Satu
Tiap kali burung bernyanyi, kurasa mereka sedang mengejekku. Aku membenci burung. Itu sudah jelas, sebab burung-burung yang bersuara, terutama ketika menjelang petang selalu mengingatkanku pada hari paling menakutkan dalam hidupku, yaitu kematian ibuku. Namun, lucunya, alam membawaku hidup di tempat yang tak pernah sepi dari suara burung. Sungguh, alam benar-benar ahli dalam mempermainkan takdir manusia. —Aru Lohia
Ketika itu usia Aru baru lima tahun, bahkan dia belum mahir dalam berhitung. Ibu mengajaknya pergi ke sebuah gubuk reyot di tengah hutan, tetapi hutan itu masih dekat dari desanya.
Di sana sepi, tak ada siapa pun kecuali dia, ibunya, dan neneknya. Namun, ketika matahari mulai tinggi, suara yang mulanya terdengar sayup-sayup mulai mendekat dan menciptakan keramaian.
Hutan yang tadinya begitu senyap dari suara manusia, tiba-tiba dipenuhi dengan suara keras manusia yang beramai-ramai tak jelas mengungkapkan apa.
Ibu Aru pergi bersama sang nenek, dengan tergopoh-gopoh, keluar dari gubuk reyot itu meninggalkan Aru yang kebingungan bersama sebuah pesan: “Tunggu di sini. Jangan keluar sebelum Sina[1] datang.”
Aru menurut dengan perintah ibunya. Dia meringkuk di sudut gubuk yang tak memiliki alas. Bahkan dia tak memedulikan binatang kecil melata yang mulai mengganggunya. Dia tetap diam di tempat, sesuai yang Ibu bilang. Namun, ibunya pergi terlalu lama hingga burung-burung laut kembali memasuki hutan seolah meneriakkan: “Sudah petang, sudah petang. Waktunya pulang.”
Akan tetapi, Sina-nya tak kunjung datang.
Rasa takut mulanya tak mengusik Aru sedikit pun. Sebab, anak perempuan itu sangat percaya pada ibunya. Tak ada siapa pun yang dia agungkan, melainkan Sina. Namun, ketika hari mulai gelap dan suara-suara alam terdengar lebih mengerikan, anak perempuan itu pada akhirnya kalah dengan rasa takutnya sendiri. Hatinya yang bimbang mulai memikirkan langkah apa yang harus dia lakukan saat itu.
Haruskah dia pergi saja? Namun, dia tak tahu arah jalan pulang.
Haruskah dia tetap di sana? Sina memintanya demikian, tetapi dia takut jika saja ibunya lupa untuk menjemput.
Anak perempuan yang bimbang itu mulai menggigiti jempolnya. Sementara waktu terus berlalu hingga matahari menghilang dari peredaran. Hanya sisa-sisa cahayanya yang menyemburkan warna merah dan melebur dengan langit petang yang menemaninya. Aru pun makin gelisah dibuatnya.
Aru melirik dari celah-celah gubuk dan mendapati bahwa di luar sana makin gelap. Ah, tidak, bahkan sangat pekat. Udara dingin mulai membuatnya merinding dan dia hanya bisa memeluk tubuhnya yang berkulit cokelat sambil terus meringkuk, masih di tempatnya semula. Sementara itu, mata bulatnya yang lugu bergerak-gerak karena kebingungan.
Pada akhirnya, rasa takut yang menggerogoti tubuh kecil itu menjadi berkuasa hingga memunculkan sebuah keberanian dalam hal lain. Maka pergilah Aru ke luar gubuk. Entah apa yang dia pikirkan waktu itu. Bisa saja karena takut ibunya kenapa-kenapa, atau bisa jadi karena takut ibunya lupa.
Akan tetapi, yang terjadi kemudian adalah anak perempuan itu malah kebingungan sebab pohon-pohon mengepungnya. Di mana-mana terdapat pohon tinggi menjulang dan kegelapan membuat pohon-pohon itu tampak begitu suram, seolah berdiri menghalangi Aru yang ingin pergi. Bayangannya yang terbias melalui cahaya bulan bahkan tampak angkuh ingin melahap tubuh kecil Aru yang nyalinya kian menciut.
Belum lagi burung-burung yang terbang seperti bayang-bayang menyeramkan, ditambah suara mereka yang amat berisik tiada henti.
Bagaimana bisa seorang anak perempuan berusia lima tahun itu menemukan jalan pulangnya? Itu mustahil. Namun, insting anak itu membawanya berjalan, pelan-pelan, mengitari gubuk untuk menemukan jalannya.
