang berada di paling depan, hanya diam, menyaksikan tindakan Chanira. Kemudian, Chanira memeriksa ketiga anak Maois itu. Sudah dipastikan dua di antaranya tewas, sedangkan anak yang memegang senapan masih berusaha untuk bernapas.
“Hei! Apa yang kau lakukan! Bisa saja dia pura-pura mati!” bentak Prabin dari kejauhan.
Melihat hal tersebut, Kamal segera berlari ke arah Chanira sambil menahan sakit kaki kanannya dan berteriak agar Chanira segera menjauh dari anak Maois itu. Namun, Chanira tetap bergeming dan berusaha menolong satu orang yang ia rasa masih hidup. Meskipun dia merasa takut, terutama setelah mengalami kejadian buruk di Kathmandu yang semakin memperbesar ketakutannya, Chanira tetaplah Chanira. Ia lahir dan dibesarkan di lingkungan yang penuh dengan tradisi dan nilai kemanusiaan, serta memiliki ingatan kuat yang bisa membangkitkan keberaniannya. Tak peduli apakah itu monster sekalipun, jika ia merasa bisa membantu, ia akan membantu.
“Chanira dengar! Jika dia mati, itu bukan kesalahanmu! Bisa jadi dia sedang ….”
Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba anak Maois itu dengan cepat meraih senjata dan mengayunkannya ke arah Kamal. Ujung senapan itu terdapat mata pisau kecil yang tajam, yang berhasil menusuk kaki kiri Kamal.
“Aaaaah!” Kamal mengerang keras karena darah mengalir begitu banyak dari luka gores sepanjang 17 cm di betis kirinya itu, menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.
Lalu, anak Mois dengan cepat mengayunkan senapan ke arah wajah Chanira. Beruntung, Chanira yang terkejut secara refleks melompat mundur dan berhasil menghindari serangan itu. Sementara itu, Kamal yang menyadari bahwa anak Maois akan melakukan hal tersebut kepada Chanira, dengan cepat berusaha menghentikan senapan itu. Gerakannya begitu refleks sehingga menyebabkan luka di kakinya semakin terbuka, dan ia tak henti-hentinya merintih kesakitan. Darah segar semakin mengalir dari kaki kirinya.
“Aaaaah!” Kamal menarik celana panjangnya, lalu menutup luka itu dengan perban yang mereka bawa.
“Ka-Kamal … bagaimana ini?” rintih Chanira.
Prabin dan Muto mendekati mereka. Prabin, yang sangat kesal dengan perbuatan anak Maois itu, langsung menginjak-injak tubuhnya yang penuh luka sampai akhirnya anak itu tidak sadarkan diri. Sementara itu, Chanira kembali meringkuk di depan Kamal, sambil mencoba menenangkan dirinya sendiri di tengah situasi yang mencekam.
“Semalam kaki kanannya hampir dimakan harimau, siang ini kaki kirinya terkena senjata musuh. Semua itu, lagi-lagi gara-gara kau! Benar, kan kau tidak layak melakukan tugas ini!”
Other Stories
Setelah Perayaan Itu Usai.
Amara tumbuh di sebuah dusun kecil, ditemani sahabatnya, Angga. Setiap hari mereka lalui d ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
Liburan Di Pulau Terpilih
Setelah putus cinta yang menghancurkan, Anna Mariana mencoba menjalani hari-harinya dalam ...
Hantu Dan Hati
Zaki yang baru saja pindah kesebuah rumah yang ditinggalkan, menemukan fakta bahwa terdapa ...
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...