Lima
Hidupku terlalu sibuk untuk menyelamatkan diri, hingga tak ada lagi kesempatan untuk membenci siapa-siapa. —Aru Lohia
***
“Kita harus segera pergi!” kata Mea-Dai dengan tegas. Dia menyeret Aru dengan paksa. “Ini semua demi keselamatan kita.”
Mea-Dai memelankan langkah seraya menyibak dedaunan yang menutupi jalan mereka. Keningnya yang berkerut berpadu dengan mata tajam dan tulang pipi menonjol, membuat wanita itu tampak begitu tegas seolah tak bisa dibantah.
“Ayo, turun.” Wanita itu membimbing Aru untuk menuruni bebatuan-bebatuan berlumut yang kasar. Suara air yang deras terdengar makin kuat seiring dengan setiap langkah yang mereka ambil.
“Sina yakin untuk menyeberangi sungai?” tanya Aru memecahkan keheningan di antara mereka berdua.
“Ya.”
Aru mengangkat sebelah alisnya. “Namun, bukankah selama ini kita menjauhi sungai?”
Mea-Dai tak menanggapi apa pun.
“Sina sendiri yang bilang bahwa di dekat sungai pasti ada kehidupan manusia, kan? Terakhir kali kita menyeberangi sungai, kita bertemu suku lain.”
Mea-Dai berhenti di dekat sebuah batu besar. Matanya menatap lurus ke arah sungai yang cukup besar dan meliuk-liuk. “Sina tak melihat tanda-tanda kehidupan di balik hutan gelap di seberang sungai.”
“To, pria tadi sepertinya mengatakan—”
“Jangan percayai siapa pun!” bentak Mea-Dai. “Kau ingat, kita seperti ini karena ulah siapa, kan?” lanjutnya dengan nada yang lebih lembut.
Aru memberengut. “Oibe.”
Keheningan kembali menyelimuti perjalanan mereka.
“Aduh!”
“Kenapa?” Mea-Dai menatap cemas, sementara Aru malah cengar-cengir dan mengatakan bahwa dia hanya terpeleset karena kurang fokus.
Mea-Dai mengulurkan tangan. “Kemarikan tanganmu dan pegang tangan Sina. Kau harus berhati-hati.”
Aru dengan senang hati menerima uluran tangan tersebut. Diam-diam dia pandangi wajah Mea-Dai dari samping. Terkadang ketika melihat rautnya, Aru jadi ingat Sinagu. Bedanya, mata Mea-Dai tampak lebih lebar dan tulang pipinya lebih menonjol.
“Kau tahu? Dulu ibumu mengajariku banyak hal ketika remaja.”
“Oh, ya? Pikirku, Sina bisa lakukan banyak hal tanpa perlu diajari.”
Mea-Dai tersenyum, menahan tawa. “Pikirmu begitu?” Dia berhenti seraya menengok sekitar. “To, dulu Sina sangat payah, tidak bisa diandalkan, bahkan dianggap pengacau oleh nenekmu. Sangat berbeda dengan Noa. Dia sangat pandai, cekatan, dan yang terpenting dia patuh pada apa pun yang nenekmu perintahkan.”
“Lalu?”
Mereka telah sampai di bawah, tetapi perlu melintasi semak belukar untuk mencapai sungai. Mea-Dai mengajak Aru menepi di bawah pohon besar yang tumbuh di kemiringan.
“Ibumu, Noa, sangat sempurna di kalangan perempuan Motu, selalu terpilih sebagai Ratu Moale dan membuat siapa pun iri termasuk aku.”
“Sinagu memang sangat menakjubkan,” ujar Aru dengan bangga. Matanya menerawang jauh, mengenang bagaimana rupa cantik ibunya yang tampak sempurna.
Mea-Dai mendengkus. “Itulah kenapa aku selalu iri kepadanya.”
“Lalu?”
Mea-Dai mengangkat bahu. “Tidak ada lalu.” Dia mengambil kapak penimbas, yang terbuat dari batu yang telah dia asah, dan menyerahkannya kepada Aru. “Cerita bersambung. Kita harus mencari pohon kelapa untuk ditebang.”
“Untuk apa?”