Anak perempuan itu berhenti ketika kaki telanjangnya menginjak sesuatu. “Apa ini?” tanyanya yang kemudian menunduk agar bisa melihat lebih jelas sebab tak ada cahaya yang meneranginya. Jemari kurusnya bergerak untuk menyentuh cairan itu.
Dia terus mengamati apa yang diinjaknya tadi. Terasa basah seperti air, tetapi juga sedikit lengket seperti ingus.
Aru mendekatkan telunjuknya ke hidung, lantas langsung menjauhkannya. Baunya aneh. Seperti sesuatu yang keluar dari tubuh babi yang pernah ayahnya tangkap. Aru pernah melihat cairan seperti itu, tetapi tak tahu apa namanya. Namun, dia tak acuh. Mungkin dia pikir bisa menanyakan itu nanti kepada ibunya setelah dia berhasil pulang.
Rasa takut pada diri Aru mendadak menghilang setelah melihat cairan merah itu. Anak kecil dengan nalarnya yang aneh, memikirkan bahwa bisa jadi itu adalah petunjuk dari alam yang bisa menuntunnya pulang. Sebab, orang-orang di desa juga senang berburu. Bisa saja cairan itu menetes dari hewan buruan yang mereka tangkap. Lalu, jika dia mengikutinya, pasti dia akan menemui jalan pulang.
Anak perempuan itu kemudian melompat dengan riang, mengikuti jejak-jejak basah dan merah di rerumputan yang dia yakini mengarah ke desa. Dan betapa senangnya dia, ketika jejak itu benar-benar membawanya ke arah rumah-rumah yang saling berjarak. Itu desanya. Dia melompat kegirangan karena berhasil dan segera berlari ke arah rumah.
Malam itu, suasana desanya begitu sepi. Memang pada hari itu, sejak beberapa bulan lalu, banyak pria yang melakukan perjalanan jauh di lautan melawan angin untuk berdagang. Ayah Aru menjadi salah satunya. Lalu, keluarga yang tersisa di desa akan berdiam diri di rumah, menjaga nyala api sampai para pria kembali dan membawa berton-ton sagu dari lambung kapalnya. Aru tersenyum kecil ketika mengingat bahwa ayahnya mungkin akan segera pulang. Senyumnya makin mengembang karena rumahnya semakin dekat.
Anak perempuan itu terbelalak.
“Ah, lasi[2]!” pekiknya. Dia terjerembap ke tanah karena berhenti secara tiba-tiba. Tangan kecilnya bergetar hebat sebab keterkejutannya. Di sana, di depannya, di rumah yang seharusnya menyambutnya pulang, kini terlahap api besar dan beberapa bagian tampak roboh.
Aru mulai histeris, lebih-lebih saat dia melihat ibu dan neneknya dalam kondisi tubuhnya diikat di beranda rumah dan ikut terbakar. Kepedihan dan ketakutan tergambar jelas pada raut anak perempuan yang malang itu. Bahkan kobaran api yang meliuk-liuk membayang di matanya yang membelalak.
Tangisannya melengking kian kencang karena tak bisa melakukan apa pun untuk ibu dan neneknya.
Orang-orang yang menyadari kedatangan anak perempuan itu seketika berteriak, “Itu anak Noa-Dai!”
Aru terperanjat dan makin kebingungan. Baru kali ini nama ibunya diucapkan dengan nada penuh kebencian. Dia pun merangkak mundur karena ketakutan. Mata orang-orang itu merah, memelotot, dan sangat menakutkan. Tangisannya masih menggema disertai deru napas yang tersengal-sengal.
Mata Aru bergerak-gerak resah, berusaha mencari perlindungan. Dia tidak tahu bagaimana caranya keluar dari situasi seperti itu. Sampai ketika manik matanya bertemu dengan tatapan seseorang, Aru terkesiap.
Dalam sekejap, pria gundul itu memalingkan muka.
Telapak tangan Aru refleks terkepal, tak peduli jika tanah mengotorinya.
“Tangkap dan bunuh dia! Mereka perempuan-perempuan kotor dan hina yang harus dibinasakan.”
Lagi, Aru terkejut dengan suara penuh kebencian dari orang-orang. Dia menggeleng cepat. “La-lasiii!”
Other Stories
Dua Tangkai Edelweis
Dalam liburan singkat di Cianjur, Rani—remaja tomboy berhati lembut—mengalami pertemua ...
Cinta Di Balik Rasa
memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...
Hotel De Rio
Di balik kemewahan Hotel De Rio, Bianca terjebak dalam pengkhianatan saat Dante, pria dari ...
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...