“Untuk membantu kita menyebrang karena sungai itu terlalu luas.” Mea-Dai menunjuk sungai di dekat mereka. Meski alirannya tenang, tetapi mereka tak bisa menahan napas dan berenang terlalu lama.
“Naik?” tanya Aru, memindahkan tatapan dari Mea-Dai ke batang pohon kelapa yang kini setengah mengambang di sungai.
“Yah, kita tidak tahu apakah kayu itu kuat menopang tubuh kita di atas air atau tidak, jadi kau harus mencobanya terlebih dahulu.”
Wajah Aru berubah masam. “Itu tidak adil. Kenapa bukan Sina saja?” gerutunya.
Mea-Dai pura-pura tak dengar, mendorong pundak Aru dan mendudukkan Aru di batang itu, lalu mendorongnya makin ke tengah sungai. Dia tersenyum puas melihat batang itu masih mengambang, meski sebagian tubuh Aru tercelup air.
“Eh, lo-lo-lo, Sinaaa ....”
Byur!
Aru tercebur karena batang itu berguling secara mendadak.
“Aru! Pegang tangan Sina!” Mea-Dai ikut panik saat melihat Aru gelagapan. Dia segera menarik tangan Aru dan membawanya ke daratan.
Kini tubuh Aru telah sepenuhnya basah, dari ujung kepala hingga ujung kaki, bahkan rambut keritingnya menjadi lurus dan rok rumputnya meneteskan air. Mea-Dai meringis dengan tatapan bersalah. Namun, kemudian mereka berdua tak bisa menahan tawa karena kejadian konyol itu.
Mea-Dai menggaruk tengkuk salah tingkah. “Yah, pada akhirnya kita tetap harus berenang,” katanya dengan nada putus asa.
Aru langsung terduduk lemas. “Buat apa kita susah-susah memotong batang itu kalau pada akhirnya harus berenang?” Dia menunjuk batang itu dengan tatapan melas bercampur kesal.
“Yah, setidaknya—mungkin—kita bisa berpegangan atau memeluknya tanpa menceburkan kepala, jadi kita tidak kehabisan napas.”
“Dan semoga batang itu tidak berguling—lagi,” timpal Aru dan sekali lagi mereka menertawakan insiden barusan.
—Aku, dan sebuah perayaan—
Aku membenci setiap perayaan atau festival atau pesta atau apa pun cara orang lain menyebutnya. Aku benci. Sangat benci.
Di saat semua orang bersukacita, berbondong-bondong menuju keramaian, aku hanya bisa menatap penuh cemburu kepada saudari perempuanku. Dia cantik dan selalu terpilih menjadi primadona bagi desa kami. Dia pandai hingga selalu diutamakan dalam kelompok suku kami.
Begitu juga dengan ibuku. Dia teramat menyayangi saudari perempuanku hingga melupakan putrinya yang lain. Dia selalu memujinya, merawatnya penuh sayang, hingga memberinya apa pun yang dia mau sebisanya.
Sementara kepadaku? Tentu saja aku tidak boleh berharap banyak. Melakukan revareva saja aku tidak mau. Muka pun tak secantik saudariku. Dan aku tak sepandai dia yang mampu diandalkan dalam setiap permasalahan.
Aku ini apa?
Aku menatap ibuku yang sedang menata hiasan rambut dari bulu burung cendrawasih. Dia akan menari, mewakili desa kami, dan bergabung dengan perempuan-perempuan Motu dari desa lain untuk menarikan Moale.
Kata Tama, kami akan menghadiri pertemuan antar suku dan berpesta dengan penuh musik dan tarian. Namun, tentu saja aku tak ikut andil apa pun. Aku hanya diminta ikut untuk melihat-lihat saja, sebab aku tak memiliki bakat apa-apa yang bisa orang tuaku banggakan.
Dan aku membenci itu.
Aku membenci perayaan.
Aku tidak suka dengan keramaian yang membuatku makin tampak bodoh dan paling jelek di antara yang lain.
Other Stories
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Camara Derie
Zola mendapat informasi mengenai sanak saudara yang masih hidup. Ia memutuskan untuk menem ...
Testing
testing ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...